Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Mengingatkan


__ADS_3

Medina dan Alea terlihat akrab membuat Malvin yang mengetahui hal itu tenang dan meninggalkan mamanya berduaan dengan Alea.


”Kau sendiri bagaimana bisa menikah dengan suamimu yang sekarang?” tanya Alea.


"Aku dan dia sebenarnya dipaksa menikah, waktu itu aku mengharapkan Kamil karena kita sudah lama saling mengenal tapi ternyata dugaanku salah.”


Mendengar pengakuan Alea tentu saja Medina cemburu tapi memang sejak awal pembicaraan mereka telah berjanji untuk saling terbuka dan tidak ada yang ditutup-tutupi meskipun hal sepele sekalipun.


"Kau jangan marah ataupun cemburu karena ternyata Bang Kamil hanya menganggap diriku sebagai adik saja tidak lebih," lanjut Alea.


”Ya aku tahu soal itu darinya, Bang Kamil sendiri yang bilang waktu masih bersama dengan Baron saat di Semarang dulu," ujar Medina.


”Kau beruntung mendapatkannya karena dia begitu menomorsatukan wanita dalam hidupnya berbeda dengan kakaknya yang selalu bergonta-ganti pasangan, jujur aku ingin mengakhiri semuanya jika saja tidak ada janin dalam rahimku sekarang.”


Alea mulai menangis mengingat beberapa kali Farhan selalu bersama dengan Laras sekretarisnya itu.


”Yang sabar, semua pasti berlalu doakan saja semoga dia berubah setelah anak ini lahir.”


”Aku justru tidak menginginkan kembali dengannya.”


”Lalu?” Medina terkejut mendengar penuturan Alea. ”Jika tidak bersama dengannya bagaimana dengan anak itu nantinya?”


”Aku ingin menikah dengan orang lain yang mencintaiku dan aku juga mencintainya.”


”Siapa?”


"Daren.”


”Dia ... ?”


”Ya dia, belakangan ini dia memberikanku perhatian lebih yang tidak diberikan oleh suamiku sendiri. Saat ini ketika aku menginginkan sesuatu maka dirinyalah yang akan dengan repot mencarikannya untukku,” ucap Alea tersenyum miris dengan keadaannya.


”Sabar, lalu apa kau akan tetap bertahan dengan keadaan seperti ini?” tanya Medina.


”Aku akan meminta cerai setelah anak ini lahir dan aku tidak akan tinggal seatap dengannya.”


”Apa? Lalu kau akan tinggal di mana?” Medina mengernyitkan alisnya.


”Bersama Daren.”


Medina meneguk salivanya kasar. ”Boleh aku kasih saran.”


”Apa?"


"Tapi aku minta maaf sebelumnya dan tolong jangan marah ya,” ucap Medina hati-hati.

__ADS_1


"Baiklah.”


"Janji!”


”Tentu saja.” Alea mengurai senyumnya sedangkan Medina sedikit khawatir tapi inilah yang harus dia sampaikan dan memang wajib dia lakukan mengingat hal ini adalah amanah dari Kamil suaminya.


”Mbak Alea dan Daren belum menikah kan, jika kalian berdua serumah aku gak jamin tidak akan terjadi apapun yang membuat Mbak Alea merugi pada akhirnya.”


"Maksudnya?"


"Kalian bukan mahram dan akan sangat merugikan buat Mbak Alea sendiri nantinya. Mohon maaf Mbak, kita sebagai wanita harus punya nilai jual yang tinggi setidaknya dengan seperti itu maka yang mendekati kita pun akan segan dan tidak lagi mempermainkan kita. Aku harap Mbak Alea tidak tersinggung tapi aku juga berharap Mbak Alea memikirkan apa yang saya ucapkan saat ini.”


”Sebenarnya aku tahu soal ini hanya saja aku masih belum bisa mempraktekkannya terlalu rumit daripada teorinya.”


”Kau pasti bisa, aku dulu merasakan apa yang Mbak Alea rasakan saat ini. Bahkan dengan hinaan yang menyakitkan sekali. Aku gak mendendam dengan mereka hanya saja aku selalu berharap suatu saat nanti bisa mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya itu saja.”


”Kau benar semoga saja aku bisa menjadi seperti dirimu.”


”Kau pasti bisa, semangat!” Medina berusaha menguatkan wanita yang ada di sampingnya. ”Jika kau butuh sesuatu datanglah ke sini, kau bisa berbagi cerita denganku. Aku dengar keluargamu di luar negeri semua kan? Aku tahu kau pasti kesepian karena aku juga merasakannya.”


”Terima kasih.” Kedua wanita itupun saling berpelukan saling menguatkan satu sama lain.


***


”Apa kau tahu dimana Alea sekarang?” Hamid mencoba mencari keberadaan menantunya itu.


”Aku akan menemuinya sekarang!” Hamid segera beranjak dari duduknya.


”Tidak perlu jangan ganggu kedekatan mereka berdua biarkan saja,” cegah Alika.


”Tapi dia harus mengurus suaminya yang sedang sakit saat ini.”


”Jangan bodoh, suaminya itu sedang bersenang-senang dengan sekretarisnya itu mana mungkin dia ingat tentang Alea. Sudahlah lebih baik kau pulang dan jangan asal masuk ke rumah orang, ingat kita bukanlah siapa-siapa lagi sekarang,” ucap Alika penuh penekanan karena tak ingin lagi dikekang oleh mantan suaminya.


”Aku tidak peduli, aku akan tetap datang ke sana.”


Hamid melangkah dengan tenang menuju ke rumah Kamil yang hanya beberapa meter saja dari rumah Alika. Melihat mobil Kamil yang telah terparkir dengan baik di halaman rumahnya, Hamid yakin jika putranya pasti sudah kembali dan dia berharap bisa mengobrol pelan-pelan dengannya.


”Eh Kakek,” sapa Malvin melihat kedatangan Hamid di samping rumah dirinya baru saja bersama Baron bermain basket.


”Di mana papamu?” tanya Hamid dengan ketus pada Malvin.


”Ada di dalam sebentar Malvin panggilkan.”


Malvin masuk dan langsung menyerbu ke meja makan karena di sanalah Kamil tengah duduk bersama dengan Medina dan Alea.

__ADS_1


”Dad, ada kakek di depan.”


Kamil berbalik dan bertanya pada Malvin, ”Siapa yang kau maksudkan itu Malvin?”


”Papanya Daddy tentu saja siapa lagi mana mungkin kakek dari Semarang beliau kan baru pulang kemarin malam.” Malvin segera ke dapur mengambil air minum.


Seorang paruh baya masuk menghampiri ketiganya. ”Kamil.”


Kamil menoleh, ”Ada apa Pa? Apa yang membuatmu datang ke sini.”


Hamid menghela nafasnya. ”Apa kau tahu di mana Farhan?”


Kamil mengedikkan bahunya singkat. ”Kenapa papa menanyakan hal ini padaku sedangkan kami tidak begitu dekat satu sama lain.”


”Alea kau tahu di mana suamimu sekarang berada?"


”Maaf saya tidak tahu,” jawab Alea dingin.


”Sebaiknya papa ke kantornya dan menanyakan hal ini pada sekretarisnya itu, jangan tanya ke sini.”


”Kau memang benar, tapi di kantor dia tidak ada makanya aku bertanya padamu,” tukas Hamid.


”Saya tidak peduli dia di mana karena dirinya saja sama sekali tidak peduli dengan saya.”


Kamil dan Medina saling pandang, Medina memegang tangan Alea yang berkeringat dingin saat ini.


”Jangan begitu karena bagaimanapun dia masih berstatus suami buatmu,” timpal Kamil.


”Ya suami yang tidak tahu diri dan dengan sengaja berselingkuh manakala istrinya sedang hamil, apakah itu yang disebut dengan suami yang baik?”


Hamid menegang sama halnya Kamil namun dirinya berbeda dengan ketegangan yang dirasakan oleh papanya.


”Alea cukup. Pa, tolong jangan membahas apapun di sini karena rumah ini buat ketenangan keluargaku bukan untuk berdebat lempar kesalahan orang lain.”


”Jadi kau membelanya begitu?”


”Aku tidak membela siapapun di sini jika memang salah maka Kamil akan menegurnya langsung Pa, yang jadi masalah sekarang ada wanita hamil di sini.”


”Kau lebih membela wanita ini daripada papamu?” hamid memalingkan kepalanya kesal ada putra bungsunya.


”Kamil hanya menginginkan ketenangan itu saja, bahkan masalah di kantor pun tidak Kamil bawa pulang ke rumah karena tempat ini untuk beristirahat.”


”Alea, aku bawakan siomay pesananmu!”


Semua orang menoleh ke arah suara.

__ADS_1


”Oh jadi ini orang yang membuat rumah tangga putraku terancam bubar.”


Semua tersentak mendengar perkataan Hamid darimana dia mendapatkan pemikiran seperti itu.


__ADS_2