Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kenapa Belum Nikah?


__ADS_3

”Anggap saja begitu!” ucap Kamil membuat Medina tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


”Kalau Anda memintaku untuk jujur ya saya pilihnya yang rapi, tapi yang rapi pun tidak harus berpakaian seperti ini,” jelas Medina.


”Jadi maksudnya?”


”Ya meskipun tukang sayur kalau rapi dan bersih juga tidak masalah.”


”Jadi mbak Medina mau menerimaku apapun keadaanku?”


”Eh?”


Acara kelar sampai jam dua siang, keduanya berpamitan setelah memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai. Di depan pintu keluar terlihat Raditya sedang berdiri dia adalah pemilik sekaligus teman Kamil yang memang sedang menunggunya.


Kamil sengaja memberi kode padanya untuk tidak mendekatinya karena dia sedang bersama dengan seorang wanita, Raditya pun mengangguk pada Kamil dan melirik pada Medina lalu tersenyum mengacungkan jempolnya.


”Apa kita mau langsung pulang?” tanya Kamil.


”Tentu saja iya memangnya mau kemana?” balas Medina.


”Ya barangkali mbak Medina mau jalan-jalan mumpung di luar untuk sekedar shoping atau mungkin mau cobain cek in di hotel ini.”


”Astaghfirullah kok Bang Kamil bicaranya begitu?” Medina tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Kamil padanya.


”Jangan salah paham, saya hanya mau mengenalkan pelayanan hotel ini pada mbak Medina tidak ada maksud apapun meskipun hotel ini tidak berada di wilayah kota besar seperti Jakarta tapi fasilitasnya hampir sama dengan kita tersebut.”


”Oh ... maaf saya pikir Bang Kamil mau kurang ajar pada saya.”


Kamil tersenyum samar mendengar penuturan Medina.


”Kita pulang saja ya, saya khawatir Malvin sudah pulang dan mencari saya meskipun saya sudah berpesan pada tetangga saya Hasna tadi pagi.”


”Baiklah mari kita naik taxi saja ya biar cepat!” Kamil segera ke depan dan menyetop taxi yang lewat.


Selama perjalanan keduanya diam.


”Habis kondangan ya Pak?” tanya sopir taxi pada Kamil.


”Iya nih,” jawab Kamil.


”Hotel itu memang kerap sekali dijadikan tempat untuk acara resepsi pernikahan ataupun pertemuan penting orang-orang yang populer apalagi pemiliknya sangat care dengan semua orang lalu yang pasti masih muda kayak bapak ini.”


”Saya belum nikah Pak tolong jangan panggil dengan sebutan ’Pak’ kesannya saya sangat tua,” protes Kamil membuat sopir taxi dan Medina terkekeh kecil.


”Baiklah maaf jika begitu tapi memang kau masih tampak muda dan gagah pasti usiamu kisaran tiga puluh satu atau dua,” tebaknya.

__ADS_1


”Benar tepat sekali.”


”Kenapa belum nikah, di usia sematang ini?”


”Belum ketemu yang saya cari Pak, nanti jika sudah ketemu saya akan undang bapak ke pernikahan saya.”


Malik mengulurkan kartu namanya bersamaan dengan uang ongkos taxi tersebut saat turun.


”Terima kasih ya Pak, sampai jumpa!”


Sopir taxi pun tersenyum menatap kartu nama yang terselip di lipatan uang yang diberikan Kamil.


”Saya tunggu Baron datang ke sini ya, ini sudah saya WA tapi belum dibalas,” jelas Kamil beralibi padahal dia sama sekali belum memberitahukan Baron sama sekali.


”Baik silakan duduk saya mau ganti pakaian dulu.”


Malvin datang dan langsung masuk ke rumah setelah mengucapkan salam.


”Eh ada tamu, loh om yang jualan sayur kan?” ucap Malvin.


”Iya, darimana saja kamu kok jam segini baru pulang?”


”Biasa Om, main bola di lapangan bareng anak-anak komplek. Kok bisa sih Om bersama dengan mamaku?”


Kamil kebingungan harus bagaimana menjawab pertanyaan Malvin karena dia pasti sudah bisa menebaknya.


”Loh mama pergi ke sana? Kirain Malvin mama gak bakalan datang, tahu begitu tadi pagi Malvin segera pulang dan ikut mama ke sana. Malvin gak suka jika mama direndahkan oleh keluarga papanya, Medina sudah sangat menderita karenanya.


”Ya sudahlah jika begitu, Malvin khawatir jika mama pergi sendiri dan tidak ada yang menjaganya. Makasih ya Om,” ucap Malvin.


”Iya, Om boleh ya numpang istirahat sebentar sambil nunggu Baron datang jemput Om ke sini,” sahut Kamil.


”Boleh Om, silakan. Btw, Om keliatan tambah keren dengan stelan seperti itu kayak yang ada di drama-drama Korea yang suka ditonton sama mama di aplikasi online itu.”


”Ish, jangan mempermalukan mama ya, tolong mulutnya dijaga!” kesal Medina.


”Iya maaf jika mama tidak berkenan tapi bukankah apa yang Malvin katakan itu benar,” timpal Malvin.


”Sudah pergi mandi sana sudah sore!” titah Medina membuat Malvin mengikuti perintah Medina.


Medina memberikan secarik kertas ada Kamil membuat pria itu mengerutkan keningnya.


”Apa ini?” tanya Kamil.


”Ini rincian kemarin bikin rendang jengkol, tapi memang belum saya olah dan jengkolnya pun masih ada di dapur saya rendam dengan air.”

__ADS_1


”Silakan diolah dan bagikan pada yang membutuhkan jika memang ada yang mau saya tidak keberatan.”


”Tapi jika dikasihkan secara free atau gratis nanti darimana Bang Kamil bisa memperoleh uang? Bukankah akad awalnya untuk bisnis?” ungkap Medina jadi penasaran dengan sikap Kamil yang sangat dermawan bukankah dia datang ke sini untuk mencari nafkah.


”Tenang saja, saya tahu apa yang mbak Medina pikirkan, InsyaAllah tidak masalah buat saya yang penting mereka senang.”


”Baiklah tapi besok Bang Malik juga mau ya nyobain rendang jengkolnya, enak kok saya yang akan jamin.”


Kamil tertawa lepas mendengar perkataan Medina, ”Dimana-mana rendang itu ya pakai daging mbak, saya baru dengar itu rendang jengkol tapi gak masalah besok mbak Medina kasih saya tinggal kabari kalau udah matang nanti saya yang akan nyuruh Baron datang ke sini mengambilnya.”


Medina dibuat malu dengan sikap Kamil yang seperti itu. ”Ya namanya juga di kampung beda dengan di kota apapun bisa menjadi rendang gak harus dari daging, rendang tempe dan tahu juga bisa kalau Bang Kamil mau saya bisa buatkan.”


”Tidak perlu saya faham kok, terima kasih.”


Keduanya sama-sama kembali diam.


”Kok Baron lama sekali ya?” ucap Medina yang sudah mulai risih karena hari sudah hampir masuk sholat maghrib.


”Sebentar saya akan coba telepon dia?” ucap Kamil mengotak atik ponselnya hingga suara diujung seberang terdengar jelas di pendengarannya.


”Hallo bos ada apa?”


”Cepat ke sini jemput saya si rumahnya mbak Medina!”


”Loh udah sampai Semarang lagi to bos? Kapan?”


”Sudah jangan banyak bicara segera jemput saya ke sini sekarang!”


Bip.


”Mungkin dia lupa sehingga belum ke sini, tapi tenang aja saya sudah menghubunginya sebentar lagi dia akan datang.”


"Oh begitu.”


”Om ke masjid saja yuk! Bentar lagi mau adzan maghrib,” ajak Malvin.


”Duh, masa Om ke masjid pakai pakaian seperti ini?”


”Malvin ada t-shirt Om, semoga muat,” sela Malvin segera ke kamarnya mengambil t-shirt yang diberikan oleh Daffa padanya bulan lalu.


”Ini Om semoga muat, buruan ganti dan kita ke masjid bersama,” seru Malvin.


Kamil ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya lima menit berlalu dia keluar dengan wajahnya yang sulit dijabarkan.


”Bagaimana?”

__ADS_1


Medina dan Malvin saling pandang.


__ADS_2