
Malvin terlihat senang karena mendapatkan nilai yang bagus dan dia mendapat peringkat satu di sekolahnya. Bagaimanapun dia bangga karena selama ini usahanya tidak sia-sia belajar dan belajar membuatnya menjadi juara dan nilai plusnya perlahan dia mulai menjadi idola di sekolahnya.
”Selamat Nak, kamu memang berhak mendapatkan ijin semua dan lagi papa bangga sama kamu Nak.” Daffa mengurai senyumnya saat ini dia benar-benar bahagia karena putranya bisa menjadi nomor satu di sekolah yang notabene adalah anak orang-orang kaya.
”Makasih Pa, Malvin senang sekali dan ini adalah hadiah untuk mama dan Daddy karena selama ini merekalah yang selalu support Malvin hingga Malvin bisa jadi seperti ini,” ucap Malvin.
Mendadak Daffa merasa tersingkir dengan penuturan putranya apakah dirinya sudah tidak lagi dibutuhkan olehnya, kenapa dia tidak menyebutnya atau mungkin dia salah mendengar. Daffa mencoba positif thinking tentang hal ini dia yakin Malvin tetaplah putranya yang dulu.
”Malvin mau menunggu Daddy ya Pa, Assalamualaikum,” pamitnya. Malvin duduk di taman sekolah menunggu dijemput oleh Kamil karena pria itu bilang hari ini dia akan menjemputnya.
”Hai, selamat ya atas prestasi yang kau dapatkan, jujur aku gak percaya loh jika kamu mampu mengalahkan Tiffany anak yang sudah lebih dulu berprestasi di sini,” ungkap Saskia.
”Terima kasih, aku sendiri tidak menyangka jika akan berhasil tapi sungguh ini pun menjadi suprise untukku,” terang Malvin.
”Em, apa kau sudah memiliki kekasih?” tanya Saskia.
”Apa maksudmu menanyakan hal itu?” balas Malvin.
”Tidak ada, jika kau belum memiliki kekasih maka aku ingin mendaftar menjadi calon kekasihmu itupun jika kau sedang membuka lowongan hati,” ungkap Saskia
Malvin pun tertawa mendengar ucapan Saskia barusan sungguh hal ini terdengar lucu buatnya ’lowongan hati’ memangnya hati juga butuh tenaga? Ops! Malvin lupa jika hati juga bisa lelah karena menunggu, menunggu sesuatu yang tak pasti seperti mamanya dulu waktu bertengkar dengan Daffa papanya.
”Kenapa kau malah tertawa apakah ada yang lucu dengan kalimatku barusan?” ucap Saskia.
”Ya kau sangat lucu, aku tidak akan membuka lowongan hati ataupun lowongan pekerjaan mengerti!” Malvin menatap ke depan dilihatnya mobil milik Kamil datang menjemputnya.
”Wow, mobilnya keren sekali sebenarnya siapa Daddy-mu itu sehingga hampir setiap hari berganti mobil?” tanya Saskia penasaran.
”Dia adalah orang yang paling baik yang pernah Malvin kenal, seorang daddy dan juga teman yang nyaman untuk diajak bicara. Aku pulang ya sampai jumpa.” Malvin melangkahkan kakinya menuju Kamil.
Medina muncul keluar dari mobil. ”Mama!” panggil Malvin. Medina mengurai senyum manakala Malvin menyapanya.
”Bagaimana hasilnya?” tanya Medina.
Malvin mengacungkan jempolnya,. ”I’m number one!”.
”Benarkah?”
__ADS_1
Malvin mengeluarkan hasilnya dsn memberikannya pada Medina. Wanita itu mengecek ucapan Malvin dan memang benar putranya juara satu.
”Selamat Nak, kamu mau hadiah apa dari mama, huh!”
”Daddy juga mau nawarin hadiah untukmu kalau begitu,” sambar Kamil tidak mau kalah.
”Ya ampun kalian berdua, Malvin tidak mau hadiah apapun cukup kalian akur dan bahagia setiap waktu Malvin sudah sangat bahagia.”
Medina memandang ke arah Kamil, ”Mama kamu sudah bahagia setiap hari benar kan Sayang?”
Medina mengangguk mengiyakan perkataan Kamil. ”Kita makan siang di luar bagaimana?”
”Boleh.”
Ketiganya pun pergi meninggalkan sekolah, di sudut sekolah nampak Daffa memperhatikan semuanya merasakan sesak di dadanya begitu melihat senyum Medina yang terlihat bahagia, senyum yang tidak dia jumpai saat bersama dengannya.
***
”Bang kamu tahu, jika Medina istri Kamil hanya orang kampung biasa,” ucap Alea pada Farhan yang masih aja sibuk dengan pekerjaannya.
”Aku mengetahui semuanya dari mantan suaminya.”
Farhan mengangkat wajahnya mendengar perkataan Alea, ”Dimana kau bertemu dengannya?”
”Di mall, kapan hari itu aku melihat putranya bersama dengan papa kandungnya.”
Farhan hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sedangkan Alea nampak kesal karena tanggapan Farhan suaminya biasa saja tak seperti yang dia harapkan.
”Kamu kenapa?” ucap Farhan.
”Kenapa Abang reaksinya hanya seperti itu saja, Abang gak terkejut atau mungkin berpendapat lain?”
”Untuk apa, aku sudah sangat faham adikku jadi untuk apa membahasnya jujur sebaiknya kita memikirkan diri kita saja itu lebih baik daripada kita harus mengurusi masalah orang lain.” Farhan menutup laporannya dan merapikan mejanya.
”Abang mau kemana?” tanya Alea melihat Farhan merapikan pakaiannya seperti akan keluar.
”Menyerahkan berkas ini ke Pak Budi, kamu tunggu saja di sini aku hanya sebentar kok habis ini kita keluar makan siang bersama.” Farhan keluar dengan santai sedangkan Alea merasa kesal kenapa dia tidak menyuruh Laras saja mengambilnya, bukankah dia sebagai sekretaris suaminya.
__ADS_1
Farhan melangkah ke ruangan Pak Budi dimana dia akan menentukan dokumen penting yang ada di tangannya. di koridor sebuah tangan menariknya membawanya masuk ke sebuah toilet.
”Astaga apa yang kau lakukan Laras?” pekik Farhan terkejut ketika mengetahui jika wanita itu adalah sekretarisnya.
”Beberapa hari ini kamu acuh sekali padaku, aku kangen Han,” bisik Laras.
”Astaga, jangan begini kalau ada yang lihat bagaimana?” bisik Farhan.
”Pecat saja yang melihat mudah kan? Kamu ini bosnya di sini kenapa takut?”
”Aku tidak mau, jika ada yang memberitahukan istriku tentang hubungan kita,” ucap Farhan.
Laras kesal karena Farhan lebih membela istrinya daripada dia. ”Apa ini tandanya kau tidak mencintaiku dengan hatimu? Aku hanya tempat pelampiasan saja buatmu, benar kan itu semua? Aku akan resign saja!”
Laras hendak pergi meninggalkan Farhan namun pria itu menariknya dan ******* bibir Laras membuat wanita itu terkejut seketika. Laras menikmati hal itu, sudah beberapa hari Farhan acuh padanya dan kali ini dia ingin membalasnya. Tanpa Farhan sadari, Laras sengaja meninggalkan tanda merah di lehernya agar Alea cemburu dan curiga pada suaminya, itu Laras lakukan untuk membalas kekesalannya belakangan ini.
”Sudah cukup ya, besok jika ada waktu aku main ke apartemen kamu. Mengerti!”
Laras hanya tersenyum tapi dalam hati dia merasa puas karena sebentar lagi Alea pasti akan marah-marah pada Farhan. Setelah selesai memberikan berkasnya Farhan balik ke ruangannya mendapati Alea sudah bersiap untuk berangkat.
”Kamu sudah siap? Memangnya kita mau makan dimana?” tanya Farhan menatap istrinya yang sedang memperhatikan dirinya tak berkedip.
”Bang, ada sekretaris kenapa Abang pergi sendiri ke ruangan Pak Budi?” tanya Alea mengikis jarak pada Farhan.
”Sayang tidak semua pekerjaan harus dia handle apalagi tadi dia tidak ada di mejanya dia sedang melakukan pekerjaannya di luar ruangannya juga,” jelas Farhan.
”Bang ini apa? Siapa yang melakukannya?” tanya Alea menunjuk pada leher Farhan yang nampak kemerahan.
”Sialan, Laras benar-benar mengajak perang!” pekik Farhan.
Farhan mengusap lehernya, ”Mungkin ini hanya gigitan nyamuk saja, yuk kita berangkat!”
Farhan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. ”Tidak mungkin ini sama dengan yang Abang kasih pada Alea di malam pertama.”
Deg!
Farhan kebingungan bagaimana menjelaskannya pada Alea.
__ADS_1