
”Bang sebenarnya aku gak tega semalam mama ngomongin begitu,” ucap Medina yang masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
”Soal apa, mama kan banyak bicara semalam.”
”Ya semua terlebih soal Alea sama aku, aku lihat loh wajah Alea sepertinya gak suka sama aku karena mama itu terlalu berlebihan memujiku.”
Kamil tahu akan hal itu tapi memang sengaja membiarkannya, dia ingin menjadikan perkataan mamanya itu buat koreksi Alea sendiri karena selama ini wanita itu sibuk dengan dunianya sendiri dan mengabaikan Farhan abangnya. Kamil ingin Alea bisa mengurus rumah tangganya dengan baik dan tidak lagi mengharapkannya.
”Lupakan saja ya, jangan terlalu dipikirkan Sayang,” ucap Kamil memeluk Medina dari belakang meletakkan kepalanya di bahu istrinya.
"Main lagi yuk!” bisik Kamil.
”Ish, sudah jangan mesum terus! Segera bersiap dan pergilah ke kantor!”
Kamil tidak mengindahkan perkataan Medina dia justru sibuk menggodanya membuat meremang seketika. Medina pun berbalik cepat membuat Kamil terkejut.
”Kamu kok ngagetin sih,” keluh Kamil.
”Bang, apa aku boleh usaha sendiri?” Medina mengutarakan keinginannya untuk membuka warung makan sedangkan Kamil mengangkat alisnya mendengar permintaan Medina.
”Usaha apa? Memangnya uang yang aku kasih sama kamu kurang sehingga kamu ingin buka usaha sendiri?”
Medina menggelengkan kepalanya memainkan jari-jarinya di dada bidang suaminya membuat Kamil mengeram menahan diri karena hasratnya bangun dia tidak ingin menyerang istrinya di pagi hari.
”Ya buka usaha seperti di kampung dulu?”
”Abang gak setuju! Kalau kamu butuh uang tambahan bilang saja nanti Abang akan kasih, pokoknya kmu gak boleh capek ingat Abang masih sanggup biayain kebutuhanmu dan Malvin jadi Abang bilang, No! dan jangan membantahnya mengerti.”
”Memangnya kamu perlu apalagi sih, skincare, barang branded, perhiasan? Bilang Sayang, Abang akan kasih semuanya sama kamu,” tutur Kamil.
”Aku gak butuh semua itu Bang, ya rasanya pengin aja usaha kalau uang hasil kerja keras sendiri kan rasanya beda,” balas Medina menahan tawanya untuk tidak meledak karena merasakan sesuatu di bawah sana yang sudah mulai bangun.
”Oke kalau begitu, kamu bisa kok tiap hari masak dan nanti aku yang akan bayar kamu. Kamu kan masih ada Abang sama Malvin masak yang enak buat kita nanti uangnya masuk ke rekeningmu ya, udah pokoknya Abang gak suka menerima bantahan layani keluarga dengan baik itu saja sih maunya Abang oke!”
Medina menghembuskan nafasnya mau tidak mau dia harus menerima keputusan Kamil, sebenarnya dia tak mau jadi wanita yang menggantungkan diri dengan suami tapi apalah daya jika keputusan suaminya sudah seperti itu mau tidak mau Medina harus menerimanya.
”Abang yakin gak ngantor hari ini?”
__ADS_1
”Tidak mau urus paspor milikmu kita pergi ke eropa pekan dua hari lagi,” ucap Kamil menyerigai kemudian membuat Medina bergidik ngeri melihatnya.
***
Alea terisak air matanya tidak dapat dia tahan untuk tidak keluar mengingat bagaimana Farhan memaksa untuk melayaninya, apakah dia egois karena merasa belum nyaman bersama dengannya sehingga selalu belum siap jika diajak bermain di ranjang.
Alea tidak mengerti apa yang sedang dia rasakan saat ini haruskah dia kecewa sedangkan dia berharap Kamil lah yang menikahinya bukan Farhan kakaknya.
Dengan malas dia menarik selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit menuju kamar mandi. Farhan laki-laki itu sudah menghilang tak tahu kemana atau mungkin sudah pergi ke kantor.
Begitu kakinya melangkah rasa nyeri menyerang bagian intinya. ”Astaga kenapa sakit sekali,” pekik Alea.
Dirinya memutar tubuhnya noda darah di sprei membuktikan jika dirinya sudah bukan lagi seorang gadis perawan, mahkotanya sudah diambil paksa oleh suaminya sendiri Farhan. Haruskah dia menyesalinya?
Alea segera membersihkan dirinya menahan rasa sakit di tubuhnya berpikir segera ke kantor adalah cara terbaik melupakan peristiwa semalam. Begitu mematutkan dirinya di depan cermin, banyak sekali tanda merah tersemat di lehernya.
”Astaga, rupanya semalam dia benar-benar ganas!” pekik Alea dengan segera mengganti pakaiannya karena tidak mungkin dia memamerkan lehernya itu apalagi ada Kamil di kantor yang pasti lelaki itu pasti akan menyindirnya habis-habisan.
”Kamu ke kantor juga, padahal aku melarangmu pergi dan memintamu untuk beristirahat saja di rumah,” ucap Farhan begitu melihat istrinya keluar dari taxi dia langsung menghampirinya.
”Kau keliru itu bukan hanya milikmu tapi juga milikku dan aku hanya menagih apa yang seharusnya jadi milikku, sudahlah jangan terlalu banyak bicara karena faktanya kamu sendiri juga menikmatinya semalam.”
Blush ...
Alea nampak malu mendengar kalimat Farhan dia tidak bisa menampiknya lagi meskipun bibirnya berkata tidak, tubuhnya menerima dengan baik meskipun awalnya Farhan sangat kasar tapi perlahan dia bisa bersikap lembut padanya.
”Jangan bilang kau sedang mengingat kejadian semalam, apa kau mau mengulanginya?” bisik Farhan.
Alea memilih meninggalkan Farhan, tapi lelaki itu tahu jika sebenarnya Alea sedang merasa malu karenanya.
Alea masuk ke ruangannya dan langsung sindir habis-habisan oleh teman-temannya karena datang terlambat.
”Kamu baik-baik saja kan?” tanya Sofia melirik ke arah leher Alea yang ditutupi dengan syal biru.
”Kenapa kau memandangku seperti itu, apakah ada yang salah dengan penampilanku?” balas Alea sesekali melirik ke arah yang lain.
Kamil yang melihatnya dari jauh pun akhirnya menghampiri mereka. ”Ada apa ini ribut-ribut?”
__ADS_1
”Maaf bos, ayo bubar!” ucap yang lain daripada kena teguran karena ketahuan ghibah lebih baik membubarkan diri kembali ke tempatnya masing-masing.
Kamil menunjuk leher Alea membuat wanita itu salah tingkah. ”Apa kamu lagi sakit?”
”Iya sedikit gak enak badan.”
”Jika sakit istirahat saja di rumah itu lebih baik daripada memaksakan diri hasilnya tidak akan baik,” papar Kamil.
”Astaga, aku bisa gila kalau bersama dengan kalian.” Alea menarik kursinya dan mendaratkan bokongnya di sana.
Alea duduk dan sekilas dia melihat warna merah keunguan di leher Alea hal tersebut membuat Kamil terkekeh dan hal itu membuat Alea bingung.
”Jangan gila kamu, mentang-mentang kamu itu bosku tetap saja kamu harus sopan padaku karena aku itu kakak iparmu ngerti!”
”Ya terserah kamu saja,” balas Kamil segera pergi meninggalkan Alea.
Kamil melangkah masuk ke ruangannya di dalam sudah ada Farhan yang menunggunya. ”Udah lama Bang?”
”Kamu udah datang, aku ke sini mewakili papa.”
”Papa? Kenapa dengannya, memangnya dia tidak bisa datang langsung menemui aku di sini, aku dengar apartemennya deket kantor. Btw, selamat kamu sudah unboxing istrimu kan?”
”Tolong jangan memperkeruh suasana, papa sedang sakit sekarang,” ucap Farhan.
”Apa maksudmu Bang?”
”Kamu menanyakan uang proyek di Bali kan? Uang itu memang digunakan oleh papa buat selingkuhannya, aku minta tolong padamu jangan katakan pada mama soal hal ini karena aku tak ingin mama semakin membencinya.”
”Terserah dong mau lapor atau tidak, tidak bisakah kau membela mama sekali saja,” pekik Kamil.
Farhan diam bagaimana dia menjelaskan jika selama ini dia begitu banyak menyimpan rahasia papanya.
”Aku akan melaporkan semuanya pada mama secepatnya.” Farhan menegang mendengar perkataan adiknya. ”Apa yang harus aku lakukan, kasihan papa,” gumam Farhan.
Mampir yuk Kak, 😍🙏
__ADS_1