
Apa yang akan terjadi Kamil pasrah setelah apa yang dia lakukan karena dia sadar diri dengan kemampuannya sekarang. Seperti saat ini Kamil sedang bersiap untuk memeriksa sebuah rumah yang diduga menjadi tempat bersembunyi untuk Farhan. Kamil pergi bersama dengan Daren dan Christy ketiganya pergi pagi buta bahkan orang-orang di rumahnya belum pada terbangun dari mimpinya.
”Kau yakin akan jika itu tempatnya?” Daren mendadak ragu karena tempat yang dia datangi jauh dari kata bagus terlebih untuk Farhan yang notabene sudah terbiasa dengan kemewahan.
”Aku juga tidak yakin tapi kita perlu mencobanya kita awasi saja dari sini, aku tidak mau berlama-lama berdiam diri terlebih mamaku sedang dalam keadaan tidak sehat,” ucap Kamil.
”Apa yang dikatakan Pak Kamil benar kita perlu mencoba,”. ujar Christy membenarkan pernyataan Kamil.
Kamil melirik sekilas pada wanita yang mengikutinya ke sini, bahkan jika dia adalah Medina pasti Kamil akan melarangnya ikut menunggu di rumah jauh lebih baik.
”Kenapa kamu melirik padanya!” kesal Daren yang melihat sikap Kamil pada Christy.
”Eh?”
”Ada masalah apa?”
Christy menatap kedua pria yang ada di depannya bingung.
”Aku tahu kamu meliriknya tadi,” ucap Daren.
Kamil tergelak, ”Astaga bahkan dalam keadaan seperti ini kamu masih bisa cemburu padaku? Aku heran saja padanya bukankah lebih baik di rumah dan tidur nyenyak di kasur yang empuk namun dirinya justru melibatkan dirinya agar bisa bertemu denganmu, benar bukan Christy?”
”Eh it-itu ... aduh gimana ya Pak Kamil saya harus jelaskan,” ujar Christy bingung.
”Gak perlu dijelaskan karena gak ada yang penting, kamu itu ke sini aku yang ngajakin bukan dia. Sudah jangan dibahas lagi.” Daren merasa kesal karena Kamil mulai menggoda Christy.
Ketiganya kembali diam melihat situasi sekitarnya berharap orang yang ditunggu akan muncul namun hingga larut malam Farhan tak juga terlihat di sekitaran rumah itu.
”Apa kita perlu pergi ke hotel lebih dulu?” tanya Kamil mengingat tidak mungkin jika ketiganya berada di sini bersamaan.
”Tidak perlu aku akan mengantarkannya ke hotel lalu balik lagi ke sini,” ucap Daren.
”Silakan.”
Daren pun meninggalkan Kamil sendirian dia yakin pria itu akan baik-baik saja dan dia tidak mungkin membiarkan kekasihnya berjalan sendirian apalagi hari sudah malam.
”Maafkan aku karena merepotkan di sini.”
”Tidak masalah justru aku yang harus berterima kasih karena kamu di sini aku jadi tidak kesepian, kamu tahu kan bos kita itu orangnya kayak apa?” Daren tergelak sendirian.
”Jangan begitu bagaimanapun dia itu bos yang baik,” ucap Christy.
”Itu menurutmu, faktanya dia sangat cerewet sekali.”
”Astaga, baiklah aku akan memberitahukannya jika kamu membicarakan dirinya di belakangnya kamu pasti akan dipecat!”
”Biarkan saja yang penting aku sudah mendapatkan apa yang aku cari.” Keduanya kembali ke hotel dan Daren mengantarkannya hingga ke pintu kamarnya.
”Aku balik dulu ya, ingat jangan buka pintu siapapun yang datang!”
”Baik.”
Daren segera pergi menyusul Kamil yang ditinggalkannya sendiri di kafe namun dirinya tak menemukan pria itu.
”Kemana perginya dia, masa iya baru beberapa menit ditinggal sudah menghilang,” lirih Daren. Daren pun meraih ponselnya dan menghubungi Kamil.
__ADS_1
”Hallo, dimana kamu sekarang?”
”Di hotel, baru sampai.”
”Astaga bahkan aku kembali ke kafe dan kamu pergi tanpa memberitahukan diriku.”
”Aku sudah bertemu dengan Bang Farhan jadi tak perlu menunggunya lagi besok pagi kita check out dari sini.”
”Oke. Aku balik ke hotel sekarang.”
***
”Apa Kamil ada menghubungimu?” tanya Alika begitu Medina datang membawakan makanan untuknya.
”Belum, Ma.” Medina melihat kekhawatiran di wajah Alika. ”Mama tenang saja, Bang Kamil pasti akan segera kembali,” sambung Medina sedangkan Alika hanya mengangguk singkat.
”Ma, bolehkah aku pergi bersama dengan Riezka hari ini?” Malvin meminta ijin pada Medina.
”Kemana?” Medina menatap Malvin yang semakin dewasa.
”Toko buku Tante, kami mencari buku buat mengerjakan tugas sekolahnya,” jawab Riezka menimpali.
”Dia ... ?” Alika mengamati Riezka gadis cantik berjilbab navy.
”Dia keponakanku, Ma. Usianya jauh lebih tua dari Malvin,” sahut Medina.
”Hallo ... Nek.” Riezka menyapa Alika.
Alika tersenyum melihat Riezka. ”Jadi kamu akan tinggal di sini?”
”Bagus, anak muda memang harus punya kemauan untuk maju terlebih kalian adalah generasi yang berbakat. Nenek bangga pada kalian.”
”Mama mengijinkan kalian pergi tapi makanlah dulu dan ajak Baron untuk menemani.” Medina mengingatkan Malvin agar tidak makan sembarangan di luar.
”Apa daddy belum ada kabar, Ma?” tanya Malvin seraya menikmati makanan yang ada di depannya.
”Belum, mungkin siang ini dia pulang kenapa?”
”Aku mau meminta pertimbangan soal universitas yang akan aku daftar nantinya,” ucap Malvin.
”Memangnya kamu mau mengambil jurusan apa?” tanya Alika.
”Belum tahu juga, Nek.”
”Tentukan dulu pilihannya baru bisa mencari universitas yang tepat, nenek yakin daddy akan membantumu nantinya,” ucap Alika.
”Baiklah nanti Malvin pikirkan lagi mau bagaimana,” sahut Malvin.
”Cepat habiskan makanannya! Riezka, makan
yang banyak,” seru Medina memberikan sepotong paha ayam padanya.
Riezka gadis itu hanya tersenyum, Medina sangat tahu jika gadis yang ada di depannya saat ini tidak mendapatkan perhatian dari keluarganya dan hal ini membuatnya ingin lebih memperhatikan gadis itu.
Tepat jam sembilan pagi Kamil pulang ke rumah. ”Bang, kamu pulang. Aku kira akan lama di luar kota.”
__ADS_1
Medina mengambil alih jas di tangan Kamil.
”Aku terlalu rindu denganmu, jadi tidak mungkin aku berlama-lama di luar sana. Apa mama ada datang ke sini?”
”Ya dan baru saja pulang ke rumahnya.”
”Anak-anak?”
Medina mengerutkan keningnya mendengar kalimat Kamil.
”Kenapa, ada yang salah bukankah di sini ada dua anak?” Kamil menoel pipi Medina gemas melihat reaksinya.
”Bisa saja, mereka pergi ke toko buku diantar Baron.”
”Di luar ada Denis dan Saskia.”
”Apa? Kenapa Malvin tidak memberitahukannya jika temannya akan datang.” Medina pun segera menghubungi Malvin. ”Ish, ponselnya tidak bisa dihubungi.”
”Mungkin masih sibuk, biarkan saja mereka masuk lebih dulu,” usul Kamil.
Medina pun keluar setelah meletakkan jas milik Kamil di kamarnya, dia melihat kedua teman Malvin tengah duduk di teras.
”Maafkan Tante, karena tidak tahu jika kalian berdua datang ke sini. Yuk, masuk tunggu mereka berdua di dalam saja,” ucap Medina.
”Memangnya Malvin pergi dengan siapa Tante?” tanya Saskia.
”Dia pergi dengan sepupunya dari Semarang,” jawab Medina.
”Oh.”
Keduanya pun masuk dan menunggu di ruang baca, Medina menyiapkan minuman dan sedikit camilan untuk keduanya.
”Bang, kamu mau kemana?” Medina melihat Kamil tergesa-gesa keluar dari kamarnya.
”Ke rumah mama ada hal penting yang harus aku katakan padanya, Malvin baru saja menghubungiku dia sedang dalam perjalanan pulang.”
”Oh.”
”Ada apa?”
”Tidak ada.”
”Semua masalah aku anggap beres karena Bang Farhan sendiri telah menyerah mengurus perusahaannya.”
”Lalu bagaimana dengan Alea?”
Kamil nampak bingung bagaimana menjelaskannya pada Medina mengingat pertemuannya dengan kakaknya semalam membuatnya teramat kesal, Kamil menggaruk alisnya.
”Soal itu ... aku akan membicarakannya dengan mama sekarang.”
”Aku ikut!”
Kamil menarik nafasnya, ”Tunggu aku pulang nanti aku akan menjelaskannya padamu.”
Medina mengangguk namun hatinya bertanya-tanya karena Kamil seakan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1