
Kamil memandangi istrinya dengan intens niat hati mau jalan-jalan semalam justru berakhir di dalam kamar, semalaman dia tidak henti-hentinya melakukannya lagi dan lagi seakan tenaganya tak pernah habis dan tak ada rasa lelah melanda tubuhnya.
”Eugh, jam berapa ini?” Medina mengerjapkan kedua matanya. ”Jam berapa Bang?”
”Jam empat.”
Medina segera bangkit namun tubuhnya kembali ditarik oleh Kamil membuat tubuhnya kembali terjatuh menimpa dada pria itu.
”Agrh, aku lelah Bang.”
”Tapi aku masih mau lagi,” ucap Kamil suaranya serak diliputi kabut gairah.
”Tidak! Aku butuh istirahat, maaf.” Medina menunduk demi apa dia menolak permintaan Kamil, dia hanya merasakan kepayahan melayani suaminya karena Kamil melakukannya tanpa jeda membuat tubuhnya sakit semua.
”Baiklah kalau begitu, maaf jika telah membuatmu kesakitan. Ayo kita bersiap nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan di tepi pantai. melihat sunrise pemandangan di tempat ini pasti indah.”
”Benarkah?”
”Penduduk lokal juga sangat ramah sekali,” tutur Kamil.
”Mm, begitu ya.”
”Kau akan tahu nanti.” Kamil meraih tangan Medina mengajaknya ke bawah. sepanjang jalan kedua tidak henti-hentinya melempar senyum pada warga sekitar sungguh ini adalah perjalanan pertama Medina yang paling menyenangkan.
”Kamu lihat kan?” seru Kamil.
”Benar, mereka sangat ramah.” Kamil terus memfoto istrinya dan sesekali membuat video pendek di ponselnya.
”Untuk apa?”
”Kenang-kenangan, kita gak tahu kapan lagi bisa ke sini.” Medina hanya ber-o saja mendengar penjelasan Kamil.
Beberapa kali penduduk setempat menyapa mereka dengan senyuman hangat, membuat Medina sedikit tenang karena sejak tadi dia memikirkan Malvin ’apakah putranya sudah makan dengan baik?’ karena selama ini Malvin tidak pernah jauh darinya.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Kamil dia bisa melihat gelagat Medina yang nampak gelisah.
”Aku memikirkan Malvin, maaf.”
Kamil tersenyum kecil mendengar perkataan Medina. ”Bukankah sudah aku katakan jangan memikirkannya, insyaallah mama tidak akan mengabaikannya.”
”Aku percaya soal itu yang aku pikirkan itu apakah dia makan dengan baik karena selama ini dia tidak pernah jauh dariku.”
Kamil merangkul bahu Medina, ”Sudah jangan terlalu dipikirkan nanti kita lakukan video call, kamu mau kan?”
”Terima kasih,” ucap Medina dirinya dapat bernafas lega karena suaminya sangat pengertian padanya.
***
__ADS_1
Alika datang ke kantor setelah mendengar laporan dari asistennya, mungkin karena firasat seorang ibu tidak pernah meleset dia merasa akan terjadi sesuatu di kantor ini. Sebenarnya dia enggan kembali ikut campur masalah bisnisnya tapi karena Kamil sendiri tidak ada di kantornya membuatnya mau tak mau harus ikut melihat secara langsung bagaimana kinerja karyawannya.
”Apa ada laporan yang tidak aku ketahui?” tanya Alika seraya menatap berkas yang ada di depannya.
Daren sendiri nampak kebingungan apakah dia harus bicara pada bos besarnya itu.
”Kenapa diam saja?” Alika memandang ke arah Daren. ”Ini proyek di Bali kenapa aku tidak mengetahuinya?”
”Masalah itu masih terkait dengan pimpinan lama, kami sedang mengusahakan dana yang keluar bisa kembali meskipun kecil kemungkinannya.”
”Maksudmu ... Hamid yang melakukan semua ini?” Alika menautkan kedua alisnya.
”Jadi dia melakukannya tanpa persetujuan dariku?”
”Bisa jadi, sebaiknya tunggu hingga Kamil pulang karena dialah yang mengurus semuanya kapan hari dia datang ke apartemen Pak Hamid.”
Alika mengangguk cepat. ”Lanjutkan pekerjaannya aku mau menemui Alea sebentar.”
Alika segera menuju ruangan Alea menantunya yang memang bekerja di perusahaannya.
”Mama,” sapa Alea dia sendiri terkejut melihat kedatangan mertuanya.
”Kemana kamu kemarin malam?” Alika langsung to the point karena memang wanita itu tidak suka berbasa-basi.
”Aku pulang ke rumah Ma.”
”Apa kalian bertengkar? Nak, tolong jaga perasaan Farhan buat mama karena bagaimanapun dia saat ini adalah suamimu.”
”Apa maksudmu dengan mengatakan hal itu pada mama.”
”Dia memaksaku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan,” jelas Alea.
”Apa itu?”
”Memaksaku berhubungan.”
”Apa?” Alika membelalak mendengar penjelasan Alea.
”Tanyakan saja pada putramu aku tidak pernah berbohong padamu.”
Alika terdiam kenapa putranya bisa melakukan hal yang tidak dia sukai, belakangan ini dia sibuk dengan bisnisnya di luar kota apakah dia juga mengikuti jejak papanya.
”Mama akan bantu kamu luruskan masalahnya agar dia tidak berbuat sesuka hatinya, pulanglah ke rumahnya tetap lakukan kewajibanmu dengan baik, jika dia terbukti bersalah bisa jadi nasibnya sama seperti papanya.”
Giliran Alea yang tersentak mendengar perkataan Alika, mama mertuanya itu memang selalu tegas dalam mengatasi masalah jika Farhan ketahuan menyakitinya bagaimana nasib papanya karena selama ini Farhan telah membantunya begitu banyak.
”Mama tidak perlu khawatir aku dan Bang Farhan dalam keadaan baik-baik saja, Alea rasa hanya soal waktu saja sehingga kami seperti ini.”
__ADS_1
”Baiklah jika demikian, tolong jika memang dia berbuat yang tidak baik terhadapmu maka segera laporkan pada mama mengerti!”
”Tentu saja Ma.”
Alika meninggalkan Alea di ruangannya, dia merasa lega karena menantunya dalam keadaan baik-baik saja meskipun sebenarnya masih ada sedikit keraguan di hatinya.
Alika masuk ke ruangan Kamil bersiap untuk pulang ke rumah namun rencananya untuk pulang sepertinya akan tertunda karena Hamid ada di ruangan tersebut.
”Sedang apa kau di sini?” Alika menatap penuh kebencian pada pria yang telah mengkhianatinya itu.
”Aku mau mengambil sesuatu di sini tapi asistennya bilang Kamil tidak ada di tempat jadi aku masuk saja ke sini toh dulu ruangan ini juga milikku,” balas Hamid enteng.
”Cih! Sudah terbukti salah masih saja berani datang ke sini apa kau ingin aku melaporkanmu pada sekuriti. Daren!” teriak Alika.
Lelaki tampan dengan penampilan seperti bodyguard datang ke ruangan Kamil dengan tergesa-gesa.
”Apa yang terjadi?” tanya Daren, dirinya terkejut karena Hamid ada di ruangan ini.
”Usir dia dari sini!” titah Alika tegas.
”Silakan Tuan Hamid, apakah Anda ingin pergi dengan suka rela atau terpaksa saya yang menyeret Anda keluar dari sini?”
Hamid menatap keduanya bergantian dengan tatapan kesal. ”Ingat, aku tidak akan lupa dengan sikap kalian padaku hari ini.”
Hamid melangkah pergi dengan langkah lebar meninggalkan kantor tersebut, dia memang sengaja datang ke sini begitu mendengar kabar dari Alea semalam di klub jika Kamil tengah pergi honeymoon ke Eropa. Rencananya dia ingin menghapus data file yang dia simpan soalnya belum selesai misinya Alika sudah memergokinya.
”Daren bukankah Kamil sudah berpesan melarangnya datang ke kantor ini kenapa dia masih saja berkeliaran di sini?”
”Soal itu saya kurang faham, tapi sebelumnya saya sudah memperingatkannya tadi saat bertemu dengannya di bawah. Saya tidak tahu jika beliau nekad masuk ke sini.”
”Lain kali lebih teliti lagi mengerti!” ucap Alika sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Alika ingin ke sekolahannya Malvin dia berencana untuk menjemputnya karena Senin ini dia pulang lebih awal.
”Nek kau datang tepat waktu,” sapa Malvin.
Alika datang bersama dengan Baron. ”Ayo kita pulang sekarang atau kau mau pergi ke tempat lain?”
”Bolehkah aku pergi ke toko buku, ada beberapa buku yang ingin aku beli,” ucap Malvin.
”Tentu saja boleh, ayo.”
Alika menggandeng tangan Malvin ke mobilnya dan segera meluncur ke toko buku yang mulai ramai karena sedang berlangsung discount besar-besaran.
Malvin dan Alika jalan berdampingan menuju ke bagian buku sekolah, saking semangatnya Malvin menyenggol seseorang yang sedang membawa tumpukan buku di tangannya.
Bruk!
__ADS_1
Seluruh buku yang ada di tangannya berjatuhan ke lantai. Malvin mengerjapkan matanya begitu melihat sosok yang ada di depannya.
”Papa sedang apa kau di sini?”