
Medina kembali menjalani aktivitasnya seperti biasanya dan pagi ini setelah Kamil pergi ke kantor, dia kedatangan tamu.
”Alea, apa yang terjadi?” tanya Medina melihat wanita yang menjadi adik iparnya menghampirinya dengan raut wajah sedih.
”Apakah kamu percaya jika seseorang itu telah berubah setelah melakukan kesalahan yang fatal menurutmu?” jawab Alea.
”Duduklah lebih dulu, baru bicara.” Medina mengarahkan Alea ke kursi teras. ”Ceritakan sekarang!”
Alea hanya menunduk dan itu membuat Medina semakin penasaran dengan apa yang sedang menimpa Alea.
”Hari ini aku ke outlet pakaian di bawah dan berencana menghibur diri dengan berbelanja tapi begitu aku meminta pakaian keluaran terbaru justru aku menemukan pakaian yang sama dengan milik Laras,” ucap Alea mulai bercerita.
”Lalu masalahnya?”
”Medina apa kau tidak berpikir jika Laras itu memiliki pakaian itu pemberian dari Farhan.”
Medina mengangguk, ”Jadi kau sedang cemburu begitu? Kenapa tidak kau tanyakan langsung padanya itu jauh lebih baik daripada hatimu dipenuhi tanda tanya kan.”
Alea menggeleng, ”Itu bukan solusi karena faktanya Farhan tidak akan jujur padaku.”
”Baik jika memang demikian berarti kau harus rela jika hatimu selalu dipenuhi rasa penasaran,” ucap Medina terkekeh.
”Kenapa kau justru tertawa, ayolah ini tidak lucu sama sekali,” gerutu Alea.
Medina hanya menatap iba pada wanita yang sedang duduk di sampingnya dia tidak dapat mengemukakan pendapatnya begitu dia bicara Alea tidak mau mendengarkannya karena itu dia tak mau ambil pusing terlebih dirinya ingin merasa tenang lebih dulu.
”Apa yang harus aku lakukan?” rengek Alea membuat Medina semakin iba.
”Bicara baik-baik dengan Bang Farhan.”
”Apakah dia akan menerima nantinya.”
”Dicoba dulu kita tidak tahu kan nantinya seperti apa. Jika kita tidak terbuka mana mungkin dia tahu apa yang sedang kita rasakan.”
”Tapi setidaknya dia bisa peka dengan apa yang sedang kita rasakan, dia sama sekali tidak bisa diajak kompromi,” keluh Alea.
”Semuanya harus saling terbuka Alea jika itu terjadi maka aku menjamin tidak akan ada kesalahpahaman di antara kalian berdua,” jelas Medina.
”Baiklah aku akan mencoba untuk bicara dengannya nanti, btw dimana Malvin bukankah ini liburan sekolah?”
”Dia sedang liburan ke Semarang bersama dengan Baron.”
”Berdua?”
”Iya, aku kasihan dia kangen sama temannya di sana jadi ya aku ijinkan pergi tapi tetap dalam pengawasan Baron.”
Alea mengangguk.
”Pergilah ke rumah mama, beliau kangen sama kamu terlebih mama bilang jika kau sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya.”
”Baiklah nanti aku mampir ke sana.”
”Apa kau mau makan siang di sini?”
”Tidak, kalau begitu aku pulang dulu ya. Sorry sudah mengganggu waktunya.”
__ADS_1
”Tak apa sampai jumpa!”
Medina mengangguk mengantarkan Alea hingga ke pintu gerbang.
***
Kamil menatap Daren curiga jika sahabatnya ada fair dengan pegawai barunya karena sejak tadi keduanya sama-sama saling diam dan Kamil perhatikan keduanya selalu curi-curi pandang satu sama lain.
”Ehem, jadi ... apa kalian berdua ada fair?”
Daren dan Christy pun mengangkat wajahnya bersamaan karena terkejut.
”Tidak.” Keduanya menjawab bersamaan dan saling kompak satu sama lain.
”Aish, jika pun itu benar tak masalah kan kalian berdua sama-sama tidak terikat hubungan dengan siapapun kan di luar ini?”
”Tidak.”
Lagi keduanya menjawab bersamaan.
”Sudahlah, Christy kembalilah ke tempat kerjamu. Saya dan Daren ada sesuatu yang harus dibicarakan.”
”Baik Pak Kamil.”
Christy pun keluar dan dengan cepat Kamil menatap ke arah sahabatnya mengintimidasi dirinya.
”Kenapa tidak mau jujur!”
”Soal apalagi?”
”Bukankah tempo hari aku sudah menjelaskannya padamu.”
”Kurang detail!”
”Ya baiklah, aku memang sedang pendekatan dengannya puas!”
Kamil tergelak mendengar pengakuan sahabatnya itu. ”Syukurlah, itu lebih baik dan aku mendukungmu sepenuhnya.”
”Btw kenapa kau menanyakan hal itu lagi padaku?”
”Semalam aku melihatmu bersama dengannya sedang makan malam berdua di warung tenda, apakah itu benar?”
”Jadi ... ”
”Ya, semalam aku dan keluargaku juga berada di sana tapi aku memang sengaja diam dan menunggu hari ini untuk menanyakannya padamu. Oke, selamat berjuang!”
”Aku mau segera melamarnya!” seru Daren bersemangat.
”Apa? Kau yakin?”
”Tentu saja, aku melakukan itu karena ingin menunjukkan keseriusanku terhadapnya. Aku merasa dia adalah bagian diriku yang hilang.”
”Wow, terdengar so sweet!” ejek Kamil.
”Astaga jangan begitu aku serius!”
__ADS_1
”Baiklah jika kau butuh bantuanku kau tinggal katakan saja maka aku akan segera membantumu.”
”Terima kasih.”
Keduanya pun segera berpisah menuju ruangannya masing-masing, Kamil terkejut ketika melihat papanya sudah ada di ruangannya.
”Ada apa papa ke sini?” tanya Kamil duduk melepaskan jasnya.
Hamid terlihat menarik nafasnya perlahan. ”Papa butuh modal tolong kau pinjami papa uang!”
Kamil menautkan kedua alisnya mendengar perkataan papanya. ”Bukankah papa masih memiliki simpanan di bank?”
Hamid tidak bisa menjelaskan semuanya lebih tepatnya malu mengatakannya pada Kamil.
”Apa yang terjadi?”
”Wanita yang tinggal di apartemen papa dia ... dia membawa kabur semua uang papa dan menjual beberapa aset yang dia curi di brangkas.”
Kamil tidak terkejut karena dia sudah menebaknya sejak awal namun dia enggan untuk bersuara dan membiarkan waktu yang membuka fakta tentang siapa wanita yang sedang bersama dengan papanya itu.
”Papa menyesal?” tanya Kamil menatap kesal pada papanya.
”Jika kau tidak mau menolongku tidak apa-apa tapi tolong jangan mengejek papa, Kamil.”
”Lalu jika tidak denganku siapa yang akan papa mintai pertolongan.”
Hamid terdiam seketika. ”Papa tidak tahu.”
Kamil menghembuskan nafas kesal mendengar jawaban dari Hamid.
”Asalkan papa tahu, perusahaan milik Farhan sedang terpuruk.”
”Apa?” Hamid tidak dapat menyembunyikan perasaan khawatirnya mendengar berita itu dari Kamil. ”Apa itu pasti?”
”Ya dan dia sengaja menyembunyikannya dan berpura-pura baik-baik saja,” jelas Kamil.
”Jika demikian kau harus bantu dia,” ucap Hamid.
”Aku akan membantunya jika dia sendiri yang memintanya, Pa. Papa tahu sendiri kan bagaimana dia terhadapku selama ini?”
Kamil tidak akan menutup mata jika memang saudaranya berkata jujur hanya saja saudaranya Farhan memang sangat menyebalkan dan selalu gengsi mengakui keadaannya.
”Tolong pikirkan permintaan papa, biar papa ke kantornya sekarang!” pamit Hamid segera bangkit membenarkan jasnya.
”Papa tidak perlu ke sana karena dia sendiri sedang tidak ada di kantornya,” ucap Kamil.
”Darimana kau tahu?”
”Daren baru saja ke sana dengan Christy dan dia sepertinya sedang menghindar dari semua orang yang sedang meminta kepastian bisnis yang sedang berjalan.”
”Astaga, kenapa kau terlihat santai sekali di saat saudaramu tengah menghadapi masalah seperti ini?” Hamid terlihat kesal dengan sikap Kamil yang seakan acuh dengan keadaan Farhan.
”Aku tidak acuh, bahkan aku sudah berusaha untuk menolongnya jadi papa jangan salah faham lebih dulu. Jika papa tidak suka dengan sikap Kamil lalu aku harus bagaimana?”
__ADS_1