
Medina menghampiri Kamil yang baru saja masuk ke rumah wajah lesunya terlihat jelas Medina yakin jika suaminya tengah mengalami masalah.
”Apa yang terjadi, Bang?” Medina menghampiri Kamil yang menarik kursi meja makan.
”Bukan masalah serius, aku baru saja bertengkar dengan papa karena Bang Farhan.”
Medina meletakkan kopi di depan Kamil dan ikut duduk di depannya. ”Apa masalahnya sehingga Abang kena tegur?”
”Papa mengira aku tidak mau membantu bisnis Bang Farhan yang sedang colaps, aku juga tidak tahu pastinya karena Daren belum menjelaskannya padaku. Dia sedang menyelidikinya.”
”Apa Alea juga tahu akan masalah ini? Tadi pagi dia baru saja ke sini.”
”Alea ke sini?”
Medina mengangguk, ”Iya, dia baru saja curhat jika dirinya menemukan pakaian yang sama dengan miliknya Laras di etalase toko bawah rumahnya. Dia curiga jika yang memberikan baju itu adalah Bang Farhan.”
”Alea belum tahu soal kondisi keuangan suaminya apalagi dirinya sedang hamil.”
”Apakah kita harus memberitahukan dirinya?” Medina menatap ke arah Kamil.
”Jangan dulu biar nanti aku yang memberitahukan dirinya perihal masalah ini.”
Medina mengangguk, ”Buruan mandi aku akan menyiapkan makan malam lebih dulu.”
Kamil berjalan ke kamarnya tapi baru beberapa saat dia berbalik dan menoleh ke arah Medina yang sedang sibuk di dapur.
”Kenapa lagi?” seru Medina di dapur melihat suaminya menatap dirinya.
”Apa Malvin sudah memberi kabar?”
”Belum.”
”Ada apa?”
Kamil menghampiri Medina. ”Aku pikir ingin menyusulnya sekalian kita ketemu dengan bapak.”
”Tidak perlu, Abang kan sedang sibuk jadi lebih baik selesaikan dulu pekerjaannya baru setelah itu kita bisa liburan tanpa beban,” usul Medina.
”Baiklah jika maunya begitu.”
Cup!
Kecupan singkat mendarat di bibir Medina. ”Aku mandi dulu.”
Medina tersenyum penuh syukur melihat Kamil yang tidak berubah sedikitpun meskipun dirinya telah kehilangan calon anaknya. Dirinya kembali menyiapkan makan malam yang sempat tertunda.
Makan malam telah tersaji di meja makan begitu Kamil dan Medina tengah bersiap untuk menikmatinya suara bel pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.
”Biar aku saja yang buka pintunya,” ucap Kamil menarik kursinya menuju pintu utama.
__ADS_1
”Mama, masuklah!”
”Apa kamu sudah mendengar kabar tentang kakakmu?” tanya Alika.
”Oh soal itu sudah, apa mama ke sini untuk menanyakannya?”
”Makan dulu yuk! Kita berdua sedang makan malam.” Kamil merangkul bahu Alika mengarahkannya ke meja makan.
”Ma,” sapa Medina.
Kamil menarik kursi, Medina kembali ke dapur mengambil perlengkapan makan untuk Alika.
”Silakan Ma.” Medina memberikan kesempatan pada mertuanya untuk mengambil makanannya lebih dulu.
”Apa ini semua kamu yang memasak?” tanya Alika.
”Iya ambil yang banyak, Ma.” Medina pun beralih melayani Kamil.
”Sebenarnya mama ke sini mau menanyakan perihal Farhan padamu.”
Kamil mengangguk semua orang pasti akan menanyakan hal itu padanya karena Kamil tahu jika mereka enggan jika bertanya langsung pada Farhan terlebih abangnya memang tertutup pada orang lain.
”Kamil tahu ini pasti soal berita yang sedang beredar kan, Ma? Apa yang harus Kamil lakukan sedangkan Bang Farhan sendiri menolak bantuan dariku.”
”Abaikan saja!” titah Alika.
”Tapi Ma, apakah tidak akan keterlaluan nantinya? Atau Bang Kamil bisa tetap menolongnya tapi tidak secara langsung,” usul Medina.
”Benar, kasihan dia bukankah sebagai sesama muslim harus saling membantu terlepas dari apakah dia amat menyebalkan buat kita sekalipun.”
”Kau benar Sayang, bagaimana Ma? Apakah mama menyetujui usulan istriku?” tanya Kamil.
”Ide bagus, baiklah kita bantu dia tanpa sepengetahuannya,” sahut Alika.
”Medina pikir itu lebih baik karena yang aku lihat Bang Farhan tipe orang yang keras kepala jadi tidak yakin jika dia akan menerima bantuan dari kita mengingat dia orang yang memiliki gengsi yang terlalu tinggi,” jelas Medina.
”Yup, kamu benar sekali. Aku akan membantunya Ma, biar Daren urus semuanya besok pagi.”
Ketiganya melanjutkan kembali makan malamnya sesekali terdengar canda tawa dari ketiganya.
***
”Apa yang terjadi Bang?” tanya Alea begitu melihat Farhan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
”Maaf Nona sebaiknya saya antarkan dia ke kamarnya lebih dulu,” ucap sopir yang bekerja di kantornya Farhan.
Alea mengikutinya dan merapikan selimutnya pada tubuh Farhan lalu bertanya pada sopirnya.
”Sebaiknya kita ngobrol di depan Nona, biarkan dia beristirahat dulu,” saran sopir.
__ADS_1
”Baik.”
Alea mengikuti sopir dan duduk di ruang tamu. ”Apa yang terjadi dengannya, kenapa jam segini baru pulang lalu kemana saja dia semalam?”
”Maaf Nona Alea, Pak Farhan semalam di klub sedikit ada masalah di kantor,” jelas sopir.
”Kenapa dia tidak cerita sama sekali,” lirih Alea.
”Mungkin Pak Farhan tidak mau membebani Nona, karena permasalahan yang terjadi saat ini cukup rumit,” ucap sopir.
”Apa?”
”Sebaiknya Anda bertanya pada Pak Kamil karena beliau juga mengetahui masalah ini dan juga asistennya karena kemarin siang keduanya sempat berdebat dengan Pak Farhan.”
”Baiklah saya akan menghubungi keduanya setelah dia bangun, terima kasih karena telah membawanya pulang ke rumah.”
”Saya lanjutkan pekerjaan saya Nona,” pamit sopir.
”Silakan.”
Alea meremas dress yang dipakainya, suaminya takkan berbuat seperti ini jika masalah yang tengah dihadapi tidak serumit ini. Tapi kenapa dia sama sekali tidak mengetahuinya dan hal yang paling mengecewakan justru mendengar masalahnya dari orang lain.
”Aku harus menemui Kamil sekarang, dia Asti memiliki jawaban yang sedang aku cari!” Alea segera mengambil tas dan ponselnya segera pergi ke kantor milik Kamil. Dirinya tidak mau menunggu terlalu lama dan hanya berdiam diri tanpa kepastian.
Begitu sampai di kantor tempat dulu dia pernah bekerja, Alea segera menemui Daren namun begitu sampai di ruangannya dirinya justru dipertontonkan oleh adegan yang membuat hatinya terbakar. Daren dan Christy tengah berdekatan dan saling pandang satu sama lain.
”Maaf mengganggu,” seru Alea sengaja mengalihkan perhatian mereka dan membuat mereka merasa malu karena kepergok berduaan di kantor.
”Eh Mbak Alea, silakan masuk!” ucap Christy mempersilakan Alea masuk ke ruangan Daren.
”Saya permisi dulu.” Christy memilih pergi dan memberikan kesempatan pada keduanya untuk bicara, gadis itu yakin jika Alea sedang ada masalah sehingga menemui pria yang telah menjadi kekasihnya beberapa hari yang lalu.
”Ada apa kamu menemui diriku?” Daren lebih dulu berkata karena tak ingin terus menerus ditatap oleh Alea.
”Sejak kapan kalian bersama?” tanya Alea.
”Apakah itu penting buatmu?” balas Daren.
”Tentu!”
”Maaf Alea, jika tidak ada hal yang penting sebaiknya kamu pulang saja karena aku harus menemui seseorang segera.”
”Apakah aku sudah tidak lagi berarti buatmu, tidak adakah tempat di hatimu untukku?” Alea menitikkan air matanya.
”Tolong dengarkan aku, kita berdua takkan mungkin bisa bersama. Alea, jalani hidup kita masing-masing itu jauh lebih baik daripada kita mengharapkan sesuatu yang tidak pasti.”
”Jadi selama ini kamu anggap cintaku tidak pasti begitu?”
”Bukan begitu maksudku tapi ...”
__ADS_1
”Semua pria memang sama saja, pembohong!” Alea segera pergi meninggalkan ruangan Daren melupakan tujuan awal dirinya datang ke sini, hatinya terasa sesak mengetahui kenyataan yang sebenarnya jika Daren tidak akan ada lagi untuknya.