Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Berkunjung ke Rumah Mertua


__ADS_3

Kamil menahan emosi manakala dirinya melihat sosok yang selama ini dia hormati berjalan menggandeng wanita yang lebih muda dari mamanya. Jadi benar selama ini tuduhannya jika Hamid berselingkuh di belakang mamanya.


”Tak perlu kau jawab karena Kamil tahu jika dia adalah wanita simpananmu.” Kamil menatap tajam pada wanita yang seharusnya menjadi adiknya itu. Dia sendiri heran kenapa wanita muda dan cantik bisa terpikat dengan papanya apakah semua karena uang. Ya, Kamil yakin jika semua karena uang, Hamid lah yang memamerkan uang ada wanita itu sehingga dia terus menempel padanya.


”Ayo Sayang, kita pulang saja.” Kamil mengajak keduanya untuk segera pulang dari mall tersebut pikirannya sudah ruwet hanya karena melihat kedekatan papanya dengan wanita lain. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Alika nantinya, Kamil tidak tega jika harus melihat mamanya kembali menangis.


”Sudahlah Bang, jangan terlalu dipikirkan aku yakin akan ada jalan keluarnya nanti yang sabar ya,” ucap Medina berusaha menenangkan hati Kamil.


”Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang tua itu, dia selalu saja menyuruhku untuk mengejar kesuksesan dan segera menikah tapi dia sendiri berbuat semaunya sendiri. Bagaimana aku harus mengatakan hal ini pada mama, dia pasti sangat terluka mendengarnya.”


Kamil hanya diam dan diam tak mengeluarkan kata apapun, dia sedang berpikir keras mencari cara untuk menyampaikan kebusukan papanya pada mamanya. Jujur Kamil tidak rela jika mamanya dikhianati oleh papanya sendiri.


”Istirahatlah bukankah besok Abang harus pergi ke kantor?”


”Besok aku akan ke rumah mama kamu ikut ya?”


”Apa gak apa?”


”Tentu saja tidak, aku akan mengenalkan kalian pada keluargaku.”


Kamil tidak dapat memejamkan kedua matanya, pikirannya hanya terfokus pada mamanya, hingga jam tiga dia memutuskan untuk keluar dari kamar dan menyalakan tv di ruang tengah.


”Papa belum tidur?” Malvin terkejut karena melihat tv-nya menyala niat hati ingin ambil air minum dia tunda untuk mengecek siapa dibalik sofa tersebut.


”Kamu mau temani papa? Segeralah ke dapur lalu duduklah di sini temani papa nonton bola!”


”Tidak, Malvin hanya mengecek saja siapa yang ada di balik sofa ini karena biasanya kan gak ada orang. Malvin lupa jika sekarang ada papa di rumah.”


”Ya udah kalau gak mau, balik bobo sana besok ke sekolah diantar Om Baron ya.” Malvin mengangguk dia sangat tahu jika Kamil sedang pusing memikirkan papanya aka kakeknya yang banyak tingkah tadi sore mall menurut pada perintahnya adalah jalan terbaik.


Pagi buta begitu Medina terbangun dia tidak menemukan Kamil di sampingnya, wanita itu bergegas mencarinya dan terkejut mendapati suaminya sedang tertidur di sofa. Dengan cekatan Medina mengambil selimut dan menutupi tubuh suaminya.


”Ma,” sapa Malvin


”Kau sudah bangun Sayang, ke sekolah sendiri atau ... ”


”Sama Om Baron Ma, kasihan dia pasti sangat kecewa dengan papanya itu,” ujar Malvin.


”Udah jangan dibahas ya, lebih baik kamu sekarang siap-siap berangkat.” Medina bingung harus bagaimana mengingat dia tidak begitu mengerti kehidupan mereka membuatnya tidak dapat memberikan saran ataupun masukan terhadap suaminya sendiri.

__ADS_1


”Eugh...!” Kamil menggeliatkan tubuhnya sejenak Medina yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya dia tidak tahan jika hanya memandang wajah tampan Kamil itu yang memang penuh pesona.


Perlahan Kamil membuka kedua matanya,


”Sejak kapan kau ada di sini?” Kamil masih mengerjapkan kedua matanya.


”Sejak sepuluh menit yang lalu,” jawab Medina santai.


”Hm, jadi sejak tadi itu kamu memandangiku begitulah?”


”Tidak juga,” bantah Medina. ”Ayo bangun! Sudah pagi, segeralah bersiap,” pinta Medina.


”Morning kiss, please,” rengek Kamil.


”Ya ampun Bang, gak ada kiss-kissan memangnya gak malu apa dilihat sama Malvin.”


”Loh dia kan sedang mandi kan?”


Cup!


”Yes, berhasil!” Kamil bersorak sorai seperti memenangkan sesuatu membuat Medina ikut tersenyum melihat raut wajah suaminya yang kembali berubah bahagia.


Kamil ke kantor sedikit siang karena emang dia merasa malas untuk bekerja jika bukan karena dorongan dari Medina mungkin dia lebih memilih tidur seharian di apartemennya. Baru saja dirinya duduk di kursi kebesarannya, Hamid datang masuk paksa e ruangannya. Bagaimana tidak memaksa, karena sebelumnya Kamil sudah berpesan pada Daren untuk melarang siapapun datang menemuinya dan sekarang pria paruh baya tu nekad melakukannya.


”Ada apa kau datang kemari bukankah kantormu ada di seberang sana,” ucap Kamil dengan nada penuh kekesalan.


”Papa cuma mau mengingatkanmu soal semalam, tolong jangan kasih tahu mamamu lebih dulu. Papa akan memberitahukannya sendiri padanya.”


”Apa peduliku, yang harus papa ingat adalah semua barang yang ada di rumah itu adalah milik mama dan aku tidak akan pernah membiarkan wanita lain menyentuhnya. Jadi sebelum semua terlambat sebaiknya papa angkat kaki dari rumah itu atau aku yang akan menendang papa dari sana.”


Hamid menggelengkan kepala lalu tersenyum seakan mengejek pada putranya Kamil. ”Papa tidak yakin kamu mampu melakukannya Kamil!” gertak Hamid.


”Papa pikir papa di pihak yang benar begitukah, papa itu sama saja dengan penghianat dan tidak ada kata maaf untuk itu jadi kenapa aku tidak bisa melakukannya,” balas Kamil melipat tangannya di dada.


”Tanpa mama, papa bukanlah apa-apa ingat itu!”' ucap Kamil tak kalah keras dari Hamid dia berharap papanya sadar meskipun hal itu sangat mustahil karena penghianatannya terjadi berulang-ulang dan hanya Kamil yang mengetahui hal ini.


”Jika mamamu tahu apa kau yakin dia akan baik-baik saja, pikirkan kesehatannya Nak.” Hamid melangkah pergi dia tidak ingin berlama-lama di kantor putranya mendengar perkataan Kamil membuat dirinya semakin panas karena ucapan-ucapannya membuatnya semakin kesal.


Kamil menarik nafasnya berat bagaimanapun caranya Alika harus tahu tentang perselingkuhan papanya itu.

__ADS_1


’Mom calling ... ’


”Hallo Ma, bagaimana kabarmu?”


”Jangan basa basi mama tak suka itu, datanglah nanti malam ke rumah kita makan malam ya. Ada hal penting yang mau mama sampaikan padamu.”


”Baik nanti nanti Kamil akan datang kebetulan Kamil juga punya kejutan untuk mama, Kamil yakin mama senang nantinya.”


”Baiklah mama tunggu di rumah ya, Assalamualaikum.”


”Waalaikumussalam.”


Kamil menghela nafasnya setelah sambungan teleponnya terputus, dia terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali menggulir ponselnya dan mencari gaun yang cantik untuk Medina. Setelah mendapatkannya buru-buru dia balik ke rumah dan mempersiapkan semuanya, termasuk putranya Malvin.


”Kenapa pulang jam segini apakah Abang masih sakit?” Medina menyentuh kening Kamil karena pria itu mengeluh pusing sebelum berangkat ke kantornya.


”Astaghfirullah lumayan panas Bang, kamu demam.” Medina panik setelah tahu keadaan suaminya hal itu membuat Kamil justru tergelak.


”Loh kok malah tertawa?”


”Ya karena baru kali ini ada seseorang yang sangat perhatian dan khawatir sepertimu, sebaiknya kita bersiap kita ke rumah mamaku gaunnya sudah diterima kan? Pakailah!”


”Tapi Bang kau kan sakit?”


”Aku tidak apa-apa, percayalah.”


Tanpa bertanya lagi Medina segera bersiap begitu juga dengan Malvin dan tak ingin membuang waktu ketiganya pun meluncur ke rumah Alika. Sesekali Kamil melirik ke samping istrinya terlihat cantik sekali dengan gaun pilihannya sesekali dia memegang tangannya dan hal itu tidak luput dari penglihatan Malvin yang duduk di belakangnya.


”Tidak bisakah kalian bersikap biasa saja, atau setidaknya hanya di dalam kamar saja kalau begini sama saja kalian mengajariku, mataku yang polos jadi ternodai,” keluh Malvin membuat Kamil terkekeh.


”Maafkan kami,” sesal Medina.


Jangan ditanya bagaimana perasaan mereka terlebih Medina jantungnya berdetak kencang memikirkan reaksi mertuanya nanti apalagi dengan statusnya.


”Assalamualaikum Ma, kami datang,” teriak Kamil.


”Waalaikumussalam, kau datang Nak.” Alika menghampiri ketiganya. ”Kau ... bukankah kau wanita yang bertemu denganku di pasar dan supermarket tempo hari bagaimana kalian bisa bersama?” Alika menatap ke arah Kamil meminta penjelasan.


”Dia istriku Ma,” ucap Kamil.

__ADS_1


”Apa, is-istrimu?”


__ADS_2