Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Pengakuan Daren


__ADS_3

”Kau bisa datang ke sini kapanpun kau mau, ingat sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik dan lebih menyakitkan jika kita bersikap egois,” terang Medina.


Alea memeluk Medina. ”Aku yakin kau mampu Alea, percayalah.”


”Makasih.”


Alea pergi bersama dengan Farhan ke apartemennya.


”Semoga mereka bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus melibatkan orang lain lagi kasihan Daren,” ungkap Medina.


”Iya, kamu benar Sayang. Oh iya sebaiknya kita ke Dokter besok pagi bagaimana?” tawar Kamil yang mencoba membujuk Medina untuk pergi cek up ke Dokter bersamanya.


”Boleh tapi ... apakah tidak mengganggu pekerjaannya?"


”Tentu saja tidak, Malvin mau mengundang temannya lagi ke rumah jadi biarkan saja mereka di rumah nanti Mbok Iyem yang akan mengawasi mereka.”


”Kok dia gak cerita ya?" Medina berpikir keras karena sekarang Malvin lebih dekat pada Kamil daripada dirinya.


”Jangan cemburu begitu, dia tidak ingin cerita karena melihat kondisimu yang seperti ini makanya lebih dekat padaku.”


”Oh, baiklah.”


”Istirahatlah aku akan menemui Daren sebentar di kafe depan.”


Kamil mengecup kening medina dan segera pergi ke kafe menemui Daren.


”Ma,” panggil Malvin.


”Iya, kenapa kau tidak seperti dulu. Apa karena mama sedang hamil adikmu jadi kau lebih suka curhat pada daddy-mu itu?”


Malvin merasa bersalah karena tidak lagi terbuka dengan mamanya tapi yang jelas dia hanya ingin mamanya tidak terlalu banyak pikiran yang membebaninya.


"Maafkan Malvin ya, Ma. Sebenarnya Malvin tidak mau membebani pikiran Mama itu saja.”


”Astaghfirullah, lalu dengan begitu kau pikir kau bisa membuat mama tenang? Malvin, mama ingin kau kembali seperti dulu, Nak. Belakangan mama lihat kamu selalu sibuk sendiri di kamarmu,” keluh Medina.


”Ma, sebentar lagi Malvin mau ujian itu sebab Malvin lebih suka di kamar sendirian, maaf jika hal itu justru membuat mama jadi tidak nyaman.”


”Ya sudah, besok kalau temanmu main ke sini ajak mereka makan bersama nanti ada Mbok Iyem yang akan melayani kalian.”


Kafe depan rumah.


”Maaf menunggu lama.”


”Tak masalah, aku sudah membantumu kali ini,” ucap Kamil.


”Jadi Alea mau pulang ke rumah Farhan?"


”Iya, seperti yang kau mau dan semua berjalan lancar.”


"Syukurlah jika demikian, aku bisa bernafas lega.”


”Aku tahu ini tidak mudah tapi aku juga sangat yakin kau mampu melakukannya.”


”Benar sekali, oh iya aku mengantarkan Christy dan mendengar dia di caci maki oleh tantenya.”

__ADS_1


”Maksudmu dia tinggal bersama dengan tantenya?”


”Aku sedang menyelidikinya semoga saja apa yang aku pikirkan salah karena menurut data di kantor dia itu bukan berasal dari kota ini melainkan kota lain dan mampu kuliah ke luar negeri dengan jalur bea siswa.”


”Wow kau sangat cepat dalam bergerak apakah ini pertanda jika kau menyukainya?" sindir Kamil.


”Astaga, kau jangan mengejekku karena bagaimanapun dia adalah pegawai kantor kita aku sendiri tak mau ada penyusup yang masuk mengerti!"


”Aku tidak yakin!" Kamil menyeringai melihat sikap Daren kali ini dia pasti memiliki misi yang tidak dia ketahui.


"Besok kita introgasi saja dia, bagaimana?” usul Kamil.


"Tak perlu biar aku yang melakukannya sendiri.”


”Kau yakin?"


”Tentu saja.”


***


”Sayang, apa kau mau sesuatu?" Farhan mencoba untuk membuat Alea nyaman bersama dengannya.


”Tak perlu aku bisa melakukannya sendiri,” jawab Alea yang masih asyik dengan ponselnya. Dirinya tengah berselancar di internet melihat apapun yang ingin dia lihat.


”Wah cantik sekali,” ungkapnya menatap layar ponsel membuat Farhan mengalihkan pandangannya ke arah Alea dan menghampirinya.


”Apa yang sedang kau lihat?” tanya Farhan dirinya penasaran dengan apa yang dikerjakan oleh Alea.


”Tidak ada hanya melihat aplikasi jual beli online,” sahut Alea.


Farhan duduk di samping Alea, ”Apa ada yang ingin kau beli?"


”Apa itu?”


”Lihat ini Bang! Bagus gak?” Alea menunjukkan box bayi yang sedang diincarnya sejak beberapa hari lalu.


Farhan hanya menautkan alisnya, ”Jika kau mau kau bisa membelinya, sekalian mendekor kamar bayinya juga.”


”Benarkah?”


”Tentu, silakan saja nanti biar aku pesankan desainer buat merancang semuanya.”


”Terima kasih.” Spontan Alea memeluk Farhan membuat pria itu terkejut dengan aksinya apakah ini pertanda wanita yang menyandang gelar istrinya itu sudah memaafkan kesalahannya.


”Cepat istirahat!”


Keduanya pun segera berlalu ke kamar mengistirahatkan diri bersiap menyambut esok.


Alea mengikuti Farhan ke kantor hari ini dia ingin bersama dengan pria itu, dia ingin melihat apakah ucapan yang dikatakannya itu benar adanya jika dia telah memecat Laras sekretarisnya itu.


”Kenapa berhenti Bang?” Alea memperhatikan situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.


”Kau lihat saja.” Farhan memperhatikan jalanan yang macet.


”Biasa kalau pagi seperti ini macet Bang, gak bisa ke jalur lain?”

__ADS_1


”Gak bisa, tunggu sebentar ya!”


Alea hanya diam tak menjawab pikirannya justru tertuju pada gadis yang sedang berada di atas motor sportnya, Alea seakan mengenalnya tapi masih ragu dan begitu wanita itu membuka helmnya karena ponselnya berdering. Alea baru yakin jika wanita itu adalah Christy penggantinya di kantor.


"Astaga dia pakai motor ke kantor?” gumam Alea menurunkan kaca mobilnya sedikit berniat menguping pembicaraannya.


”Ada apa?" tanya Farhan lalu mengalihkan pandangannya ke samping. ”Kau mengenalnya?"


”Tidak.”


”Sudahlah kita jalan perlahan sepertinya depan sudah mulai lancar, apa kau mau sarapan lagi?"


”Tidak.”


”Ya ampun Alea kenapa kau kembali ketus kepadaku?"


”Maaf, aku hanya sedang tidak mood saja.”


”Kita langsung ke kantor saja jika begitu.” Farhan mempercepat laju motornya menuju ke kantornya.


Di depan kantornya ternyata Daren dan Christy sudah menunggunya di lobi.


”Selamat pagi Pak Farhan, kami mau meminta tanda tangan persetujuan kontrak kerja yang akan dimulai pekan depan,” ucap Christy.


”Silakan ke ruangan saya,” titah Farhan dan keduanya pun mengikuti Farhan disusul Alea yang menatap punggung lebar Daren yang melangkah di depannya.


”Kalian mau minum apa?” tanya Farhan.


”Tidak perlu karena kita hanya sebentar saja.”


”Begitukah?”


”Kami masih banyak pekerjaan penting lainnya di pusat jadi tolong segera dipercepat,” ucap Daren.


”Bukan karena sedang menghindari sesuatu kan?" sindir Farhan.


”Apa maksud Anda?" tanya Christy yang belum faham akan situasinya.


”Christy, bisakah kau keluar dulu biar saya bicara dengannya," pinta Daren.


”Tidak perlu keluar lagi pula bukan masalah penting kan? Katakan saja sekarang dan boleh aku tanya sesuatu padamu?" desak Farhan seakan memiliki kesempatan untuk membalas kekesalannya belakangan ini.


”Apa itu?"


”Apa kau sudah bosan dengan istri orang lalu mengembalikannya sekarang?"


Alea terkejut mendengar perkataan Farhan. ”Kenapa kau bertanya begitu?” Alea marah pada Farhan.


”Apa kau tidak tahu jika selama ini dia hanya memanfaatkan dirimu? Lihat sekarang dia bersama dengan wanita itu dan mengembalikan dirimu padaku, benar kan yang aku katakan?”


”Itu tidak benar aku kembali karena nasehat dari Medina istri Kamil, kau salah sangka Bang!" ucap Alea menangis.


”Kami tidak ada hubungan apapun Farhan, dan dia adaah kekasihku jadi tolong jangan membuat pengakuan yang membuatku marah," ucap Daren tegas.


Christy sendiri terkejut karena tidak mengira kondisinya akan seperti ini. ”Pak Daren ...”

__ADS_1


”Ayo kita pergi biarkan nanti orang kantor yang mengambil berkasnya!" Daren melangkah pergi menggandeng tangan Christy membuat keduanya kembali terkejut. Sejak kapan mereka berdua jadian?



__ADS_2