Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Pertengkaran Kakak Adik


__ADS_3

Kamil pun pindah ke rumah yang lebih besar sesuai permintaan mamanya agar dekat dengannya dan lagi Medina tidak merasa sendirian karena setiap hari Alika bisa datang menemui menantunya itu.


”Semoga kalian betah ya, maaf masih sedikit berantakan karena memang ini belum selesai si renovasi. Kemarin aku tinggal ke Semarang, ya itu buat jualan sayur.”


”Jadi lebih deket dong Dad ke sekolahannya,” sahut Malvin.


”Kamu benar kepala sekolahnya juga pernah ke sini waktu itu Daddy mengundangnya untuk acara syukuran rumah ini.”


”Mulai besok Mbok Iyem akan ke sini antar makanan, kamu benar-benar harus istirahat dan kamu Malvin apapun yang dimasak Mbok Iyem gak boleh protes ya. Mama butuh istirahat jadi tolong jangan buat dia kecapekan.”


”Iya Dad, kamar Malvin yang mana?”


”Terserah kamu mau yang mana tapi yang tengah itu kamarnya Daddy sama mama.”


Malvin mengangguk dan segera berlalu naik ke lantai dua mencari kamar yang cocok untuknya. Hingga akhirnya dia milih kamar yang bisa mengakses halaman depan sehingga dia bisa bebas melihat jalanan di waktu sore.


”Ayo aku antar ke kamar!” Kamil membawa Medina ke kamarnya dan membantu istrinya membereskan pakaian yang dia bawa dari rumah lama.


”Nanti bagaimana dengan tanaman yang aku tanam Bang, kasihan jika aku tinggal.”


Kamil menepuk jidatnya sendiri dalam keadaan sakit pun, Medina masih memikirkan hal sepele seperti itu. Ya Allah, kenapa istrinya benar-benar berhati baik sampai tanaman saja dia pikirkan.


Medina merasa malu karena melihat tanggapan Kamil di luar dugaannya, ”Maaf Bang, bagaimanapun tanaman juga makhluk hidup butuh minum dengan cara disiram juga.”


”Udah gak usah memikirkan mereka, nanti aku suruh Baron menggotongnya ke sini,” ucap Kamil mencoba mengerti psikologis istrinya yang sedang hamil.


”Makasih ya.”


”Mm. Sekarang cepat tidur sudah siang loh!”


Medina menurut dirinya segera tidur mengistirahatkan tubuhnya. Kamil kembali ke bawah ke ruang kerjanya mengecek laporan yang masuk.


Ada banyak sekali email yang masuk dan dia harus segera mengeceknya satu per satu, lalu menghubungi Daren untuk mengirimkan laporan keuangannya bulan ini. Kamil ingin menanyakan pada Bobby papanya Raditya tentang proyek yang ditangani oleh papanya Hamid mengingat pria itu sangat pandai dalam mencari informasi Kamil ingin minta bantuannya.


Beberapa file masuk dan selang tak berapa lama ponselnya berbunyi, panggilan masuk dari Daren.


”Hallo, apa yang terjadi?”

__ADS_1


”Bos kapan kau masuk?”


”Apa terjadi sesuatu di kantor?” Kamil memijat pelipisnya dan menyandarkan punggungnya di kursi.


”Ada beberapa hal yang harus kau ketahui laporan bulanan dan tagihan yang seharusnya dibayar tapi tidak masuk pendapatan perusahaan.”


”Berapa banyak?”


”Lumayan jika sekali dua kali masih bisa dimaafkan rupanya mamamu tidak mengetahui akan hal ini.”


”Lalu kau tahu kemana uang itu pergi?”


"Rekening Pak Hamid dan Farhan kakakmu.”


”Astaga kenapa dia juga terlibat?”


”Karena dialah otak dari masalahnya, papamu mengikuti keinginannya aku mengira mereka berbagi Fifty-Fifty agar tidak diketahui. Sebaiknya kita suruh orang dalam untuk menyelidikinya.”


”Baiklah lakukan yang terbaik!”


Kamil mendesah panjang, dirinya tidak habis pikir kenapa abangnya melakukan hal kotor seperti itu. ”Sebaiknya aku ke kantornya dan menanyakannya langsung itu lebih baik daripada harus menebaknya.”


Kamil segera bangkit menuju ke kamar Malvin meminta putranya menjaga Medina karena dia ingin pergi ke kantor abangnya.


”Jika ada apa-apa segera hubungi Daddy jangan bertindak sendiri mengerti.”


Malvin mengangguk sedangkan Kamil langsung tancap gas melajukan mobilnya dengan cepat.


***


”Bagaimana, kamu puas dengan servicenya?” Laras masih menggoda Farhan padahal mereka baru saja melakukan pelepasan.


Farhan hanya tersenyum singkat, setelah melakukan hal panas bersama dengan sekretarisnya itu. ”Katakan apa maumu?”


”Tidak banyak tas keluaran terbaru,” bisik Laras.


Farhan segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu miliknya. ”Pakailah ini, belanja saja apa yang kau inginkan tapi ingat jangan sampai mencurigakan mengerti!”

__ADS_1


”Makasih, kau memang yang terbaik. Aku tunggu kau di apartemen ku nanti malam, jangan lupa ya,” bisik Laras setelah merapikan dirinya di cermin buru-buru dia keluar dari ruangan Farhan tepat saat Kamil akan masuk tentu saja hal itu membuat Kamil curiga kenapa di jam kerja wanita itu keluar dari ruangan abangnya dengan make up yang berantakan dan lagi ada beberapa tanda merah di lehernya. Kamil bukanlah pria bodoh yang bisa dibohongi seperti wanita yang bernama Alea.


”Kamil? Ada apa kemari?” Farhan gugup karena dirinya masih dalam keadaan berantakan.


”Kalian baru saja melakukannya kan? Bang, Abang gak merasa bersalah dengan Alea?” tanya Kamil.


Farhan berusaha untuk tenang dan seakan apa yang terjadi bukanlah kesalahannya. ”Peduli apa dengannya, bukankah dia sama sekali tidak mencintaiku. Yang dia cintai itu kamu bukan aku jadi kenapa aku harus merasa bersalah,” kilah Farhan.


Kamil meradang mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, kesal itu pasti Alea memang mencintainya tapi dia sama sekali tidak menanggapinya dan lebih memikirkan perasaan abangnya itu tapi justru sekarang Alea yang disakiti olehnya, mendengar hal ini tentu saja Kamil ingin menghabisinya.


”Jadi Abang sudah tahu kan awalnya lalu kenapa memaksanya untuk menikahinya dan sekarang Abang justru tega menyakiti gadis itu.”


”Ck! Jangan sok jadi pahlawan kesiangan kamu dia sudah bukan lagi gadis ting-ting seperti yang kau kira karena perawannya sudah aku ambil.”


Kamil semakin mengeram kesal mendengar pengakuan Farhan begitu bejatnya kakaknya itu sehingga dengan mudah menyakiti perasaan wanita. ”Dia itu sedang berusaha untuk mencintaimu Bang, makanya dia berusaha ikhlas menerima takdirnya dengan memberikan apa yang dia miliki. Jika Abang mau menikahinya kenapa sekarang Abang justru menyakitinya, dasar brengsek!”


Bugh!


Kamil meninju rahang Farhan dengan sangat keras, Kamil sudah tidak tahan lagi untuk tidak melakukannya.


Bugh!


”Bajingan kamu Bang!” seru Kamil sedangkan Farhan tidak membalas kemarahan adiknya dia memang merasa pantas mendapatkannya.


”Kau memang sama dengan papa suka mempermainkan perasaan wanita, jika sampai mama tahu dia pasti akan kecewa padamu karena kau memilih mengikuti jejaknya.”


”Peduli setan dengan mama karena selama ini mama tidak pernah memperlakukanku dengan baik, dia pilih kasih, dia lebih sayang kepadamu daripada aku putra sulungnya.”


”Kau keliru dia itu peduli denganmu jika tidak untuk apa dia memberikan perusahaan ini padamu, bahkan ini adalah perusahaan miliknya sendiri yang dia bangun dengan susah payah. Dia memang lebih memperdulikan ku karena kau lebih cenderung pergi bersama dengan papa Bang, ingat tidak waktu mama ulang tahun kemana kalian berdua? Pergi ke klub malam menghabiskan waktu dengan wanita malam, apakah kalian memikirkan perasaan mama waktu itu yang sudah bersusah payah memasak membuatkan makanan kesukaanmu padahal kondisinya sedang sakit.”


Farhan hanya terdiam mendengar rangkaian kalimat Kamil yang terasa menyesakkan dadanya. Sejahat itukah dia pada Alika mamanya sendiri.


”Aku mencurigai Abang dan papa bekerjasama menguras habis harta mama perlahan-lahan, apa itu benar? Ada beberapa kerjasama yang tidak masuk pendapatan perusahaan kemana larinya uang itu papa alihkan jika bukan padamu.”


Farhan menegang mendengar pernyataan Kamil secepat itukah rahasianya terungkap.


__ADS_1


__ADS_2