Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Saling Mengingatkan


__ADS_3

”Pegawai baru di kantor yang menggantikan posisimu.” Daren tak bisa lagi menyembunyikan semua karena bagaimanapun cepat atau lambat Alea pasti akan mengetahuinya.


”Jadi Kamil mencari penggantimu?” lirih Alea.


"Iya, kantor sedang banyak pekerjaan dan kekurangan karyawan maka dari itu dia mencari beberapa karyawan baru untuk membantuku.”


”Begitu ya,” ujar Alea tampak tidsk bersemangat dan seakan menyesali keputusannya untuk resign.


”Aku akan pergi mengantarnya pulang, kau tinggallah di sini jangan kemana-mana.”


Daren meninggalkan Alea di apartemennya dirinya tidak bisa memahami isi hati wanita itu, Alea tidak bisa ditebak!


”Apa aku merepotkan kamu?"


”Tidak.” Daren menjawab tanpa melihat ke arah Christy karena pandangannya fokus ke arah jalanan.


”Maaf jika membuatnya tidak nyaman.” Sesekali Christy melirik ke arah Daren pria yang ada di sampingnya tidak kalah dengan tampannya dengan Kamil.


”Jangan memandangku begitu, aku tidak suka!”


”Maaf.” Christy mengalihkan pandangannya keluar.


”Terima kasih.”


Daren segera membukakan pintu untuk Christy, begitu turun wanita itu justru terkilir karena paving lantainya pecah membuat hak sepatunya masuk ke lubang dan membuatnya jatuh. Beruntung Daren dengan sigap menangkapnya membuat kedua mata saling beradu dengan jarak yang sangat dekat.


”Maafkan aku.”


”Lain kali hati-hati!” Daren membantu Christy mengambil sepatunya.


”Apa kakimu tidak apa?”


"Tidak masalah, terima kasih.”


Daren segera melajukan mobilnya begitu Christy masuk ke rumahnya. Dirinya tidak tahu apakah harus pulang ke apartemennya atau pergi ke tempat lain, haruskah dia menginap di hotel.


”Hallo, kau dimana? Bisakah kita bertemu sekarang?”


” .... ”


”Baiklah aku segera ke sana sekarang.”


Bip.


Daren memutar balik arah mobilnya menuju kafe menemui seseorang.


”Kalian sedang berkumpul di sini rupanya,” sapa Daren begitu melihat Kamil dan Raditya sedang duduk bersama.


”Kenapa kau tampak lesu sekali, apa ada masalah?” tanya Raditya.


”Patah hati.”


”Jangan mengejekku, aku benar-benar sedang dalam mood yang buruk dan tidak tahu harus bagaimana?”


”Alea?” Kamil menebak.


”Dia di apartemenku sekarang.”


”Masalahnya dia sedang hamil membuatnya harus bertahan jika ingin mengajukan cerai pada Farhan dan sebaliknya Farhan tidak akan mungkin melepaskan Alea begitu saja, aku yakin itu.” Kamil menimpali perkataan Daren.


”Lalu aku harus bagaimana?”


”Ya ampun, ambil sikap tegas. Putuskan sesuatu sebelum semua terlambat, jika memang kau menyukainya perjuangkan jika tidak ya lepaskan jangan membuat orang berharap lebih pada diri kita,” ucap Raditya.


”Benar apa yang dikatakan olehnya, kau harus memikirkan baik buruknya jangan pernah memakai slogan bojomu semangatku! Itu salah.”

__ADS_1


”Astaga apalagi itu, aku baru dengar,” tanya Daren melotot pada kedua sahabatnya itu.


”Itu bahasa jawa, tanyakan saja padanya!" ujar Kamil. ”Tapi apa yang dikatakan ada benarnya juga,” sambung Kamil.


”Aku tidak mengira jika kau akan begitu peduli padaku.” Daren terharu mendengar perkataan kedua sahabatnya. ”Aku kira kalian akan menyalahkan sikapku.”


”Kita bisa berbagi satu sama lain, kenapa kita harus saling menyalahkan. Pikirkan baik-baik!” timpal Raditya.


”Kau sendiri kapan akan menikah?” tanya Daren pada Raditya yang samai saat ini masih betah men-jomlo.


”Kau ini tidak tahu? Dia datang ke sini sengaja untuk mengundang kita karena dia akan segera menikah,” ucap Kamil.


”Benarkah? Astaga aku sampai tidak tahu kabarmu dan sekarang aku mendengar kau akan menikah. Siapa kekasihmu?" selidik Daren.


”Bukan orang penting, aku suka orang yang kalem keibuan seperti istrinya Kamil. Pintar masak dan pintar menjaga diri dengan stay di rumah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku nanti,” ucap Raditya.


”Tidak diragukan lagi soal itu jadi istrimu masih satu kota denganmu?”


”Iya. Nah itu orangnya datang!"


Kamil dan Daren menoleh ke belakang melihat seorang dua orang wanita berhijab mendekati meja mereka.


”Kenalkan dia Azizah dan adiknya Zahra,” ucap Raditya.


”Lalu yang mana calonnya?” tanya Daren.


”Kau ini sepertinya sangat penasaran sekali dengan siapa dia akan menikah?” ujar Kamil.


”Azizah calon istriku,” balas Raditya.


”Oh jadi begitu, tapi kalian tampak cocok sekali.”


”Terima kasih.”


”Terima kasih, semua doa yang baik pasti akan kembali pada yang mengucapkannya,” ungkap Azizah.


”Dia itu seorang guru TK kesehariannya bermain dengan anak-anak itu membuatku semakin mencintainya,” ungkap Raditya.


”Sudah jangan pamer dan membuatnya semakin iri!” tegur Kamil menyeringai.


”Jahat kamu, Mil!"


***


”Ma, nenek masuk rumah sakit.”


”Maksudmu? Nenek ... ?”


”Iya, nenek Yanti. Beliau masuk ruang sakit tadi malam.”


”Darimana kau tahu?” tanya Medina sambil menaruh nasi di piringnya.


”Papa Daffa tidak masuk hari ini, alasannya tidak ada yang menemani adik bayi karena Tante Lastri gak mau mengalah menjaga anaknya," jawab Malvin.


”Duh kasihan ya, kalau dekat pasti mama akan bantu jagain anaknya.”


”Mana boleh, memang daddy setuju? Malvin gak yakin, mama aja dilarang masak dilarang ngapa-ngapain kok gaya banget mau jagain bayi segala,” celoteh Malvin.


”Mama gak tega kalau ada anak kecil yang gak diperhatikan apalagi ada orang tuanya tapi malah diacuhkan.”


”Tante Lastri yang keterlaluan sih, Ma,” ucap Malvin.


Medina menyipitkan kedua matanya. ”Memangnya apa yang dia lakukan sehingga kau berkata demikian?”


”Mama gak tahu, jika dia baru saja memeras daddy di kantor. Dia itu jahat sekali Ma, pada keluarga kita.”

__ADS_1


”Gak boleh mendendam Nak, bagaimanapun dia tetap mama tirimu.”


”Malvin tidak mengakui hal itu,” sangkal Malvin.


”Memangnya kau tahu berapa yang dimintanya sama daddy di kantornya?” selidik Medina.


”Yang Malvin tahu sekitaran seratus juta.”


”Apa? Kau gak salah ucapkan?” Medina tidak percaya mendengar penjelasan Malvin.


”Ya segitu yang Malvin dengar sendiri waktu itu, mama bisa mengeceknya dengan menanyakan hal itu sama daddy nanti jika dia pulang.”


Medina terdiam memikirkan perkataan Malvin, kenapa Kamil tidak mengatakan apapun padanya. Apakah dia sengaja tidak ingin memberitahukannya.


”Makasih ya Ma, Malvin sudah kenyang sekarang.”


”Bersihkan dulu bibirnya ganti baju dan segera istirahat!"


”Astaghfirullah mama, Malvin bukan anak kecil lagi udah deh jangan khawatirkan Malvin justru Malvin yang harus mengkhawatirkan kesehatan mama.”


”Sama saja, bagi mama kamu itu bayi kemarin sore!” Malvin merasa malu dikatakan bayi oleh Medina memang sampai saat ini dia masih manja pada Medina.


Medina terdiam di kamarnya setelah mendengar penjelasan dari putranya dia tidak menyangka jika nasib Daffa akan seperti ini, Medina mengira Daffa akan baik-baik saja tapi ternyata justru semakin buruk setelah menikah dengan Lastri wanita pilihan ibunya.


”Bagaimana jika aku datang ke rumah sakit menjenguknya, apakah tidak masalah? Jika dia menolak bertemu denganku bagaimana?" lirih Medina. Dirinya tidak menyadari jika suaminya Kamil telah berada di belakangnya mendengarkan keluh kesahnya.


”Siapa yang sedang kamu pikirkan?”


”Eh, kau sudah pulang Bang?”


”Seperti yang kau lihat, kamu belum jawab pertanyaanku. Siapa yang sedang kamu pikirkan?”


”Maaf Bang, bukan maksud Medina berpikiran macam-macam. Tadi Malvin baru cerita jika neneknya sedang berada di rumah sakit dan Daffa tidak masuk ke sekolah untuk mengajar karena harus menjaga si kecil,” jelas Medina.


”Soal itu aku sudah tahu dari Baron karena selama ini dia mengawasi keluarga itu, maaf jika aku mengatakannya sekarang.”


”Jadi Bang Kamil sudah ...”


Kamil mengangguk mengiyakan. ”Aku sudah meminta Baron mencarikan pengasuh bayi buat anaknya Daffa agar dia bisa tetap bekerja di sekolahan tapi tetap pengasuh itu akan menerima gaji dari Daffa dan tanpa sepengetahuannya aku tetap membayar pengasuh tersebut.”


”Kenapa kamu kalikan hal ini Bang,” tanya Medina.


”Karena aku tidak mau melihat kau bersedih apalagi memikirkan sesuatu yang bukan urusanmu lagi, fokuslah pada yang ada di sini. Anak kita."


”Terima kasih Bang,” ucap Medina memeluk Kamil.


”Kamu mau menjenguknya?"


”Memang boleh?”


”Kenapa tidak, ayo bersiap!"


Kamil dan Medina bersiap ke rumah sakit menjenguk Bu Yanti mantan mertuanya. Namun begitu sampai di sana, tatapan tidak suka terlihat jelas di wajah Lastri yang memang sedang berada di ruang inap menunggu mertuanya.


”Kau datang Medina?” sapa Bu Yanti.


”Bagaimana keadaannya?"


”Sudah lebih baik, terima kasih sudah datang.”


”Dia sedang mencari muka di depanmu Bu, apa kau percaya dengan penampilannya yang terlihat polos itu?" sindir Lastri.


”Jaga bicaramu Lastri, kau keterlaluan!"


”Ma-mas Daffa ak-aku ...”

__ADS_1


__ADS_2