Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Ketegangan


__ADS_3

”Apa is-istri?” Alika tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendengar pengakuan Kamil putranya.


”Kapan kau menikah Nak, kenapa mama tidak tahu?” Alika tidak bisa mengekspresikan perasaannya antara sedih dan bahagia berbaur menjadi satu.


”Ma, nanti Kamil akan menjelaskan semuanya sama mama jadi tolong jangan pernah berprasangka buruk dengan kami.”


”Dia siapa, adikmu kenapa wajahnya mirip sekali denganmu?” tanya Alika menunjuk pada Malvin.


”Dia putraku,” jawab Medina.


Alika terhenyak lalu menunjuk pada Medina dengan raut wajah yang sulit ditebak, ”Jadi ... ”


”Sudahlah Ma, nanti Kamil pasti akan jelaskan semuanya,” potong Kamil.


”Tante semuanya sudah siap!” seru Karin datang menghampiri mereka. ”Eh Bang Kamil sudah datang.”


”Ma ... ”


”Dia datang mengantarkan gaun pesanan mama makanya sekalian mama ajak makan malam sekalian. Ayo kita makan dulu nanti keburu dingin, silakan. Omong-omong siapa namanya?” tanya Alika.


”Me-Medina Tante,” jawab Medina gugup.


”Dia Malvin,” sambungnya begitu melihat jari telunjuk Alika mengarah pada putranya.


"Loh kok masih panggil tante, panggil mama dong sama kayak Kamil,” ralat Alika.


”Iya Ma.”


Mereka terlihat sangat akrab berbeda dengan Karin yang hanya sesekali menimpali perkataan Alika, dia merasa seperti tamu yang tak diundang dan hanya menumpang makan. Mereka bersenda gurau bersama hingga Farhan dan Alea datang bersamaan dengan Hamid.


”Akhirnya kau pulang juga ke rumah, papa kira kau akan tetap bersama dengan istrimu itu,” tukas Hamid menatap ke arah Medina seakan sedang mengintimidasinya.


”Kau salah Pa, Kamil pikir justru papa lah yang tidak akan pulang ke rumah karena di luar sana ada sesuatu yang lebih menarik perhatianmu,” balas Kamil sengit Medina menggenggam tangan Kamil manakala dia ingin mengatakan sesuatu, Medina tidak ingin Kamil merusak momen kebersamaan mereka dengan pertengkaran meskipun hal itu pasti akan terjadi nantinya.


”Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” Alika menatap ke arah Hamid lalu beralih ke Kamil.


”Mungkin hanya pembicaraan kecil sebaiknya kita bicarakan hal lain saja bukankah begitu?” ucap Medina menoleh ke arah Kamil.


”Iya Sayang, kamu benar.” Kamil mengusap lengan Medina membuat kedua wanita lain yang ada di sana merasa cemburu melihat kedekatan keduanya.


Kamil tetap bersama dengan Medina sedangkan Malvin dan Alika tampak sangat akrab dalam sebuah percakapan entah apa yang mereka bicarakan namun hal itu tak menampik rasa bahagia di hati Medina dia bersyukur jika Alika mertuanya bisa menerimanya dengan baik.

__ADS_1


”Kamu mau minum?” tawar Kamil. Dia melihat Medina yang sedang terdiam bermain jemarinya sendiri di pangkuannya seperti anak kecil yang tidak memiliki teman.


”Tidak.”


”Jika butuh sesuatu bilang ya,” ucap Kamil.


Melihat kedekatan keduanya Alea nampak tidak suka. ”Dimana kalian bertemu?” tanya Alea mendengar hal itu Farhan yang sedang berbicara dengan Hamid pun menoleh ke arah istrinya.


”Apa itu penting buatmu, lalu darimana kamu dapatkan foto-fotoku tempo hari?” jawab Kamil.


”Dari seorang teman yang kebetulan mau balik ke Jakarta dari Semarang.”


”Kalau begitu kau sudah tahu kan jawabannya dimana kami bertemu?”


Medina nampak gelisah apalagi melihat tatapan Hamid yang seakan tidak suka dengan kehadirannya, sesekali dia melirik jam dinding hal itu membuat Kamil yang diam akhirnya angkat bicara.


”Kita pulang sekarang?” bisik Kamil.


Medina tersenyum mendengar ajakan suaminya dan mengangguk. Kamil segera bangun dan menghampiri Alika membisikkan sesuatu padanya membuat wanita aruh baya itu tersenyum seketika.


”Ya ampun kau ini benar-benar, baiklah segera pulang tapi besok kau harus datang ke sini dan menjelaskannya pada mama.”


”Siap.” Kamil mengecup kening mamanya dan berpamitan pulang padanya.


***


Tidak semua menerima Medina dengan baik dan Kamil tahu akan hal itu, namun peduli apa Kamil hanya memikirkan Alika mamanya yang penting dia mendapatkan restu darinya tidak peduli dengan orang lain.


”Pa, kapan-kapan ajak nenek datang ke rumah ya!” seru Malvin.


”Boleh, besok jika nenek sudah ada waktu papa akan bawa ke rumah.”


Kamil senang karena mamanya mau menerima Malvin dengan baik dan tidak mempersoalkan status istrinya.


”Ayo kita berangkat!” Kamil pun bersiap ke kantor sekalian mengantarkan Malvin ke sekolah.


Sepanjang perjalanan Malvin tidak henti-hentinya berbicara bercerita tentang teman-temannya di sekolahan bahkan soalan Siska yang dengan terang-terangan mengakui jika dia menyukai Kamil. Mendengar pengakuan putranya tentu saja membuat Kamil tergelak.


”Ada-ada saja anak jaman sekarang. Lalu kamu jawab apa?” Kamil menyelidik.


”Tentu saja aku jawab jika orang yang kamu sukai itu adalah calon papaku, dia juga terkejut mendengar usia mama dan tidak menyangka jika mama masih sangat muda.”

__ADS_1


”Tuh dia anaknya,” tunjuk Malvin begitu mobil sport milik Kamil berhenti tepat di depan pintu gerbang sekolahannya.


”Sudah jangan diambil hati biarkan saja yang penting kan papa gak menaruh hati sama temanmu itu kan, percaya sama papa hanya mama kamu yang ada di sini.”


Kamil menunjuk dada Malvin membuatnya tersenyum, "Makasih ya Pa, tolong jangan kecewakan dia untuk yang kedua kalinya.”


Kamil kembali melajukan mobilnya ketika Malvin sudah keluar dari mobilnya dan masuk ke sekolahnya. Dia segera menghubungi Baron untuk tetap mengawasi papanya Hamid dia tidak ingin kecolongan lagi dengan sigap memerintahkan asisten pribadinya itu mengumpulkan bukti-bukti sebelum semuanya terlambat.


Pesta ulang tahun perusahaan papanya pun semakin dekat hari H membuat Kamil mengambil ancang-ancang memastikan semuanya baik-baik saja.


”Hai, mamamu sudah ada di ruanganmu.” Daren menepuk bahu Kamil dari belakang membuatnya terkejut terlebih dengan perkataannya itu.


”Mama?”


”Iya, dia datang jam delapan tadi katanya ada hal yang penting sekali jadi beliau ke sini,” ungkap Daren. ”Cepat temui beliau!”


Daren berbelok ke kanan karena harus mengurus data karyawan baru sedangkan Kamil menuju ke ruangannya dimana Alika telah menunggunya sejak setengah jam yang lalu.


”Ma, apa yang membuat mama datang ke sini pagi-pagi sekali.”


Alika menoleh begitu suara putranya terdengar di pendengarannya. ”Kau datang terlambat?” Alika melihat jam tangannya.


”Biasa jalanan macet, arah sekolah Malvin juga berlawanan dengan arah ke kantor jadi mau tidak mau harus menguras waktu.”


”Soal semalam sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dari mama. Lalu soal Medina istrimu, kau benar-benar serius dengan wanita itu? Mama sudah pernah bertemu dengannya dan dialah yang menolong mama di pasar waktu itu. Bagaimana dengan tanggapan papa, apakah kau tahu bagaimana dia marah pada mama semalam?” ungkap Alika.


”Bagaimana mungkin papa marah sama mama, bukankah lebih baik papa menegurku secara langsung. Ck! benar-benar keterlaluan orang tua itu,” kesal Kamil. ”Kamil akan menjelaskannya pada mama soal Medina, Kamil sendiri sudah terlanjur sayang sama dia, Kamil harap mama merestui kami.”


”Kamu gak boleh begitu Nak, bagaimanapun dia papamu. Jika memang kau bahagia dengannya mama tidak akan melarangnya karena bagaimanapun kebahagiaanmu adalah hal yang terpenting buat mama.”


”Ma ... Mama gak tahu bagaimana papa yang sebenarnya, jika mama tahu apakah mama masih mau bertahan dengan orang sepertinya?” Kamil sudah tidak tahan lagi ingin mengungkapkan semuanya sekarang jika pria yang tinggal bersama dengan mamanya sudah selingkuh di belakangnya selama bertahun-tahun lamanya.


”Apa yang mama tidak ketahui soal papamu Nak, mama tahu semuanya,” balas Alika.


Kamil menggelengkan kepalanya, memegang tangan Alika. "Ma, sebenarnya papa itu ... ”


”Ternyata kau di sini Sayang, aku mencarimu di rumah dan asisten rumah tangga bilang kau pergi ke sini jadi aku langsung menyusul dirimu.”


”Ck! Kenapa dia datang di saat yang tidak tepat!” gumam Kamil dirinya menahan kesal.


”Apa yang akan kau katakan tadi Nak, ayo lanjutkan!”

__ADS_1


Kamil menatap Alika apakah dia tega memberitahukan pada wanita yang telah melahirkannya tentang keburukan papanya belakangan ini.


__ADS_2