Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Dilema


__ADS_3

”Astaga bos kau mengagetkan diriku, kapan kau pulang?” tanya Daren begitu melihat Kamil berada di dalam lift.


”Kau mau turun?” balas Kamil.


”Iya tadinya aku mau turun, mengambil laporan keuangan yang dipegang Sintya.”


”Apakah selama aku tidak ada di sini papaku sering datang ke sini?” Kamil memutar tubuhnya menatap Daren.


”Seingat aku dua kali beliau sengaja datang ke sini mencari dirimu berhubung kau tidak ada di kantor dia keluar dengan wajah yang sulit diartikan karyawan yang lain saja enggan menyapanya dan memilih untuk menghindarinya.”


”Dia benar-benar membuat kesal,” lirih Kamil masih terdengar di telinga Daren.


”Apa yang terjadi?”


”Ceritanya panjang dan besok kakakku akan menikah dengan Alea.”


”Apa?”


”Hai, jangan berteriak ayolah kenapa kau bersikap seperti itu?”


”Astaga Kamil, apakah kau lupa jika Alea menyukaimu tapi kenapa justru kakakmu yang melamarnya?” ucap Daren.


”Maafkan aku tapi aku sama sekali tidak mencintainya, aku tidak mau memaksakan perasaanku sedangkan aku sendiri merasa tidak nyaman dengannya. Dia memang baik tapi kau tahu kan bagaimana dia, aku tidak bisa bersama dengan wanita manja.”


”Ya aku tahu bagaimana kriteriamu dan aku juga pernah menjelaskannya pada Alea hanya saja dia memang seperti membutakan diri dan tidak ingin tahu bagaimana kau yang penting dia bisa menunjukkan perasaannya padamu, itu yang aku tangkap selama ini.”


Kamil mengusap wajahnya kasar, ”Lalu aku harus bagaimana?”


Daren mengedikkan bahunya, ”Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, pacaran saja aku belum pernah.”


”Kau memang jomlo sejati sejak kuliah hingga sekarang, apakah kau tidak memiliki cinta untuk seorang gadis, maksudku seorang wanita?” ralat Kamil.


”Bukankah gadis dan wanita itu sama?”


”Beda dong! Gadis belum tentu dia masih ting-ting kau faham kan maksudnya, wanita itu ya buat semuanya entah itu gadis, janda, istri hahaha ... pusing kepalaku Ren!”


”Apa kau sedang memiliki masalah?” selidik Daren.


”Menurutmu?”


”Sepertinya iya?” tebak Daren.


”Ya begitulah, kepalaku pusing.”

__ADS_1


”Istirahatlah, aku ke bawah dulu ya kasihan Sintya menungguku sejak tadi.” Daren memilih pergi meninggalkan bos sekaligus sahabatnya itu.


Kamil pun duduk di kursinya kakinya sengaja dia naikkan ke meja kedua matanya terpejam lelah itulah yang sedang dia rasakan, bayangan wajah Medina terlintas di depan matanya sejak dia merasakan getaran aneh saat pertama kali mendengar suaranya Kamil kerap melihat wanita itu tersenyum padanya.


Tok ... tok ... tok ...


”Masuk.”


”Kemana saja kau selama ini?” tanya Alea tiba-tiba masuk ke ruangan Kamil.


”Kau rupanya,” balas Kamil tak terkejut sama sekali dengan kedatangan sahabatnya itu.


”Aku kira kau yang akan datang melamar diriku tapi ternyata aku salah dia adalah kakakmu, apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menerima lamaran tersebut? Apa kau tidak memiliki perasaan sama sekali terhadapku?” seru Alea.


”Maafkan aku, aku tidak bisa menerima dirimu karena aku sudah menganggap dirimu sebagai adikku dan sampai kapanpun mungkin akan tetap seperti itu.”


”Kau tidak pernah pernah melihatku sebagai seorang wanita dewasa yang mencintai seorang laki-laki, baiklah aku hargai keputusanmu.”


Dengan cepat Alea pergi meninggalkan Kamil di ruang kerjanya merasa bersalah tentu saja tapi Kamil ingin bersikap tegas dengan keputusannya dia tak mau menjadi laki-laki plin-plan dan membuat orang lain bingung dengan sikapnya.


”Astaga kau masih bertahan di sini, berarti kau bertemu dengan Alea?” tanya Daren.


Kamil hanya mengangguk mendengar perkataan Daren. ”Sebaiknya kau pulang dan beristirahat di apartemen jika kau tak ingin diganggu oleh papamu.”


”Usul yang baik, akan ku pertimbangkan tapi sekarang aku masih ingin bertahan di sini dulu karena kepalaku mendadak pusing.”


”Aku akan balik lagi ke Semarang tolong kau urus semuanya ya, aku pasrahin sama kamu jika ada sesuatu yang mendesak kau bisa kabari aku,” ucap Kamil.


”Secepat itu, padahal kau baru saja datang sebaiknya kau istirahat dulu memangnya kau tidak kasihan dengan mamamu, setiap saat dia nanyain sama aku waktu kamu pergi tempo hari.”


”Cukup bilang jika kau sama sekali tidak tahu apapun tentangku itu sudah sangat membantu diriku Daren, ku mohon ya.”


”Oke, semua bisa diatur.”


***


”Itu benar-benar ya bos kamu atau siapa itu Bang Kamil?” tanya Hasna.


”Lah dia ngajakin bisnis jengkol, memangnya kalian orang mana sih kok dia bilang belum pernah makan jengkol?” selidik Hasna lagi.


Baron kebingungan mendapatkan pertanyaan tersebut karena hal itu diluar skenario yang dia hafal.


”Eh, memangnya dia bilang apa saja sama Mbak Hasna?”

__ADS_1


”Dia gak bilang apa-apa ya hanya itu tadi ajak Mbak Medina kerjasama mengolah jengkol lalu pamit mau pulang gitu, memangnya alamat rumah kalian dimana sih?”


”Oh begitu ya, kami asalnya dari Jakarta.”


”Lalu jengkolnya darimana kenapa banyak sekali begitu,” tanya Medina penuh selidik.


”Oh itu Mbak, kebetulan Bang Malik itu nolongin orang karena kemarin pasar sepi gak ada yang mau nerima jengkol akhirnya dibeli sama dia karena gak tega soalnya orang itu butuh biaya rumah sakit anaknya. Itu sih yang aku dengar.”


”Tenang saja mbak, bos saya itu orangnya baik kok,” ucap Baron kemudian.


”Maksudmu 'bos’ bukannya kalian berteman?” Medina mulai curiga.


”Iya bos maksud aku dia memang bos karena kemanapun dia pergi saya ikut dan dia selalu kasih bayar apapun yang saya mau,” terang Baron dia tak mau ada salah paham dan membuat yang lain curiga.


”Oh begitu ... tapi pantas sih dia dipanggil bos dari penampilannya dia memang seperti bos. Benar kan mbak Medina?” papar Hasna.


”I-iya, baiklah ini saya ambil ya Bang nanti dicatat apa saja yang saya ambil biar nanti urusannya sama Bang Kamil.” Medina mengambil beberapa bumbu dapur untuk dia memasak jengkol nantinya.


”Btw, pulangnya lama gak?” tanya Hasna.


”Siapa?” balas Baron.


”Ya bos kamu itu,” ucap Hasna.


”Oh, kurang tahu itu kakaknya dengar-dengar juga mau nikahan mungkin agak lama. Ya tergantung situasi nantinya, semoga saja cepat saya juga gak mau tinggal kelamaan di sini kayak orang ilang,” jelas Baron.


”Deritamu Bang,” ucap Hasna membuat yang lain yang mendengarnya tertawa melihat wajah memelas Baron.


”Dah lah nasib, ayo yang sudah mana saja biar saya hitung belanjaannya,” seru Baron yang mulai menghitung belanjaan emak-emak komplek.


”Bagaimana besok ya Na?” tanya Medina pada Hasna.


”Bagaimana apanya?” Hasna balik bertanya.


”Iya kan Kamis acara resepsi pernikahan Mas Daffa jika aku tidak datang sungguh keluarganya pasti akan menertawakan diriku.”


”Udah jangan dipikirkan nikmati saja apa yang sedang dijalani sekarang.”


”Kamu benar, tapi hati tidak mungkin bohong tetap saja aku kepikiran,” sahut Medina.


”Bagaimana jika besok datang bersama denganku,” tawar Hasna.


”Gak biar aku datang sendiri saja kalau begitu.”

__ADS_1


Medina bisa berbohong tapi dari wajahnya dia terlihat tidak tenang mengingat mantan. mertuanya super judes dan lagi setiap perkataannya selalu sukses membuat hatinya sakit.


”Ya Allah apa yang harus aku lakukan?” gumam Medina.


__ADS_2