
Tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi besok karena semua adalah rahasiaNya. Begitu juga dengan malam ini harusnya menjadi malam yang bahagia untuk Hamid karena dialah yang bertahun-tahun berjuang demi kemajuan perusahaan, sayangnya keputusan Alika membuat semua orang terkejut mendengarnya.
”Saya selaku pemilik dari Diamond King Company memindah kekuasaan atas nama saya pada Kamil Mahendra putra bungsu saya, dia yang akan membantu memantau kinerja kalian semuanya sekaligus memimpin perusahaan tersebut ke depannya.”
Semua orang menoleh ke arah Kamil yang sedang duduk di meja menikmati makanannya. Kamil hanya tersenyum melambaikan tangannya ke atas sesekali dia menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya bangkit ikut naik menyusul Alika ke podium.
”Terima kasih buat mama, sungguh ini benar-benar surprise dan Kamil sangat terkejut dengan semua ini, mohon bimbingannya untuk para senior yang sudah lebih dulu berada di sini.”
Senyum bahagia di wajah keduanya tapi berbeda dengan Hamid yang kesal karena keputusan tersebut sangat mengagetkan dirinya terlebih tidak ada pembahasan ini sebelumnya, apakah ini serangan balik dari istrinya karena telah mengkhianatinya.
”Ma, kenapa ini semua begitu mendadak jujur Kamil ragu untuk menjalankan dua perusahaan sekaligus. Bagaimana dengan nasib papa nantinya?”
”Mama sudah memikirkannya dengan baik dan sebelum semuanya terlambat mama lebih percaya padamu Nak, tolong jangan kecewakan mama,” seru Alika.
Hamid datang dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya, membuat semua orang yang ada di sekitarnya menaruh tanda tanya tentang sikapnya itu. Alika tetap santai karena bagaimanapun dialah pemilik yang sah, Hamid hanyalah pegawai di perusahaannya dan Alika tidak ingin perusahaannya bangkrut dirong-rong oleh suaminya sendiri. Beberapa hari Alika berpikir lebih baik mengalihkan perusahaan tersebut pada ahli warisnya, Kamil Mahendra. Farhan telah mendapatkan haknya berbeda dengan Kamil yang dari awal memiliki perusahaan atas hasil kerja kerasnya sendiri.
”Kamu sengaja melakukan ini padaku?” ucap Hamid menahan amarah tangannya mengepal.
”Sama halnya denganmu yang sengaja selingkuh di belakangku Hamid, jangan pernah pulang ke rumah karena sebentar lagi surat dari pengadilan akan datang ke apartemen milikmu.”
Deg.
Hamid membeku di tempatnya dia tidak menyangka jika Alika akan bertindak lebih cepat dari dugaannya.
”Ma, apa mama yakin dengan semua ini?” tanya Farhan menatap intens pada Alika.
”Mama sudah memikirkannya dengan baik, dan itu keputusan final,” sahut Alika tegas.
Setelah malam itu hubungan kekeluargaan di antara mereka semakin renggang, Kamil semakin sibuk dengan bisnisnya karena harus mengurus dua perusahaan sedangkan Farhan seakan menjaga jarak dengan adiknya.
”Nanti mama akan datang ke rumah,” ucap Kamil ketika sedang sarapan sebelum ke kantor. ”Jangan panik, mama orangnya baik kok lagipula dia juga mau ikut merasakan masakan kari ayam buatanmu itu,” lanjut Kamil.
”Jadi Bang Kamil kasih tahu mama kalau aku hobi masak begitulah?”
__ADS_1
”Tepat sekali.”
”Aku berangkat ya, kalau ada apa-apa tolong kabari aku di kantor.” Kamil mengecup kening istrinya sebelum pergi meninggalkannya di teras rumah.
Bukan kemauan Kamil mengurus dua perusahaan sekaligus jika bukan karena permintaan mamanya mungkin dia lebih milih fokus pada pekerjaannya sendiri tapi karena tidak mungkin buatnya juga membiarkan mamanya kembali terjun mengingat usianya pun hampir setengah abad.
Bisik-bisik terdengar sampai ke pendengarannya tentang pro dan kontra atas statusnya yang langsung menjabat sebagai pemimpin sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan ini, bukankah itu berarti dia sangat kaya.
Kamil menarik nafasnya manakala mendengar gosip-gosip tentang dirinya dan Medina, apapun keadaannya istrinya tetap nomor satu setelah Alika mamanya.
”Hai, kamu udah aktif saja kenapa tidak ke perusahaan sebelah dulu sih!” ucap Alea sedikit ketus.
”Terserah aku mau kemana dulu, aku tidak ada urusan dengan kamu lagian statusnya kau bawahan dan aku adalah bosnya jadi jaga sikapmu atau aku bakalan pecat kamu nantinya.”
”Ish, menyebalkan mungkin sikapmu dengan istrimu itu sama aja ya sama-sama menyebalkan,” ujar Alea.
”Justru karena dia berbeda denganku makanya aku mau menikahinya, dia itu kalem banget adem bikin betah di rumah, cobain aja kamu kayak dia aku yakin Bang Farhan parti akan betah di rumah.”
”Sok tahu!” sahut Alea.
”Pak Surya bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?” pinta Kamil.
”Oh tentu saja, silakan!” Surya mengikuti Kamil dari belakang dan langsung bicara ke intinya meminta berkas penjualan beberapa bulan ke belakang dan pemasukan yang diterimanya.
”Baik Pak Kamil, nanti akan saya berikan data tersebut dan tolong bapak langsung menegur saya jika ada kesalahan karena belakangan ini saya sedang curiga tapi semoga saja dugaan saya salah.”
”Baik nanti asisten saya yang akan mengecek semuanya dan soal proyek yang ada di Bali tolong ditunda saya sudah membacanya semalam.”.
Pak Surya terdiam kebingungan harus menjawab apa karena proyek tersebut sudah setengah jalan dan dilakukan sendiri oleh Pak Hamid beberapa bulan yang lalu.
”Apa ada yang kurang jelas, bisa Pak Surya tanyakan langsung sekarang.”
"Ehem, sebenarnya soal proyek tersebut, semua sudah dilakukan oleh Pak Hamid dan sudah sampai setengah tahap. Maaf Pak, saya baru cerita sekarang karena Pak Hamid sendiri melarang saya membicarakannya dengan orang lain,” jelas Pak Surya.
__ADS_1
”Astaghfirullah, sebenarnya apa maunya papaku itu,” Kamil mengusap kasar wajahnya dia tidak habis pikir dengan pemikiran Hamid papanya, lalu kemana uang tersebut apakah masuk ke kantong istri simpanannya.
***
”Ma,” sapa Medina begitu Alika datang.
”Kamu sibuk?” Alika menatap Medina yang sedang menata tanaman di samping rumah.
”Tidak juga ini hanya sekedar hobi tapi masih bermanfaat, kalau di kampung ini sangat berguna sekali Ma, buat bumbu masak.”
”Pantas saja Kamil suka sama kamu, karena olahan makanan yang kamu buat. Kamu juga kalem.”
Medina memotong beberapa daun sirih dan memasukkannya dalam wadah kecil, beberapa ruas jahe dan juga sayuran.
”Ini mau buat apa?” Alika menunjuk pada daun sirih.
”Direbus Ma, Medina rajin pakai ini buat menjaga daerah privasi,” jawab Medina seketika Alika melongo mendengarnya sesederhana itu?
Medina hanya mengangguk meyakinkan mama mertuanya, ”Memangnya kenapa Ma, apakah mama belum pernah coba?”
Alika hanya menggeleng cepat dia memang belum pernah memakai hal seperti itu. ”Mama boleh mencobanya kalau mau nanti Medina ajari. Masuk yuk Ma, bentar lagi Malvin pulang kita makan bersama.”
Tak berapa lama Malvin pulang diantar oleh Kamil. ”Hm, masakannya wangi sekali,” puji Kamil.
”Kalian ini kalau sudah berdua saja gak ingat orang lain, buruan mama udah lapar!” keluh Alika beralibi sejujurnya dia bahagia karena putranya sudah menemukan pasangannya.
”Kalian kapan akan pergi bulan madu?” tanya Alika.
Kamil menoleh ke arah Medina, ”Ma, bahkan tiap malam kami berdua bulan madu kok.”
Medina melotot ke arah Kamil bisa-bisanya suaminya berkata begitu. ”Ma, buat Medina itu tak penting yang penting kita semua sehat bis berkumpul itu sudah bahagia kok buatku.”
”Tidak bisa Medina, kalian harus kasih mama cucu yang banyak agar anak-anak kalian memiliki banyak saudara kelak ketika mereka dewasa,” ucap Alika.
__ADS_1
”Mama akan menyiapkan semuanya pergilah ke eropa sana mama yang akan menanggung semuanya,” lanjut Alika tak mau mendengar bantahan lagi.
”Bersiaplah karena tak akan ada yang mengganggu kita nantinya,” bisik Kamil menyerigai.