Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Kurang Peka


__ADS_3

”Katakan sesuatu jika kau memang mengetahui keberadaan Alea,” desak Kamil setelah Farhan pergi dari kantornya.


”Ya, dia berada di apartemenku sekarang.” Kamil membulatkan kedua matanya mendengar pengakuan sahabatnya, dia tidak menyangka jika Daren akan bertindak sejauh itu.


”Aku terpaksa kau harus mengerti!” lanjut Daren penuh penekanan.


”Baiklah tapi tolong katakan sesuatu kenapa dia berada di tempatmu dari sekian banyak tempat. Bukankah dia juga memiliki banyak teman wanita, kenapa dia lebih memilih ke tempatmu?” tanya Kamil.


”Tanyakan saja padanya jangan padaku karena aku sendiri tidak tahu jawabannya dia datang malam-malam ke tempatku lalu apakah aku harus mengusirnya sedangkan kondisinya tengah berbadan dua yang benar saja, aku juga lahir dari rahim seorang wanita jadi aku masih punya hati dan tidak akan pernah membiarkan seorang wanita keluyuran malam hari,” cerocos Daren.


Kamil bisa memahami alasan Daren hanya saja terdengar aneh baginya karena Daren sahabatnya benar-benar merahasiakan keberadaan Alea, apakah benar yang diucapkan oleh kakaknya tadi jika Daren menyukai kakak iparnya itu.


”Kamu tidak percaya kan padaku, jangan bilang kau termakan ucapan kakakmu tadi. Asalkan kau tahu wanita hamil itu justru sangat merepotkan diriku, sudah dua malam ini aku harus keluar dan mencari sesuatu yang tidak masuk akal.”


Daren pun menjelaskan apa saja yang dia lakukan dua malam belakangan ini termasuk keliling kota hanya untuk mencari sesuatu yang belum tentu ada.


”Kenapa bisa istriku tidak melakukan hal yang sama dengan Alea,” lirih Kamil.


”Maksudmu?” Daren mengernyitkan alisnya.


”Medina sama sekali tidak merepotkan seperti yang Alea lakukan terhadapmu. Apakah dia menyimpan keinginannya sendiri,” ujar Kamil.


”Mana ada begitu, namanya wanita hamil hampir semua begitu. Dia bakal sensitif juga iya, masa istrimu tidak, aneh!”


”Atau jangan-jangan ... ” ucap keduanya hampir bersamaan.


”Ya, pemikiran kita sama. Dia memendamnya sendiri khawatir jika akan merepotkan dirimu secara kau sudah lelah di kantor seharian jadi dia tidak mau membuatmu semakin susah,” tebak Daren.


”Astaga kenapa aku tidak memikirkan sejauh itu,” gumam Kamil.

__ADS_1


"Ingat Kamil kau hebat di bidang akademik bahkan dalam bisnis pun kau bisa mengalahkan yang lain tapi tidak soal wanita, kau payah!” Setelah mengatakan hal itu Daren segera pergi meninggalkan Kamil karena khawatir bosnya tersebut akan kesal dan membalasnya lebih sengit.


Kamil mengusap wajahnya dengan telapak tangannya mengingat bagaimana Medina belakangan ini memang lebih banyak diam daripada hari-hari sebelumnya. Kamil pikir itu memang sudah menjadi sifatnya dan Kamil tidak begitu memperhatikannya karena memang dia sangat sibuk belakangan ini.


”Baiklah Sayang, mari kita pergi jalan-jalan!” lirih Kamil setelah merapikan mejanya melangkah pergi begitu saja tujuannya satu pulang dan memanjakan wanitanya.


***


”Kau itu keterlaluan Lastri!” seru Daffa mengingat kejadian siang tadi bagaimana dia memarahi Malvin membuatnya kembali kesal.


”Apa kau bilang aku keterlaluan? Yang benar saja, apa aku salah memintanya untuk menjaga adiknya meskipun hanya sebentar! Kau yang keterlaluan Mas, dia itu sudah besar masa gak bisa menjaga anak sekecil dia.”


Daffa geleng-geleng kepala mendengar penuturan Lastri. Dari dulu sikap istrinya memang tidak bisa berubah dan tidak akan pernah berubah karena memang sudah menjadi wataknya.


”Kau bisa minta tolong dengan baik, dia itu belum siap menerima semua ini harusnya kita tidak memaksanya mengerti,” ucap Daffa perlahan percuma dia adu urat jika nantinya Lastri akan lebih ngotot untuk mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar.


”Terserah kamu saja Mas, yang jelas dia harus mau menerima kenyataan jika sekarang dia sudah menjadi seorang kakak, jadi papanya bukan hanya untuk dia saja tapi juga untuk anakku!”


Daffa menurut dan mengajak Bu Yanti ke teras dan mengobrol di sana. ”Jangan dilanjutkan, yang ada kamu yang terluka sendiri, jika sampai Lastri pulang dan membawa anakmu pergi bagaimana? Dia masih bayi belum mengerti apapun jangan sampai terjadi lagi perceraian yang kedua kali dalam hidupmu.”


Jika boleh berteriak Daffa yang akan berteriak karena sebenarnya perceraian dengan Medina itulah yang selalu dia sesali, meskipun wanita itu kini mungkin telah bahagia dengan pilihannya sekalipun hatinya tidak benar-benar ikhlas untuk melepaskannya. Rasa cintanya pada wanita itu melebihi apapun.


Di rumah Kamil.


Medina tengah sibuk memasak makanan kesukaan Malvin dia tidak ingin putranya itu merasa terabaikan karena kehamilannya terlebih melihat sikapnya yang berbeda tadi sore membuatnya semakin tidak nyaman karena dia tidak tahu apa penyebabnya.


"Ya ampun kenapa kau masih sibuk memasak Sayang, bukankah Mbok Iyem sudah datang mengantarkan makanan ke rumah?” Kamil mendapati istrinya tengah sibuk memasak dengan segera ikut membantunya.


”Sudah jangan ganggu Bang, lebih baik mandi biar segar udah sore loh!” tegur Medina.

__ADS_1


”Eh, Malvin sudah pulang kan? Kenapa tidak terlihat?”


Medina mendesah pelan, ”Sepertinya terjadi sesuatu padanya, sejak pulang hingga sekarang dia belum keluar untuk menyapaku.”


”Lalu dimana Baron biar aku tanyakan padanya apa yang terjadi?”


”Percuma Bang, aku udah coba tanyain ke Baron tapi dia juga gak mau bicara soalnya dia udah janji sama Malvin untuk tidak menceritakannya pada orang lain.”


”Astaghfirullah bisa-bisanya mereka berdua main rahasiaan segala sama kita," keluh Kamil.


”Aku rasa ini ada hubungannya dengan kepergiannya ke rumah Mas Daffa tadi siang atau jangan-jangan Lastri memarahinya. Ini tebakanku saja sih Bang, karena sejak awal dia tidak menyukai wanita itu.”


”Yang sabar nanti aku akan bantu cari solusi biar dia mau bicara dengan kita, sekarang kita makan dulu yuk sudah lapar nih. Aku panggilkan dia dulu ya.” Kamil segera ke kamar Malvin untuk memanggilnya makan.


Pintu terbuka setelah Kamil mengetuknya dua kali. ”Ayo makan!” ajaknya.


Malvin segera ke meja makan tanpa mengucapkan kata apapun lagi menurut adalah jalan terbaik untuknya saat ini.


”Kau baik-baik saja kan?” selidik Kamil.


”Iya Dad, ada apa?” tanya Malvin masih fokus mengunyah makanannya.


”Apa yang terjadi Nak, ceritakan sama kami!” sambar Medina pada akhirnya karena dia sudah tidak tahan lagi melihat Malvin mendiamkannya.


”Kalian tak perlu khawatir karena ini tidak ada hubungannya dengan kalian, Malvin sedang badmood saja sih.”


Medina menggeleng cepat dia sangat yakin jika Malvin berbohong. ”Ma ... mama percaya kan sama Malvin?”


Medina menggeleng, ”Apa ini ada sangkut pautnya dengan mama tirimu, apa yang telah dia lakukan padamu Malvin katakan?”

__ADS_1



__ADS_2