
”Malvin, apakah kamu sering berinteraksi di sekolah dengan papamu?” tanya Kamil setelah Daffa pamit pulang.
”Tidak juga justru Malvin menjaga jarak karena risih di samping itu Malvin tidak mau teman-teman jadi salah paham. Malvin ingin dapat predikat nilai baik karena usaha sendiri,” ungkap Malvin.
”Bagus kau semakin dewasa, Daddy suka mendengarnya.” Kamil menghela nafasnya perlahan. ”Daddy mau ke kamar dulu menemui mamamu.”
”Hibur dia, Dad,” ucap Malvin.
Kamil hanya mengangguk singkat.
Medina masih saja terdiam di tempat tidur dirinya masih merasa kehilangan akan kepergian calon anaknya, meskipun dia sadar jika semua adalah takdir yang harus dia jalani hati Medina masih belum bisa sepenuhnya menerima.
”Sayang, apakah kau mau makan sesuatu?” Kamil menghampiri Medina duduk di tepi ranjang.
”Tidak, aku hanya sedang ingin sendiri itu saja, Bang.”
”Tolong jangan terlalu bersedih, aku tahu ini berat tapi setidaknya kita sudah berusaha menjaganya bukan? Bagaimana jika kita liburan saja.” Kamil memainkan alis kanannya menggoda Medina.
”Kemana?”
”Terserah kamu mau kemana?”
”Akan ku pikirkan lebih dulu.”
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.
”Itu Malvin, ayo kita keluar.”
Medina tersenyum dan membuka pintunya dilihatnya Malvin sedang berdiri tersenyum ke arah keduanya.
”Jalan-jalan ke luar yuk, Dad!” ucap Malvin.
Pasangan itu saling menatap. ”Kenapa tiba-tiba sekali?” tanya Medina.
”Sudah lama kita tidak melakukannya, Ma. Malvin sebenarnya kangen sama masakan mama, berhubung mama belum masak ayo kita keluar malam ini minta daddy untuk mentraktir kita berdua,” usul Malvin.
”Loh kemarin yang dapat piala plus bonus siapa ya?” sindir Kamil.
Malvin tersenyum singkat, ”Tapi tetap saja, Dad itu bukan uang milik Malvin semua karena sudah disumbangkan setengahnya dan kemarin setengah sudah Malvin pakai buat traktir teman di sekolah.”
”Ya sudah yang penting kamu tahu saja jika mencari uang itu amat sulit jadi jika kita ada rezeqi setidaknya berbagi bersama,” jelas Kamil.
__ADS_1
”Itu sudah pasti Dad, mama sering mengingatkan Malvin soal itu.”
”Baiklah sekarang bersiaplah kita pergi sepuluh menit lagi.” Kamil pun segera bersiap memberi kabar pada Baron untuk ikut pergi bersama dengannya.
Baron dan Malvin sudah siap di garasi menunggu Kamil dan Medina yang belum kunjung turun ke bawah.
”Kenapa mereka lama sekali?” ucap Baron.
”Tunggu saja mereka pasti sedang ke sini, tadi aku lihat mamaku sudah siap kok,” ucap Malvin.
”Itu mereka datang.”
”Maaf menunggu lama,” ucap Medina segera masuk ke mobil bersama dengan Malvin.
”Mama terlihat cantik sekali,” puji Malvin.
Kamil tersenyum seraya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan putra tirinya itu. ”Bukankah sejak dulu mamamu sudah cantik.”
”Benar dan sekarang karena kau yang merawatnya dia semakin cantik bukankah begitu, Om?” Malvin menatap ke arah Baron meminta dukungan darinya.
”Iya benar bahkan bertambah jadi berlipat-lipat,” seru Baron.
”Ish, kalian ini sudah hentikan!” kilah Medina.
”Kenapa sejak tadi diam saja?” Kamil memperhatikan gelagat aneh Malvin.
”Aku hanya merindukan teman-teman di kampung halaman saja kok, Dad.”
”Kamu kan bisa pulang jika merindukan mereka lagipula rumah kan masih ada yang menjaganya,” ujar Kamil.
Malvin memandang ke arah Medina. ”Memangnya boleh ya, Ma?”
”Kenapa tidak, silakan saja jika memang kau ingin pulang mama akan memberimu ijin tapi jangan lupa kau juga harus menjenguk kakekmu di sana,” jawab Medina.
”Makasih banyak ya, Malvin akan lihat jadwal sekolah dulu kalau longgar Malvin pasti akan pulang,” seru Malvin sangat antusias.
”Baron, kau urus semuanya dan ikutlah bersama dengan Malvin jika dia butuh sesuatu kau harus siap mengerti!” ucap Kamil.
”Siap bos!”
***
__ADS_1
”Alea, apa yang kau lakukan!” Farhan berteriak kesal karena istrinya mengacak-acak dapurnya.
”Aku hanya ingin makan malam dan ternyata tidak ada bahan makanan yang bisa dimakan di rumah jadi terpaksa aku buat apa yang aku bisa, begitu.”
”Astaga kau membuatku kesal sekali, sekarang bereskan semuanya!” titah Farhan.
”Tidak bisa, aku tidak mau!” tolak Alea dirinya ikut marah karena Farhan tidak bisa pengertian dengannya perasaannya.
”Aku lelah Alea, bisakah kau membantuku untuk tidak mengotori semua ini?”
Alea terdiam dirinya merasa Farhan tidaklah mencintainya tapi dia melakukan semuanya hanya lantaran rasa tanggung jawabnya terhadap janin yang sedang dia kandung. Alea ke kamarnya dan langsung mengunci pintunya dirinya mengutuk Farhan yang seakan bersikap tidak bisa diharapkan.
”Kenapa dia seperti itu. Ya Tuhan, kemana kemesraan yang kemarin sempat tercipta apakah sekarang aku menyesal karena telah memilihnya,” lirih Alea tanpa dia sadari kedua matanya sudah berembun dan siap untuk meledak.
Hal yang paling ingin dia lakukan adalah bertemu dengan orang tuanya sendiri dan meminta maaf pada mereka karena nyatanya dia telah mengecewakan keduanya.
”Apakah aku harus pulang dan meminta maaf pada mereka? Tapi aku malu sungguh mereka pasti akan menertawakan diriku karena kegagalanku ini.”
Alea memejamkan kedua matanya dan menangis sesak yang dia rasakan kenapa dia harus mencintai pria plin-plan seperti Farhan apakah dia melakukan pernikahan tempo hari hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya karena Kamil tapi bahkan sekarang Daren lah yang diam-diam mengisi hatinya.
”Alea Sayang, buka pintunya dong!” teriak Farhan dari balik pintu sedang mengiba.
”Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi aku janji padamu,” lanjutnya.
Ada perasaan kesal dan sedih ketika Farhan mau meminta maaf padanya haruskah dia bertahan ketika kesal itu melanda tapi bukankah Farhan telah memutuskan hubungannya dengan Laras sekretarisnya itu jadi untuk apa hatinya memiliki rasa dendam pada wanita itu.
Alea membuka pintu dan dia pikir tidak masalah jika dia buka pintu tapi ... Farhan sudah tidak lagi di sana.
”Kemana dia pergi, aku tidak salah dengar kan jika tadi dia memintaku membukakan pintunya,” lirih Alea.
Alea mengambil ponselnya dan memilih untuk pergi ke bawah siapa tahu dia akan menemukan sesuatu yang berbeda. ”Aku harus bahagia dan tolong biarkan mama bahagia dengan pilihan mama sendiri,” lirih Alea mengusap perutnya.
Lift pun mengantarkan Alea ke lantai dua dimana segala jenis pakaian bermerk menggantung di display.
”Pagi, ada yang bisa saya bantu, Nona?”
”Em, aku mau pakaian baju keluaran terbaru toko ini,” ucap Alea.
”Baik, kami akan persiapkan untuk Anda sekarang,” ucap sang pelayan toko tersebut. Tak lama kemudian dia keluar dan memberikan baju koleksi terbarunya.
”Ini tinggal satu saja bagaimana? Yang lain ada beberapa tapi tidak sebagus ini,” ucapnya.
__ADS_1
Alea langsung mengingat jika dirinya pernah melihat baju ini tapi dimana, dirinya berpikir keras untuk mengingatnya karena merasa sangat familiar. ”Aduh, kau yakin ini produk terbaru?”