Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Sadar Diri


__ADS_3

Daren menatap ke arah Alea dan Farhan bergantian lalu berbalik masuk ke ruangan Medina karena Kamil sudah menunggunya sejak tadi.


”Ayo kita masuk!” ajak Daren pada Christy.


Gadis itu hanya menurut mengekor di belakang Daren. Alea tampak sedikit tidak suka melihat hal itu, lalu apakah ini yang dinamakan cemburu.


Alea merasakan sesak yang mendalam, haruskah dia menyesali keputusannya kembali pada Farhan sedangkan hatinya tertuju pada orang lain. Alea menggelengkan kepalanya lalu menatap ke arah Farhan.


”Silakan jika Abang mau balik ke kantor aku bisa pulang naik taxi nanti,” ucap Alea.


”Tidak perlu, aku sudah meminta papa memimpin meeting itu jadi kamu tak perlu khawatir. Ayo kita masuk!” Farhan melangkah lebih dulu.


Di dalam ruangan tampak Kamil, Daren dan Christy sedang mengobrol membicarakan pekerjaan sedangkan Medina tengah beristirahat di ruang sebelah.


”Kau datang, Bang,” sapa Kamil.


”Tentu saja, mana mungkin aku tidak datang sedangkan saudaraku sedang tertimpa musibah,” balas Farhan.


”Kenapa kamu seakan senang dengan musibah yang sedang dialami oleh adikmu?” ucap Daren.


”Kau salah jika aku senang mana mungkin aku sampai di tempat ini. Aku mendapatkan kabar ini juga dari istriku,” ucap Farhan merangkul bahu Alea setengah mencengkram membuat Alea terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu.


”Oh, itu aku juga dengar dari seseorang. Kamil, apa boleh aku masuk ke dalam saja?” ucap Alea karena tak ingin terlibat percakapan di antara tiga pria yang menyebalkan untuknya.


”Dia sedang istirahat, kamu tungguin saja di sofa,” balas Kamil mencoba tersenyum pada Alea.


”Terima kasih.” Alea segera meninggalkan mereka.


”Bukankah di kantor sedang ada meeting kenapa masih di sini?” tanya Kamil mengalihkan pandangannya ke arah Farhan.


Pria itu nampak tidak merasa salah dengan sikapnya yang meninggalkan kantor di jam kerjanya sedangkan kantor sedang dalam sibuk dengan banyaknya pekerjaan.


”Aku sudah meminta papa untuk menggantikan posisiku sementara waktu jadi aku bebas menemani istriku kemanapun dia pergi,” ucap Farhan.


”Oh syukurlah belajarlah jadi suami yang bertanggung jawab akan tugasnya, semoga Alea juga segera menyadari jika suaminya sangat menyayanginya,” ujar Daren.


”Apa maksudmu?” tanya Farhan kesal.


”Tidak apa, aku hanya kasihan saja sama Alea karena selalu kamu tinggal kemana-mana,” sahut Daren.


”Itu urusanku!” balas Farhan.


”Aish, jika kalian ingin bertengkar di sini sebaiknya kau pulang saja Bang!” ucap Kamil tegas. Dirinya sedang terkena musibah namun dengan santainya Farhan abangnya justru semakin memperkeruh keadaannya.


”Maaf, aku akan pulang.” Farhan segera mengambil langkah seribu melihat Kamil yang sedang marah padanya.

__ADS_1


”Maaf,” ucap Daren.


”Aku yang seharusnya meminta maaf karena abangku selalu saja mencoba mencari masalah denganmu. Tolong semua yang ada di draft dicancel dulu, tunggu aku kembali aktif di kantor untuk sementara aku akan memantau setiap pekerjaan di rumah saja,” ucap Kamil.


”Baiklah untuk pekerjaan lain aku bisa menghandle jadi kau tidak usah khawatir,” ucap Daren.


”Terima kasih. Christy, jadilah partner yang baik.”


”Pasti, terima kasih atas kepercayaannya Pak Kamil,” seru Christy.


”Kami pulang dulu.” Daren dan Christy meninggalkan rumah sakit kembali ke kantor.


Kamil menghela nafasnya setelah semuanya pergi dirinya kembali ke ruangan Medina dan melihat Alea justru terbaring di sofa. Apakah wanita itu tidak tidur sama sekali sehingga dia terlihat lelah.


”Eugh ... mereka sudah pergi?” tanya Alea.


”Sudah, kau terlihat lelah apa kau sakit?” balas Kamil.


”Tidak, mungkin hanya kelelahan saja semalam aku begadang.” Alea memijat pelipisnya sendiri.


Kamil duduk di sofa menata ke arah Alea, ”Apa rumah tanggamu baik-baik saja?”


Alea mengangkat wajahnya menatap ke arah Kamil, kenapa pria di depannya ini selalu saja bisa menebak jalan pikirannya.


”Kami baik-baik saja hanya ada sedikit perbedaan saja dan aku yakin kau dan istrimu pasti juga demikian,” timpal Alea.


”Masalahnya aku tidak tahu jalan pikirannya,” ucap Alea.


”Sabarlah Alea kau pasti bisa!” seru Medina yang ternyata sudah bangun dan mendengarkan obrolan keduanya.


”Kau sudah bangun Sayang, apakah kau butuh sesuatu?” tanya Kamil menghampiri istrinya.


”Tidak, kapan kita bisa pulang? Aku sudah bosan di rumah sakit,” keluh Medina.


”Nanti biar aku tanyakan dulu pada Dokternya, sekarang beliau sedang tidak di tempatnya jadi tolong tunggulah sejenak.”


”Iya.”


”Kamil boleh aku tanyakan sesuatu padamu?” ucap Alea.


”Apa itu?”


***


Malvin bolos sekolah hari ini itu karena Medina belum juga pulang dari rumah sakit dia sangat mengkhawatirkan mamanya. Bunyi bel terdengar Malvin segera membuka pintu dan melihat Daffa berada di depan pintu utama.

__ADS_1


”Papa, kok bisa ada di sini?” tanya Malvin segera mempersilakan papanya untuk masuk ke rumah.


”Bagaimana kabar mamamu?” Daffa balik bertanya, ya tujuannya datang ke sini adalah untuk bertemu dengan Medina.


”Mama belum balik dari rumah sakit, Pa. Mungkin siang ini pulang karena sedang menunggu Dokter jaga mengecek ulang kesehatannya,” jelas Malvin. ”Darimana papa tahu akan hal ini?” tambahnya.


”Dari Dennis temanmu itu, papa tanya padanya lalu segera ke sini.”


Daffa memandangi sekeliling rumah Kamil tampak luas dan isinya pun barang-barang mewah dan dia tidak yakin bisa memberikan hal seperti ini pada Medina.


”Kamu pasti bahagia bisa tinggal di istana yang megah ini,” tutur Daffa membuat Malvin tidak mengerti apa maksud dari perkataanya.


”Maksud papa apa ya?”


”Papa tidak akan bisa memberikan kehidupan seperti ini padamu dan mamamu, kalian beruntung bisa mengenal Kamil.”


”Tidak semua bisa dibeli dengan uang, Pa. Sebenarnya apa maksud papa, Malvin tidak bisa mengartikannya. Jika yang papa maksud adalah harta benda ini papa keliru menilai kami matre., tidak kami tidak seperti itu.”


”Pantas saja dia bisa menyewa banyak orang karena Kamil, daddy-mu sangat kaya,” terang Daffa.


”Pa, tolong jangan bahas ini lagi.” Malvin melihat mobil Kamil memasuki garasi.


”Mereka pulang!” Malvin segera keluar diikuti oleh Daffa.


”Ma,” panggil Malvin menghambur ke arah Medina seperti anak kecil yang merindukan mamanya.


”Bagaimana kabarmu, kenapa tidak sekolah?” tanya Medina.


”Karena itulah aku kemari!” sahut Daffa.


Kamil dan yang lainnya menatap ke arahnya.


”Dad, nanti Malvin jelasin.”


”Tidak perlu, Daddy tahu kok tolong kamu bantu bawakan barang-barangnya,” ucap Kamil.


Setelah semuanya beres, Kamil kembali ke ruang tamu untuk menemui Daffa.


”Jadi apa tujuan Anda ke sini Pak Daffa?” tanya Kamil penuh penekanan di akhir kalimat.


”Saya hanya ingin menjenguk mantan istri saya ke sini, apakah itu juga dilarang?” tanya Daffa.


”Tidak, lalu darimana Anda jika istri saya masuk ke rumah sakit?”


”Apa Anda lupa jika saya adalah gurunya Malvin setiap hari aku melihatnya dan karena hari ini aku tidak melihatnya maka saya memutuskan untuk datang ke sini. Sampai di sini jelas Pak Kamil?”

__ADS_1


Kamil melihat jelas tatapan tidak suka dari Daffa, apa dia sengaja ingin mengajak ribut dengannya.


__ADS_2