
Daffa menatap tajam ke arah Lastri wanita yang dia nikahi setahun yang lalu, jika saja bukan karena tekanan dari ibunya dia tidak akan pernah mau menikahi wanita di depannya ini. Lastri sendiri yang merasa diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dan acuh merasa tidak bersalah sama sekali.
”Darimana saja kau jam segini baru pulang?” Daffa tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Lastri.
"Aku belanja sama Mbak Wiwik, Mas.”
”Hingga selarut ini baru pulang, kau mengabaikan putriku yang masih kecil kau bawa dia keluyuran, memang masih ada mall buka sampai jam sebelas malam?" desak Daffa seraya menahan amarahnya berkali-kali dia berucap istighfar agar tidak sampai kelepasan mengucapkan hal yang tidak boleh dia ucapkan.
”Anakmu aku titipkan sama pembantunya Mbak Wiwik, Mas.”
Lagi jantung Daffa seakan terhenti seketika mendengar pengakuan istrinya, Daffa tidak mengira jika Lastri lebih memikirkan kesenangannya daripada merawat anaknya itulah yang tadi dia ucapkan ’anakmu’ sekarang akan Daffa garis bawahi jika bayi yang ada di rumah ini adalah anaknya bukan anaknya Lastri.
”Baik jika memang seperti keinginanmu mulai besok tolong kau jangan mengurus keperluan putriku dsn tolong kembalikan semua uang milik Pak Kamil.”
Lastri menenggang mendengar perintah suaminya dia tidak mengira jika Kamil akan memberitahukan semuanya pada Daffa.
”Jadi pria itu memberitahukannya, sayangnya uangnya sudah habis aku belanjakan hari ini,” seru Lastri seakan menantang Daffa.
”Berapa uang yang dia kasih untukmu? Katakan!” Daffa berteriak membuat bayi yang sedang di gendong oleh Bu Yanti terkejut dan menangis.
”Tidak banyak hanya seratus juta,” sahut Lastri.
Daffa langsung shock mendengarnya bagaimana mungkin uang sebanyak itu langsung habis dalam jangka waktu yang sangat singkat. Bahkan meskipun dirinya sanggup mengumpulkannya dalam beberapa bulan sekalipun dirinya akan berpikir ulang untuk memberikannya pada istrinya karena Lastri memang tipikal wanita yang boros.
Daffa tak ingin lagi berkata apapun dirinya keluar kamar menggendong putrinya yang sedang menangis dia tak ingin tetangga terganggu karena tangisannya.
”Sini Bu biar Daffa ambil alih Hani, ibu istirahat saja di kamar ini sudah malam,” ucap Daffa, dirinya tidak tega melihat ibunya kelelahan terlebih fisiknya sudah tua dan butuh banyak istirahat.
Sesekali Daffa menoleh ke arah pintu kamarnya berharap Lastri keluar mengambil anaknya tapi hingga pukul dua dini hari dirinya tidak keluar sama sekali, alhasil dirinya tertidur di ruang tamu bersama dengan putrinya.
***
”Kok sarapannya hanya sedikit apa kalian sedang diet?” Medina memperhatikan Kamil dan Malvin yang hanya mengambil sepotong roti dan meminum segelas susu.
__ADS_1
”Kita temani mama kok, soalnya mama kan makannya dikit banget jadi Malvin sama Daddy ikutan. Iya kan, Dad?” ucap Malvin membuat wanita itu tersenyum kemudian.
”Iya Malvin benar makan yang banyak dong biar sehat dan kuat kasihan dia di dalam sana pasti kelaparan karena mamanya makannya dikit banget,” tukas Kamil membenarkan perkataan Malvin.
”Mama itu sedang tidak mood makan, entahlah. Oh iya bagaimana keadaan adikmu, apa kau ada niatan untuk menjenguknya lagi ke rumah?”
Kamil dan Malvin saling pandang.
"Nanti sajalah Ma, jika malvin sudah banyak waktu sekarang ini banyak kegiatan dan Malvin pun sedang malas ke sana apalagi ada Tante Lastri nanti Malvin disuruh jagain Hani lagi!” kesal Malvin mengingat kejadian di mana dia harus menggendong bayi itu.
”Tidak masalah kan, kamu bisa belajar darinya bagaimana sabar. Mama dulu juga gitu waktu kamu masih bayi, merepotkan tapi mama suka karena moment itu tidak akan terulang lagi.”
”Nah, dengerin tuh apa kata mama Vin!”
”Ya deh nanti Malvin coba hubungi teman dulu karena Malvin gak mau ke sana sendirian harus ada teman minimal buat alasan biar di sana tidak kelamaan,” seru Malvin.
”Siap.”
”Biarkan saja Dad, dia sedang patah hati karena ditinggal nikah oleh kekasihnya di kampung. Malvin berangkat ya, Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam," jawab keduanya.
”Tahu darimana dia kata kekasih, sekolah aja belum bener!” kesal Kamil karena putranya semakin pintar dalam berbicara.
Kamil memperhatikan Medina yang kembali terlihat pucat dirinya berinisiatif mengantarkannya ke Dokter kandungan namun Medina menolaknya. Dia merasa baik-baik saja dan tidak merasakan apapun mungkin istirahat dengan baik sudah cukup untuknya.
”Atau kau mau sesuatu?” tanya Kamil mencoba menawarkan sesuatu pada Medina.
”Tidak, aku tidak ingin apapun selain Bang Kamil tetap jadi orang yang baik untuk keluarga dan jug banyak orang.”
”Selalu saja seperti itu,” ucap Kamil.
”Sudah buruan berangkat nanti telat! Setelah ini aku mau ke rumah mama ya,” ijin Medina.
__ADS_1
”Tidak perlu biar sekarang saja ayo, aku antarkan kau ke sana.”
Medina merona melihat Kamil yang begitu perhatian dengannya, dirinya bersyukur mendapatkan suami seperti dirinya. Medina mengira jika Alika hanya seorang diri di rumah itu tapi ternyata dugaannya salah ada Alea di sana bersama dengan Farhan, sejak kapan mereka berdua terlihat akur!
Kamil ragu meninggalkan istrinya di sana sendirian tapi apa mau dikata, pekerjaannya di kantor menumpuk karena sudah beberapa harii dia tidak datang ke kantornya sendiri. Ya, meskipun kantornya berseberangan satu sama lain Kamil kadang enggan jika harus bolak-balik dia lebih memilih menggulir harinya bergantian secara berkala.
Begitu masuk kantor dirinya sudah melihat karyawan baru yang baru saja direkrutnya beberapa hari yang lalu Christy cantik masih muda fresh graduate school of management bussness di Amerika.
”Selamat pagi Pak Kamil senang bertemu dengan Anda.” Christy hendak mengulurkan tangannya namun dengan cepat Kamil menangkupkan tangannya di dada membuat Christy malu karena sudah mengira jika Kamil itu sama dengan pria lainnya suka dengan wanita cantik.
”Selamat bergabung dan semoga betah dan satu lagi saya akan jarang berada di sini jadi segala apapun urusannya sampaikan saja pada Daren karena dia asisten pribadi saya di sini.”
”Baik, Pak Kamil.”
”Selamat bekerja.” Kamil segera berlalu sebelum Christy kembali bersuara, bukannya kepedean tapi Kamil menyadari sesuatu yang aneh dari pegawai barunya itu mungkin semacam ketertarikan dengan lawan jenis.
Siapa sih yang tidak menyukainya, selain kaya dia memang baik kepada siapapun namun Kamil tetaplah Kamil yang lebih mementingkan kepentingan keluarga di atas segalanya.
Kamil memasuki ruangannya Daren sudah ada di sana sedang memilah berkas laporan yang baru saja masuk padanya.
”Kau sudah melihat karyawan baru yang dari Amerika itu?” tanya Kamil seraya mendaratkan bokongnya di kursi.
”Ada apa dengannya?” jawab Daren masih saja acuh karena terfokus pada lembar berkas.
”Dia cantik dan cerdas, aku rasa dia cocok denganmu dibandingkan kau harus mencintai istri orang!” ucap Kamil.
Daren melotot mendengar perkataan sahabatnya itu kenapa pria ini asal bicara. ”Apa? Bukankah yang aku katakan itu benar adanya, ayolah move on! Kau tahu Alea sekarang ada di mana?”
Daren menggelengkan kepalanya yang dia tahu Alea berada di apartemennya.
”Dia di rumah mamaku bersama dengan Bang Farhan.”
Daren menghentikan kegiatannya menatap Kamil seakan tidak percaya dengan ucapan pria itu karena sebelum pergi ke kantor Alea mengatakan tidak akan kemana-mana lalu kenapa sekarang dia berada di rumah Alika bersama Farhan pula. Apakah Alea sedang bermain-main dengannya?
__ADS_1