
”Ini titipan dari ibu buat Malvin,” ucap Daffa meskipun bibirnya berucap tapi tatapannya tetap menuju ke arah Kamil dengan tatapan tidak suka.
”Malvin tidak akan mau lauk dari neneknya percaya saja padaku,” ucap Kamil santai.
”Sok tahu!" balas Daffa.
”Kau pikir aku tidak tahu rahasiamu? Putramu sendiri yang membongkar kebusukan keluargamu, sudahlah jangan berharap lebih pada seseorang jika kau sendiri tidak bisa berjuang mempertahankannya,” sindir Kamil.
"Kau ... ”
”Apa, bahkan acara pernikahanmu kemarin masih harus menanggung hutang. Benarkan yang saya katakan?”
Daffa mengepalkan kedua tangannya dan Kamil dapat melihatnya membuatnya merasa senang karena berhasil membuat Daffa terpancing emosinya.
”Kau itu hanya pria miskin yang tidak tahu diri buat apa juga kau mendekati dia memangnya tidak ada wanita lain yang bisa kau dekati?” sindir Daffa.
Kamil terkekeh mendengar perkataan Daffa. ”Apa salahnya mengambil berlian di tempat sampah, kau itu pria bodoh yang membuang berlian hanya demi kubangan lumpur kotor. Anda membuangnya saya yang akan memungutnya dan menjadikannya lebih indah berharga dari sebelumnya,” papar Kamil tentu saja membuat Daffa emosi.
”Din, pria seperti ini tidak pantas untukmu!” Medina terkejut mendengar perkataan Daffa.
”Kau salah Mas, dia itu orang baik dan aku bisa menilainya meskipun hanya baru bertemu beberapa kali. Sebaiknya Mas Daffa cepat pulang kasihan Mbak Lastri kelamaan nunggu.”
Mendapat penolakan dari mantan istrinya tentu saja membuat Daffa kecewa dia tidak menyangka jika Medina akan secepat itu melupakan dirinya. Terlanjur malu, mungkin itulah yang dirasakan oleh Daffa membuatnya segera pergi dari rumah itu.
”Makasih ya Bang, aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi pria itu, setiap kali dateng pasti akan membuat keributan kecil dan itu membuatku malu dengan para tetangga.”
”Sudahlah jangan memikirkan hal yang tidak perlu lebih baik mbak Medina fokus dengan masa depan diri sendiri dan Malvin jangan memikirkan pria yang tidak tahu diri itu.”
”Btw, Malvin udah cerita banyak tentang kami sama Bang Kamil?” tanya Medina.
”Hampir semuanya dia ceritakan sama saya, yang sabar ya dunia itu sempit sekali jadi jangan pernah menangisi sesuatu yang telah terjadi lebih baik diperbaiki mana yang harus diperbaiki.”
”Ya betul itu, oh iya bagaimana dengan rendang jengkolnya rasanya enak kan?” tanya Medina membuat Kamil merona mengingat makanan itu dia hampir habis tiga piring kemarin karena hampir melahap habis semuanya beruntung baron mengingatkannya menghindari bau di kamar mandi.
”Enak sekali makasih ya udah kasih makanan itu saya jadi tahu yang awalnya tidak tahu menahu.”
__ADS_1
”Sama-sama, yang saya titipkan ke warung juga langsung diserbu habis sama langganan di sana dan meminta saya bikin lagi tapi saya gak janji karena itu juga menunggu stock dari pedagang dan lagi barang seperti itu akan musiman tidak setiap waktu ada,” jelas Medina.
”Iya benar, jika sedang tidak ada harganya mahal sekali.”
”Bang Malik besok jualan?”
”InsyaAllah, kenapa apa mau pesan sesuatu?” tanya Kamil.
”Pesan daging ayam utuhnya ya tiga ekor,” sahut Medina.
”Untuk apa? Maksud saya apa mbak Medina mau ngadain syukuran?” tanya Kamil.
”Itu pesanan tetangga kampung sebelah minta dibuatkan nasi kuning berikut lauknya buat acara putrinya ulang tahun tapi sudsh dalam bentuk nasi box tujuh puluh lima box gitu,” jelas Medina.
”MasyaAllah mantab, kenapa mbak Medina gak buka catering aja yang besar bisa buka lowongan buat warna sekitar juga tentunya kan senang bisa kasih pekerjaan buat orang lain.”
”Pengennya Bang, tapi Allah belum mengijinkannya karena selalu ada saja kendalanya jadi mungkin lain waktu sementara biar dihandle sama saya dan tetangga sebelah saja, Malvin juga kadang bantu tapi tidak banyak karena saya penginnya dia fokus sekolah agar tidak terganggu nantinya.”
”Saya salut dengan perjuangannya,” puji Kamil.
Kamil beranjak pergi setelah mengucapkan salam pada wanita itu.
***
”Mbak dia ganteng kan? Gak kalah sama Mas Daffa, dan Husna lebih suka jika mbak Medina mendekatinya mumpung belum ada pasangannya,” ucap Hasna mengompori Medina.
”Kau ini ngomong apa sih?” ucap Medina kesal.
”Ya ngomong kenyataan lah mbak, mbak Medina itu sudsh dikhianati oleh Mas Daffa sebaiknya mbak segera cari gantinya biar gak berlarut-larut sedih,” saran Hasna.
”Saya gak sedih Hasna justru saya itu lebih memikirkan perasaan Malvin kalau dia dapat papa tiri bagaimana hidupnya itu.”
”Setidaknya dia ada teman curhat dan lagi sepertinya Malvin nyaman sama dia, kapan hari ke masjid bersama kayak bapak sama anak.”
”Sudahlah jangan bicara hal-hal yang gak mungkin halu jangan tinggi-tinggi kalau tersadar jatuhnya sakit banget!”
__ADS_1
”Ya ampun mbak padahal saya gak halu karena ibu fakta di depan mata,wong kok ngeyel!”
Medina tidak dapat menyembunyikan rasa malunya jika mengingat kejadian memalukan di rumah Kamil tempo hari bagaimana dia bisa melihat dengan jelas dari atas hingga bawah karena pria itu hanya memakai celana boxer saja. Medina pun melihat dengan jelas tonjolan antena yang cukup besar di tempatnya kemarin membuatnya meremang dan panas dingin tidak bisa tidur karena membayangkan.
Medina itu wanita yang sangat sadar diri jika dirinya berstatus janda dengan anak satu dia tidak mungkin berharap lebih apalagi soal jodoh dia ingin memasrahkan semuanya pada Allah karena Dia sang pemilik hati yang membolak-balikkan hati.
”Astaghfirullah kenapa aku jadi berpikiran seperti ini,” gumam Medina membayangkan jalan bersama Kamil berdua tanpa ditemani Malvin putranya apakah dia sudah mulai jatuh cinta?
”Mbak ngalamun aja ada Bang sayur tuh!” seru Hasna membuyarkan lamunan Medina.
”Maaf ganggu waktunya ini pesanan ayamnya,” ucap Malik.
”Baik makasih Bang, ini uangnya.” Medina memberikan uang merah tiga lembar namun Kamil menolaknya.
”Udah buat jajan Malvin aja,” titahnya.
”Jangan begitu Bang, ini kan jualan jadi sudah seharusnya aku bayar!”
”Sudah jangan membantah, saya pamit mau mengantarkan sayur pesanan orang.”
Kamil pun kembali pergi membuat Medina sedikit kecewa karena pria itu hanya sebentar saja mampir ke rumahnya ada rasa tidak puas melanda hatinya.
”Ehem, melamun lagi! Kamu tahu mbak, dengan sikapmu ini jadi terlihat seperti orang bodoh tahu,” cibir Hasna.
”Entahlah aku juga gak tahu Na, bagaimana ini?” ucap Medina tanpa sadar.
”Bagaimana apanya maksudnya mbak?” selidik Hasna.
”Tidak, lupakan saja maaf sudah bikin kamu nungguin. Ayo lanjutkan kerjaan kita biar cepat selesai.”
Hasna menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Medina, Hasna tahu jika wanita yang ada di depannya itu sedang merasakan kesepian, bertahun-tahun dia tidak bisa merasakan bahagia karena suaminya tidak pernah memberikan rasa aman untuknya teror dari mertuanya kerap dia dapatkan dan lebih memilih melepas daripada mempertahankannya.
Keluarganya pun mengacuhkannya karena dia hamil di luar nikah dan tak ingin menanggung malu mereka mengusirnya.
”Aku akan membantumu mbak, bismillah semoga ini yang terbaik,” gumam Hasna.
__ADS_1