Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Memberikan Kenyamanan


__ADS_3

Medina tengah berada di baby shop dirinya membeli beberapa perlengkapan bayi untuk keponakannya, anak Alea yang sebentar lagi akan lahir. Seharusnya hal itu pun dia lakukan untuk dirinya sendiri jika calon anaknya masih ada di dalam rahimnya.


”Apa yang sedang kamu pikirkan?” tegur Kamil yang melihat Medina terdiam di tempatnya dengan sepatu bayi di tangannya.


”Aku mengingatnya Bang, andaikata dia masih ada tentu sebentar lagi dia juga akan lahir ke dunia ini.”


”Sudah jangan bersedih bukankah kita masih bisa memiliki kesempatan lain,” hibur Kamil dia tidak ingin istrinya kembali bersedih.


”Kamu benar tapi tetap saja, masih belum bisa menerima kenyataan jika dia sudah tidak ada ... ”


”Ssstt ... jangan diteruskan tidak baik, ayo kita ambil yang lainnya lalu pergi dari sini,” ajak Kamil dia tak mau istrinya berlarut-larut dalam sesal.


Kamil pun membayar semua belanjaan dan berniat mengajak Medina ke toko pakaian, sudah lama dia tidak memanjakan istrinya berjalan berdua memberikan yang terbaik untuk wanitanya.


”Cobalah!” Kamil memberikan setumpuk pakaian pada Medina dan meminta istrinya untuk mencoba.


Medina membelalak, ”Sebanyak ini?”


Kamil mengangguk. ”Pergilah jangan khawatir aku akan membayar semuanya.”


Medina tersenyum dirinya bahagia karena mendapatkan seseorang yang sangat perhatian padanya, dia tidak ingin mengecewakan Kamil.


Beberapa kali Medina keluar masuk memamerkan pakaian yang dia coba dan Kamil hanya mengacungkan kedua jempolnya mau bagaimanapun Medina memang cantik.


”Aku lelah Bang!” keluh Medina.


”Kita istirahat saja kalau begitu, apakah kamu mau minum?” tawar Kamil.


”Iya.”


”Ayo kita ke kafe depan!” ajak Kamil menarik lengan Medina. Kafe cukup ramai karena memang jam santai saat ini, Kamil mengajak Medina duduk di pojokan dekat jendela agar bisa memandang keluar.


”Apa kamu suka?” tanya Kamil namun Medina justru diam saja hingga pria itu mencubit gemas pipi istrinya.


”Eh?” Medina terkejut melihat Kamil di depannya sangat dekat bahkan hampir tak berjarak. ”Jangan suka mengagetkan orang jika dia punya riwayat penyakit jantung bagaimana?”


”Dia tidak akan mati karena yang mengagetkan dirinya adalah pria yang tampan,” celetuk Kamil.


”Ya ampun Bang, penyakit lamanya kambuh lagi?” Medina memegang kening Kamil. ”Tidak demam.”


”Kenapa melamun terus apa kamu tidak bahagia atau hal apa yang membuatmu terus saja seperti itu, katakanlah!” bujuk Kamil.


”Aku sedang kepikiran Malvin itu saja,” ucap Medina. Kamil mengerutkan keningnya.


”Ada apa dengan dia?”


”Memangnya dia belum cerita?”


Kamil menggelengkan kepalanya. ”Dia tidak mengatakan apapun, ada apa?”


”Oh.”


”Kenapa malah menjawab singkat begitu.”


”Ya aku kira dia sudah bicara, dia cerita ingin kuliah di luar negeri karena dirinya mendapatkan beasiswa, tapi mungkin dia tidak berani jujur denganmu karena khawatir kamu tidak akan mengijinkannya.”

__ADS_1


”Soal itu dia tidak bicara apapun dan jika memang benar seperti itu tanpa beasiswa pun aku pasti akan mengijinkannya tapi dengan syarat.”


”Apa?”


***


Kamil memanggil Malvin di ruang kerjanya dia ingin memastikan jika putranya itu benar-benar memantapkan hatinya untuk belajar ke luar negeri.


”Dad,” panggil Malvin.


”Duduklah.” Kamil memperhatikan Malvin dengan intens.


”Apa benar kamu ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri?”


”Aku hanya ingin saja, Dad. Tapi jika memang tidak setuju tidak masalah nanti Malvin bisa kuliah di sini bersama dengan Riezka.”


”Siapa bilang Daddy tidak setuju, silakan ajak serta Riezka pergi.”


Malvin berbinar seketika mendengar perkataan Kamil. ”Ini beneran kan, Dad?” Malvin meyakinkan pernyataan Kamil.


”Tentu saja tapi dengan syarat, kamu tidak boleh macam-macam di sana dan harus dalam pengawasan Baron. Riezka akan ikut ke sana untuk menemanimu tapi kalian tinggal terpisah.”


”Makasih, Dad.”


”Yang penting siapkan dirimu dari sekarang dan ingat beasiswa tidak akan Daddy ambil karena Daddy masih sanggup untuk membiayai pendidikanmu. Jadi berikan hak yang kamu miliki pada orang yang lebih membutuhkan. Satu hal lagi, jangan sampai mengecewakan kami di sini.”


”Siap.”


Malvin keluar dari ruangan Kamil dengan wajah bahagia karena keinginannya untuk pergi akan segera terwujud. Malvin segera ke kamar Riezka dirinya tidak sabar untuk memberitahukan gadis itu.


”Apa yang terjadi?” tanya Riezka.


”Kita? Apa maksudmu, aku tidak mengerti.” Riezka kebingungan.


”Iya benar kita, jadi Daddy juga akan membiayai pendidikanmu di luar negeri.”


”MasyaAllah, ini aku sedang tidak bermimpi kan?”


Malvin menarik lengan Riezka menuju meja makan karena Kamil sedang makan di sana.


”Ada apa?”


”Om, apa benar semua yang dikatakan oleh Malvin?” Riezka meremas jilbabnya gugup.


”Iya, siapkan saja semuanya bukankah tinggal beberapa bulan saja kan?”


”Terima kasih, Om.” Riezka meneteskan air mata dirinya terharu karena perhatian Kamil padanya.


”Sudahlah yang penting kalian tetap tetap saling menjaga di sana dan ingat tujuan kalian datang ke sana, belajar.”


Keduanya mengangguk bahagia.


Suara bel pintu berbunyi Riezka pun bergerak ke depan untuk melihat siapa yang datang.


”Tante, silakan masuk.” Alea tersenyum melihat Riezka lalu masuk dengan cepat.

__ADS_1


”Kamu datang?” ucap Kamil namun ekspresinya acuh tak acuh.


”Medina menyuruhku ke sini untuk mengambil sesuatu,” sahut Alea.


”Oh, dia masih di kamarnya.”


”Biar Riezka yang memanggil tante Medina, Om,” ucap Riezka segera naik ke lantai dua memanggil Medina.


”Tante, ada tamu di luar.”


”Siapa?” Medina keluar seraya merapikan jilbabnya.


”Tante Alea yang datang,” ucap Riezka.


”Oh. Apa kamu sudah makan?”


”Sudah Tante, kamu senang kan bisa pergi dengan Malvin. Belajarlah dengan baik!”


”Siap Tante.”


Medina membawa dua paper bag berisikan perlengkapan bayi. ”Ini semua untukmu.” Medina memberikannya pada Alea.


”Apa ini?” Alea membukanya. ”Wah lucunya,” lirih Alea.


”Hanya itu yang aku beli karena waktunya juga tidak cukup kemarin,” ucap Medina.


”Ini lucu-lucu semua aku suka,” ucap Alea. ”Makasih banyak ya.”


”Sama-sama.”


Alea membongkar semua bungkusan yang ada di dalamnya. ”Kamu benar-benar faham seleraku Medina.”


Medina hanya tersenyum sejujurnya hatinya merasa sakit karena perkataan Alea, karena semua yang diucapkannya mengingatkannya pada calon anaknya.


Kamil yang sedari tadi memperhatikannya hanya bisa diam dan berusaha mencari celah untuk memanggilnya.


”Medina, bisakah aku meminta tolong padamu,” ucap Kamil.


”Apa itu?”


”Aku masih lapar bisakah kamu memasak mie untukku?”


”Baiklah, Alea maaf aku tinggal dulu.”


”Oh baiklah, aku juga mau pulang. Medina ... terima kasih ya.”


Medina tersenyum, ”Hati-hati.”


Alea pergi dan Medina pun menuju ke dapur menyiapkan mie pesanan Kamil.


”Telur, sosis, baso, sawi,” lirih Medina berbicara sendiri.


”Aku tahu kamu tidak nyaman berbicara dengan Alea, maka dari itu aku memintamu membuatkan mie ini,” ucap Kamil melirik Medina membuat istrinya menghentikan kegiatannya dan berbalik menatap Kamil kesal.


”Jadi Bang Kamil mau mengerjai diriku begitu?” ucap Medina.

__ADS_1


Kamil yang melipat tangannya di dada pun tak dapat menahan tawanya dan dengan cepat Medina menggelitik perut Kamil keduanya pun saling menggoda satu sama lain.


”Astaga Dad, Ma ... ”


__ADS_2