
”Ma, katanya mama sedang sakit?” Kamil langsung pulang begitu mendengar Alika memanggil Dokter ke rumah asisten rumah tangganya segera menelponnya begitu nyonya besar mengeluh sakit.
”Iya, tadi mama habis jatuh di pasar beruntung ada wanita yang menolong mama tadi.”
Kamil menghela nafasnya sudah berkali-kali dia mengingatkan mamanya untuk tidak pergi jauh-jauh apalagi ke pasar karena kondisi kesehatannya memang tidak fit.
”Bukannya mama bisa minta tolong Mbok Iyem buat ke pasar, memangnya mama cari apa sampai ke pasar,” keluh Kamil melihat mamanya terbaring di ranjangnya.
”Mama ini juga pengin jalan-jalan sudah lama mama gak keluar, kamu ini jangan melarang mama pergi,” ucap Alika.
”Hm, Kamil gak melarang mama pergi kok setidaknya mama ajak teman buat menemani jangan pergi sendirian.”
”Apa papa masih lama di luar kota?”
”Farhan bilang tiga hari tapi gak tahu juga, tadi juga baru saja menelpon mama begitu mendengar mama sakit papamu langsung ngomel-ngomel sama Mbok Iyem.”
Kamil tidak habis pikir dengan papanya kenapa dia begitu berambisi berbisnis hingga ke luar kota bukankah anak-anaknya bisa melakukannya terutama Farhan untuk apa selama ini dia mengikutinya kemanapun dia pergi bukankah papanya bisa melimpahkan pekerjaannya pada putra kesayangannya itu.
Hamid mengabaikan istrinya yang sedang sakit dia sama sekali tidak pulang ke rumah dan beralasan jarak membuatnya hanya melakukan video call saja. Benar-benar tidak habis pikir untuk apa dia mengumpulkan banyak harta sementara dia sendiri mengabaikan keluarganya.
”Ma, mama tidak apa-apa kan?" Farhan datang tergesa-gesa menghampiri Alika diikuti oleh Alea di belakangnya.
”Kalian datang juga ke sini,” ucap Alika.
”Ma, bagaimana kata Dokter?” tanya Alea.
”Biasa penyakit orang yang sudah tua, kamu makin cantik saja Farhan pasti betah di rumah jika setiap hari kau berhias seperti ini,” puji Alika.
”Kamil carilah jodoh yang seperti Alea cantik dan juga baik,” ucap Alika pada Kamil.
”Ma, mama tidak perlu khawatir karena Kamil sudah menemukannya mungkin lusa akan Kamil ajak ke sini.”
”Benarkah? Wanita seperti apa yang telah meluluhkan hati putraku ini.”
”Mama tenang saja, pokoknya dia cantik dan Kamil yakin mama pasti suka dengannya.”
”Kalian mau makan malam di rumah kan?” tanya Alika.
Farhan dan Alea saling pandang. ”Kami mau ada acara di luar Ma,” jawab Farhan.
”Kamu bagaimana Kamil?” tanya Alika.
”Boleh tapi nanti tetap Kamil pulang ke apartemen karena ada beberapa pekerjaan yang harus Kamil urus.”
”Janji ya,” ucap Alika.
__ADS_1
”Pasti Ma, Kamil ke kamar dulu ya.”
Kamil segera berlalu ke kamarnya meninggalkan yang lain karena merasa risih melihat tatapan Alea yang seakan sedang menguliti dirinya. Mungkin dia penasaran dengan perihal wanita yang akan menikah dengan dirinya.
Kamil merebahkan tubuhnya di ranjang dia teringat dengan Medina dan Malvin, jika dia menikah dengan wanita itu berarti dia harus mencari walinya sedangkan Medina sendiri bilang jika keluarganya sudah tidak peduli lagi dengannya. Kamil menghela nafas beratnya haruskah dia kembali ke Semarang dan mencari ayahnya Medina. Walau bagaimanapun ayahnya berhak tahu nasib putri dan cucunya sendiri.
”Hallo Radit tolong kau cari orang yang bernama Pak Ratno Kuncoro alamatnya aku kirimkan nanti.”
”Baik, tolong segera ya!”
Bip.
Kamil segera mengirimkan alamat orang tua Medina pada Raditya berharap semua masalahnya segera teratasi dan dia bisa segera menikah dengan wanita pujaannya itu.
***
Medina menata tanaman bunga yang baru saja dibelinya di pasar, wanita itu tampak antusias apalagi mawar merahnya yang sudah terlihat akan mengembang.
”Ehem, sedang sibuk ya?" sapa Kamil membuat Medina terkejut.
"Eh iya. Lain kali kalau datang itu berucap salam jangan asal menegur begitu bikin kaget orang saja.”
”Maaf, Malvin mana?”
”Ada di dalam lagi kerjain tugas sekolahnya, ada apalagi nyari dia?”
”Memangnya ada apa mencariku?”
Kamil terdiam sejenak berdoa lebih dulu semoga wanita yang ada di depannya ini tidak kaget mendengar penuturannya kali ini.
”Bismillah, kita ke rumah orang tuamu yuk!”
Medina menatap Kamil, ”Mau apa ke sana bahkan mereka tidak lagi mengharapkan diriku.”
”Kita belum ke sana kenapa kamu sudah berspekulasi seperti itu dan apa kau yakin jika mereka tidak merindukan dirimu. Sudah bertahun-tahun kalian gak pulang, bisa jadi mereka kangen tapi gak tahu dimana keberadaannya.”
”Sok tahu,” sambar Medina tersenyum getir meski tak bisa dipungkiri hatinya sangat rindu dengan keluarganya.
”Kita coba ke rumah bagaimana? Sekalian aku mau meminta ijin pada ayahmu bukankah kau membutuhkan wali jika menikah.”
Medina terdiam memang benar apa yang dikatakan oleh Kamil dan ayahnya berhak menjadi wali karena masih hidup.
”Apa yang membuatmu ragu?”
”Tidak ada.”
__ADS_1
”Kalau begitu bersiaplah kita pergi malam ini.”
”Apa malam ini?”
”Ya, ajak Malvin sekalian kita langsung ke rumah ayahmu.”
Bahagia itulah yang sedang dirasakan oleh Medina karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan ayahnya, dia berharap ayahnya akan memaafkan dirinya atas kesalahannya di masa lalu. Setelah bersiap mereka berempat akhirnya kembali ke Semarang, Kamil sengaja mengajak Baron karena hanya pria itu yang lebih bisa diandalkan secara fisik pria itu tak pernah mengeluh apapun jika dimintai tolong.
Tepat jam sembilan mereka sampai dan langsung ke hotel milik Raditya.
”Kita nginap di sini saja ya, besok pagi baru kita ke rumah ayahmu, sekarang istirahat dulu kau yakin kalian pasti lelah.”
”Bukannya ini hotel tempat mantan suamiku menikah?” tanya Medina.
”Kau benar ini adalah hotel milik temanku namanya Raditya.”
”Malvin aku mau tidur dengan om atau tidur sendiri terserah kamu,” ucap Kamil.
”Sendiri saja Om, Malvin sudah dewasa malu jika harus tidur bersama.”
"Baiklah sekarang kalian masuk ke kamar masing-masing, selamat beristirahat. Aku mau menemui temanku dulu di ruangannya.”
Setelah memastikan semuanya Kamil berlalu ke ruang kerja Raditya yang berada di pojok kanan lantai dua.
”Bagaimana hasilnya?” tanya Kamil begitu sampai di ruangan temannya itu.
”Sepertinya kamu harus segera menikah dengannya, ayahnya sedang sakit keras dan aku tidak bisa jamin usianya akan panjang,” jawab Raditya.
”Ya ampun, jangan macam-macam kamu kayak Tuhan aja sok tahu usia manusia.”
”Memang benar itu faktanya, ayahnya sedang terbaring sakit dan sudah beberapa bulan tidak menjalani pemeriksaan karena tidak ada biaya berobat.”
”Aku sudah mengirimkan orang buat membawanya ke rumah sakit, besok kita temui saja di rumah sakit jangan ke rumahnya,” tawar Raditya.
Kamil mengangguk pasrah dengan keputusan sahabatnya itu karena Kamil tahu Raditya pasti lebih paham darinya.
”Kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Medina begitu mobil yang ditumpangi mereka berhenti di parkiran rumah sakit.
”Kita akan menemui seseorang di sana.”
Kamil melangkah lebar menuju ke ruang VIP begitu membuka pintu Medina terkejut melihat siapa yang terbaring di sana.
”Ayah,” lirih Medina tangisnya pecah dengan segera dia menghampiri tubuh ayahnya yang tergolek lemah di sana.
Semua yang ada di sana ikut terharu melihat pemandangan itu, terlebih Malvin yang baru pertama kali bertemu dengan kakeknya. Malvin menoleh ke arah Kamil dan pria itu mengangguk singkat. Malvin pun menyusul Medina mendekati kakeknya.
__ADS_1
”Kakek ini Malvin, cucu kakek,” lirih Malvin.