
Medina terdiam setelah Malvin berangkat ke sekolah pikirannya kembali berperang antara pindah tempat atau tetap bertahan. Sejujurnya dia ingin suasana baru, tapi apakah dia mampu bertahan dalam kerasnya hidup di ibukota, pada siapa nanti dia akan meminta tolong sedangkan dia tidak lagi memiliki keluarga di sana. Medina mulai gelisah.
”Mbak jangan melamun masih pagi,” tegur Hasna.
”Eh?”
”Lagi mikirin apa?”
”Na, apa kamu punya keluarga di Jakarta?”
”Gak ada Mbak, ada juga di kota lain memangnya kenapa?”
”Oh, mau nanya aja bagaimana kehidupan di sana. Mbak ada niatan mau pindah.”
”Hah? Pindah kenapa Mbak? Kok mendadak sekali?”
”Sebenarnya gak mendadak sih, memang sudah lama rencananya hanya saja memang belum ketemu solusi yang tepat gitu, aku lagi pengen suasana baru Na,” jelas Medina.
”Hasna tahu mbak Medina sedang tidak baik-baik saja apalagi dengan perkataan istrinya Mas Daffa kemarin itu. Memang lebih baik kita menghindarinya mbak, mungkin dengan begitu takkan ada lagi orang yang mencecar hidup kita,” ucap Hasna.
”Tapi tolong mbak, kalau mau pindah itu mbok yo jangan jauh-jauh memangnya gak kasihan sama saya kalau mau jenguk bagaimana?”
”MasyaAllah kamu ini, kami juga baru niatan belum tahu nanti ke depannya seperti apa, lagian kan butuh modal besar apalagi Malvin harus pindah sekolah dan biayanya tidaklah sedikit.”
”Mbak benar tapi apapun itu semoga gak jauh dariku Mbak, biar aku bisa menjenguk mbak Medina kapanpun Hasna ada waktu.”
”Terima kasih ya Na,” ucap Medina.
*Sayur ... sayur ... sayur ...
Tin ... tin* ...
”Tuh dah dipanggil, ayo belanja Mbak?”
”Kamu duluan aja Na, sepertinya aku mau libur dulu gak masak karena gak mood untuk itu biar nanti beli sayur mateng saja di warung ujung gang.”
”Ya sudah Hasna tak lihat dulu ya Mbak, gak usah beli nanti aku kasih saja, aku tahu kok kalau Malvin itu gak terbiasa makanan di luar.”
”Makasih.”
”Assamu’alaikum.”
__ADS_1
”Waalaikumussalam.” Medina berbalik begitu mendengar suara yang sangat familiar.
”Mau apa kau datang ke sini? Apa kamu gak puas dengan apa yang telah dilakukan oleh istrimu itu. Tolong jangan pernah datang lagi ke sini.”
”Aku tahu itu salah Din, tapi tolong jangan pernah ada niatan untuk pergi dariku itu sama saja kau memisahkan hubungan antara ayah dan anaknya.”
Daffa telah mendengar semua pembicaraan keduanya niat hati ingin meminta maaf atas perlakuan istrinya tapi pembicaraan mereka berdua menghentikan langkahnya.
”Aku tidak peduli!”
”Din ... ”
”Memangnya selama ini kamu pernah peduli dengan hidupku? Jadilah anak dan suami yang baik untuk ibu dan istrimu, silakan keluar sebelum semua orang salah faham dan membuat konflik baru aku tidak Malvin kembali tertekan karena kejadian kemarin saja sudah membuatnya sedih.”
”Maafkan aku Din, tapi tolong jangan pernah berpikiran untuk pindah ya. Ini uang bulanan Malvin, aku harap kamu mau menerimanya,” ucap Daffa sebelum pergi meletakkan amplop putih di meja.
”Bawa saja uang itu Mas, Malvin tidak membutuhkan uang darimu dan aku masih bisa memberinya nafkah meskipun tanpa mas Daffa sekalipun.”
Deg.
Daffa terdiam menerima penolakan dari mantan istrinya itu, berarti benar yang diucapkan oleh Malvin tadi saat dia bertemu di jalan jika mamanya tidak akan pernah lagi menerima uang darinya sepeserpun. Daffa memang menemui Malvin lebih dulu karena tidak mungkin buat dia langsung menemui Medina dia tidak memiliki alasan yang kuat dan terlalu malu mengingat kejadian kemarin, katakanlah Lastri memang keterlaluan.
”Kau lupa mas jika aku memiliki tabungan setidaknya untuk beberapa bulan ke depan aku dan anakku tidak akan kelaparan, sekarang silakan pergi,” usir Medina dia benar-benar sudah terlanjur kesal.
Daffa pun memutuskan untuk bertemu Malvin di sekolah nanti siang saat istirahat kantornya.
***
”Ngapain kamu di sini bukannya kamu seharusnya pergi sekolah?” tanya Kamil melihat Malvin nongkrong sendirian saat dia akan membeli sarapan di warung.
”Eh Om Kamil, gak jualan?” balas Malvin.
”Duh, ditanya malah balik nanya. Aku kasih tahu mama kamu sekarang ya!” ancam Kamil.
”Jangan Om!” seru Malvin.
”Malvin gak mau bikin mama khawatir lagi, Malvin itu sedang tidak ingin pergi ke sekolah hari ini yang ada nanti ditagih biaya bulanan sebentar lagi mau ujian kenaikan kelas dan biaya sekolah harus sudah lunas.”
”Jika begini takkan menjadi solusi lebih baik kamu berangkat sekolah sekarang! Om akan bantu kamu, ayo berangkat!” Kamil menarik remaja itu dan mengantarkannya ke sekolah.
Kamil langsung menemui bagian adminstrasi dan melunasi semua biaya sekolah milik Malvin selama beberapa bulan ke depan sehingga anak itu tidak perlu khawatir lagi dengan biayanya.
__ADS_1
”Udah sekolah sana semua udah beres jadi kamu tidak perlu khawatir.”
”Makasih Om, nanti jika Malvin sudah dewasa dan sudah punya pekerjaan Malvin akan balas kok,” ucap Malvin.
”Yang penting buat Om, kamu jadi anak yang baik itu aja. Udah sana masuk!” Kamil mendorong tubuh Malvin ke dalam kelas dan pulang ke rumah.
’Daren calling ...’
”Ada apa kau menghubungiku?”
”Soal rumah yang kau minta kemarin sudah ada, aku sudah kirim foto-fotonya ke ponselmu, jika memang kamu oke aku akan segera menghubungi developernya karena rumah ini juga tidak hanya kmu saja yang membutuhkan tapi banyak orang.”
”Oke, ada lagi? Jika tidak biar aku tutup teleponnya aku akan melihatnya lebih dulu.”
”Silakan.”
Bip.
Kamil melihat foto-foto yang Daren kirimkan padanya senyumnya mengembang dia senang karena mendapatkan tempat yang cocok untuk Medina tinggal dan juga buka usaha.
Kamil pikir tidak masalah nanti siang dia datang menemui Medina untuk memberitahukannya tentang rumah tersebut. Kamil begitu bersemangat kali ini. Hingga dia tidak sadar jika sejak tadi Daffa sedang memperhatikan dirinya.
”Jadi ini pahlawannya sehingga putraku dan mantan istriku menolak diriku,” ucap Daffa.
Kamil bangkit berdiri dan melipat tangannya di dada, ”Kamu menyesal?”
”Aku tidak menyesal,” kilah Daffa.
”Jika tidak menyesal kenapa kau datang ke sini hanya untuk membicarakannya. Oh iya aku lupa satu hal bukankah ini waktunya orang untuk bekerja kenapa kamu berkeliaran di luar?”
Daffa terdiam sejenak. ”Berapa uang yang kamu keluarkan untuk membayar biaya sekolah Malvin?”
”Kenapa kau menanyakannya padaku, apa karena anak itu menolakmu? Kasihan sekali kau tidak dianggap lagi olehnya,” ejek Kamil.
”Aku hanya ingin tahu dan aku akan melunasi hutang mereka sekarang,” ucap Daffa.
”Tidak perlu karena aku tidak butuh itu, apa kau menyesal sekarang telah membuang mereka berdua?”
Kamil melangkah maju mendekati Daffa.
”Aku akan membuatnya seperti seorang ratu dan aku pastikan kau akan menyesal karena telah membuangnya, camkan itu,” bisik Kamil sukses membuat Daffa bungkam.
__ADS_1