Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Bagaimana Bersikap


__ADS_3

Malvin tergesa-gesa turun dari mobil begitu Baron memarkirkannya di halaman depan, dia tidak sabaran untuk bertemu dengan temannya karena memang hampir dua pekan dirinya tidak bertemu dengan sahabatnya itu.


”Maafkan aku,” ucapnya begitu sampai di ruang baca.


Denis dan Saskia menoleh bersamaan namun Saskia segera terkejut melihat Riezka ada di belakang Malvin.


”Siapa dia?” tanya Saskia.


Malvin menoleh dan melihat sepupunya berdiri di belakangnya. ”Dia saudaraku dari kampung sengaja ikut ke sini karena akan melanjutkan pendidikannya di sini.”


”Oh begitu, aku pikir dia itu ... ”


”Kamu terlalu kekanak-kanakan sekali Saskia, bahkan aku tidak akan berpacaran hingga aku benar-benar jadi orang sukses dan wanitaku nanti harus masuk dalam kriteria mamaku,” seru Malvin menanggapi sikap Saskia yang sedang cemburu pada Riezka.


”Apa kamu yakin akan melewatkan cinta putih abu-abu?” sindir Dennis kemudian.


”Itu tidak penting!” sahut Malvin cepat. ”Katakan ada apalagi?”


Mendengar hal itu membuat Saskia kesal seakan kedatangan mereka tidak diharapkan oleh Malvin. ”Kenapa bicara begitu, kami ke sini karena rindu denganmu. Kita sudah hampir dua pekan tidak bertemu apakah kamu tidak sadar hal itu?”


Malvin hanya mengedikkan bahunya saja mendengar pengakuan Saskia itu karena dia tak ingin gadis itu jadi salah paham dengan sikapnya karena memang Saskia memiliki rasa terhadapnya.


”Apa kalian sudah makan?” tanya Malvin.


”Sediakan saja camilan kita pasti akan memakannya,” sahut Denis cepat.


”Baiklah.” Malvin segera ke dapur membuatkan minuman dan menyiapkan camilan untuk teman-temannya.


”Sejak kapan kamu tinggal di sini?” tanya Saskia pada Riezka yang sedang menata buku di meja.


”Apakah itu penting?” jawab Riezka.


”Tentu saja, aku hanya ingin tahu sedekat apa kalian berdua.”


”Sangat dekat.” Mendengar hal itu Saskia merasa kesal karena ada wanita lain yang lebih dekat dari dirinya.


”Tapi bukankah kalian jarang bertemu?”


”Memang tapi meskipun jarak memisahkan bukankah jaman ini canggih? Kita masih bisa berkomunikasi bahkan meskipun kita berbeda benua sekalipun, dengan ini yang jauh semakin dekat dan yang dekat terasa jauh,” ujar Riezka menunjuk pada ponsel Malvin yang tergelatak di meja.


”Astaga ... kalian benar-benar membuatku kesal!”


”Maafkan aku dia itu adikku jadi mana mungkin aku mengabaikannya bahkan untuk urusan cinta sekalipun dia lebih terbuka kepada dibandingkan dengan mamanya mengerti,” ucap Riezka membuat Saskia membulatkan matanya mendengar pengakuannya.


”Apa yang sedang kalian bicarakan?” Malvin datang menginterupsi keduanya.


”Bukan apa-apa, silakan dinikmati aku mau bicara dengan Tante Medina,” pamit Riezka.

__ADS_1


”Riez, mama sedang pergi ke rumah nenek!” seru Malvin.


”Oh baiklah aku akan menunggunya di kamar.”


Suasana menjadi hening sesaat, jika saja Denis tidak angkat bicara membicarakan ujian akhir yang sebentar lagi akan mereka lalui.


”Apa kamu sudah ada gambaran mau kuliah dimana?” tanya Denis.


”Sebenarnya sudah ada hanya saja aku perlu masukan dari daddy karena beliau yang membiayai sekolahku, kan?” jawab Malvin.


”Bilang saja kamu tidak mau jika aku mengikuti dirimu, apa itu benar?” ujar Saskia menyela.


”Bukankah kamu berencana ke Paris, kenapa masih saja bicara begitu. Aku tidak mungkin pergi ke sana apalagi aku masih memiliki keluarga jauh dari orang tua sangat bert bagiku apalagi dalam waktu yang lama.”


”Baiklah maafkan aku yang sudah salah penafsiran, aku harap meskipun kita jauh kita tetap berkomunikasi dengan baik,” ucap Saskia mengharap.


”Aku tidak janji karena kesibukan kita pasti akan semakin bertambah,” sahut Malvin.


***


”Ma, mama tidak perlu lagi memikirkannya karena Bang Farhan sendiri sama sekali tidak memikirkan perasaan mama,” tukas Kamil kesal dirinya tidak tega melihat Alika yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


”Bagaimana mama bisa tenang, Kamil. Meskipun dia keterlaluan sekalipun dia tetap anak mama, abangmu!” Kekhawatiran terlihat jelas di wajah Alika.


”Sebentar lagi Alea akan datang ke sini, dia harus tahu semuanya mama tidak tega jika terus menerus menyembunyikan fakta tentang suaminya. Biarkan dia tinggal di sini dan mama ikut menjaganya karena dia sedang mengandung anaknya Farhan, cucu mama,” lanjutnya.


”Medina, kamu mau kan bantu mama jaga dia. Kamu sudah pernah melalui semuanya, tolong ajarkan Alea juga ya,” pinta Alika.


Medina memandang ke arah Kamil. ”Tentu saja mama tidak perlu khawatir, saya akan bantu mama menjaganya.”


”Terima kasih.”


Dera langkah kaki terdengar begitu jelas, Alea datang ke ruangan tersebut dengan raut wajah kesalnya.


”Kamil!” teriaknya. ”Kenapa kamu tega melakukan ini padaku!” lanjutnya.


Alea memukul dada Kamil hal itu tentu saja membuat Medina teriris kenapa wanita itu berani menyentuh suaminya meskipun Alea memiliki hubungan sebagai ipar dan sahabat di masa lalu sekalipun seharusnya wanita itu bisa menahan diri terlebih bukankah dulu Alea pernah memiliki rasa pada Kamil. Lalu apakah wanita itu tidak memikirkan perasaannya.


Kamil yang menyadari sikap Medina langsung menahan lengan Alea. ”Cukup, duduklah!”


Alea menangis menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Alika berusaha menenangkan menantunya.


”Sabar Nak, maafkan putraku yang tidak bertanggung jawab atas dirimu,” ucapnya merasa bersalah.


”Dimana dia sekarang?” tanya Alea pada Kamil. Kamil hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakak iparnya.


”Kenapa tidak menjawab, apakah kalian berkomplot untuk menyakitiku?” Alea kembali menangis.

__ADS_1


”Aku tidak akan memberitahumu tidak untuk saat ini Alea,” jawab Kamil.


”Kenapa? Kamu sengaja kan?”


”Semua pasti ada masanya dan untuk saat ini aku tidak mau kamu jadi terlibat masalahnya.”


”Mulai sekarang tinggallah di sini, kami bisa mengawasi perkembangan janin yang ada di dalam rahimmu, tolong pertimbangkan baik-baik Alea,” ucap Alika.


Alea tampak diam dan berpikir.


”Aku akan membantumu nantinya,” ucap Medina kemudian.


Alea mengangkat wajahnya dan menatap Medina intens. ”Kamu bisa belajar denganku bagaimana mengurus baby dengan benar,” ucap Medina.


Alea melihat ketulusan di wajah Medina. ”Terima kasih,” ucapnya.


Alea menuju ke kamar Farhan setelah perdebatan kecil di dapur bersama dengan Medina sedangkan Kamil dan Medina memilih pulang memberikan ketenangan pada Alea. Kamil sendiri berharap Alea bisa bertahan di rumah Alika hingga Farhan sendiri memilih untuk pulang.


”Bang jujur padaku sebenarnya apa yang terjadi di luar kota saat Abang bertemu dengan Bang Farhan?” Medina tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya kali ini dan memberanikan diri bertanya pada Kamil.


”Kamu belajar kepo darimana?”


”Darimu Bang, bukankah Abang diam saja jadi itu juga salah satu alasan buatku bertanya bukankah hubungan yang baik harus saling terbuka satu sama lain.”


”Hem, mulai deh!”


”Iya benar kan?”


”Iya.”


”Lalu?”


”Apa?”


”Kenapa Bang Kamil gak cerita padaku?”


”Itu karena aku khawatir kamu bakal keceplosan nantinya.”


”Hem ternyata masih saja tidak percaya!”


”Karena biasanya wanita suka ceplas-ceplos, apakah itu benar?" Medina hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Kamil.


”Berjanjilah padaku jika kamu tidak akan memberitahukannya pada siapapun.”


Medina mengangguk.


”Bang Farhan sudah melakukan kesalahan yang sangat besar selain merugikan perusahaan dengan kerugian yang sangat banyak pemegang saham juga sedang mengejarnya karena mereka ingin pertanggungjawaban langsung dari Farhan. Lebih parahnya dirinya juga menghamili Laras mantan sekretarisnya itu.”

__ADS_1


”Apa?”


__ADS_2