
”Bapak,” lirih Medina. Wanita itu terkejut karena bapaknya berada di rumah ini sedang sarapan bersama dengan Malvin.
”Sejak kapan bapak datang?” tanya Medina sembari salim pada bapaknya dan duduk di sampingnya.
”Bapak di jemput sama orang-orang berbaju hitam kemarin sore, bapak kita mau diculik. Eh, ternyata ada di sini sekarang, di rumah suamimu,” papar Pak Ratno.
Medina mengalihkan pandangannya ke arah Kamil yang hanya bisa tersenyum simpul melihat Medina dan mertuanya sedang bercengkrama melepas rindu.
”Kamu gak sekolah hari ini?” tanya Kamil pada Malvin yang masih asyik menikmati sarapannya.
”Nanti siang rencananya mau ketemu teman Dad, boleh ya?” balas Malvin.
”Ketemu teman?” Malvin mengangguk lalu tersenyum kecil.
”Tak perlu khawatir Dad, temanku baik kok dan lagi dia seorang laki-laki.”
Mendengar penjelasan dari Malvin tentu saja Kamil tergelak, sejak kapan dia melarang putranya itu berteman dengan seorang wanita, Kamil tidak pernah melarangnya hanya saja Kamil ingin Malvin tetap menjaga dirinya dengan baik dan tidak terlibat dalam pergaulan yang tidak benar.
”Pergilah apa perlu Baron mengantarmu?”
”Tidak Dad, aku mau pergi sendirian saja.”
Kamil bangkit menuju laci dan mengambil kunci. ”Pergilah, ingat jangan terlibat apapun di luar.”
Malvin memandang ke arah Medina ragu untuk menerima.
”Apa tidak berlebihan Bang, Malvin kan belum cukup umur?”
”Baron akan mengawasi, kamu tenang saja. Ambil dan pergunakan dengan baik.”
”Makasih Dad.” Malvin senang karena mendapatkan motor baru dari Kamil.
”Bersenang-senanglah tapi kau tetap harus ingat batasannya,” pesan Kamil pada Malvin. Malvin pun segera berpamitan dan pergi bertemu dengan teman-temannya.
”Bang jangan terlalu memanjakannya,” tegur Medina.
”Tidak, aku hanya memberikan haknya saja dan aku rasa tidak berlebihan karena memang aku ada, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Aku ke kantor dulu ya, jika ada sesuatu kau bisa langsung kabari aku, nanti Mbok Iyem pasti ke sini antar makan siang.”
”Baik Bang hati-hati.”
”Pak, saya ke kantor dulu ya. Assalamualaikum.”
__ADS_1
”Waalaikumussalam,” jawab Medina bersamaan dengan Pak Ratno.
”Bapak seperti bermimpi kamu dapat suami kaya sekali, Medina.”
”Pak, jangan terlalu berlebihan begitu. Dia juga manusia biasa, bedanya dia memang berhasil membangun hidupnya sehingga dia bisa seperti sekarang ini.”
”Bapak bisa tenang, Nduk. Kau tahu, suami kamu itu juga membelikan bapak sawah di kampung dengan luas dua hektar dan juga modal untuk mengelolanya. Bapak sungkan padanya, sebenarnya yang dia kasih pada bapak sangat banyak hanya saja bapak menolaknya waktu itu karena khawatir tidak bisa mengelolanya.”
Medina membelalak mendengar pengakuan bapaknya yang sangat mengejutkan baginya. ”Bapak kok baru bilang sekarang?”
”Ya, jika bapak mau bicara bagaimana nomormu saja bapak gak punya dan lagi semua juga diurus oleh kakakmu dan hasilnya ada di rekening bank, kakakmu yang mengurus semuanya.”
Medina pun mengajak bapaknya jalan-jalan keliling rumah, Pak Ratno begitu takjub dengan rumah Kamil yang sangat mewah untuknya. ”Rezekimu, Nak. Kamu mendapat jodoh orang seperti Kamil, bapak harap Kamil orang yang bertanggung jawab baik dunia dan akhirat.”
”Aamiin.”
***
Alea sarapan dengan tidak bernafsu di meja makan ada beberapa makanan yang disiapkan oleh Farhan. Entahlah, suaminya dengan susah payah menyiapkan semuanya. Semua makanan yang disiapkan Farhan sesuai dengan keinginan Alea, pagi buta Farhan ke pasar dan membelikan jajanan pasar dan juga sayur pecel buatan Mbok Iyem.
”Habiskan semuanya, bukankah kau ingin makanan itu tadi. Tolong hargai perjuanganku tadi pagi,” keluh Farhan. Dirinya merasa kesal karena melihat banyaknya makanan yang ada di meja sedangkan Alea hanya mengambilnya beberapa saja.
”Astaga lalu kau pikir apa aku ini? Pagi-pagi aku sudah menggedor rumah mama, pergi ke pasar dalam keadaan masih gelap dan sekarang kau hanya mengambilnya beberapa dan beralasan tidak nafsu! Yang benar saja,” ucap Farhan berdecak kesal.
”Terserah Abang saja, aku mau ke kantor.” Alea bangkit dan mengambil kunci mobilnya namun Farhan menghentikannya.
”Kau tidak boleh mengemudi, biarkan aku yang bawa mobil dan mengantarmu pergi ke kantor.”
Alea hanya diam saja dan tidak lagi membantah apapun yang dikatakan oleh Farhan suaminya. Dia tidak ingin memperdebatkan masalah sepele baginya karena pastinya tidak akan ada ujungnya untuk Farhan yang notabene sangat cerewet.
”Nanti siang aku jemput kau makan siang, jadi tolong jangan pergi sebelum aku di datang!”
”Mm.” Alea langsung masuk tanpa banyak kata, Alea merasakan apapun yang diberikan oleh suaminya rasanya berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Daren terhadapnya kemarin. Daren melayaninya dengan tulus sedangkan Farhan seolah-olah terpaksa karena dirinya merasa bertanggung jawab akan kehamilannya.
”Waktunya kerja bukan melamun!” tegur Daren melihat Alea termenung di mejanya.
”Eh, maaf. Aku sedang tidak fokus saja,” jawab Alea.
Daren mengeluarkan beberapa butir permen pada Alea. ”Makanlah, semoga moodnya menjadi lebih baik.”
”Makasih Bang.”
__ADS_1
”Jika kau merasa tidak fit, lebih baik istirahat di rumah jangan memaksakan diri.” Daren pun pergi meninggalkan Alea.
”Daren!” panggil Alea dan pria itu pun berbalik.
”Apalagi?”
”Makasih untuk semuanya, maafkan aku karena telah merepotkan dirimu selama ini."
”Kau ini bicara apa, sudah sepantasnya kita saling membantu. Apa kau ada masalah?” selidik Daren menatap intens pada Alea, dia sangat yakin jika wanita yang ada di depannya sedang dalam masalah.
”Rania.”
Daren mengernyitkan dahi mendengar nama mantan istri Farhan disebut oleh Alea. ”Kenapa dengannya, apa dia mengganggumu?”
”Kemarin dia datang ke apartemen dan meminta kesempatan untuk kembali memperbaiki hubungan mereka yang dulu. Daren, apa yang harus aku lakukan?” lirih Alea.
Daren menarik nafasnya mencoba mengatur kalimat yang akan keluar dari bibirnya. ”Apa kau mencintai suamimu?”
”Aku tidak tahu,” sahut Alea.
”Lalu bagaimana ke depannya jika kau sendiri tidak mengetahui bagaimana perasaanmu terhadap ayah bayi yang sedang kau kandung itu.”
”Daren, maukah kau membawaku pergi?”
”Eh?” Daren membulatkan matanya mendengar perkataan Alea. ”Apa kau sedang tidak waras? Jangan melakukan hal yang bisa membuatmu merugi.”
”Tapi aku tidak merasa bahagia bersama dengannya,” seru Alea.
”Bertahanlah jika memang kau tidak sanggup maka pergilah.”
Alea meletakkan kepalanya di meja menangis terisak mengeluarkan beban di hatinya, entah kenapa dia justru merasakan sesak ketika mengatakan kejujurannya di depan Daren orang yang beberapa hari yang lalu memberikan perhatian yang tidak diberikan oleh orang lain termasuk suaminya sendiri. Haruskah Alea jujur pada Daren mengatakan semuanya pada pria itu.
Daren menghampiri Alea dan duduk di depannya. ”Menangislah keluarkan semua keluh kesah yang menghimpit dadamu.”
Alea mendongak memegang erat tangan Daren. ”Aku tidak sanggup, tolong bawa aku pergi!” Alea menatap ke arah Daren dengan tatapan memohon.
”Oh, jadi begini kelakuanmu di kantor. Aku menghubungimu beberapa kali tidak ada jawaban, dan kau justru asyik berduaan.”
Daren dan Alea terkejut melihat siapa yang datang.
”Kau ... ”
__ADS_1