
Kamil tidak dapat menyembunyikan tawanya setelah mendengar penjelasan dari Alika jika dia baru saja bertemu dengan simpanan papanya, gadis uang masih belia dan bisa dikatakan jika gadis itu lebih pantas jika dijadikan sebagai adiknya Kamil.
”Kenapa mama melakukan hal itu hem, mama bisa kok melakukan sesuatu tanpa harus mengotori tangan mama ini.”
Alika pun tersenyum kecil dirinya pun tidak sadar jika akan melakukan hal itu pada gadis simpanan suaminya tapi sungguh dia merasa puas karena dapat membalikkan keadaan. ”Sudahlah yang penting papamu sudah mendapatkan hukumannya sekarang mama akan mengenalkan seseorang padamu.”
Kamil menghentikan senyumnya manakala melihat sosok yang dikenalnya berada di depan saat ini. ”Kenapa dia ada di sini Ma? Jangan bilang kau akan menikah dengannya!”
Ya sosok yang ada di hadapan Kamil adalah papanya Raditya sahabatnya di Semarang lalu bagaimana mereka saling kenal.
”Kau tidak mau menyapaku, hai anak kecil!” sapa Bobby kemudian.
”Astaga kenapa dunia ini semakin sempit,” gerutu Kamil.
Pria yang ada di depannya ini berstatus seorang duda mati karena istrinya meninggal saat kecelakaan lima tahun yang lalu dan hingga sekarang dia masih betah melajang apakah dia akan. berjodoh dengan mamanya, astaga apakah itu artinya dia dan Raditya akan menjadi saudara?
”Bagaimana kabarnya Om?” tanya Kamil berbasa-basi pada Bobby.
”Alhamdulillah, Om baik kamu tidak datang lagi ke Semarang? Radit sudah banyak cerita padaku soal kamu jujur Om bangga dengan tindakanmu itu, tidak seperti Radit yang selalu takut menghadapi hubungan dengan lawan jenisnya.”
”Jangan begitu Om karena bagaimanapun Raditya sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga terlebih Om Bobby sendiri benar kan?” seru Kamil.
”Ya, dia memang putra yang terbaik. Btw, maaf jika Om datang kemari tanpa seijin darimu karena ini semua atas kemauan mamamu beliau ingin tahu perkembangan proyek di Bali dan Om sendiri yang menyelidikinya jadi tolong jangan salah paham mengerti.”
”Oh begitukah, aku kira kalian ada affair di belakang kami anak-anaknya,” ucap Kamil.
Bobby tergelak dengan pengakuan Kamil sahabat putranya itu memang paling peka membaca situasi. ”Jika memang Om dikasih kesempatan maka Om tidak akan menolaknya.”
”Ya semua pria pada dasarnya sama, sama-sama buaya!” keduanya pun tergelak bersama membuat Medina ikut mengalihkan perhatiannya karena mendengar Kamil tertawa lepas.
”Apa semua sudah selesai?” tanya Alika pada medina yang fokusnya terbagi antara masakan dan candaan dua pria di ruang tengah.
”Sudah Ma, tinggal menunggu Bang Farhan dan Mbak Alea saja.”
Alika mengangguk, ”Malvin gak mau diajak ke sini?”
medina menggelengkan kepalanya, ”Dia sedang tes Ma, jadi gak mau diganggu gugat hingga akhir.”
__ADS_1
”MasyaAllah anak baik, mama suka dengan karakternya yang tidak mau diganggu itu menandakan dia pekerja keras pantang menyerah,” puji Alika.
Makan malam pun dimulai Farhan dan Alea datang terlambat karena wanita itu baru saja dari salon dan hal itu seakan membuatnya menjadi salah kostum karena faktanya malam ini hanyalah makan malam biasa dan Medina pun tidak berlebihan dalam berhias diri tentu saja Alea merasa malu dan salah tempat dengan pakaiannya yang sedikit wow.
”Kalian jadi pergi ke Spanyol?” tanya Alika pada Farhan lelaki yang tengah mengunyah makanan pun segera menatap ke arah Alika.
”Mama tahu dari mana soal itu, bahkan aku sama sekali tidak memberitahukan pada mama soal ini,” jawab Farhan.
”Siapa lagi kalau bukan sekretaris kamu yang bernama Laras itu, Alea kamu hati-hati dengannya sebagai wanita kamu harus pandai menjaga suamimu, dan mama berucap ini bukan hanya untuk Alea saja tapi juga kamu Medina,” ucap Alika pada Alea dia tidak mau menantunya bernasib sama dengannya.
”Eh?” Medina menoleh ke arah Kamil pria itu hanya nyengir.
”Tentu saja Ma,” balas Alea merasa mendapatkan angin segar karena mendapat dukungan dari mertuanya.
Kamil hanya diam memperhatikan kedua pasangan yang ada di depannya jika papanya masih satu meja dengan mereka pasti suasananya akan berasa lain karena biasanya perdebatan tidak bisa dicegah meski saat berada di meja makan sekalipun.
”Siapa yang memasak ini, masakannya enak sekali bumbunya sangat terasa sekali,” puji Bobby.
”Ini masakannya menantuku, Medina,” ucap Alika bangga.
”Jangan berlebihan, saya hanya menggunakan resep seperti biasa tidak ditambah apapun dalam memasak,” balas Medina dia tidak mau Alea kembali kesal padanya karena cemburu dengan perlakuan Alika padanya.
”Jangan berlebihan Om, makanan begini banyak kok di restoran menengah ke bawah,” sela Farhan.
”Benarkah? Tapi Om belum pernah menemukannya,” sahut Bobby.
”Meskipun terlihat biasa tapi rasanya luar biasa, menurut mama ini sudah sekelas restoran bintang lima,” jawab Alika lalu melanjutkan makannya karena memang belum selesai. Medina undur diri karena harus membereskan dapur dibantu oleh beberapa pelayang yang ada di rumah tersebut. Mereka sangat menyukai Medina karena pembawaannya yang ramah dan sopan berbeda dengan Alea yang jarang menyapa pada pembantu di rumah ini.
”Sayang, ayo kita pulang!” Kamil menghampiri Medina yang sedang mengobrol di dapur.
”Baiklah, semuanya saya pamit ya. Assalamualaikum.”
”Waalaikumussalam,” jawab serentak ketiga pembantu rumah tangga di rumah Alika.
”Kita langsung pulang?” tanya Kamil melirik Medina yang sepertinya sudah kelelahan.
”Iya Bang, memangnya Bang Kamil mau kemana? Udah malam loh.” Medina sesekali menguap membuat Kamil terkekeh.
__ADS_1
”Ya jalan-jalan dulu, baru juga jam sepuluh.”
”Tapi aku ngantuk banget Bang, besok lagi ya.” Tidak berapa lama Medina terlelap di mobil.
***
”Aku ingin bicara padamu.” Kamil memutar bola matanya malas mendengar Alea mengajaknya bicara.
”Apalagi Alea bukankah aku sudah memberitahukan dirimu jika ... ”
”Aku tidak akan membahas masalah itu lagi,” potong Alea.
”Lalu?” Kamil menaikkan sudut alisnya.
”Ini soal putra tirimu.”
Kamil pun berbalik begitu Alea membahas soal Malvin tahu apa dia tentang putranya itu.
”Kemarin siang aku bertemu dengannya di mall dan kau tahu dengan siapa dia jalan kemarin?”
”Siapa?”
”Daffa, papa kandungnya.”
”Lalu apa masalahnya, mereka ayah dan anak biarkan saja aku juga tidak bisa memisahkan mereka meskipun aku bisa mendapatkan mamanya,” balas Kamil sengit.
”Astaga Kamil kamu itu bodoh atau terlalu polos,” geram Alea.
”Apa maksudmu aku sama sekali tidak paham dengan arah pembicaraanmu ini.” Kamil mulai kesal kenapa Alea selalu saja ikut campur masalah orang lain.
”Kamu tidak khawatir jika hartamu dikeruk olehnya lewat Malvin putra tirimu itu?” ucap Alea berapi-api membuat Kamil mundur beberapa langkah dari tempat semula.
Kamil mengedikkan bahunya, ”Untuk apa aku khawatir setiap manusia sudah ada jatah rezeki masing-masing kenapa mesti khawatir. Bisa jadi malah dia yang nantinya akan menyumbang dana terbesar di perusahaan ku setelah dia menyelesaikan pendidikannya.”
”Astaga Kamil kamu benar-benar, Ish!” Alea menghentakkan kakinya menahan kesal niat hati ingin memberitahu namun justru dia yang kalah telak oleh ucapan Kamil.
” Sebenarnya apa maksudnya itu,” gumam Kamil tak mengerti dengan perkataan Alea.
__ADS_1