
Malvin celingukan di depan kelas dia sedang menanti jemputan Baron yang mengantarkannya tadi pagi bilang jika siang ini Kamil akan menjemputnya tapi hingga jam setengah tiga pria itu tidak kunjung datang juga.
”Ish, tahu begini tadi aku naik angkutan aja udah sampai rumah mana perut lapar lagi,” gerutu Malvin.
”Ehem, kamu anak baru pindahan itu ya?”
Malvin menoleh melihat temannya datang menghampirinya. "Iya, kok kamu belum pulang?”
"Aku mau les piano tapi ternyata gurunya ijin gak masuk jadi ya nunggu jemputan juga, kenalin aku Saskia.” Gadis berambut panjang mengulurkan tangannya pada Malvin.
”Malvin.”
”Kamu sendiri ngapain di sini?” tanya Saskia.
”Sama kayak kamu tunggu jemputan juga.”
Keduanya sama-sama diam hingga sebuah mobil mewah masuk ke area halaman sekolahan.
”Mungkin itu jemputan kamu datang,” ucap Malvin berujar.
”Bukan, papaku tidak memiliki mobil sebagus itu,” jawab Saskia.
"Wah keren sekali pria itu,” lirih Saskia.
”Om Kamil,” seru Malvin.
”Kau mengenalnya?” Saskia menoleh ke arah Malvin.
”Iya.” Malvin melambaikan tangannya ke arah Kamil.
"Aku balik dulu ya,” ucap Malvin pada Saskia namun kemudian dia berbalik. "Kamu sendiri bagaimana gak ada temannya di sini?” ucap Malvin khawatir.
”Udah gak apa nanti papaku juga sebentar lagi datang kok.”
”Oke kalau begitu aku tinggal dulu, Assalamualaikum.”
Tidak ada jawaban yang terdengar yang ada Saskia terlihat memperhatikan Kamil yang masih setia menunggu Malvin.
”Maaf Om datangnya telat,” ucap Kamil.
”Om Kamil keren sekali, ini mobilnya siapa Om?” tanya malvin seraya memperhatikan mobil tersebut dengan intens.
Bukannya menjawab Kamil justru merangkul bahu Malvin, ”Ayo kita makan siang dulu, kamu pasti belum makan kan?”
Kamil segera membuka pintu mobilnya dan membawa Kamil ke kafe dekat apartemennya.
”Bagaimana sekolahmu?”
”Alhamdulillah teman Malvin baik semua Om,” jawab Malvin.
”Jika ada masalah kamu bisa memberitahukan kepala sekolahnya Pak Romli orangnya baik kok, dulu yang ngajar Om juga beliau itu,” jelas Kamil.
”Pantas saja kalian berdua terlihat akrab kemarin,” ujar Malvin.
”Makan dulu, nanti kita ke tempatnya Om dulu ada sesuatu yang harus Om ambil di sana.”
__ADS_1
Keduanya pun asyik melahap makanan yang sudah dipesan hingga tidak menyadari jika Farhan tengah memperhatikan keduanya.
”Sedang apa kau di sini?” tegur Farhan.
”Astaghfirullah Bang Farhan kenapa mengagetkan diriku,” protes Kamil yang hampir saja tersedak makanan.
”Kenapa kau bermain dengan anak SMA? Kalian ... ”
”Jangan berspekulasi yang tidak jelas, kami berdua berteman,” potong Kamil.
”Dia ini anaknya temanku,” lanjut Kamil.
Farhan beralih menatap ke arah Malvin, Kamil yang menyadari tatapan Farhan pun mengenalkannya Malvin padanya.
”Malvin, dia abangnya Om, namanya Farhan.”
”Saya Malvin, Om.” Malvin mengulurkan tangannya namun Farhan mengabaikannya membuat Malvin sedikit kecewa dan Farhan menyadari hal itu.
"Oke Bang, kami sudah selesai dan mau pulang. Sampai jumpa! Ayo Malvin kita pulang dulu.”
Kamil meletakkan beberapa lembar uang di meja sebelum memanggil pelayan kafe tersebut. ”Ambil kembaliannya untukmu,” ucap Kamil sebelum melangkah pergi.
Kamil tahu jika Malvin masih merasa kesal dan dia pun akhirnya menjelaskan keadaannya.
”Maaf ya sudah bikin kamu gak nyaman, dia itu memang begitu kami saudara kandung tapi tidak pernah akur. Dia lebih cenderung ikut papa sedangkan Om sendiri lebih ke mama,” terang Kamil.
"Tolong jangan diambil hati ya.”
Malvin mengangguk singkat. ”Kalian berbeda ya.”
Malvin sendiri merasa takjub melihat bangunan tinggi dan langsung masuk ke dalam lift yang membawanya naik ke lantai tiga puluh lima.
Kamil membuka pintu apartemennya dan membawa Malvin masuk. "Duduk dulu!”
Kamil langsung menuju ke kamarnya dan mengambil berkas yang semalam dia taruh di atas nakas.
”Apa kau mau minum?” tanya Kamil begitu keluar dengan berkas di tangannya.
"Gak usah Om, ini rumahnya Om Kamil?” tanya Malvin.
"Iya rumah kedua lebih tepatnya,” jawab Kamil membuat Malvin mengerutkan keningnya karena bingung dengan jawabannya.
”Maksud Om, Om punya banyak rumah termasuk yang ditempati mama begitukah?”
”Rumah utama Om ya yang ditinggali sama kedua orang tuanya Om, tapi Om jarang ke sana sih lebih nyaman di sini.”
”Wah bebas dong Om,” seru Malvin.
”Tidak juga, Om justru merasa kesepian tapi jika Om kumpul dengan keluarga Om dibully karena mereka semua pada bertanya kapan Om nikah.”
Malvin pun tertawa mendengar akhir kata yang diucapkan oleh Kamil membuat pria itu justru heran apakah ada yang lucu dengan perkataannya.
”Kenapa kamu justru tertawa.”
”Lucu aja Om, mana mungkin orang seperti Om gak ada yang mau!”
__ADS_1
”Yang mau banyak tapi hati Om belum merasa cocok dan begitu ketemu Om cocoknya sama mama kamu, bagaimana apa kamu mau kasih ijin sama Om buat jadi papa sambung kamu?” ucap Kamil to the point.
Malvin terdiam mendengar pengakuan Kamil.
"Kalau kamu belum siap ya gak apa, Om bakal sabar kok nungguin kalian berdua.”
”Kalau Malvin sekarang tergantung mama saja Om, karena semua yang akan menjalaninya mama. Setelah dipikir-pikir lagi Malvin sendiri gak tega jika mama berjuang sendirian, pasti berat buatnya terlebih mama kan masih muda dan lagi dia berhak untuk bahagia.”
Kamil pun tersenyum senang karena mendapatkan ijin dari Malvin.
”Tumben kamu bisa berpikir dewasa, tapi Om senang kok itu tandanya Om ada kesempatan kan buat meluluhkan hati mamamu itu,” ujar Kamil.
”Yuk kita ke kantor dulu anterin ini ke sana baru kita pulang.”
Malvin mengikuti Kamil kemanapun pria itu melangkah hingga jam lima sore baru sampai di rumah.
”Hem, yang habis jalan-jalan,” ucap Medina melihat Malvin masuk ke rumah diikuti Kamil.
”Lah salah sendiri tadi diajak gak mau!” ucap Kamil.
”Mandi dulu sana,” titah Medina pada Malvin.
Tanpa membantah Malvin menurut pada Medina memberikan ruang bagi mereka berdua untuk berbicara meskipun nantinya dia pasti akan menguping pembicaraan mereka berdua.
”Maaf aku bawa dia ke tempat kerjaku jadi terlambat pulang.”
”Tidak masalah.”
Medina masih memotong beberapa kentang dan wortel membuatnya tidak menyadari jika dirinya tengah diperhatikan oleh Kamil. Ya pria itu melihat cincin yang dia berikan pada wanitanya tadi siang sekarang sudah melingkar di jari manisnya, Kamil tersenyum samar hampir tak terlihat bahagia tentu saja perlahan dia bisa mengambil hati wanita yang dia cintai.
”Apa Bang Kamil mau makan malam di sini juga?”
”Eh?”
”Gak masalah jika tidak keberatan?”
Medina tersenyum dia tahu jika kamil sedang melamun. ”Bang Kamil duduk aja di depan biar aku selesaikan dulu masaknya, bentar lagi Malvin pasti keluar.”
Dan benar saja tidak ada lima menit kemudian Malvin keluar dan berbincang akrab dengan Kamil di ruang tengah, melihat hal itu membuat hati Medina berdenyut nyeri seharusnya Daffa bisa menjadi seorang papa yang baik untuk Malvin tapi kenyataannya justru dia menuruti perkataan mamanya dengan menikahi wanita lain.
”Hallo ada apa Na, kok jam segini menelpon?”
”Kangen mbak, biasanya sore begini kita sedang ngobrol di teras.”
”Iya kan masih ada yang lain Na.”
”Tempo hari Mas Daffa datang menanyakan alamat rumahmu di jakarta tapi gak Hasna kasih.”
”Ada apa dia tanya-tanya segala.”
”Mantan mertuamu mbak Medina sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”
”Apa Bu Yanti maksudmu, sakit apa?”
Kamil dan Malvin menoleh ke arah Medina keduanya ikut khawatir melihat raut wajah Medina yang berubah menjadi sedih.
__ADS_1
”Pasti terjadi sesuatu Om,” ucap Malvin pelan.