
Langkah Alea tergesa-gesa masuk ke rumah sakit dan langsung menanyakan suaminya. Begitu mendapatkan informasi dia langsung menuju kamar inap suaminya karena Farhan sendiri memang sudah dipindahkan ke ruang rawat atas permintaannya sendiri.
"Anda siapanya Pak Farhan?” tanya Dokter yang Alea temui di pintu masuk.
”Saya istrinya Dok.”
Sang Dokter menautkan kedua alisnya, ”Istrinya lalu di dalam itu siapa?”
Giliran Alea yang kebingungan menjawab pertanyaan dari Dokter itu. ”Maksudnya apa ya. Dok?”
”Di dalam ada pasien yang satu mobil dengan Pak Farhan saya kira dia adalah istrinya karena terlihat sangat dekat sekali, maaf saya telah keliru. Silakan masuk, maaf saya harus mengurus pasien yang lain.” Pamit Dokter.
Alea segera masuk untuk memastikan perkataan Dokter tersebut. Betapa terkejutnya dia melihat Laras tampak sangat dekat dengan suaminya, meskipun sedang dalam keadaan sakit sekalipun keduanya tampak akrab dan tidak terpisahkan.
”Rupanya kamu wanita yang bersama dengan suami saya dalam kecelakaan itu.”
Keduanya tersentak begitu mendengar perkataan Alea.
”Sayang, kau sudah datang?” sapa Farhan dengan kepala diperban.
”Jika tahu kalian berdua bersamaan saat ini mungkin saya tidak akan datang. Semoga cepat sembuh.”
Alea berbalik meninggalkan keduanya dengan perasaan kecewa, dia kira suaminya akan membutuhkan dirinya tapi faktanya dia baik-baik bersama dengan selingkuhannya. Sesak, itulah yang sedang dirasakan oleh Alea saat ini. Dirinya ingin menangis namun apakah bisa baginya meluapkan segala kekesalannya pada pria yang telah memberikan benih di rahimnya.
Alea ingin meratapi nasibnya namun untuk apa, dirinya merasa buruk tapi haruskah menyesalinya. Dengan langkah cepat dan terburu-buru dirinya segera pergi ke dari rumah sakit hingga tubuhnya menabrak seseorang.
Brugh!
”Maaf, saya kurang hati-hati,” sesal Alea.
”Sayang kau sudah ada di sini?”
Alea membeku mendengar sosok yang ada di depannya. Dia adalah Alika bersama dengan Kamil. ”Mama, maaf Alea harus buru-buru,” ucapnya dia tidak mau berurusan dengan keluarga Farhan lagi tekadnya bulat ingin melupakan semuanya. Alea segera melangkah Ergo meninggalkan rumah sakit membuat Kamil dan Alika curiga.
Alea segera pergi mengemudikan mobilnya dan menjauh dari semua orang. Sementara di rumah sakit, Kamil dan Farhan terkejut dengan sikap Alea yang terlihat mencurigakan itu.
”Kamil apakah kau menyadari sesuatu?” tanya Alika.
”Tentu saja dan ini tidaklah mudah, sebaiknya kita ke kamar Bang Farhan dulu baru kita memikirkan masalah yang lain,” usul Kamil.
"Baiklah mama setuju, ayo!” Keduanya kembali melangkah menuju ke kamar Farhan.
Terkejut itu yang terjadi karena keduanya melihat keintiman antara bos dan sekretaris, apakah ini yang membuat Alea malas berlama-lama di rumah sakit? Mungkinkah wanita itu melihat semuanya dan memilih pergi dari pada harus sakit hati.
”Apa karena ini dia pergi ninggalin kamu Bang?” tanya Kamil begitu masuk dan melihat semuanya, kesal tentu saja kakaknya belum berubah sama sekali.
”Eh, kalian. Apa maksudnya ya?” tanya Farhan sok polos.
”Kami baru saja bertemu dengan Alea di luar, apa karena hal ini dia memilih untuk pergi?” ungkap Kamil.
”Jadi kau menuduhku telah membuat wanita itu pergi? Hei aku tekankan sesuatu padamu ya, aku dan dia sama sekali tidak memiliki masalah apapun, dia saja yang baperan!” ujar Farhan membela dirinya.
__ADS_1
Kamil memicingkan mata menatap ke arah Laras, jika saja dia punya kuasa pastinya dia akan memecat Laras agar tidak menjadi pengganggu rumah tangga kakaknya ini. Kamil menghela nafasnya kenapa nasibnya nasib abangnya begitu buruk belakangan ini, apakah ini hukuman untuknya karena telah mengkhianati kepercayaan Alea. Sungguh buruk!
”Laras, kau benar kan Laras?” tanya Kamil membuat wanita itu tercengang dan khawatir dengan sikap Kamil yang seakan sedang mengintrogasi dirinya.
”Benar Pak Kamil saya Laras, sekretarisnya Pak Farhan.”
”Anda tahu kan jika kakak saya telah memiliki seorang istri?” Laras hanya mengangguk mengerti dengan arah pembicaraan kamil.
”Maaf Pak, tapi kami saling mencintai!”
”Apa benar begitu Bang?” Farhan menatap ke arah Laras bisa-bisanya dia berkata begitu lihatlah sekarang dia dipojokkan oleh adiknya.
”Aku menganggapnya sebagai pegawai yang baik, kenapa kau bertanya begitu?” jawab Farhan.
”Anda dengar Laras, kakak saya hanya menganggap kamu sebagai pekerja tak lebih jika kau menganggapnya lain maka wassalam, siap-siap kau untuk dicampakkan karena saya yakin akan ada Laras - Laras lain yang nantinya bermunculan di kantor.”
”Kamil cukup! Apa yang kau bicarakan!” ucap Farhan marah.
”Kebenaran Bang, aku tidak yakin jika Bang Farhan akan awet berhubungan dengan Laras terlebih melihat barang baru yang masih fresh.” Alika memegang lengan Kamil manakala pria itu akan berucap lalu menoleh ke belakang dilihatnya Rania mantan istri Farhan sudah ada di pintu.
”Mbak Rania?” lirih Kamil. ”Sepertinya akan menjadi pertengkaran yang seru, Ma. Ayo kita pulang!” Kamil mengajak Alika bergegas pulang karena tak ingin melihat pertengkaran mereka bertiga.
***
”Ma, Malvin diajak teman ke Bogor apakah boleh?” tanya Malvin pada Medina yang sedang sibuk di dapur.
”Tidak!”
”Ajak Baron atau Om Daren jika dia sedang longgar.”
”Ya ampun Ma, masa urusan anak muda pun mama tidak percaya dan tidak kasih ijin padaku.”
Medina terhenti sejenak lalu menatap ke arah Malvin. ”Nak, tolong jangan pernah berubah apapun yang sedang kau inginkan sekarang. Apa kau di sekolah bergaul dengan anak yang tidak baik?”
”Astaghfirullah Ma, tolong jangan berburuk sangka itu tidak terjadi Ma. Aku diajak Dennis main ke tempat saudaranya di Bogor kata dia tempatnya bagus jadi dia mengajakku dan aku juga tertarik mumpung liburan.”
”Mama sudah jelaskan kan tadi, kau boleh pergi asalkan bersama dengan Baron ataupun yang lain jangan pergi sendiri.”'
”Yah mama gak asyik!” Malvin segera ke kamarnya dan tidur di kasurnya ini lebih baik daripada harus mengeluarkan kata-kata kekesalannya ada Medina hal yang sudah sering dilakukannya ketika marah.
”Astaghfirullah anak itu kenapa jadi manja begit,” desis Medina seketika membuat Kamil yang mendengarnya pun menimpali.
”Apa yang terjadi?” tanya Kamil mendekat dan mengecup kening istrinya.
”Malvin dia ingin pergi ke Bogor.”
”Lalu?”
”Aku melarangnya karena bagaimanapun juga aku khawatir dengan pergaulan buruk di luar sana, aku pikir dia boleh keluar asalkan ditemani Baron ataupun yang lain tapi dia justru menolak dan segera ke kamarnya,” jelas Medina.
”Kenapa tidak diijinkan saja, biarkan dia pergi.”
__ADS_1
”Tapi Bang ... ?”
”Baron akan mengawasinya dari dekat. Katakan padanya jika dia boleh pergi.”
”Bang sebagai seorang ibu aku tuh khawatir dengan keselamatannya, itu saja.”
”Aku tahu katakan saja padanya jika aku mengijinkan dirinya pergi. Nanti orang-orang ku yang akan menjaganya.”
”Baiklah.” Dengan segera Medina menunju ke kamar putranya diikuti Kamil di belakangnya.
”Nak, keluarlah mama mau bicara!”
Beberapa menit kemudian pintu pun terbuka. ”Ada apa?”
”Pergilah jika kau ingin pergi,” ucap Kamil.
”Beneran Dad?” kedua mata Malvin berbinar.
”Tentu saja, pergilah kami mengijinkan kau pergi.”
”Alhamdulillah makasih Dad, Malvin akan hubungi teman Malvin dulu.”
Medina dan Kamil beralih ke kamar mereka. ”Jika ada apa-apa beritahu aku segera, menyelesaikan masalah seperti ini sangatlah mudah bagiku.”
”Makasih Bang.”
Ponsel Kamil bergetar.
’Daren calling ... ’
”Hallo apa yang terjadi?”
”Kakak iparmu.”
”Ada apa dengannya?”
”Keluarlah aku berada di seberang jalan rumahmu, aku jelaskan di sini.”
”Baik.”
Bip.
”Sayang aku harus keluar dulu sebentar ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”
Cup!
Dengan cepat keluar menemui Daren.
”Apa yang terjadi?” tanya Kamil dengan nafas terengah-engah.
”Alea ... dia ...”
__ADS_1