
Tok ... tok ... tok ...
”Ish, siapa sih siang-siang begini bertamu ganggu orang istirahat saja,” gerutu Kamil yang masih memakai celana boxer tanpa atasan segera beranjak ke pintu.
”Kamu ini kok malas amat pakai ketuk pintu segala biasanya juga langsung masuk!” ucap Kamil tanpa melihat siapa yang ada di depannya.
”Astaghfirullah,” ucap Medina melihat apa yang ada di depannya itu dengan segera dia berbalik.
”Ya ampun, maaf ya Mbak kirain Baron yang pulang biasanya jam segini dia pulang. Sebentar saya pakai baju dulu.” Kamil segera berlari ke dalam kamarnya menyambar t-shirt dan celananya.
”Silakan masuk mbak, maaf ya saya benar-benar tidak tahu jika Mbak Medina yang datang ke sini. Ada apa ya Mbak?” tanya Kamil yang sedang merasa canggung.
Kamil sedang berpikir apakah wanita di depannya ini melihat antena miliknya yang menjulang karena dia benar-benar baru saja bangun dari tidurnya dan langsung membuka pintu.
”Katanya sedang sakit?” tanya Medina.
”Iya hanya diare saja kok, karena tidak terbiasa makan sambal semalam saya makan 'sego kucing' enak sekali sampai nambah tiga bungkus tapi setelahnya perut panas mungkin efek cabainya itu.”
”MasyaAllah, kok bisa begitu?”
”Saya memang gak pernah makan sambal dan bukan pecinta pedas semalam iseng-iseng saja nyobain enak ya ketagihan eh malah jadi begini akhirnya.”
”Dah ke Dokter?”
”Gak hanya minum obat saja.”
”Syukurlah semoga cepat sembuh ya, oh iya ini rendang jengkolnya semoga suka sisanya sudah saya bagikan ke tetangga dan saya titipkan ke warung besar ujung jalan biasanya di sana banyak pembelinya karena memang banyak supir angkot maupun bus yang berhenti untuk istirahat, biasanya sih laris.”
”Aamiin semoga berkah buat semuanya.”
”Kalai begitu saya pamit pulang, semoga cepat sembuh ya.”
”Terima kasih.”
Medina beranjak dari duduknya meninggalkan rumah Kamil.
”Eh mbak Medina belum pulang to?” sapa Bu Broto.
”Belum Bu, ini baru saja ketemu sebentar dengan Bang Kamil,” sahut Medina.
”Iya tadi minta obat sama saya, dia diare jadi gak jualan dioper ke temannya. Oh iya rendang jengkolnya makasih ya.”
__ADS_1
”Sama-sama Bu, saya permisi.”
Kembali ke Kamil pria itu duduk menatap rendang jengkol yang tergeletak di meja ada rasa menggelitik ingin mencoba karena bau wanginya menggoda Indra penciumannya tapi dia khawatir baunya akan menyengat setelah dia memakannya.
”Bos kau sudah bangun!” seru Baron yang masuk ke rumah.
”Coba kamu cicipi jengkol ini.”
Baron menatap tidak percaya bosnya memintanya untuk memakan jengkol otomatis dia mau karena di kampungnya jengkol sudah sangat familiar, Baron justru khawatir tidak bisa berhenti jika sudah memakannya.
”Mm, rasanya enak bos! percaya sama saya lebih enak ini ketimbang daging yang sering kau makan,” papar Baron.
”Ck! Dasar orang desa!” gumam Kamil.
”Beneran ini enak banget bos!” seru Baron dengan cepat mengambil nasi di magicom dan melahap rendang jengkol tersebut.
”Ini mah mantulity calon mertua lewat juga abaikan saja!" ucap Baron semangat membuat Kamil menelan ludahnya kasar dia ikut penasaran dengan rasanya.
”Ayo bos! aku yakin kau pasti akan ketagihan, satu gigitan aja, jika tidak suka jangan dilanjut,” bujuk Baron.
Dengan ragu Kamil mencomot satu biji jengkol dan memasukkannya perlahan.
"Bagaimana?”
Kamil mengacungkan jempolnya pada Baron, ”Enak, ini pertama kalinya aku memakan makanan seperti ini."
”Memangnya keluarga di Jakarta gak pernah masak makanan beginian?”
”Mana pernah meskipun di rumah ada Mbok Iyem jelas saja dia gak berani masak beginian ketahuan papa bisa marah besar nantinya.”
Baron mengangguk faham, Pak Hamid memang orang yang pemarah berbeda dengan istrinya Alika dia wanita yang sabar dan penyayang dengan anak-anaknya.
”Pakai nasi bos, hangat-hangat nikmat!”
Kamil pun mengikuti saran dari Baron menikmati makan siangnya dengan rendang jengkol.
***
”Antarkan ini ke rumah mantan istrimu Daffa!” perintah Bu Yanti setelah tumpukan rantang enamel tersusun dengan rapi.
”Apa ini Bu?” tanya Daffa tidak biasanya ibunya perhatian pada Medina mantan istrinya itu.
__ADS_1
”Lauk, jangan salah paham ya aku kasih ini buat Malvin cucuku bukan untuk Medina faham.”
”Terserah ibu saja lagipula aku juga gak ada hak buat ngelarang ibu dekat dengan cucu sendiri kecuali Medina yang melarang ataupun Malvin yang enggan bertemu dengan ibu.”
”Kenapa kamu bicara begitu memangnya kamu gak suka jika Malvin itu dekat dengan ibumu ini. Ingat Malvin itu cucu laki-laki yang ibu harapkan darimu meskipun kehadiran prosesnya tidak ibu restui karena kau menghamili wanita di usia muda bikin masa depanmu terhambat!”
”Ibu jangan bicara begitu, kami melakukannya atas dasar saling mencinta dan ibu tidak berhak menghakimi Medina aku masih mencintainya meskipun ibu tidak merestuinya karena dia itu cinta pertama Daffa.”
”Oh, jadi Mas Daffa masih mencintai Mbak Medina? Pantas saja dia gak mau menyentuhku Bu, dari malam pertama hingga sekarang sudah lewat seminggu dia sama sekali gak pernah memberikan nafkah batinnya padaku.”
”Astaghfirullah Lastri kenapa kau mengumbar aib keluargamu sendiri di depan ibuku!”
”Aku terpaksa Mas, kamu gak tahu diri sudah dibantu hingga naik jabatan tapi kamu seolah lupa darimana asalmu. Kalau gak melihat ibumu yang menangis di depan bapakku aku gak bakalan bantuin kamu!”
”Apa? Jadi itu yang ibu lakukan selama ini?” Daffa menggelengkan kepalanya kesal.
”Ibu bisa menjodohkan diriku dengsn siapa saja tapi Daffa gak akan pernah membagi cinta yang Daffa miliki dengan wanita lain karena cinta Daffa sudah habis hanya buat Medina seorang ibu dari Malvin.”
Daffa menyambar rantang dan pergi setelah mengatakan hal tersebut dengan perasaan kesal.
”Ibu lihat dan dengar sendiri bukan? Kenapa ibu memaksaku menikah dengannya?” lirih Lastri menangis kemudian berlari ke kamarnya.
Daffa melakukan motornya menuju rumah Medina wanita yang sudah kerap kali dia sakiti, memang benar apa yang diucapkan oleh Malvin jika dia pria yang plin-plan tidak memiliki pendirian tidak bisa membedakan antara kewajiban berbakti pada orang tua dan membahagiakan keluarga sendiri.
Daffa menghentikan laju motornya ketika melihat Medina dengan seorang pria sedang tertawa lepas hal yang sudah lama tidak dia lihat setelah perceraiannya dulu. Medina seakan begitu bahagia tanpa beban di bahunya.
Daffa meremas pegangan rantang yang ada di depan motornya menahan kesal. ”Bukankah itu tukang sayur yang sering mangkal di komplek perumahan, kenapa mereka terlihat begitu dekat?” gumam Daffa.
Dengan sedikit keberanian Daffa mendekati keduanya.
”Assalamu’alaikum,” sapa Daffa mengejutkan Medina dan Kamil.
”Waalaikumussalam.”
"Eh Mas Daffa ada apa ya ke sini?” tanya Medina seakan tidak mengharap kehadiran pria itu.
”Kamu kok bicaranya begitu?” jawab Daffa.
”Bukannya apa Mas, aku gak mau orang salah paham dengan kehadiranmu di sini. Apa kata tetangga nantinya,” jelas Medina.
”Apa bedanya denganmu kau juga berduaan dengan pria ini di sini, apa kata tetangga nantinya,” balas Daffa tak mau kalah.
__ADS_1
”Eh kok gitu?” Kamil mulai tidak terima dengan perkataan Daffa.