Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kamil Tegas


__ADS_3

Kamil menatap ke arah Daffa dengan tatapan yang sulit diartikan dirinya tidak percaya jika pria yang ada di depannya ini sedang bermain-main dengannya.


”Kau tahu tadi istrimu datang ke kantorku,” ucap Kamil memulai perkataannya.


Daffa balik menatap ke arah Kamil, ”Untuk apa dia datang?”


”Menanyakan perihal uang nafkah yang kau berikan padanya tidak lagi utuh. Dia bilang kau memberikannya pada Malvin seperempatnya berarti dua puluh lima persen kau berikan pada Malvin begitu?”


Daffa tersentak mendengar penuturan Kamil darimana Lastri mendapat keberanian mengungkapkan semua ini pada Kamil.


”Tak perlu tegang, aku sudah mengetahui semuanya jadi apakah itu semua benar?”


Daffa mengepalkan tangannya di pangkuannya dia tidak menyangka jika Lastri berani merendahkan harga dirinya di depan pria lain.


”Aku kira Malvin tidak pernah mendapatkan apapun jadi aku menyangkalnya, namun Lastri bersikeras menyakinkan diriku dan memintaku menanyakan hal ini langsung padamu dan juga Malvin.”


”Apa kau sekarang percaya?”


"Tidak, lebih tepatnya belum karena aku belum melihat buktinya dan aku akan memanggil Malvin sebentar lagi untuk bicara dengannya. Aku butuh jawabannya.”


”Silakan saja.” Daffa mencoba santai dan tidak ingin membuat Kamil merasa menang.


Suara ketukan pintu membuat keduanya mengalihkan pandangannya, Malvin masuk dan menatap keduanya. Dua pria yang sama-sama memiliki status penting dalam hidupnya ’ayah’ itulah status keduanya.


”Ada apa memanggilku Pa, dan Daddy bukankah kau seharusnya di kantor?” tanya Malvin.


”Duduklah!” Kamil mengambil alih perintah karena bagaimanapun dia memiliki saham delapan puluh persen di yayasan ini dia tak mau kehilangan wibawa apalagi di depan Daffa yang hanya pegawai biasa.


Jika saja Lastri tidak datang ke kantornya hari ini mana mungkin dia berada di sini sekarang, wanita itu mematik api kebencian di hati Kamil meskipun Kamil tidak suka dengan perselisihan namun dia harus membuat semua masalah itu menjadi terang.


”Apa benar papamu Daffa memberikan uang jajan padamu setiap bulan?” tanya Kamil to the point karena memang dia tipe orang yang langsung ke pokok permasalahannya.


Malvin menoleh ke arah Daffa menatap kasihan pada pria itu. ”Iya tapi baru dua bulan ini saja, Dad. Tolong Dad, jangan marah padanya lagipula uang itu masih utuh dan Malvin simpan dengan baik di rumah.”


”Berapa banyak?”


”Ada kurang lebih lima juta.”


”Besok jika papamu memberikanmu uang lagi tolak!”


”Kenapa Dad?”


”Malvin, adikmu di rumah papa lebih membutuhkannya untuk membeli susu formula itu yang Daddy dengar dari mama tirimu Lastri,” jelas Kamil.

__ADS_1


”Kai sudah dewasa dan segala keperluanmu sudah Daddy penuhi bukan? Jika memang kau butuh sesuatu kau bisa mengatakannya padaku atau pada Baron biar dia menyampaikannya pada Daddy-mu ini.”


”Maafkan Malvin Dad, awalnya Malvin pun menolak tapi papa bersikeras memberikan ya padaku. Jujur Malvin juga kasihan dengan mama Lastri karena waktu itu dia sudah memberitahukan semua rincian belanja bulanannya padaku.”


”Malvin pun sebenarnya berencana mengembalikan uangnya pada mama Lastri tapi memang Malvin belum sempat datang lagi ke rumah karena Malvin takut dengan mama Lastri yang galak."


”Kau dengar sendiri kan pengakuan dari putramu sendiri. Tidak ada ketenangan di rumahmu dan Malvin sendiri enggan datang ke sana karena perlakuan istrimu itu coba saja istrimu baik hati seperti Medina anak mana yang tidak sayang,” ujar Kamil.


Daffa mengeram kesal karena Lastri sudah bertindak terlalu jauh dalam masalah pribadinya.


”Baiklah kau bisa kembali ke kelasmu lagi, nanti pulangnya jangan lupa tunggu Baron menjemputmu sekarang dia ada di kantornya Daddy.”


”Baik. Oh iya Dad, bolehkah Malvin mengajak teman-teman main ke rumah?"


”Silakan saja tapi jangan merepotkan mamamu, nanti Daddy akan minta Mbok Iyem mengirimkan salah satu asistennya untuk melayani teman-temanmu.”


”Makasih Dad, Pa, Malvin kembali ke kelas dulu.” Malvin segera keluar kembali ke kelasnya.


”Semua sudah jelaskan Pak guru Daffa.”


Daffa hanya bisa terdiam malu, tentu saja. ”Maafkan atas sikap istri saya tapi tolong jangan kembalikan uang yang sudah saya berikan pada Malvin, jujur itu saya kumpulkan diam-diam karena saya merasa memiliki tanggung jawab padanya.”


”Saya mengerti maksud dari tindakan Anda ini Pak Daffa akan tetapi saya sangat menyayangkan sikap istri Anda apalagi dia merasa menjadi pihak yang terzolimi hanya karena jatah susu formula anaknya berkurang, bukankah itu sangat lucu padahal dia sendiri bekerja.”


Daffa hanya dapat menenggelamkan wajahnya karena malu. Daffa berharap jam kerjanya di sekolah segera berakhir dirinya ingin segera pulang dan menanyakan hal ini pada Lastri.


***


Malvin sampai di rumah bersama dengan kedua temannya Denis dan Intan mereka diajak oleh Malvin karena Denis yang ingin mengajaknya bermain basket di luar lingkungan sekolah.


”Om, jangan kemana-mana ya nanti kita adu bola basket di belakang seperti biasa.”


Baron hanya mengangguk mengiyakan.


”Intan kau mau ikut kan?” tawar Malvin.


”Tentu saja,” jawabnya mantap meskipun dia seorang gadis namun ketrampilannya dalam mendribble bola tidak diragukan lagi.


Hal itulah yang membuat Malvin tertarik dengannya berbeda dengan Salsa dan Saskia si kembar yang manja, Malvin tidak menyukainya karena sikap mereka seperti itu. Tidak mandiri, pikirnya.


”Kita makan siang dulu ya, Mbak Siti sudah menyiapkan makanan untuk kita,” ajak Malvin.


”Rumahmu sangat besar siapa yang membersihkan ini semua?” tanya Denis menatap takjub pada bangunan di depannya.

__ADS_1


”Biasa saja, ini bukan rumahku tapi milik Daddy, biasanya akan ada yang datang membersihkannya dia hari sekali,” jawab Malvin.


”Amazing, bangunan sebesar ini pasti membutuhkan perawatan khusus,” sambung Intan ikut berkomentar.


”Sudah sebaiknya kita segera makan nanti keburu dingin kasihan Mbak Siti terlalu lama menunggu.”


”Bukankah dia juga pegawai Daddy-mu?” tanya Intan.


”Iya tapi lebih fokus ke sebelah karena memang nenekku adalah bosnya.”


”Loh jadi rumah sebelah ini milik nenekmu?” Denis terheran karena rumah di samping pun tidak kalah bagusnya dari rumah Kamil.


”Iya, mamanya Daddy. Dah ah ayo makan!” Malvin membawa teman-temannya masuk ke rumah dan mempersilakan mereka untuk makan siang.


Selepasnya baru Malvin mengajak teman-temannya bermain di lapangan basket. ”Kamu senang?” Medina terkejut mendengar Kamil ada di sampingnya.


Medina tersenyum, ”Udah balik Bang?”


”Aku sengaja pulang lebih awal karena menjemput mama dari rumah sakit.”


”Jadi mama sudah balik? Aku boleh jenguk ya nanti,” ucap Medina.


”Ya, sekalian makan malam di sana saja nanti. Bagaimana?"


”Boleh.” Medina kembali menatap keempat orang yang tengah asyik bermain bola di lapangan hal itu mengingatkannya Malvin waktu di Semarang bermain bola tiap sore di lapangan.


***


Daffa pulang ke rumah dengan kemarahan yang memuncak dirinya tidak dapat lagi menahan kekesalannya mengingat perkataan Kamil di kantornya.


”Bu, apa Lastri sudah pulang?” Daffa mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya namun sosok yang dicarinya tidak terlihat.


”Dia sudah pulang tapi lanjut pergi lagi bersama adik iparnya bilangnya mau belanja, anakmu juga dibawa olehnya. Ada apa?”


”Dia sudah bikin Daffa malu Bu, kali ini Daffa benar-benar tidak bisa memaafkannya.”


”Apa yang terjadi?” Bu Yanti panik seketika mengingat Lastri pulang membawa banyak barang ke rumah.


”Apa kau baru memberinya uang?” tanya Bu Yanti.


”Tidak, Daffa saja belum gajian.”


”Dia membawa banyak barang ke rumah lihat saja ke kamarnya.”

__ADS_1


Daffa segera melangkah ke kamar membuktikan perkataan ibunya, begitu kamar terbuka banyak paper bag di atas kasur. ”Ini milik siapa Bu?”


Yanti diam tidak tahu harus berkata apa.


__ADS_2