
”Baiklah Om akan mengatakannya sama kamu, kalau Om itu ...”
Baron khawatir dengan pengakuan kami yang akan membuat Malvin shock, Malvin sendiri harap-harap cemas menunggu Kamil menyelesaikan perkataannya.
”Ya, Om memang menaruh hati pada mamamu. Maafkan jika Om membuatmu tidak nyaman tapi sungguh Om hanya mengikuti kata hati dan Om janji akan membahagiakan mamamu, Malvin menyetujuinya kan?”
Malvin pemuda itu menggeleng kepalanya cepat, ”Om, Malvin gak mau mama menderita lagi terlebih baik mama hidup sepert sekarang jauh dari pasangan dan tidak membuatnya menangis tiap malam. Tolong Om Kamil jauhi mamaku!”
Deg!
Apakah ini penolakan? Kamil merasa tidak percaya dengan perkataan pemuda di depannya ini.
”Om itu bukan papamu pria brengsek yang tidak bisa membahagiakan pasangannya. Apa yang membuatmu ragu apakah karena Om hanya seorang tukang sayur keliling?” cecar Kamil.
”Bukan Om, bukan itu,” jawab Malvin cepat.
”Lalu?”
”Selama ini mama sudah cukup menderita, Om pikir hidup mama mudah selama ini tidak! Dia bahkan menerima begitu banyak hinaan bahkan harus diusir dari keluarganya apakah Om ingin menambah beban hidupnya,” ungkap Malvin.
”Cukup Malvin!” Kamil tidak mau mendengarkan penjelasan dari Malvin karena dia telah mengetahui keadaan Medina dan asal usul wanita itu. Ya, dalam diam Kamil menyelidikinya dengan bantuan dari Raditya.
”Om sudah tahu semuanya tentang kalian berdua?” Malvin terkejut menatap ke arah Kamil penuh tanda tanya, berbeda dengan Baron dia sudah tahu pasti bosnya tidak akan diam saja jika ingin memiliki sesuatu.
”Maksud Om?” tanya Malvin heran darimana pria itu tahu semuanya.
”Bukankah kamu sudah menjelaskan semuanya ada Om tempo hari tentang keadaan kalian (bohong Kamil). Om sudah tahu semuanya sekarang bukan waktunya berdebat tapi kamu juga harus memikirkan kebahagian mama kamu bukan malah membuatnya semakin bersedih.” tukas Kamil.
Malvin semakin tidak mengerti dan Kamil masih dengan sabar memberikan pengertian pada Malvin.
”Mamamu masih muda dan Om yakin mamamu butuh sandaran bahu untuk melepaskan lelah dari beban kehidupannya. Apa kamu sadar selama ini mamamu terus saja berjuang untukmu sen-di-ri-an!” ucap Kamil penuh penekanan.
”Kamu tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan bukan? Apakah kamu mengerti bagaimana dia berjuang keras membesarkan kamu selama ini? Biaya pendidikanmu pun tidak sedikit dan semakin tahun kebutuhan finansialnya semakin besar,” ungkap Kamil.
”Mama tidak pernah mengeluh selama ini karena mama selalu berpegang dia punya Allah untuk bersandar Om, dia sama sekali tidak pernah mengeluh capek sekalipun hanya tangisannya yang Malvin sering dengar setiap malam. Hanya saja setelah papaku menikah lagi, Malvin tak pernah lagi mendengar tangisan itu.”
Kamil ingin merutuki dirinya sendiri kenapa tidak dari dulu saja dia bertemu dengan Medina, tapi dia yakin Allah memiliki rencana lain untuknya dan Kamil akan berusaha untuk menuju mimpinya.
”Status Om apa?” tanya Malvin.
__ADS_1
Kamil menautkan alisnya mendengar pertanyaan Malvin, ”Apa maksudmu dengan menanyakan status segala sama Om.”
”Ya siapa tahu Om itu suami orang, kan posisinya Om disini sebagai pendatang!” seru Malvin tidak kalah sengit dengan Kamil dia tidak mau mamanya kembali tersakiti.
”Astaghfirullah jadi itu yang membuatmu ragu sama Om?” Kamil mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu identitasnya pada Malvin.
”Kamil Mahendra, status belum menikah,” gumam Malvin.
”Kamu percaya kan sekarang?”
Malvin segera menggelengkan kepalanya dan hal itu justru membuat Kamil semakin frustasi bagaimana caranya agar Malvin percaya padanya.
”Lalu apa yang harus Om lakukan agar kau percaya sama Om?”
Malvin hanya mengedikkan bahunya, ”Om itu tampan umurnya sama dengan mamaku. Malvin rasa Om bisa mendapatkan seorang gadis cantik dan di luar sana pasti banyak gadis yang mau sama Om, kenapa harus mama saya?”
”Cinta itu buta!” sahut Kamil.
”It's nonse!” balas Malvin.
”It's real!” balas Kamil cepat.
”Tidak boleh ini belum selesai, sebagai seorang laki-laki masalah itu harus segera diselesaikan bukan dihindari.”
”Apalagi Om? Jawabannya sudah jelas Malvin menolak!”
”Jika mamamu mau sama Om bagaimana?”
”Impossible!”
”Baik kita lihat saja ya, jika mamamu mau menerima Om maka kau harus beri dia ijin untuk menikah lagi.”
”Tidak akan, aku sudah memiliki mama tiri dan tidak akan mau menambah papa tiri lagi, apalagi mama tiriku orangnya menyebalkan.”
”Kita lihat saja!” ucap Kamil.
***
”Bu kenapa kok dari kemarin uring-uringan sendiri?” tanya Daffa begitu sampai di rumah Bu Yanti.
__ADS_1
”Itu kemarin ibu melihat tukang sayur yang datang ke acara pernikahanmu itu,” jawab Bu Yanti.
"Oh pria itu, memangnya ada apa dengan dia?” Daffa semakin penasaran ingin mengetahui apa yang ingin ibunya sampaikan.
”Kemarin siang ibu melihatnya di mall bersama dengan pemilik hotel tempat kamu menikah, tadinya mama pikir itu umpan bagus buat mengancamnya eh malah mama sendiri yang kena jebakan betmen!”
Daffa mengernyitkan alisnya, ”Kenapa bisa demikian Bu?”
”Karena dia tahu jika ibu masih menanggung utang dari resepsi pernikahanmu itu Daffa, mana lastri suruh dia segera melunasinya ibu gak mau kalau sampai Medina dengar dia pasti akan menertawakan ibumu ini Daffa.”
”Ck! Gak mungkin Medina tahu soal ini jika ibu gak bicara padanya,” ujar Daffa.
”Ibu mana mau bicara dengannya tapi tukang sayur itu yang akan memberitahukannya Daffa. Duh punya anak kok bodoh amat, telat mikirnya!”
”Tapi Daffa gak mungkin kasih tahu Lastri dan memintanya untuk segera menutup hutang tersebut Bu,” ucap Daffa.
”Kenapa?”
”Karena kami berdua sedang bertengkar.”
”Apa?” Bu Yanti shock dia kebingungan bagaimana caranya menutup utangnya yang kemarin.
”Kenapa kalian bisa bertengkar hah? Apa benar yang pernah dia ucapkan tempo hari?"
”Iya benar Ma, dia meminta haknya dan Daffa belum bisa memenuhi kewajiban Daffa padanya,” ungkap Daffa.
”Astaghfirullah kenapa bisa demikian Daffa apa kau mau mempermalukan ibumu ini hah! Ibu gak mau tahu kamu harus segera unboxing dia agar tidak ada lagi keraguan dalam hatinya jika kau masih mencintai mantan istrimu itu. Apa kurangnya Lastri sih?”
Daffa terdiam mendengar penuturan Bu Yanti.
”Apa perlu kalian honeymoon ke Bali dan unboxing di sana?” tawar Bu Yanti.
”Dia itu masih perawan Daffa dan kamu itu sudah berstatus duda dengan anak satu seharusnya kau bahagia bisa mendapatkan yang lebih baik dari mantan istrimu itu.”
Daffa menghela nafasnya perlahan bagaimanpun Medina tetaplah yang terbaik karena dia begitu sabar terhadap dirinya tidak seperti Lastri yang mudah marah ketika sesuatu itu tidak sesuai dengan hatinya.
”Apa yang ibu katakan itu semuanya salah, Lastri tetaplah Lastri dia tidak akan pernah bisa menjadi Medina mantan istriku!”
Daffa meninggalkan ibunya yang mematung di tempatnya, ”Apa katanya tadi? Apakah dia sudah tidak waras masih mengharapkan mantan istrinya yang tidak memiliki apapun?”
__ADS_1
Bu Yanti semakin kesal dengan putranya, ”Awas saja kau Medina!” pekik Bu Yanti.