
Kamil berharap Malvin dan Medina mau pindah ke Jakarta, dia berniat membantu mereka karena bagaimanapun dia tidak rela jika keduanya terzolimi oleh keluarga mantan suaminya itu.
”Bos, jika nanti mbak Medina mau pindah bagaimana?” tanya Baron.
”Alhamdulillah dong, jadi kita tidak perlu lagi susah-susah ke sini lagi,” balas Kamil.
”Lalu bagaimana jualan sayurnya nanti?”
”Ya kita lanjutkan di Jakarta bodoh!”
”Ya ampun bos, jangan galak-galak kenapa?”
”Namanya bos ya suka-suka lah!”
Kamil menghela nafasnya perlahan lalu memikirkan cara bagaimana nantinya nasib keduanya jika harus tinggal di Jakarta. Kamil harus mencarikan rumah lebih dulu dan juga tempat usaha sekalian agar Medina tidak lagi memikirkan usahanya apa yang akan dijalaninya ke depan selama di sana.
”Hallo bos ada yang bisa saya bantu?”
”Daren, bisakah kau mencarikan tempat tinggal di pemukiman yang cukup ramai dan cocok untuk usaha jualan makanan.”
”Astaga bos apakah kau akan beralih profesi lagi jualan warteg?”
”Tidak bukan untukku!”
”Lalu untuk siapa?”
”Pokoknya bantu aku carikan tempatnya, ingat suasananya cukup ramai dan cocok buat jualan makanan.”
”Oke aku akan mencarikannya segera.”
Bip.
Kamil berdecak kesal lagi-lagi Daren berusaha mengejeknya dengan kalimat yang memancing emosinya.
”Dia selalu saja begitu, lihat saja nanti aku pulang ke Jakarta aku potong gajinya,” ujar Kamil.
”Siapa bos?”
”Daren siapa lagi yang berani padaku hanya dia seorang Radit tidak terlalu tapi Daren benar-benar kelewatan!”
”Sabar bos, bagaimanapun dia adalah teman baikmu dan sudah banyak membantu jadi biarkan saja dia bicara sesukanya siapa tahu di balik perkataannya terselip hikmah.”
”Sok bijak kamu, biasanya juga sebelas dua belas sama dia.”
Kamil bangkit menuju ke kamarnya dia merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak, niat hati ingin menghindari Malvin sekarang yang terjadi di luar dugaan Kamil yakin jika anak itu akan mencarinya karena tawaran yang dia berikan padanya. Harusnya dia merasa senang apalagi mereka sendiri yang ingin tinggal di Jakarta, jadi Kamil bisa tetap mengawasinya tanpa harus jauh-jauh datang ke kota ini lagi.
***
”Ma, bagaimana jika kita mengiyakan perkataan Om Kamil untuk pindah ke Jakarta?”
”Mama sedang mencari jalan lain selain itu karena mama juga tak mau merepotkannya.”
__ADS_1
Malvin mengangguk apakah dia harus bicara pada Medina atau lebih baik diam perihal Kamil yang telah berterus terang padanya jika dia menyukai mamanya.
”Ma, soal pertanyaan Malvin kemarin itu ... mm, jawabannya apa Ma?”
”Pertanyaan yang mana ya?”
”Soal kesepian?"
Medina kembali melotot mendengarnya.
”Mama jangan marah dulu,” seru Malvin.
”Dengarkan dulu penjelasan Malvin.”
Mau tidak mau Medina harus mendengarkan perkataan putranya itu.
”Begini Ma, sebenarnya setelah Malvin pikir-pikir tidak ada salahnya jika mama mau menikah lagi hanya saja mama harus benar-benar lebih hati-hati dalam memilih pasangan hidup.”
”MasyaAllah kenapa kau bisa bicara sedewasa itu siapa yang mengajarimu Nak?”
”Pengalaman Ma, pengalaman hidup yang Malvin alami buat Malvin cukup untuk bisa berpikir dewasa. Apakah mama ada niatan buat nikah lagi?”
”Kamu ini ngomong apa sih, mama hanya pingin buat kamu sukses agar mama bisa membuktikan perkataan mama pada keluarga mama dan juga papamu itu.”
”Ma, Malvin tahu kok jika selama ini mama selalu bersedih apalagi jika sholat tahajud, Malvin sering dengar mama menangis. Malvin yakin jika mama butuh seseorang hanya saja seseorang itu belum dapat mama temui kan?”
"Jujur Malvin benci bahas masalah ini tapi dengan kejadian kemarin Malvin membuat hati ini sedikit terbuka jika mama terus-terusan di sini atau mama tetap saja tidak menikah Malvin khawatir mereka akan semakin menghina mama lebih parah dari yang kemarin.”
”Nah masalahnya Ma, Malvin itu bukan anak kecil lagi yang bisa nurut gitu aja, Malvin sedang beranjak dewasa dan sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!”
Medina tersenyum mengejek pada Malvin membuat anak itu sedikit kesal.
”Udah kembali belajar ya mama mau istirahat!”
”Ma.”
”Apalagi?”
”Kalau Om Kamil suka sama mama apakah mama akan menerima dia?”
”Apaan sih kamu ini, bercandanya gak lucu tahu!”
”Tapi Malvin tidak sedang bercanda Ma, ini serius. Jika ternyata itu benar apakah mama akan menerima dia?”
***
”Maaf Bang, karena Alea Abang jadi disalahkan sama mama,” ucap Alea begitu masuk rumah.
Ya mereka baru saja makan malam di rumah Hamid Mahendra, acara makan malam bersama mendadak jadi tegang karena tak sadar Hamid telah menyinggung besannya itu.
”Sebaiknya kau cepat istirahat!”
__ADS_1
Farhan sendiri memilih duduk di dapur setelah mengambil segelas air minum. pikirannya tidak menentu setelah perdebatan papanya dengan mertuanya.
”Sudah jangan dipikirkan semua pasti akan baik-baik saja,” ujar Alea.
”Aku tidak yakin, apalagi mamamu seperti membenciku,” seru Farhan.
”Tidak mungkin mereka tidak benar-benar membencimu percayalah, mereka hanya ingin kau itu tegas dalam mengambil keputusan sama seperti kemarin.”
”Ya kemarin itu saya benar-benar masih shock, dan sekarang justru harus dihadapkan dengan kenyataan baru.”
”Aku tidak yakin karena kamu sendiri masih belum bisa menerimaku apa adanya, apakah benar yang aku katakan ini? Lalu kapan kau akan memberiku kesempatan itu?” Farhan memegang tangan Alea berharap jika wanita itu akan membalasnya.
”Aku akan mencobanya nanti,” balas Alea.
”Nanti?”
”Iya nanti, mm ... sebaiknya kita istirahat saja aku sudah sangat lelah sekarang,” ucap Alea.
”Baiklah tapi bisakah kita satu kamar malam ini?” tanya Farhan membuat Alea terkejut.
”Sa-sattu kamar?”
”Iya.” Farhan mengangguk.
”Bagaimana ya?”
Farhan tidak mau menunggu lama dia menarik lengan Alea dan membawanya ke kamarnya. Jantung Alea sendiri berdebar-debar karena ini adalah pertama kalinya dia satu kamar dengan suaminya setelah hampir tiga pekan mereka menikah.
”Aku tidak akan memintanya aku janji! Aku akan membuatmu memintanya padaku Alea.” ucap Farhan.
”Janji ya, tetap di tengah harus kamu pasang pembatas!”
”Pembatas? Maksud kamu?”
Alea tidak lagi menjawabnya dia justru melangkah ke arah ranjang dan mengambil bantal guling lalu meletakkannya di bagian tengah.
”Sudah Bang, seperti ini maksudnya,” jelas Alea.
”Astaga baiklah jika itu maumu tidak masalah apapun itu.”
Mendengar perkataan Farhan, Alea cukup merasa lega karena pria itu mau mengerti tentang keinginannya. ”Aku akan tidur lebih dulu, good night!” pamit Alea.
Farhan hanya mengangguk dia sendiri ke kamar mandi karena ingin mengganti pakaiannya dengan piyama, namun begitu keluar ternyata Alea sudah tertidur lebih dulu.
”Sudahlah memang nasibmu harus belajar sabar Farhan,” pekiknya.
Begitu pagi tiba, Alea terkejut karena tidak ada lagi bantal di tengah namun yang ada dia tengah memeluk seseorang dengan bagian dada terbuka.
”Ya Tuhan kenapa aku bisa memeluknya bukankah semalam aku memeluk guling,” gumam Alea.
Alea mencoba melepaskan diri namun tangan kekar itu justru semakin merengkuhnya dengan kuat.
__ADS_1
”Aku akan memulainya dari sini Alea.”