Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Malvin memberitahukan semuanya pada Medina membuat wanita itu ikut terkejut dia tidak menyangka Daffa mantan suaminya akan berada di sini bahkan sekarang posisinya mengajar putranya sendiri.


”Maaf Ma, mulai sekarang aku akan memanggilnya dengan sebutan Daddy, aku lebih suka dengan panggilan itu dan kedengarannya lebih cocok untuknya.” Malvin menunjuk pada Kamil yang masih santai di meja makan menikmati makan malamnya.


Medina menatap ke arah Kamil sedangkan pria itu hanya mengedikkan bahunya singkat.


”Bagaimana?”


”Terserah, senyamannya Malvin saja tapi bolehkah Daddy tahu alasannya kenapa kau menggantinya?” tanya Kamil.


”Karena di sini ada papa Daffa, Malvin tidak mau jadi salah orang nantinya jadi lebih baik aku menggantinya dengan sebutan itu. Malvin kira itu sebutan yang terbaik untukmu dan aku menyukainya,” balas Malvin.


Kamil pun tidak dapat menahan tawanya sesaat, ”Terserah kau saja.” Kamil bangkit dan meraih ponselnya lalu menghubungi Daren.


”Ma, Malvin ke kamar ya mau lanjut belajar.”


Medina mengangguk dia sendiri mau membereskan meja makan yang masih kotor dan dengan segera membereskannya mencuci peralatan masaknya yang masih tergeletak di wastafel.


”Aku nanti ya,” seru Kamil datang menghampiri Medina yang masih sibuk.


”Memangnya sudah tidak ada lagi pekerjaan?” Medina meletakkan beberapa piring dalam lemari namun dirinya tidak cukup tinggi membuatnya akan terjatuh, namun dengan cepat Kamil menangkapnya.


”Astaghfirullah, lain kali hati-hati jika tidak sampai kamu kan bisa minta tolong padaku!” ucap Kamil.


”Maaf, aku pikir bisa melakukannya sendiri tapi ternyata tidak.”


Kamil segera membantu Medina membereskan kekacauan di dapurnya lalu membawa wanita itu ke kamarnya. ”Lepasin aku bisa jalan sendiri Bang!”


”Biarin aja orang pengen gendong masa gak boleh!” balas Kamil.


”Di rumah ada Malvin, aku gak mau dia melihat!”


Kamil mengabaikan perkataan Medina terus berlalu masuk ke kamar, ”Dengar ya Sayang, Malvin udah besar aku rasa dia pasti tahu bagaimana Daddy-nya membahagiakan mamanya dia kan ada lihat di drama yang sering dia lihat.”


Medina malu jika mengingat hal ini karena kapan hari Malvin pernah memergokinya sedang bermesraan dengan Kamil namun bocah itu pun seperti biasa saja seakan tidak pernah melihat apapun. Kedua pun larut tertidur dalam keheningan malam.


”Ma, sudah siang!” teriak Malvin dari luar pintu karena sudah hampir jam enam namun keduanya belum keluar dari kamarnya.


”Iya Sayang, sarapan sudah siap nanti mama nyusul sebentar ya.”


Malvin segera ke meja makan dan benar saja makanan telah siap tapi kenapa keduanya tidak membangunkannya. Malvin langsung mencomot sandwich yang ada di piring dan menghabiskan segelas susu coklat karena dia harus segera ke sekolah.

__ADS_1


”Malvin hari ini Daddy yang akan antar kamu ke sekolahan,” seru Kamil begitu keluar dari kamar seraya berjalan mengancingkan lengan kemejanya.


”Papa gak sibuk?”


”Tidak, papa sedang free lagipula mobil yang dibawa Baron sedang masuk bengkel dan belum selesai diperbaiki.”


”Baiklah kalau begitu.”


Malvin pun menunggu Kamil yang sedang sarapan. ”Ayo kita berangkat!”


”Sebentar Dad, mama belum keluar.”


”Mama tidak akan keluar, dia sedang istirahat tadi dia mengeluh perutnya sakit jadi sekarang kita pergi saja, Daddy sudah ijin kok. Ayo!”


”Baiklah.” Tanpa bantahan lagi Malvin pun mengikuti Kamil ke sekolah hingga Saskia yang baru saja sampai di sekolah pun melihat kedatangan mereka berdua.


”Om, apakah boleh saya main ke rumahnya Malvin?” teriak Saskia membuat Malvin memutar bola matanya kesal.


Kamil menatap ke arah Malvin dan mengulas senyumnya, ”Siapa dia boy? Apa dia teman kelasmu?”


”Abaikan saja dia Dad, dia sudah sejak lama menaruh hati padamu tapi aku tidak akan pernah mengijinkannya,” terang Malvin.


”Baiklah, Daddy faham sekarang.” Kamil menoleh ke arah Saskia, ”Datanglah tapi dengan syarat karena pekerjaan sekolah mengerti!”


”Papa ke kantor sekarang, sampai jumpa!” Kamil memakai kacamata hitamnya lalu masuk ke mobilnya pergi ke kantor.


***


”Apa kau yakin dengan apa yang terjadi kemarin!” tanya Kamil begitu sampai di kantornya.


”Tentu saja, aku tidak dapat mencegahnya aku pikir dia sudah pergi tapi ternyata salah aku salah, Pak Hamid masuk melalui pintu samping jadi tak ada sekuriti yang melihatnya.”


Kamil mengangguk mendengar penjelasan Daren, herannya mamanya Alika tidak memberitahukan semua itu padanya, apakah karena dia masih mencintai papanya.


”Apa mereka bertemu?”


Daren menghela nafas mendengar perkataan Kamil, ”Tentu saja bahkan mereka berdua sempat berdebat sebelum akhirnya Hamid benar-benar pergi meninggalkan ruangan ini.”


”Pasti ada yang dia cari di sini makanya dia berani masuk ke ruangan ini. Sekarang tugasmu geledah setiap sudut ruangan jika kau menemukan sesuatu segera kabari aku." Kamil memandang ke seluruh ruangan tidak ada yang terlihat aneh dengan ruangan ini tapi jika sampai Hamid datang ke sini dia menyimpulkan pasti ada yang sedang dicari oleh pria itu.


”Apa agendaku hari ini?”

__ADS_1


”Tidak banyak justru di kantor sebelah kau full time banyak pekerjaan sedang menunggumu di sana,” jelas Daren.


”Kalau begitu kau awasi di sini aku akan pergi ke seberang!” Kamil pergi meninggalkan kantor tersebut menuju kantornya sendiri. Saat melewati jembatan penyebrangan Farhan memanggilnya.


”Kamil!” teriak Farhan.


kil menoleh dan mendapati abangnya tengah berjalan tergesa-gesa ke arahnya.


”Ada apa Bang?”


”Kapan kamu pulang?”


”Kemarin pagi, ada apa?”


”Oh, bagaimana keadaan di Eropa sana?”


”Maksud Abang apa bertanya begitu, jangan bilang Abang juga mau pergi ke Eropa.” Kamil tahu jika Farhan itu iri padanya dan jika sudah bertanya seperti itu pastinya dia akan mengikuti jejaknya untuk pergi ke sana.


”Lumayan buat orang yang sedang jatuh cinta apalagi hanya berdua takkan ada orang lain yang mengganggunya dan satu lagi tempatnya sangat romantis apalagi Spanyol.”


”Kau juga pergi ke sana?” Farhan menggelengkan kepalanya bagaimana mungkin Kamil pergi dalam waktu sepuluh hari dan lagi bukankah itu pemborosan mengingat lumayan besar uang yang harus dikeluarkan untuk melakukan perjalanan ke sana dan Alika apakah dia pilih kasih kenapa wanita itu tidak memberikan hadiah yang sama seperti yang diberikan pada Kamil.


”Abang lupa tidak sepenuhnya dibiayai oleh mama, aku sendiri yang mengeluarkan uangku untuk bersenang-senang lagipula untuk apa banyak uang jika hati kita tidak bahagia, benarkan?” ujar Kamil.


”Apa kau sedang menggurui diriku sekarang?” ucap Farhan berdecak kesal pada adiknya.


”Tidak sama sekali, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang aku cintai jadi jangan salah paham ya, sudahlah aku banyak pekerjaan apakah kau akan ke perusahaannya sekarang?”


”Tidak, aku baru saja mengantarkan Alea ke kantornya lalu melihatmu jadi aku mengejar dirimu.”


”Kalau begitu aku permisi dulu.” Kamil melangkahkan kakinya menuju ke kantornya baru lima langkah Farhan kembali bersuara.


”Apa kau tahu alasan papa datang ke ruanganmu kemarin pagi!” Kamil menghentikan langkahnya dan berbalik.


”Abang tahu alasannya?” Farhan tersenyum licik pada Kamil membuat adiknya curiga jika Farhan mengetahui sesuatu.


”Katakan yang kau ketahui Bang!”


”Semua tidak gratis!”


Astaga kenapa Farhan berubah menjadi orang yang perhitungan sekali apalagi terhadap adiknya sendiri, Kamil terlihat kesal dengan penawaran yang diberikan oleh Farhan karena ini sudah terjadi beberapa kali.

__ADS_1


”Berapa yang kau inginkan?”


__ADS_2