Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kamil Kesal


__ADS_3

Malvin terdiam dirinya kesal karena Daffa tidak mendukung kepergiannya ke luar negeri hal itu tentu saja membuat Medina bertanya-tanya karena sejak pulang sekolah putranya hanya berdiam diri di kamarnya biasanya anak itu aktif bermain bola ataupun renang di samping rumahnya.


Medina mencoba mengetuk pintunya namun diabaikan oleh Malvin. ”Sebenarnya apa yang terjadi, tidak biasanya dia mengurung diri.”


”Tante cari Malvin?” tanya Riezka begitu melihat Medina di depan pintu kamar Malvin.


”Riez, apakah dia ada masalah? Kenapa sejak pulang sekolah dia mengurung diri di kamar,” balas Medina.


”Masalah gadis kali tante,” ucap Riezka nyengir gigi kuda.


”Kamu ini, Tante serius loh!”


”Riezka kurang tahu Tante, tapi yang jelas pasti ada masalah sehingga dia tidak mau keluar kamar. Riezka saja dicuekin tadi di bawah, sepertinya dia memang sedang kesal Tante,” ujar Riezka.


”Biarkan saja dulu, yuk bantu Tante masak buat makan malam!” Medina merangkul Riezka seperti putrinya sendiri dirinya berharap bisa memiliki anak lagi setidaknya agar Malvin tidak kesepian di masa depan.


”Kamu sudah pulang Bang?” sapa Medina melihat Kamil masuk lewat pintu samping rumahnya sepertinya pria itu baru saja dari rumah Alika.


”Iya, mama baru saja menelpon jika Alea mau melahirkan dan sekarang sudah berada di rumah sakit.”


”Apa? Kenapa aku tidak dikabari, Bang?” keluh Medina.


”Orang perginya juga baru saja kok, diantar sama Mbok Iyem karena mama tidak mungkin pergi kondisinya saja sedang tidak memungkinkan.”


”Kita susul sekarang ke rumah sakit?” tawar Medina.


”Tidak perlu buru-buru papa dan Mbok Iyem juga sudah cukup, aku mau membersihkan diri dulu dan istirahat sebentar baru kita ke rumah sakit.”


”Baiklah.”


”Dimana Malvin, kenapa tidak terlihat?” Kamil celingukan mencari sosok putranya.


”Di kamar sepertinya ada masalah di sekolahan, sudah cepat pergi nanti kita tanyakan bersama.” Medina mengarahkan Kamil ke kamarnya dan meninggalkannya kembali ke dapur.


Medina kembali melanjutkan kegiatan memasaknya dirinya ikut merasa senang dengan berita Alea yang akan melahirkan putrinya.


”Riez, tolong panggilkan Malvin minta dia untuk turun makan malam.”


”Baik, Tante.”


Kamil turun dengan tergesa-gesa menghampiri Medina. ”Apa yang terjadi Bang, kenapa terburu-buru?”

__ADS_1


”Aku akan ke rumah sakit sekarang kondisi Alea tiba-tiba melemah.”


”Aku ikut Bang!” Medina ikut panik. ”Ini biar dilanjutkan Riezka,” lanjutnya dengan cepat Medina segera ke kamarnya mengganti pakaiannya dan memasrahkan segala urusannya pada Riezka dan Malvin.


Medina menyusul Kamil yang sudah lebih dulu berada di mobilnya. ”Kenapa bisa terjadi, Bang?”


”Aku juga tidak tahu, bisa jadi karena tekanan stress yang berlebihan kita tidak tahu kondisi Alea kan?”


”Kalau itu aku bisa memahami Bang, karena orang hamil apalagi pasca mau melahirkan pikiran harus rileks tidak boleh tertekan. Bisa jadi karena ketidakhadiran Bang Farhan di sampingnya juga bisa jadi pemicunya.”


”Ya kamu benar, aku juga tidak bisa berbuat banyak aku akui kakakku sendiri memang brengsek!”


”Sudahlah jangan menyalahkan orang lain sebaiknya kita fokus dengan apa yang ada saat ini, bantu Alexa semampu kita.”


”Kamu benar.”


Mobil Kamil melesat cepat menuju rumah sakit, ternyata di sana sudah ada Daren dan Christy yang sudah lebih dulu datang.


”Kalian sudah ada di sini?” tanya Kamil heran.


”Astaga kamu lupa siapa Alea, dia adalah teman kita masa aku tidak mau gerak cepat membantunya,” jawab Daren.


”Masalahnya kalian akan menikah seharusnya sibuk urus ini itu tapi masih sempat ke sini.”


”Benar sekali, Christy belajarlah darinya bagaimana sabar karena wanita ini sangat sabar menghadapi bos kita yang super cerewet ini.”


”Astaga kamu berani mengatakan diriku cerewet!” Kamil protes dengan tanggapan Daren tentangnya.


”Sudah jangan ribut, kita tunggu saja Dokternya keluar.”


”Apa kamu sudah menghubungi Farhan?” tanya Daren pada Kamil.


”Sudah tapi ponselnya tidak aktif aku mengira dia memang sengaja mematikannya,” jawab Kamil.


”Lalu apakah kamu akan membiarkan Alea sendirian?”


Kamil mengusap wajahnya tidak mungkin baginya untuk membiarkan Alea tinggal di rumahnya karena pastinya akan ada pro dan kontra nantinya.


”Sedang aku pikirkan jalan keluarnya jadi tolong diam dan jangan mendesak diriku.”


”Oke.”

__ADS_1


Dokter pun keluar dan langsung menanyakan keluarganya. ”Apa Anda suaminya?” tanya Dokter Irwan menatap ke arah Kamil.


”Bukan saya iparnya, bagaimana keadaannya Dok?” sahut Kamil.


”Kondisinya kritis karena pendarahan hebat pasca operasi dan kita tunggu saja perkembangan selanjutnya, untuk bayinya sudah kami pindahkan di ruang rawat.”


”Terima kasih, Dok,” ucap Medina dirinya ingin segera melihat anaknya Alea.


”Aku mau melihat bayinya,” ucap Medina berpamitan pada Kamil. Pria itu hanya mengangguk karena dirinya sedang fokus pada ponselnya untuk menghubungi Farhan kakaknya. Christy menyusul Medina setelah mendapat anggukan dari Daren.


”Ish, kenapa sulit sekali dihubungi!” keluh Kamil.


”Apa tidak sebaiknya kita temui dia di rumahnya?” usul Daren.


”Tidak efisien seharusnya dia yang datang ke sini melihat istrinya bukan kita yang datang menjemputnya. Benar-benar minta dihajar dia,” kesal Kamil.


Hamid yang mendengar putra kesayangannya disalahkan tentu saja tidak terima dan dia tetap bersikeras jika Farhan tidak bersalah. ”Papa harap kamu tetap menghormatinya Kamil, ingat bagaimanapun dia adalah kakakmu!” seru Hamid.


”Aku membencinya, Pa. Sifatnya tidak seperti kakak pada umumnya,” bantah Kamil.


Hamid pun pergi meninggalkan Kamil yang tidak mau mengalah saat berdebat. Kamil sendiri kesal dengan sikap papanya yang terus saja membela anak kesayangannya itu.


Di tempat lain Medina dan Christy sedang menatap ke arah box bayi, bayi tersebut adalah anaknya Alea.


”Dia cantik sekali,” puji Medina.


”Kau benar seperti mamanya jika saja Alea segera sadar pasti dia bahagia karena putrinya sudah lahir dengan selamat ke dunia ini,” ungkap Christy.


”Kau benar bahkan aku sendiri ingin mendapatkannya sayangnya Allah berkehendak lain,” ucap Medina sedih.


”Jangan begitu Mbak, bagaimanapun harus disyukuri apalagi kan sudah punya Malvin yang sudah beranjak dewasa, aku yakin dia mampu menjadi pengganti bos Kamil di masa depan.”


”Tetap saja berbeda jika dia punya anak sendiri.”


”Kamu tidak akan pernah bisa memiliki anak dari Kamil sampai kapanpun.” Suara berat milik Hamid terdengar begitu menusuk hati Medina.


”Apa yang papa bicarakan, Medina tidak faham?” tanya Medina. Christy yang telah mengetahui semuanya hanya dapat memejamkan matanya berharap tidak akan ada pertengkaran di sini.


”Kamu memang tidak akan pernah tahu karena Kamil putraku takkan pernah memberitahukannya padamu jadi biar aku jelaskan.”


Medina semakin bingung dengan perkataan Hamid, papa mertuanya. Medina menatap Hamid intens berharap pria itu segera memberikannya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


”Katakan padaku apa yang tidak aku ketahui, Pa!”


__ADS_2