
”Tadi itu siapa Om?” tanya Malvin begitu sampai di rumah.
”Teman kerjanya Om, kenapa?”jawab Kamil.
”Tampilannya keren, kalau Om Kamil begitu pasti juga gak kalah keren deh,” seru Malvin.
Kamil hanya tersenyum menanggapi perkataan Malvin anak itu selalu saja kepo dengan sesuatu yang dilihatnya.
”Itu ada kurir di depan,” ucap Medina menghampirinya. Kamil berbalik dia tahu jika itu adalah kurir supermarket yang mengantar pesanannya, dia memesan semuanya via online.
”Dengan rumahnya Bu Medina?”
”Benar saya sendiri, ada apa ya Mas?”
”Tolong tanda tangan di sini ya, kami antar paket dari Vanguard Supermarket. Apa barangnya bisa saya bawa masuk sekarang?"
”Oh silakan Mas.” Medina mempersilakan kurir mengangkut barang-barangnya ke dalam rumah.
”Siapa yang memesan ini semua, padahal aku gak merasa memesannya,” ucap Medina lalu memandang ke arah Kamil tapi hanya sekilas karena dia sendiri takut terbawa suasana ada Malvin di sana.
”Apa kamu yang pesan Bang?”
”Iya, sudahlah jangan diperdebatkan kalian bisa memakainya kok,” ucap Kamil.
”Malvin masuk kamar mama mau bicara sesuatu dengan Om Kamil,” perintah Medina.
”Baik Ma, tapi jangan lama-lama ya ketiganya setan loh!” ucap Malvin berlalu sambil cekikikan.
”Ya ampun anak itu,” gumam Medina.
”Apa yang ingin kau tanyakan?” ucap Kamil.
”Kenapa kau melakukan semua ini, sebenarnya siapa dirimu itu?”
Kamil menatap manik mata Medina intens membuat wanita itu kembali salah tingkah. ”Suatu saat kamu juga akan tahu dan mengerti alasannya kenapa aku melakukan hal ini.”
”Aku merasa kau bukan orang biasa.”
Kamil mengerutkan keningnya, ”Jadi maksudmu aku ini makhluk ghaib, setan, jin atau sejenisnya?”
”Bukan begitu, maksudku kau ini ... ”
Jari Kamil menyentuh bibir Medina dan tentu saja keduanya sama-sama terkejut. Kamil tidak menyangka akan melakukan hal itu pada Medina begitu juga sebaliknya.
”Aku tidak mau mendengar apapun darimu dan jika kau mengetahuinya pun aku minta sama kamu untuk tidak pergi dariku, tetaplah di sini bersamaku.”
”Apa maksudmu?”
__ADS_1
Jantung Kamil berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya, astaga dia merasa frustasi apakah harus mengatakan isi hatinya sekarang juga.
”Bisakah kau membuka hatimu untukku, setidaknya biarkan aku membahagiakan dirimu,” ucap Kamil.
Medina menatap Kamil tapi tidak berlangsung lama karena Medina takut kembali terbawa suasana dan kembali jatuh cinta.
”A-aku ... aku tidak tahu.” Medina memalingkan wajahnya ke samping.
”Aku akan tetap menunggu, yang pasti aku sudah menyatakan perasaanku padamu jika aku mencintaimu,” bisik Kamil.
Medina mengangkat wajahnya terkejut dengan pengakuan Kamil, tubuhnya menegang.
”Aku tidak akan memaksamu mengiyakan sekarang, tapi aku pastikan jika aku akan segera membawamu pada mamaku dan meminta ijinnya untuk menikahi dirimu,” ucap Kamil.
Medina kembali terkejut mendengar perkataan Kamil. ”Kau sedang bercanda kan?”
Kamil menggeleng, ”Memangnya aku terlihat sedang bercanda sekarang?”
”Tidak.”
”Siapkan dirimu karena waktu itu Asti akan segera tiba. Aku pulang dulu, sampaikan pada Malvin besok jam enam tiga puluh harus sudah siap, aku akan menjemputnya ke sini. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Medina segera mengambil nafas banyak-banyak setelah Kamil pergi, dia merasa sesak ketika berhadapan dengan pria itu.
”Tunggu ini bukan mimpi seperti kemarin malam kan?” gumam Kamil seraya tersenyum sendiri sepanjang jalan.
Kamil pulang ke apartemennya sendiri berencana untuk beristirahat di sana malam ini, seharian bersama dengan Medina dan Malvin cukup membuatnya lelah apalagi bertemu dengan Daren yang membuatnya semakin pusing karena telah bertemu langsung dengan keduanya.
Kamil terlihat sangat bahagia hingga tidak sadar jika Alea membuntutinya sejak masuk ke area apartemennya.
”Kamil,” teriak Alea.
Merasa dipanggil Kamil pun berhenti dan berbalik. ”Ada apalagi Alea?”
”Apa benar yang kau ucapkan kemarin?” tanya Alea.
”Benar, aku akan segera menikah kamu tunggu saja tanggalnya,” jawab Kamil.
”Dengan siapa? Wanita mana yang telah meluluhkan hatimu itu?”
”Kau tenang saja, nanti jika sudah tiba tanggalnya kau pasti akan mengetahuinya siapa wanita itu. Sudah ya aku mau istirahat.”
Kamil meninggal Alea yang masih tidak percaya dengan pernyataan Kamil itu. ”Ini tidak mungkin,” gumam Alea.
***
__ADS_1
”Daffa, ini ada sedikit makanan antarkan ke rumah mantan istrimu sana, berikan pada Malvin anak itu sudah beberapa hari tidak kelihatan lewat depan rumah, padahal ibu kangen sekali dengannya, ” keluh Bu Yanti.
”Iya nanti lah Bu, sekalian Daffa ke kantor,” sahut Daffa.
”Pokoknya harus diberikan pada anak itu, jika perlu minta dia datang ke sini,” ucap Bu Yanti.
”Baik nanti aku sampaikan pada anaknya ibu jangan khawatirkan dia InsyaAllah Medina akan rawat dia dengan baik," jelas Daffa.
”Ibu tidak percaya, darimana dia bisa merawat dengan baik sedangkan dia tidak memiliki pekerjaan tetap dan lagi dengan apa dia kasih makan cucuku itu. Ibu menyesal membiarkan hak asuh anak itu jatuh padanya dulu,” sesal Bu Yanti.
”Astaghfirullah kenapa ibu masih mengungkitnya biarkan saja toh sekarang Malvin tumbuh dengan baik kan?”
”Dia tumbuh dengan baik karena nafkah darimu tiap bulan kalau kamu gak kasih dia jatah jajan tiap bulan mana mungkin dia akan segede sekarang!” kesal Bu Yanti.
Daffa terdiam mendengarkan kalimat-kalimat kekesalan dari ibunya itu lebih baik daripada meladeninya karena yang pasti dia akan kalah karena wanita itu tidak pada dasarnya tidak mau mengalah.
”Udah bicaranya Bu, Daffa pamit ya. Assalamu'alaikum.”
”Waalaikumussalam.”
Daffa tergesa-gesa mendatangi rumah lamanya setelah memarkirkan mobilnya dia segera turun tapi apa yang dilihatnya membuatnya sedikit menaruh curiga. Rumah tersebut terlihat kotor pintu gerbang pun tertutup rapat.
”Apa mereka sedang pergi kenapa terlihat sepi sekali,” gumam Daffa.
Daffa mengamati lantai yang penuh dengan debu dan juga daun kering berserakan, Daffa celingukan kesana-kemari.
”Eh Hasna, apa Medina gak ada kok sepi dan rumahnya kotor sekali,” tanya Daffa.
”Memangnya kemarin gak pamitan sama Mas Daffa ya?” jawab Hasna.
”Pamitan? Memangnya mereka kemana?”
"Pindah!”
"Apa? Pindah kemana?” Daffa tercengang mendengar penjelasan dari Hasna.
"Jakarta, cari kehidupan baru tentunya kalau di sini mbak Medina gak akan berkembang lagipula dia juga gak mau tertekan karena tuduhan-tuduhan dari Lastri istrimu itu Mas,” jelas Hasna.
Daffa mengacak rambutnya sendiri dia tidak tahu bagaimana dan kapan lagi bisa bertemu dengan keduanya. ”Apa kamu tahu alamat barunya?”
Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Daffa meskipun Hasna memilikinya sudah pasti dia takkan memberikannya pada Daffa.
”Sudahlah makasih informasinya.” Daffa segera masuk ke mobilnya dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah dia segera memberitahukan hal itu pada ibunya, shock sudah pasti karena bagaimanapun dia sangat menyayangi Malvin.
”Kenapa Malvin diajaknya, seharusnya Medina saja yang pergi dan Malvin tetap di rumah,” ujar Bu Yanti.
__ADS_1
Keduanya lemas dengan penyesalannya masing-masing, apakah masih ada kesempatan untuk bertemu dengan mereka kembali.