
Daffa tidak dapat menyembunyikan rasa sesalnya karena melihat keintiman keluarga baru istrinya itu membuatnya cemburu harusnya dia yang ada di dekat keduanya tapi kenapa harus orang lain dan itu adalah Kamil. Apakah dia harus menjadi kaya lebih dulu agar Medina dan Malvin kembali padanya.
Langkahnya gontai, malas untuk pulang terlebih Lastri di rumah sedang hamil dan selalu saja menuntutnya untuk tampil perfect dengan alasan keinginan sang janin hal itu sungguh membuat Daffa semakin tidak betah berada di rumahnya sendiri.
”Kamu sudah pulang Nak?” sapa Bu Yanti yang tengah duduk di teras rumah.
”Iya Bu, kok sendirian di teras apa Lastri belum pulang?” balas Daffa.
"Tadi pulang tapi hanya makan siang sebentar lalu pergi lagi katanya ada tugas mendadak dari kantor,” jelas Bu Yanti.
”Astaga kenapa dia terlalu mengejar dunia, padahal aku sudah mengikuti kemauannya dengan pergi ke sini mengikutinya tapi justru dia semakin menjauh. Apakah Daffa jadi suami kurang perhatian padanya,” keluh Daffa.
”Jangan begitu Nak, bagaimanapun dia adalah istrimu dan sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Apa hari ini kau ketemu dengan Malvin hari ini?”
Daffa menghela nafasnya hampir tiap hari dia bertemu dengan putranya tapi anak itu seakan menjaga jarak dengannya, apakah itu karena statusnya sebagai guru dan dia tak mau teman-temannya tahu tentang hal itu. Padahal dia sangat berharap bisa kembali dekat dengannya seperti saat dia masih kecil.
”Daffa tiap hari ketemu Bu, tapi ya gak bisa berlama-lama sih,” ucap Daffa dia tak berani jujur dengan keadaannya di sekolah dia khawatir akan menambah beban pikiran ibunya.
”Syukurlah ibu berharap dia bisa datang lagi ke sini, rasanya ibu masih kangen dengannya.”
”Bu, kita tidak bisa lagi berharap banyak karena dia sudah punya keluarga sendiri dan juga keluarga barunya juga sangat sayang dengannya apalagi prestasinya di sekolah sangat menonjol jadi sudah dipastikan jika dia begitu dielu-elukan di sana.”
”Kamu mengenal siapa suaminya Medina itu?” tanya Bu Yanti.
”Dia salah satu donatur terbesar di sekolah tempat Daffa mengajar Bu.”
”Apa?” Bu Yanti terkejut bukan main.
”Dia tukang sayur keliling yang pernah ibu hina di acara pernikahanku dulu.”
”Ha, be-benarkah?” Bu Yanti seakan tak bisa menerima perkataan Daffa bibirnya melongo seketika.
***
”Benar kan Bang?” desak Alea.
Farhan diam sejenak lalu menatap Alea lekat. ”Kamu gak percaya sama Abang huh?”
”Bukan begitu Bang, aku hanya takut kehilangan Abang itu saja.”
__ADS_1
Mendengar pengakuan Alea membuat Farhan menjadi besar kepala lalu menyeringai menatap Alea, ”Kenapa kau takut kehilangan Abang huh? Katakan Alea?” bisik Farhan.
”Karena Abang sudah mengambil milikku yang paling berharga,” lirih Alea.
Mendengar jawaban itu Farhan merasa menang banyak, Alea memang benar dialah yang mengambil miliknya bahkan Farhan tidak akan peduli jika memang suatu saat wanita yang ada di depannya ini pergi karena apa yang dia miliki sudah dia dapatkan dan itu bukan paksaan karena Alea sendiri menikmatinya dan lagi hal itu sah saja karena statusnya mereka menikah.
”Sudahlah, tidak bisakah kita lupakan hal itu tadi kita berangkat sekarang bagaimana?” Alea mengangguk dengan ajakan Farhan meskipun hatinya masih diliputi kekesalan dan tanda tanya besar Alea mencoba menepisnya lebih dulu dia tidak boleh egois bisa jadi Farhan tidak bohong.,
Keduanya pun pergi ke restoran siap saji langganan keluarga mereka tempatnya cukup ramai karena strategis dan juga rasanya yang enak. Bukan Farhan namanya jika dia harus ikut mengantri dengan yang lain. Seorang pegawai mengarahkannya ke sebuah ruangan VIP.
”Adik Anda juga sedang bersama dengan keluarganya di sini,” ucap pegawai tersebut mengatakannya pada Farhan.
”Benarkah?”
Pegawai hanya mengangguk, ”Sepertinya sedang merayakan hari spesial putranya. Dia ada di ruangan sebelah.”
”Terima kasih atas informasinya.” Farhan memberikan tips pada pegawai itu.
Alea mengernyit kenapa suaminya itu mau memberikan dia tips dan lagi dalam jumlah yang besar. ”Bang, kok Abang kasih dia banyak uang.”
”Alea namanya informasi itu tidak gratis apalagi di sini, sudahlah jangan bertanya lagi kamu mau makan apa?”
”Oke.”
Farhan pun memesan makanan yang cukup banyak dia ingin Alea makan banyak dan terlihat sedikit lebih berisi karena tubuhnya yang sekarang terlalu kurus menurut Farhan.
”Ini gak salah Bang?” Alea terkejut melihat banyaknya makanan di meja makan usai dia dari toilet.
”Ya semua spesial buatmu, ayo dimakan!”
Alea tampak lahap menikmati makan siangnya saat ini Farhan hanya berharap istrinya akan melupakan kejadian di kantornya tadi dan tidak akan membahasnya lagi.
Masih di tempat yang sama di ruangan yang berbeda keluarga Kamil pun tampak bahagia terlebih Malvin dia tidak bisa untuk ketidak tersenyum karena candaan dari Kamil.
”Jangan menggodanya kasihan dia Bang,” pinta Medina yang sudah melihat putranya sedang tersipu.
”Tapi memang benar loh, dulu Daddy tidak memikirkan perempuan saat sekolah hingga lulus kuliah.”
”Pantas saja kamu mau sama mamaku, karena tidak punya teman wanita benar kan Dad?”
__ADS_1
Kamil hanya tersenyum kecil mendengar perkataan putranya. ”Itu tidak benar Sayang, justru Daddy banyak yang mengejar saking banyaknya dia bingung mau pilih yang mana jadi mamamu ini yang beruntung mendapatkannya. Benar begitu Sayang?” ucap Medina menimpali.
”Ya ada benar ada juga salahnya,” ucap Kamil tergelak dengan penuturan istrinya itu. ”Belajarlah dengan rajin maka Daddy akan kabulkan permintaanmu jika kau mampu mengalahkan teman-temanmu di sekolah.”
”Really?” Kedua mata Malvin mengerjap.
”Of course, kapan Daddy bohong? apapun itu InsyaAllah Daddy akan menepatinya.”
Malvin menatap ke arah Medina dan wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk membenarkan perkataan Kamil.
”Kita langsung pulang ke rumah ya,” ucap Medina.
”Ma, kita jalan-jalan dulu yuk!” ajak Malvin.
”Tapi mama lelah Sayang,” balas Medina.
”Apa kau sakit?” Kamil menyentuh kening Medina.
”Tidak hanya kelelahan saja.”
”Hm, bukankah tempo hari aku memintamu untuk periksa ke Dokter, apa kau belum pergi ke sana?” tanya Kamil.
”Aku belum sempat lagipula tempo hari aku minum pereda nyeri langsung sembuh aku pikir ini pun sama,” jelas Medina.
”Kita pulang saja, biar aku panggil Dokter datang ke rumah. Ayo Malvin kita jalan-jalannya kapan-kapan saja ya.”
Malvin menuntun Medina sedangkan Kamil menuju ke kasir membayar tagihan makan siangnya. ”Ayo kita pulang!”
”Kamil, sedang apa kalian di sini?” tanya Alea.
”Ini kan restoran tentu saja habis makan dong!” balas Malvin membuat Alea tidak senang.
”Kalian juga di sini rupanya, kalau tahu begitu tadi kita bisa satu meja, iya kan Sayang?” ucap Kamil mengusap lengan istrinya.
”Iya itu benar,” sahut Medina asal tubuhnya sudah tidak dapat dikompromi lagi mendadak pandangannya gelap dan bruk!
Medina pingsan seketika membuat panik Kamil dan juga Malvin.
”Ma, bangun Ma,” panggil Malvin.
__ADS_1
Dengan cepat Kamil menggendong Medina membawanya ke rumah sakit terdekat.