Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Aku Menjaganya dengan Baik


__ADS_3

”Darimana saja Sayang?” tanya Kamil begitu melihat Medina masuk ke kamar.


”Eh, itu aku baru saja ke dapur, Bang Kamil sudah selesai?”


”Mm.”


Medina beranjak meraih handuk yang dikenakan suaminya dan menaruhnya di keranjang cucian.


”Apa besok Abang kerja? Mm, maksudku kalau iya aku siapkan sarapannya sekalian.”


”Iya tentu saja, memangnya kamu mau ngajakin aku kemana?”


”Gak ada sih hanya nanyain aja.”


”Bentar ya, aku mau ke kamar mandi dulu.” Medina ke kamar mandi membawa air yang tadi dia bawa dari dapur membuat Kamil mengernyitkan alisnya.


”Ngapain dia bawa air itu, bukannya di kamar mandi banyak air,” gumam Kamil.


Hampir lima belas menit Medina baru keluar dari sana.


”Sudah selesai?”


”Eh?” Medina terkejut karena Kamil masih menunggunya di tempat tidur sambil bermain ponsel.


”Kemarilah!” Kamil menepuk samping tempat tidurnya yang masih kosong. Medina menurut duduk di samping Kamil.


Pria itu menatap ke arah Medina intens lalu melepas khimarnya membuat rambut hitam lebat jatuh tergerai dengan indahnya. ”Kenapa masih pakai ini di kamar.”


Kamil mengangkat wajah Medina yang menunduk. ”Aku malu,” ucap Medina.


”Ngapain malu kita kan udah halal lagipula gak ada orang lain di sini yang lihat selain kita berdua.”


”Apa boleh?”


Medina hanya mengangguk kecil lalu mendongak melihat Kamil sudah ada tepat di depannya.


”Bismillah,” lirih Kamil.


Kemudian mengecup kening Medina dan memulainya dengan perlahan. Pria itu memperlakukan Medina dengan baik. Kamil, pria itu mencoba berbagai gaya yang pernah dia lihat dalam film yang pernah dia tonton bersama dengan Daren temannya.


Hingga menjelang jam tiga suara lenguhan panjang terdengar di kamar tersebut pertanda keduanya sama-sama puas dan bahagia dengan aktifitasnya itu.


”Makasih ya Sayang, kamu masih menjaganya dengan baik,” puji Kamil.


Medina hanya diam dia terlalu malu jika mengingatnya. ”Kenapa diam saja, kamu pintar juga melayaniku,” bisik Kamil.


Medina beranjak bangkit dari tempat tidurnya membuat Kamil kembali menarik lengannya dan hal itu membuat Medina terjatuh di atas dada bidangnya.


”Mau kemana?” bisik Kamil.


”Aku mau ke kamar mandi Bang.”


”Nanti saja sekalian sholat subuh ya,” ucap Kamil melirik jam di dinding.

__ADS_1


”Tetap di sini ya,” pinta Kamil. Medina pun hanya menurut dengan perkataan kamil dan sesekali dia mengecup kening istrinya.


”Boleh aku tanya sesuatu?”


”Apa itu Bang?”


”Tapi mungkin ini sedikit privasi.” Kamil tampak menimbangnya karena ragu khawatir menyakiti hati istrinya.


”Katakan saja mungkin akan lebih baik daripada menyimpannya sendiri, bikin penasaran hati tidak tenang kan?” ujar Medina.


Kamil menatap wajah Medina, ”Tapi kamu jangan tersinggung ya atau mungkin marah padaku nantinya.”


Medina tersenyum dan mengangguk, lama Medina menantinya namun Kamil tak kunjung bicara Kamil terlihat ragu membuat Medina menjadi penasaran.


”Kok gak jadi kenapa?”


”Gak lah kapan-kapan aja.”


”Hm, padahal aku udah siap mendengarkannya, ngomong aja!” Kamil menggeleng dan malah mempererat pelukan mereka hingga subuh tiba.


***


”Pa kok masih santai?” tanya Malvin waktu sudah jam enam lebih tapi Kamil masih saja menggenakan baju rumahan.


”Papa masih capek, mungkin akan siangan ke kantornya kamu diantar sama Baron saja ya,” balas Kamil menyiapkan sarapan untuk Malvin.


”Mama kemana, tumben belum bangun jam segini?”


”Mama kamu masih ngantuk, kecapekan juga dari kemarin kan belum istirahat dari jagain kakek. Udah kamu berangkat sekolah aja dulu nanti papa yang akan jemput kamu ke sekolah.”


Kamil pun kembali ke kamar begitu putranya sudah pergi dan melihat Medina yang masih meringkuk di dalam selimut karena sehabis sholat subuh Kamil memang melarangnya keluar, menyuruhnya untuk beristirahat lagi.


Medina mengerjapkan kedua matanya begitu menyadari pergerakan di sampingnya.


”Bang, jam berapa ini?” Medina menoleh ke luar hari sudah terang.


”Astaghfirullah, sudah siang rupanya kenapa kamu gak bangunin aku Bang!” Medina panik.


”Sudah tenangkan diri dulu semua sudah aku urus dengan baik, Malvin sudah berangkat sekolah.”


Medina menghela nafasnya setelah mendengar penjelasan Kamil.


”Masih pusing?” Kamil menatap Medina memastikan jika istrinya baik-baik saja.


”Tidak.”


Tangan Kamil terulur merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Medina lagi hal kecil itu membuat wanita itu merona seketika.


”Kamu cantik, sangat cantik buatku,” puji Kamil.


”Apa ini Bang?” tanya Medina ketika belum menyadari sesuatunya.


”Kita lanjutkan yang semalam yuk, Abang masih pengen lagi,” bisik Kamil dengan cepat menyambar bibir Medina membuat si pemilik bibir terkejut namun juga menyambutnya dengan baik.

__ADS_1


Pergulatan kembali terjadi kali ini Kamil begitu berhasrat untuk mendapatkan lebih dan lebih dari apa yang dia dapatkan semalam.


”Kamu terlalu nikmat Sayang,” bisik Kamil setelah beberapa kali melakukan pelepasan bersama.


”Karena aku merawatnya dengan baik Bang, meskipun sekian tahun sendiri aku tetap teratur olahraga dan minu jamu,” ucap Medina pelan.


”Abang boleh ya minta tiap malam.”


Medina mengangguk, ”Sudah siang aku mau masak perutku lapar Bang, Abang juga bukannya harus ke kantor?”


”Rasanya malas penginnya di rumah aja,” sahut Kamil.


”Ya ampun jangan dong Bang, nanti bagaimana nasib karyawan jika pimpinannya malas.”


Kamil terkekeh kecil mendengar perkataan Medina, ”Iya nanti Abang berangkat sekalian jemput Malvin.”


”Abang mau ajakin dia ke kantor?”


”Iya gak apa kan?”


”Khawatir saja dia belum siap dengan ucapan karyawan di sana, dia kan masih labil,” seru Medina.


”Jangan khawatir itu takkan terjadi, ya udah Abang bersiap dulu ya.”


Kamil pun lebih dulu mandi sedangkan Medina memakai kamar mandi di kamar Malvin.


”Makan dulu, nanti tolong bawakan nasi ini buat Malvin ya biar dia makan di kantor.”


”Baik.”


Kamil menikmati makan pagi sekaligus makan siangnya karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas siang.


"Abang pergi ya, kalau ada apa-apa hubungi nomor Abang.”


Mobil Kamil melesat dengan kecepatan tinggi karena dia tahu Malvin telah menunggunya di sekolah.


”Pa,” panggil Malvin.


”Kita langsung ke kantor ya, makan siangmu udah papa bawa nanti makan di ruangan papa.”


Malvin menurut dan langsung naik di kursi samping kemudi.


”Kamu tampak berseri-seri, apa semalam habis bertarung,” ejek Daren.


”Diam kamu, ada anakku di sini jangan bicara yang aneh-aneh Daren!”


Daren hanya melirik sekilas pada Malvin yang bingung dengan bahasan kedua orang dewasa di sampingnya.


”Kamu makan dulu ya, papa mau ngecek kerjaan dulu.”


Baru beberapa menit Kamil duduk, Alea datang masuk begitu saja ke ruangan Kamil.


”Tolong jelaskan padaku apa ini?” Alea melempar foto-foto di atas meja Kamil namun dengan santainya dia menanggapi semua itu.

__ADS_1


”Darimana kau dapatkan semua ini Alea?”


__ADS_2