
”Ini rumahnya Bang Kamil?” tanya Medina.
”Iya, kalian tinggallah di sini di depan ada ruko itu bisa untuk berjualan tapi jika merasa kurang luas tatanannya bisa di rubah lagi,” jelas Kamil.
Medina terdiam dan menjadi curiga kenapa Kamil yang punya rumah luas dan memiliki ruko tapi masih mau bersusah payah berjualan sayur keliling komplek.
”Kenapa diam saja?”
”Ini beneran Om?” Malvin pun merasakan hal yang sama dengan Medina dia tidak percaya jika tukang sayur memiliki rumah seluas ini.
”Tentu saja, oh iya mungkin aku gak akan ketemu kalian tiap hari nantinya karena aku harus mengurus pekerjaanku. Untuk sekolah Malvin sudah aku daftarkan di sekolah terdekat dan akses menuju ke sana mudah diingat jadi tidak perlu khawatir akan tersesat di jalan.”
"Makasih Om, kayaknya Malvin akan mempertimbangkan posisi Om nantinya.”
Kamil mengernyitkan alisnya, ”Benarkah? Terima kasih kalau begitu.”
”Apa yang kalian bicarakan?” tanya Medina dirinya semakin tidak mengerti dengan pembicaraan dua orang laki-laki di depannya ini.
”Tidak ada apa-apa jangan khawatir,” sahut Kamil mengerlingkan matanya sebelah membuat Medina yang melihatnya sekilas semakin curiga.
”Astaga,” pekik Medina.
”Aku tidak menggoda dirimu tapi aku sedang menggoda Malvin putramu jadi jangan salah sangka,” ucap Kamil. ”Dasar tidak peka, huh!”
”Sudahlah kalian membuat kepalaku pusing,” ucap Medina berlalu meninggalkan keduanya menuju kamar yang akan dia tempati.
Kamil dan Malvin pun tertawa bersama.
”Kamu yakin?”
”Apanya Om?”
”Huh! lupakan saja, omonganmu memang gak bisa dipercaya. Om balik dulu ya, kalau ada waktu Om pasti akan mampir ke sini, ini kunci ruko depan nomor lima paling kanan.”
”Makasih Om.”
Kamil pulang ke rumah Hamid orang tuanya dia ingin menemui mamanya Alika, sudah dua hari ini dia di Jakarta tapi belum sempat menemui wanita yang telah melahirkannya itu dirinya sibuk mengurus kepindahan Medina dan Malvin orang yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya.
”Assalamu'alaikum Ma,” sapa Kamil.
Alika yang sedang menyiram tanamannya pun terkejut dia tidak mengira jika putranya akan datang hari ini menemuinya.
”Waalaikumussalam kau datang, kenapa tidak memberitahukan mama jika kau akan datang hari ini, bagaimana perjalananmu di luar kota?”
__ADS_1
”Maafkan Kamil Ma, Kamil memang sengaja memberi kejutan untuk mama,” balas Kamil.
”Mana oleh-olehnya untuk mama?” tanya Alika.
”Kamil sengaja tidak membawanya karena Kamil khawatir mama jadi tahu dimana Kamil selama ini.”
Alika mengernyitkan dahinya dan menjewer telinga Kamil. ”Dasar nakal!"
”Ampun Ma, sakit loh!” rengek Kamil.
”Buruan cuci tangannya dan pergi ke meja makan mama akan siapkan makanan kesukaanmu.”
Kedekatan ibu dan anak dapat dirasakan oleh keduanya tapi tidak dengan Farhan karena dia lebih dekat dengan papanya Hamid. Sebaliknya Kamil tidak pernah merasakan kedekatannya dengan Hamid yang terjadi keduanya kerap sekali bertengkar.
”Apa Bang Farhan sering pulang ke sini?”
”Tidak, dia tinggal di apartemen dengan istrinya. Kamu kapan akan mengenalkan calonmu pada mama,” ucap Alika.
"Eh?”
"Jangan pura-pura amnesia Kamil, mama masih ingat jika kamu pulang ke Jakarta berarti kamu telah menemukan tambatan hatimu dan gak akan pergi lagi, begitu kan?"
”Jadi mama menagih nih ceritanya, baik Kamil akan kenalkan padanya tapi nanti ya Ma, menunggu kepastian darinya lebih dulu,” ucap Malik.
"Kamil yakin Ma, sangat yakin hanya saja dia belum kasih lampu hijau pada Kamil Ma, jadi sekarang Kamil masih menunggu di tempat.”
”Astaghfirullah kayak lampu lalu lintas saja, kamu ini jangan bercanda Kamil!”
”Tidak Ma, Kamil mana pernah bercanda untuk sekarang kami sedang melakukan penjajakan lebih dulu, mengenal satu sama lain itu yang sedang Kamil lakukan.”
”Baiklah semoga bisa secepatnya ya, mama sudah tidak sabar ingin berkenalan dengannya.”
”Rupanya brandal ini sudah pulang ke rumah.”
Kamil menoleh mendengar suara papanya, ”Ya dan brandal ini sedang menjenguk mamanya tercinta, papa baru pulang?”
”Iya, kebetulan sekali kau datang ada yang ingin papa sampaikan padamu,” ucap Hamid.
Kamil menantikan kelanjutan perkataan papanya dengan baik. ”Papa ingin menjodohkan kamu dengan salah satu relasi papa yang baru pulang dari London.”
”Kamil menolaknya Pa, maaf karena Kamil sudah memiliki calon sendiri dan di antara yang ada dialah yang terbaik untuk Kamil.”
”Kamu yakin? Bukankah kamu menyukai gadis yang cantik dan sexy? Papa tidak akan melupakan semua tentangmu papa tahu bagaimana seleramu, jadi papa rasa tidak ada salahnya jika kau mencobanya lebih dulu,” ucap Hamid.
__ADS_1
”Maksud papa dengan mencobanya apa ya, Kamil tidak faham?”
”Jangan pura-pura polos Kamil, papa tahu kebiasaan kamu di luar sana kamu suka booking perempuan kan di klub malam?”
Kamil menahan emosinya dia tidak ingin bertengkar di depan Alika tapi pernyataan Hamid membuatnya merasa terhina.
”Papa salah jika menilai Kamil begitu, bahkan Kamil sama sekali tidak pernah bermain-main dengan wanita manapun dan Kamil masih menjaga apa yang Kamil miliki buat istri Kamil nantinya.”
”Ck! Papa tidak percaya dengan apa yang kau ucapkan itu,” sanggah Hamid.
"Terserah papa saja yang penting aku sudah berusaha jujur, tapi apa papa pernah bicara seperti itu juga pada Bang Farhan? Dia lebih sering keluar masuk klub, apakah papa yakin dia masih sehat?”
”Kau ... ”
”Cukup! Kenapa kalian malah bertengkar!” teriak Alika.
”Kamu tidak suka dengan kepulangan Kamil kan? Lebih baik kamu introspeksi diri kenapa dia tidak nyaman bersama denganmu, jangan menyalahkan secara sepihak, Kamil itu darah dagingmu anakmu sendiri.”
”Sudah Ma, biarkan saja papa bicara sesukanya karena dari dulu dia memang begitu dan aku tidak pernah menganggapnya serius.”
Kamil bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Alika untuk pulang ke apartemennya sendiri beristirahat di sana jauh lebih menenangkan daripada berada di rumah orang tuanya yang penuh dengan peraturan-peraturan yang membuatnya sesak nafas.
”Anak itu dibiarkan semakin kurang ajar dan kenapa pula dia memakai mobil butut begitu bukankah dia memiliki beberapa mobil keluaran terbaru,” ucap Hamid mulai curiga.
”Setiap sesuatu itu pasti ada alasannya, aku yakin dia pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia melakukan hal itu,” ucap Alika.
”Terus saja kau bela anak kesayanganmu itu,” ucap Hamid pergi meninggalkan Alika.
Kamil melajukan mobilnya menuju supermarket dia ingin membeli beberapa camilan, pria itu lebih sering makan camilan daripada menu makanan pokok sehari tiga kali. Begitu masuk dia sudah dikejutkan oleh Alea.
”Hai, kemana saja kau selama ini?” sapa Alea menepuk bahu kanan Kamil membuatnya terkejut rasanya Kamil ingin marah karena perlakuan gadis itu, jika saja dia bukan kakak iparnya sekarang mungkin Kamil akan memarahinya.
”Kebiasaanmu tidak berubah, kau mengejutkanku jika aku memiliki penyakit jantung dan mati mendadak bagaimana?”
Alea tersenyum senang dengan perkataan Kamil karena dia pikir Kamil menanggapinya dengan baik.
”Kenapa kamu tidak memberiku kabar selama ini?”
”Apa itu perlu buatmu, bukankah kau sudah menjadi istri orang.”
”Tapi aku masih mencintaimu Kamil, kau tidak pernah mau melihat cintaku,” lirih Alea.
"Lupakan itu karena aku akan segera menikah.”
__ADS_1
”Apa?”