Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Mendekati Anaknya


__ADS_3

”Kenapa banyak sekali makanan Ma?” Malvin yang baru pulang dari sekolah langsung mencomot tahu baso di piring.


”Itu dari nenekmu tadi pagi.”


Huwek!


Malvin memuntahkan kembali makanan tersebut ke tong sampah.


”Jika kamu tidak suka kamu bisa kasihkan pada teman-temanmu nanti waktu main bola.”


”Kok ibu gak bilang tadi,” kesal Malvin.


”Bagaimana mau bilang kamu udah mencomot dan memakannya duluan,” seru Medina.


”Maaf Ma, jadi tadi pagi papa ke sini?”


Medina mengangguk, ”Antar itu tadi, makanan yang kamu makan kan nenekmu tahu jika kamu suka makan tahu baso, sebagian udah mama kasihkan sama anak tetangga sebelah. Maaf ya mama gak ijin dulu sama kamu.”


”Gak apa Ma, yang penting makanan itu gak ke buang sia-sia meskipun Malvin membenci sifatnya tapi tetap saja makanannya bisa buat jembatan pahala buatnya.”


”Tumben pintar, ya udah jangan marah lagi buruan sholat ashar bantu mama kirim ini ke rumahnya Om Kamil ya,” ucap Medina.


”Om Kamil?”


”Iya yang jualan sayur itu, ya ampun iya Malvin ingat sekarang. Mama kok jadi sering berhubungan dengan orang itu?”


”Kenapa gak boleh, dia kan jualannya sayur dan mama tiap hari belanja keperluan dapur buat makan kok gak boleh berhubungan lalu tiap hari kita mau makan apa? Kamu mau mama beli sayur matang di ujung komplek, kalau kamu doyan gak masalah mama malah senang soalnya gak ribet mikir mau masak apa,” ucap Medina.


”Mama kok gitu, Malvin kan udah biasa makan masakan mama,” sahut Malvin.


”Gak masalah ya kita beli matang saja itung-itung belajar jika kamu lulus nanti bukannya mau kuliah ke luar kota memangnya di sana ada masakannya mama, gak kan?”


"Duh Ma, jangan gitu deh iya Malvin gak membatasi mama mau berhubungan dengan siapapun asalkan jangan orang jahat seperti keluarganya papa jujur Malvin masih sakit hati dengan apa yang udah mereka lakuin ke mama.”


”Duh jangan banyak drama deh mendingan sekarang kamu antarkan saja makanan ini ke rumahnya,” titah Medina.


”Baik siap Ma,” sahut Malvin lagi.


Tanpa diperintah lagi Malvin segera ganti baju dan pergi menggunakan sepeda onthel miliknya ke rumah kontrakan Kamil.


”Duh anak bujang kenapa kemari?” sapa Bu Broto begitu melihat Malvin turun dari sepeda.


”Ini di suruh mama nganterin nasi box ke rumahnya Om Kamil.”


”Ketuk aja pintunya biasanya orangnya di rumah lagi istirahat kalau jam segini,” jelas Bu Broto.


”Makasih Bu.”


Malvin segera menuju ke teras dan mengetuk pintunya.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ...


”Om di rumah gak ya?" teriak Malvin.


Pintu pun terbuka Kamil berdiri mengucek kedua matanya. ”Ada apa ke sini?”


”Maaf Om, ini di suruh mama anterin nasi box ke sini.” Malvin menyerahkan nasi box tersebut pada Kamil.


”Masuk dulu Om buatin minum,” tawar Kamil.


”Gak perlu Om mau langsung pulang mau main bola di lapangan sama teman-teman.”


”Eh?”


”Kalau begitu Malvin pulang dulu Om, permisi.”


”Tunggu!” teriak Kamil.


”Ada apa Om?”


Kamil menggaruk tengkuknya, ”Apa Om boleh ikut main bolanya?”


”Silakan jika Om mau, gak masalah.”


”Tunggu Om ambil kunci dulu.”


”Tuh teman-teman saya udah nungguin Om,” ucap Malvin menunjuk pada sekumpulan remaja tanggung yang sedang bersantai menunggu kedatangan Malvin.


”Kok telat sih kamu,” ucap Ferdy sahabat dekatnya Malvin.


”Maaf tadi aku habis pergi ke rumahnya Om Kamil. Teman-teman ini Om Malvin mau ikutan main bola boleh ya!”


”Boleh dong!” balas semuanya serentak.


”Terima kasih, Om senang kalian bisa menerima Om dengan baik. Bagaimana kalau kita main sekarang!”


”Setuju!”


Kamil berbaur dengan para ABG dia pun terlihat lihai memainkan bola membuat Malvin senang karena beberapa kali dia berhasil mencetak gol untuk timnya.


”Horeee ...!” teriak yang lain manakala tim Malvin menang.


”Makasih Om udah bikin kita menang.” Kamil hanya tersenyum kecil mendengarnya.


”Laper mana mau maghrib lagi,” keluh Ferdy.


”Kita makan mie ayam dulu yuk! Om yang traktir deh anggap aja buat perkenalan kita, bagaimana?” ucap Kamil.


Malvin dan yang lainnya berbinar mendengar ajakannya.

__ADS_1


”Boleh Om, tapi mau maghrib sebentar lagi,” sahut yang lain.


Kamil mengecek jam tangannya, ”Masih ada waktu tiga puluh menit lagi Om rasa cukup, bagaimana?”


Dengan senang hati Malvin dan teman-temannya pun masuk ke warung mie ayam dekat lapangan dan benar saja begitu mereka masuk, mie langsung habis dengan total tiga puluh enam mangkok.


***


”Daren, apa adikku ada memberimu kabar lagi?” tanya Farhan yang sengaja datang ke kantor Kamil.


”Belum ada, kamu tenang saja adikmu takkan mengganggu kebahagiaanmu teman karena dia memilih untuk mencari kebahagiaannya sendiri,” balas Daren santai.


”Ck! Sok tahu kamu, lalu bagaimana dengan perusahaan ini apakah ada kendala selama dia pergi?”


”Tidak ada karena aku mempersiapkan semuanya dengan baik, kamu sendiri kenapa berkeliaran di sini bukankah seharusnya kau berbulan madu ke luar negeri atau jangan-jangan istrimu itu menolakmu,” ejek Daren.


”Jangan sok tahu kamu, memangnya kau tahu apa tentang kami?”


”Aku tahu semuanya, apa kamu lupa siapa aku?” Daren tersenyum menyeringai.


Apa yang diucapkan Daren memang benar dan Farhan melupakan semua itu, Daren adalah sahabat terbaiknya Kamil mana mungkin mereka tidak tahu satu sama lain bahkan borok-boroknya sendiri pun mereka pasti sudah tahu.


”Baiklah jika begitu, maaf jika telah mengganggu waktumu.” Farhan memilih langkah seribu menjauh dari Daren daripada dia harus berhadapan dengan perkataan yang semakin lama semakin menyakitkan hati.


Begitu tiba di parkiran, Farhan justru melihat mobil Alea baru saja sampai di tempat itu. ”Apa yang sedang dia lakukan di sini?” gumam Farhan.


Farhan pun berinisiatif untuk mengikuti istrinya itu hingga Alea bertemu dengan Daren.


”*Astaga, apa yang membawamu ke sini Nona cantik!” seru Daren.


”Tadi suami kamu ke sini sekarang kamu, jangan bilang kau juga mau menanyakan hal yang sama seperti dirinya,” sambungnya.


”Apa kau bilang? Farhan baru saja ke sini?” tanya Alea.


Daren mengangguk, ”Jadi benar tebakanku jika kau juga mencari Kamil? Lupakan dia dan mulailah menjalin hubungan yang baru karena Kamil takkan pernah melihat dirimu sebagai seorang gadis melainkan hanya seorang adik dan aku rasa kau tidak akan bisa bersaing dengan wanita yang sedang dia dikejarnya.”


”Apa maksudmu? Jadi Kamil sedang mengejar cinta seorang gadis?”


”Ya aku rasa begitu jika tidak buat apa dia pergi lagi setelah kembali kemarin.”


”Di kota mana dia sekarang, kau bisa memberitahukan aku bukan?”


”Untuk apa, membuat masalah baru? Memangnya kau tidak kasihan jika kau masih saja mengejarnya dialah yang akan semakin menderita.”


”Apa maksudmu?”


”Lupakan dia dan mulailah hidup dengan lembaran baru*.”


Di balik pintu Farhan mengepalkan kedua tangannya mendengar percakapan itu. ”Tunggu aku di rumah Alea, aku akan membuatmu mencintaiku!” gumam Farhan kesal.

__ADS_1


__ADS_2