Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Dia Calon Papaku


__ADS_3

”Ada apa?” Kamil menghampiri Medina.


”Neneknya Malvin, Bu Yanti sedang dirawat di rumah sakit beliau mengalami stroke setelah mendengar kabar dari Daffa jika Malvin ikut pindah ke Jakarta,” jelas Medina.


”Biarkan saja Ma, mama tidak perlu lagi mengurusi mereka karena mereka sendiri tidak pernah memikirkan perasaan mama sama sekali dan lagi sekarang ada tante Lastri kenapa mama masih mikirin nenek.”


”Apa yang diucapkan Malvin benar, sebaiknya kamu jangan terlalu memikirkan mereka cukup dengan dia saja. Bukankah yang mereka alami itu adalah hasil daripada kedzaliman yang mereka perbuat.”


”Aku yakin jika mereka bersikap baik seseorang pun akan memperlakukannya dengan baik juga. Bu Yanti itu termasuk orang yang sombong kau ingat kan waktu kita datang ke acara nikahannya Daffa bagaimana dia bersikap meladeni para tamu undangan yang datang,” jelas Kamil dan Medina pun masih ingat dengan jelas akan hal tersebut.


”Lanjutkan saja masaknya atau kamu mau aku bantuin?” Tanpa menunggu Medina menjawab Kamil sudah melepas jasnya dan memasang celemek di tubuhnya membuat Medina dan Malvin terkejut dengan aksinya itu.


Dengan cekatan Kamil memasak dan hal itu membuat ibu dan anak semakin kagum dengan sosok Kamil, yang serba bisa dan makanan pun matang tepat waktu.


”Masakan Om Kamil enak juga ya, gak kalah sama masakan mama,” puji Malvin.


”Apa Abang dah biasa masak?” tanya Medina.


”Iya jika hanya sekedar masakan rumahan aku udah biasa ngelakuinnya karena dari dulu aku jarang banget kumpul dengan keluarga terbiasa hidup mandiri jadi ya apapun dilakukan sendiri. Aku pulang ya, Malvin sampai ketemu besok, jika Om gak datang pagi mungkin Baron yang akan datang mengantarkanmu ke sekolah.”


”Siap Om, makasih ya.”


Kamil pun pulang ke apartemennya.


”Kemana saja kamu sama Om Kamil tadi, kok mama lihat kalian akur banget!”


”Tadi sepulang sekolah Malvin diajak makan di kafetaria di sana ketemu sama kakaknya Om Kamil, orangnya jutek banget Ma,” ucap Malvin.


”Hush gak boleh bicara begitu Malvin,” tegur Medina.


”Memang benar Ma, Malvin ajak salaman aja dia gak menanggapi.”


”Mungkin dia memang gak terbuka kayak Om Kamil tiap orang kan berbeda meskipun mereka bersaudara sekalipun,” jelas Medina.


”Ma, mama tahu kerjaan Om Kamil gak?”


Medina menggeleng yang dia yakini Kamil itu bukan orang biasa.


”Tadi Malvin diajak ke apartemennya Om Kamil, dia itu seorang bos!”


Medina terkejut mendengar penuturan putranya. ”Kau yakin?”


”Tentu saja, memangnya Malvin pernah bohongi mama?”


Medina pun berpikir lagi jika apa yang dia pikirkan selama ini tentang pria itu adalah benar jika Kamil bukanlah pria biasa, yang jadi permasalahannya sekarang adalah kenapa dia melakukan hal ini karena pastinya dia memiliki tujuan. Kamil itu pria kaya dan tampan mana mungkin dia buang-buang waktu hanya untuk bermain-main di luar karena waktunya pasti sangat berharga.

__ADS_1


Medina memijat pelipisnya perlahan banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya dan dia ingin tahu alasan pria itu melakukan semua ini. Medina menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. ”Apakah aku harus mengembalikan ini padanya?”


Pagi ini setelah Malvin berangkat ke sekolah Medina memilih pergi ke pasar setelah tempo hari dia melihat barang di supermarket setidaknya dia tahu harga-harganya dan bisa membandingkannya.


Langkahnya terhenti begitu melihat seorang wanita suruh baya jatuh terpleset di depan pintu masuk dengan segera dia menolongnya.


”Ibu tidak apa-apa?” tanya Medina seraya membantunya untuk bangun.


”Terima kasih, lantainya sangat licin dan ya ampun gak ada yang mau menolong kecuali kamu Nak,” ucapnya.


”Ibu kenapa pergi ke pasar sendirian, kan bisa minta diantar putranya atau asisten rumah tangganya misalnya.” Medina melihat wanita paruh baya ini orang berada.


”Putraku dua semua sibuk, istrinya mana mau dia menemaniku ke sini kalau putra bungsuku belum menikah dia sedikit sulit dalam hubungan lawan jenis. Inginnya mencari sendiri dan tidak mau terikat perjodohan seperti kakaknya,” jelasnya.


”Makasih ya, ibu mau lanjutkan belanjaannya kamu pasti juga akan belanja kan?”


”Benar, aku mau memasak buat putraku nanti siang. Ibu yakin bisa belanja sendirian?”


”Tentu saja, silakan lanjutkan belanjanya.”


Medina masuk ke dalam sesekali dia menoleh ke belakang memastikan ibu itu baik-baik saja. Setelah membeli keperluannya Medina segera pulang. Mengeksekusi belanjaannya.


***


”Iya benar ada apa?” jawab Malvin.


”Dia tampan sekali, bisakah kau mengenalkan aku padanya?”


Malvin membelalakkan matanya mendengar kalimat Saskia. ”Maksudmu apa ya?”


”Aku menyukai om kamu itu, bisa kan kamu mendekatkan aku dengannya.”


”Tidak bisa!” tolak Malvin cepat.


”Loh kenapa tidak bisa dia om kamu kan?”


”Dia itu calon papaku!”


”Apa?”


”Iya dia itu kekasih mamaku,” seru Malvin.


”Tidak mungkin, memangnya berapa tahun umur mamamu itu?”


”Baru tiga puluh dua sama dengan om itu,” ucap Malvin.

__ADS_1


”Wah hebat sekali ya mamamu bisa menggaet pria kaya,” seru Saskia.


”Jaga bicaramu Saskia, mamaku itu wanita baik-baik dan terhormat.” Malvin tidak suka jika mamanya direndahkan oleh orang lain.


”Maafkan aku jika pemikiranku salah karena itu terjadi di keluargaku juga tapi posisinya mamaku yang selingkuh dengan pria kaya.”


”Itu beda cerita yang ngedeketin itu om itu bukan mamaku, karena status mamaku juga sudah bercerai dengan papaku bukan istri orang. Dah lah jangan tanyakan hal-hal seperti itu ya karena aku gak mau bikin hati orang terluka.”


”Kok bisa?"


"Karena itu hal yang sensitif Saskia, salah bicara sedikit saja pasti jadi salah faham nantinya,” jelas Malvin.


”Ya udah deh gak dapat bapaknya dapat anaknya juga gak apa,” seru Saskia.


”Apa maksudmu?”


Belum sempat menjawab gurunya sudah masuk untuk memulai pelajarannya.


Jam pelajaran terasa lambat bagi Malvin dia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah untuk istirahat, semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan cerita dari Medina jika Kamil telah melamar mamanya.


Begitu jam pelajaran selesai, Malvin segera keluar menunggu Kamil datang dan pria itu sudah berada di parkiran sekolahan.


”Sejak kapan ada di sini Om?” sapa Malvin.


”Sepuluh menit yang lalu, Om sedang gak ada kerjaan jadi datang lebih awal. Yuk, mau langsung pulang atau makan dulu?” tawar Kamil.


”Makan di rumah saja Om, karena mama memasak hari ini dan lagi dilarang mama jajan di luar. Malvin sendiri tidak terbiasa selain itu juga boros.” Malvin terkekeh dengan kalimat terakhirnya membuat Kamil gemas mengacak-acak rambut anak remaja tanggung yang sedang beranjak dewasa.


”Baiklah ayo kita pulang.”


Kamil segera melajukan mobilnya ke rumah Medina. ”Om, apa Om Kamil serius dengan mama soal ajakan menikah kemarin?”


Kamil menoleh ke samping sekilas, ”Darimana kamu tahu, apa mamamu cerita soal itu sama kamu?”


”Tidak, Malvin lihat cincin baru yang dikenakan mama kemarin. Itu pasti dari om kan? Jujur papa gak pernah kasih itu sama mama yang ada keluarganya mencaci maki mama terus.”


”Malvin dengerin Om ya, mulai sekarang Om janji sama kamu akan membahagiakan mamamu asalkan Om diijinkan untuk segera menikah dengan mamamu.”


"Om kok sepertinya ngebet banget sama mama,” seru Malvin.


”Bukannya ngebet tapi Om juga gak mau bolak-balik ke rumah tanpa sebuah ikatan, apa kata tetangga dan keluarga Om nantinya.”


”Benar juga Om, lalu kapan Om mau bawa mama ke KUA?”


”Eh?”

__ADS_1


__ADS_2