Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Ingin Kedamaian


__ADS_3

Niat hati ingin memanjakan istrinya Kamil justru harus mengurus Malvin yang sedang dalam keadaan badmood karena termakan perkataan Lastri. Semua rencana yang telah disusunnya sejak dalam perjalanan pulang dari kantor pun ambyar seketika.


”Sayang, kau tidak menginginkan sesuatu?” tanya Kamil begitu sampai di kamar.


”Ada apa sih Bang, sejak tadi di dapur hingga sekarang hanya nanyain hal seperti itu,” sahut Medina.


”Biasanya kan orang hamil itu suka kepengen sesuatu gitu, kamu kok gak gitu?” Kamil yang merendahkan tubuhnya mendongakkan kepalanya ke atas menatap Medina.


”Kalau aku minta apa akan dituruti?”


”Memangnya kau mau minta apa?”


”Banyak.”


”Sebutkan!”


Medina menggeleng singkat bagaimana mungkin dia akan memberitahukan suaminya tentang keinginannya dan dia yakin itu takkan pernah bisa karena memang dia melihat keadaan Kamil yang sibuk. Tak mungkin untuk pergi, apalagi sampai keluar kota.


”Katakan!” desak Kamil.


”Aku mau pulang.”


”Pulang?” ulang Kamil.


”Iya, sejak bapak dioperasi hingga sekarang aku belum ketemu ditelepon pun jarang diangkat atau mungkin beliau sibuk urus sawah di kampung.”


”Hem ... hanya itu?”


”Iya, untuk saat ini.”


Kamil mengerutkan keningnya mendengar perkataan Medina, ”Jadi akan ada lagi dan lagi permintaan lain?”


Medina tersenyum, ”Iya, salah sendiri siapa tadi yang nanyain itu abang duluan kan?”


Kamil tersenyum kecil mengusap pipi Medina, ”Kalau hanya ingin bertemu dengan beliau mudah kok, biar aku minta staf kantor buat menjemputnya besok pagi.”


Medina membulatkan matanya mendengar perkataan Kamil semudah itukah bagi suaminya mendatangkan bapaknya yang sedang berada di kampung.


”Mau sekarang atau besok?”

__ADS_1


”Eh? Apanya Bang?”


”Memanggil bapak ke sini, nanti ajak beliau jalan-jalan di sini sama Malvin beliau pasti senang bertemu dengan putrinya yang cantik ini.”


”Jadi Bang Kamil mau menikahi diriku karena aku cantik?”


”Lebih dari itu tentunya,” ucap Kamil mantab.


Kamil menggulir ponselnya dan mengetik sesuatu di sana, setelahnya dia letakkan kembali di atas nakas. ”Istirahat yuk, besok aku harus kerja.”


Keduanya pun terlelap bersama dalam mimpi.


Pagi-pagi buta terjadi keributan di bawah , seorang pria paruh baya kebingungan darimana tadi dia keluar kamar, banyak pintu yang dia lewati dan dia ragu pintu mana yang harus dia buka dan karena lelah dia memilih untuk duduk di dapur.


"Kakek?” pekik Malvin terkejut melihat sosok Ratno ada di dapur sedang memegang gelas kosong.


”Malvin, kau lah itu?” Ratno bangun dari duduknya memeluk cucunya.


”Sejak kapan kakek datang, kenapa Malvin tidak tahu?”


Ratno tampak berpikir sejenak, ”Jam dua dinihari tadi diantar oleh orang-orang berbaju hitam naik pesawat.”


”Hem, pasti ini kerjaannya Daddy,” ucap Malvin.


Malvin menggeleng cepat, ”Dia suami mama yang baru, Kek. Kakek ingat pria yang waktu itu menikahi mama di rumah sakit? Dialah Daddy, pemilik rumah ini Kek,” ucap Malvin.


”Ya Allah, kenapa dipanggil Daddy, bukankah papa, ayah atau bapak itu lebih terdengar sopan. Dia Kamil itu kan? pria tampan yang menikahi mamamu di rumah sakit.”


Malvin kembali terkekeh, ”Panggilan Daddy itu panggilan keren, Kek.”


”Ya sudah Malvin panggilkan mama sama daddy dulu ya, Kek. Mereka belum tahu jika kakek sudah datang.” Malvin kembali ke atas membangunkan kedua orang tuanya membiarkan Pak Ratno bersantai sejenak di dapur.


***


”Alea kau harus pulang, aku tidak enak jika kau terus di sini.”


”Kau mengusirku?”


”Aku tidak bermaksud mengusir dirimu tapi aku tidak enak dengan Kamil, dia justru mencurigai diriku dan aku tidak mau persahabatanku dengannya hancur hanya karena sesuatu yang tidak penting.”

__ADS_1


Alea tidak percaya dengan perkataan Daren yang secara terang-terangan mengusirnya dari apartemennya. ”Ada masalah apa kau dengan Kamil?”


”Dia mencurigai aku menyukaimu.”


Alea tersentak mendengar pengakuan Daren yang terdengar begitu jelas di telinganya, ”Lalu apa jawabanmu? Kau jawab iya kan?” desak Alea dia ingin ada seseorang lelaki yang mengatakan jika pria itu suka dengannya. Apakah dia terlalu berharap akan hal itu, apakah dia salah?


Cintanya dengan Kamil harus dia kubur dalam-dalam karena tak mungkin untuknya meraih hati pria itu sedangkan Kamil sendiri telah memilih hati yang lain untuk dia jaga. Berharap pada Farhan yang dia kira bisa dia jadikan pegangan dan setelah apa yang dia berikan pria itu justru menghianati cintanya itu. Apakah dia harus percaya pada sebuah kata cinta karena kenyataannya dia sendiri yang selalu terluka karenanya.


”Suamimu mencarimu di kantor kemarin pagi. Aku tidak mengusirmu jangan berpikir aku akan berbuat seperti itu. Tidak, aku tidak mau terjadi kesalahpahaman antara kami bertiga, kau tahu sendiri kan bagaimana Kamil dan Farhan jika mereka sudah bertengkar. Aku menjaga perasaan mereka berdua jangan sampai mereka jadi bersitegang karena kita.”


Alea lemas seketika mengingat nama mereka berdua disebut oleh Daren. ”Aku harus pulang kemana?”


”Aku akan mengantarmu hingga ke apartemennya Farhan, ingat Alea kau harus kuat karena kau memiliki harapan di dalam rahimmu. Jangan pernah kecewakan dia yang di dalam sana.”


Alea tidak dapat berkata apapun lagi karena apa yang dikatakan oleh Daren memang benar. Begitu pun dengan Daren meskipun dia menyukai Alea sekalipun dia tidak boleh egois karena wanita itu sedang mengandung benih orang lain.


”Ayo kita berangkat sekarang aku akan mengantarmu.”


Dengan langkah berat Alea segera merapikan dirinya dan mengikuti langkah Daren dari belakang, rasanya enggan untuk pulang tapi dia pun tak ingin mereka bertengkar hanya karena dirinya.


Daren pria itu mengantar Alea hingga di depan gedung apartemen Farhan. ”Masuklah, jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu kau bisa berbagi denganku ingat apapun masalahnya hadapi bukan menghindarinya, mengerti!”


Alea hanya diam dan masuk ke gedung dimana suaminya tinggal, menasehati orang lain memang mudah tapi apakah mereka tahu apa yang dia rasakan saat ini. Alea berusaha untuk kuat dan mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakit hatinya pada orang lain.


Alea melangkah gontai begitu keluar dari lift menuju ke pintu apartemen dengan pelan dia menekan kode pintu dan masuk dengan tenang.


”Aku sudah punya istri dan aku tidak akan pernah kembali padamu Rania,” teriak Farhan.


”Aku masih mencintaimu, Han. Tolong beri aku kesempatan kedua,” lirih Rania terisak. ”Aku menyesal dan ingin memperbaiki semuanya.”


”Aku tidak bisa,” sahut Farhan tegas.


”Aku mau menjadi yang kedua dan aku rela jika aku menjadi madunya.”


”Sayangnya aku tidak mau Mbak,” ucap Alea menimpali perkataan Rania.


Kedua manusia yang sedang bersitegang itupun menolah ke bersamaan.


”Alea,” lirih Farhan dengan senyum bahagia menghampiri istrinya. ”Kamu kemana saja Sayang?”

__ADS_1


”Jangan mendekat!” Farhan menghentikan langkahnya. ”Siapa yang akan kau pilih Bang, aku atau dia?”


Farhan menegang seketika.


__ADS_2