Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Ganti Status


__ADS_3

”Pak, ini saya,” lirih Medina.


”Kamu datang Nak,” ucap Ratno pelan. "Maafkan bapak ya,” lanjutnya.


Medina hanya diam menitikkan air matanya.


”Kamu udah besar, Le.”


"Kakek,” panggil Malvin.


Suasana haru memenuhi ruangan tersebut, Kamil hanya bisa diam di sofa membiarkan mereka melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam.


”Dia siapa Din?” tanya Pak Ratno pada putrinya.


Medina menoleh ke arah Kamil yang sedang duduk bersama dengan Raditya, Medina tidak tahu harus jawab apa dan gelagatnya bisa dibaca oleh Kamil. Pria itu beranjak dari duduknya menghampiri ketiganya.


”Saya calon suaminya Medina, Pak mohon restunya saya mau menikahi putrinya,” ucap Kamil.


”Tapi bukankah kamu sudah menikah dengan Daffa, dimana dia,? Kenapa dia tidak ikut ke sini.” Pak Ratno mencari menantunya itu.


”Pak kami telah berpisah,” ucap Medina.


”Apa?” Pak Ratno shock dengan berita yang dibawa putrinya dia mengira selama ini mereka baik-baik saja dan masih hidup bersama.


”Sudah hampir sepuluh tahun kami berpisah,” jelas Medina dengan suara lirih. ”Maafkan Medina yang tidak memberitahukan bapak karena khawatir hal yang sama terjadi lagi.”


”Kenapa kamu merahasiakannya dari bapak Nak, bukankah kalian masih satu rumah selama ini?”


Medina pun akhirnya menjelaskan perkara yang terjadi dari pertengkaran kecil dengan Daffa, karena sikap Bu Yanti yang selalu saja ikut campur masalah rumah tangganya, pisah ranjang bertahun-tahun hingga mertuanya memintanya melepaskan Daffa dan akhirnya berakhir dengan perceraian. Medina, wanita itu pandai sekali menyimpan semuanya sendiri tanpa orang lain tahu masalahnya.


”Lalu sekarang kau akan menikah dengannya?”


Medina mengangguk, ”Mohon restunya Pak, karena semua yang Medina lakukan akan menjadi ladang ibadah dan juga berkah jika bapak juga meridhoi niat kami.”


”Jika kalian yakin bapak akan merestuinya tapi tolong jangan lagi membuat kesalahan yang sama seperti sebelumnya.”


”Terima kasih Pak,” lirih Medina kembali terisak kenapa momen ini harus terjadi di saat bapaknya sedang sakit hal itu membuatnya sedih. Begitupun dengan Pak Ratno dia tidak akan menghalangi keinginan putrinya seperti dulu lagi.


”Bagaimana kalau melakukan akad nikah di sini saja apakah kalian bersedia?” tawar Raditya, dia ikut terharu melihat drama yang ada di depannya.


”Jika itu bisa silakan kau handle semuanya,” seru Kamil bersemangat karena baginya sekarang wali dari Medina sudah ada perkara orang tuanya dia pikirkan nanti setelah pulang dari sini.


”Baiklah aku akan memanggilkan penghulu ke sini sekarang.”

__ADS_1


Dengan cepat Raditya menyuruh orang-orangnya untuk memanggilkan penghulu dan juga beberapa saudara Medina termasuk kakaknya yang dulu ikut mengusir Medina. Akad nikah sederhana pun dilangsungkan di rumah sakit dengan khidmat. Kamil mengucapkan akadnya dengan lancar wajahnya tersenyum sumringah karena telah mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini.


"Maafin mbak Tami ya Din,” sesal Tami kakak Medina dia merasa malu jika mengingat masa lalu.


”Sudahlah mbak yang penting sekarang bapak sudah dirawat dengan baik di sini,” ucap Medina. Kedua larut dalam obrolan ringan tentang kehidupan mereka selama berpisah.


Kamil beserta Malvin baru saja kembali mengantarkan Pak penghulu dan juga rombongan saksi dari pihak Medina.


”Kita balik ke hotel? Atau kamu mau menunggu kakekmu di sini?” tanya Kamil.


”Aku balik ke hotel saja Om, lagipula di sini udah ada tante Tami dan suaminya yang jagain kakek tapi gak tahu juga dengan mama apakah dia mau di sini atau pulang,” jawab Malvin.


”Mama ikut pulang besok ke sini lagi, mama udah bilang dengan kakekmu,” seru Medina.


”Baiklah, kenapa cemberut Bang?”


Medina melihat Kamil menekuk wajahnya seperti sedang kesal. ”Malvin, bisakah kau mengganti panggilanku dengan ’papa’ bukankah aku sudah menikah dengan mamamu?”


”Oh iya benar Om, eh Pa-papa,” ucap Malvin.


Kamil tersenyum puas akhirnya dia telah berganti status dan bisa disebut papa oleh putra tirinya sendiri. ”Kita pulang ke hotel ya!”


Baron sengaja ditinggal di rumah sakit untuk berjaga sedangkan ketiganya pulang ke hotel.


”Bapakmu sudah ditemukan apa masih adalagi yang mengganjal?” tanya Kamil begitu sampai di hotel.


”Tidak ada yang penting aku sudah meminta maaf padanya meskipun beliau dalam keadaan sakit tapi aku bersyukur karena beliau sudah memaafkan diriku.”


Kamil dan Medina tampak canggung keduanya kikuk satu sama lain.


”A-ku ...” ucap keduanya hampir bersamaan.


”Ladies first! Ada apa?” ucap Kamil.


”Bang Kamil, maaf sebelumnya bisakah Bang Kamil tidak meminta haknya malam ini?” ucap Medina was-was dia khawatir Kamil akan marah padanya.


”Boleh tahu alasannya?" tanya Kamil.


”A-ku belum siap Bang,” jawab Medina khawatir pria itu kecewa karena penolakannya namun sedetik kemudian senyum terlihat di wajah tampannya.


Kamil faham dengan apa yang dimaksudkan oleh Medina, ”Baiklah aku juga gak akan maksa kamu, yuk tidur sekarang!” ajak Kamil yang sudah siap untuk beristirahat dengan kimononya sama halnya dengan Medina yang baru saja mandi dan terlihat segar rambutnya terbungkus handuk putih.


Kamil memeluk Medina membuatnya skin gugup karena hal ini sudah lama tak dia lakukan bahkan dengan Daffa mantan suaminya itu.

__ADS_1


”Jangan bergerak biarkan seperti ini, aku ingin memelukmu,” bisik Kamil mau tak mau Medina diam mendengar perkataan Kamil.


”Besok kalau kita pulang ke Jakarta kita langsung ketemu dengan mamaku ya, dia pasti senang karena aku telah menikah.”


”Apa mama akan menerimaku karena statusku bukanlah seorang gadis.”


”Mama pasti senang karena mendapatkan menantu yang cantik sepertimu,” ungkap Kamil.


”Semoga saja,” balas Medina.


Keduanya pun terlibat percakapan kehidupan seperti apa yang akan mereka jalani ke depannya. Bukan ritual malam pertama seperti layaknya pasangan pengantin baru, dan sesekali Kamil menggoda Medina.


”Aku akan kembali lebih dulu ke Jakarta, jika urusan sudah selesai aku akan menjemputmu. Ada temanku yang akan membantumu jadi kau tidak perlu khawatir.”


Entah kenapa hati Medina merasa tidak ingin berpisah dengan pria yang kini telah berganti status menjadi suaminya.


”Malvin akan kau ajak pulang karena dia harus sekolah bukan?”


”Baiklah.”


”Kamu tak perlu khawatir aku akan menjaganya dengan baik.” Medina mengangguk dia percaya jika Kamil bisa memegang ucapannya.


Keesokan harinya tepat jam lima Kamil sudah bertolak ke Jakarta bersama dengan Malvin menggunakan pesawat terbang. Medina sendiri memilih bersiap ke rumah sakit menemui bapaknya yang harus menjalani operasi hari ini.


”Dimana suami kamu?" tanya Pak Ratno begitu melihat putrinya datang sendirian.


”Dia dan Malvin harus pulang ke Jakarta Pak, pekerjaannya banyak dan Malvin juga tidak bisa meninggalkan sekolahnya karena sebentar lagi akan ujian,” ungkap Medina.


”Semoga kalian bahagia Nak, bapak gak bisa kasih apapun selain doa,” ucap Pak Ratno.


"Yang penting bapak sehat itu udah buat kami senang dan mbak Tami juga kan pastinya bahagia lihat bapak kembali menjalani aktifitas seperti biasa.”


Medina mengantar bapaknya hingga di depan pintu ruang operasi, dirinya mondar-mandir di depan pintu bibirnya tidak henti-hentinya merapalkan doa untuk bapaknya.


”Duduk saja Dek, kami juga cemas jadi jangan bikin kami semakin cemas,” tegur Tami.


”Eh iya mbak maaf ya,” balas Medina.


”Medina.”


Suara yang sangat familiar di pendengarannya, Medina pun menoleh ke arah tersebut.


”Mas Daffa. Sedang apa dia di sini?”

__ADS_1


__ADS_2