Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Memberi Kesempatan


__ADS_3

Kamil bergerak cepat keluar dari rumahnya begitu mendengar Daren sedang ada di depan rumahnya.


”Aish, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kamil dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


”Alea dia mengajukan resign dan pergi keluar negeri!” ucap Daren.


”Kau yakin? Sekarang dimana dia?” tanya Kamil menatap Daren yang terlihat lesu.


”Bandara.”


”Kita susul!”


Kamil segera naik ke mobil Daren dan pergi menuju bandara mengejar Alea berharap wanita itu belum pergi meninggalkan negara ini.


”Ish, kenapa harus macet segala!” keluh Kamil yang melihat kemacetan panjang yang sedang terjadi. ”Kau naik gojek saja sana, kejar Alea jangan sampai dia pergi. Aku tahu kau menyukainya kan? Perjuangkan cintamu!”


Daren menatap ke arah Kamil yang sedang kesal. ”Cepat pergi bodoh! Jangan buang-buang waktu.”


Daren segera keluar dari mobil dan mencari ojek yang ada di sekitar tempat dia berdiri. Tepat di sebelahnya justru ada pengendara bermotor yang sedang kebingungan mencari jalan.


”Bang antar ke bandara sekarang!” ucap Daren.


”Maaf saya bukan tukang ojek, saya juga sedang berburu waktu,” jawabnya.


Daren mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang merah sepuluh lembar. ”Apa ini cukup?”


Melihat tumpukan uang tersebut orang itupun segera mengangguk dan membiarkan Daren duduk di belakangnya. Dengan cepat orang itu mencari celah agar bisa keluar dari kemacetan. Kamil hanya dapat tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu.


Dirinya sendiri hanya bisa berdiam diri di tempat itu menunggu sampai jalan kembali normal. ”Di depan ada apa Bang, kok macet hingga sepanjang ini?” Kamil berusaha mencari informasi.


”Kecelakaan, itu sedang mengevakuasi korban,” jawab pengemudi yang lain. Kamil hanya mengangguk saja mengiyakan semuanya.


Di rumah sakit.


”Apa kau istrinya Farhan?” tanya Rania ragu karena yang dia ketahui istri mantan suaminya cukup cantik dan terpelajar sedangkan wanita yang ada di sampingnya terlihat biasa saja.


”Bukan, saya hanya sekretarisnya saja, nama saya Laras,” jawab Laras mengulurkan tangannya namun Rania seakan tidak melihatnya.


”Oh, aku kira kau adalah istrinya jadi kau hanya selingkuhannya saja.”


”Apa maksud Anda bicara begitu?”


”Kau pikir kenapa aku bisa bercerai dengannya? Itu karena dia terlalu banyak memiliki wanita di sekelilingnya dan itu membuatku tidak betah!”


”Aku menikah dengannya hampir delapan tahun tepatnya setelah kita di wisuda dan baru berpisah setahun yang lalu, kau pikirkan saja bagaimana aku mengenalnya luar dalam.”


Laras terdiam mendengar penjelasan dari Rania. ”Jadi Anda pikir jika selama ini dirinya hanya memanfaatkan diriku?”


Rania mengedikkan bahunya, ”Kau pikir saja sendiri!” Dengan santai Rania pergi meninggalkan Laras yang masih mematung di tempatnya. Rania melangkah masuk ke ruangan Farhan mantan suaminya itu.


”Aku pergi Bang, semoga cepat sembuh ya. Sampai jumpa!” ucap Rania berpamitan pada mantannya itu.

__ADS_1


”Tunggu!” seru Farhan.


Rania berbalik dan menatap ke arah Farhan. ”Ada apa?”


”Jangan mengatakan apapun pada Laras!”


Rania berjalan menghampiri Farhan yang masih terbaring lemah. ”Apa peduliku! Aku telah mengatakan semuanya pada wanita itu jadi jangan harap dia akan bertahan lama denganmu,” bisik Rania segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


”Shit! Kenapa dia harus datang ke sini siapa yang telah memberitahukannya,” kesal Farhan.


”Bahkan dalam keadaan sakit pun kau masih bisa marah-marah, Papa yang telah memberitahukannya tadi dan dia sedang free jadi langsung ke sini.” Hamid menghampiri Farhan. ”Apa masih sakit?”


”Sedikit.”


”Ketahuilah saat ini Alea sedang berada di bandara, dia berniat untuk pergi keluar negeri jika itu benar-benar terjadi maka tamatlah riwayatmu Farhan.”


”Maksud papa dia ... ?”


”Pulang pada orang tuanya dan bisa dipastikan kau akan kembali bercerai.”


”Tidak, aku tidak mau Pa,” kilah Farhan.


”Kau mau mengeluh pun percuma karena takkan ada yang mendengarnya lagi, Alea pasti sudah terlanjur kecewa denganmu.”


”Pa, tolong cegah dia untuk tidak pergi dari sini,” pinta Farhan.


”Tidak bisa karena di sana sudah ada Daren, pria itu yang selalu pasang badan untuknya papa yakin dialah yang akan menggantikan posisimu di hati Alea.”


”Sebaiknya mulai sekarang fokuslah pada dirimu sendiri jangan lagi bermain-main dengan wanita bisa jadi mereka hanya akan membuat kehancuran untukmu.”


”Pa, apa maksudmu?”


”Kau bodoh, dua kali kau menyia-nyiakan wanita yang seharusnya kau muliakan!” Kesal itulah yang dirasakan oleh Hamid dirinya memilih pergi dari ruangan tersebut.


”Ya Tuhan bagaimana ini?” gumam Farhan.


***


”Sayang aku pulang!” teriak Kamil datang bersama Daren dan Alea.


”Kalian?” Medina menatap heran pada Daren dan Alea yang tampak sangat mesra bahkan keduanya berpegangan satu sama lain.


”Aku sedang mencoba memberi kesempatan pada hatiku untuk berdamai dengan kenyataan dan tolong doakan semoga semua berjalan seperti yang aku harapkan,” ucap Alea.


Medina menghampiri Alea dan memeluknya. ”Yang sabar ya, segala sesuatu itu pastinya sudah atas kehendak-Nya sebagai orang yang sabar kita hanya bisa berpasrah diri setelah usaha dan doa kita lakukan.”


"Makasih.”


”Kita makan dulu yuk! Mbok Iyem udah kirim lauk banyak sekali gak ada orang yang makan karena malvin sedang keluar kota bersama dengan teman-temannya,” ucap Medina.


”Dia jadi pergi?” tanya Kamil mencomot perkedel kentang yang tersaji di meja.

__ADS_1


”Cuci tangan dulu! Iya satu jam yang lalu dia pergi bersama dengan Baron,” jawab Medina.


”Ya ampun mereka gak berpamitan padaku,” keluh Kamil.


”Sudah hanya saja ponselmu gak bisa dihubungi Bang,” sahut Medina memberikan sepiring nasi dan lauk pada Kamil. ”Loh kenapa kalian berdua hanya diam saja? Ayo makan!” titah Medina.


”Ayo makan! Daren ambilkan Alea makanannya, dia sangat suka ini.” Kamil menunjuk ayam goreng yang sudah dibumbui pedas manis.


”Astaga kau masih saja mengingatnya bahkan aku sudah melupakan semuanya,” ujar Alea.


Kamil menggeleng pelan, bagaimana dia bisa lupa sedangkan Alea selalu saja merengek padanya jika sedang lapar.


Medina sendiri tampak asyik meladeni Kamil meskipun dirinya diharuskan beristirahat total dirinya tidak ingin membatasi gerak dan melewatkan hal yang penting dalam hidupnya.


”Tambah lagi?”


”Tidak sudah cukup.”


Lagi Daren dan Alea saling pandang dengan keakraban uang diciptakan oleh keduanya di depan mereka.


”Kenapa kalian memandangi kami seperti itu?” Kamil heran dengan tatapan Daren dan Alea.


”Kami harap bisa seperti kalian suatu saat nanti, saling mengerti satu sama lain,” ujar Daren menatap ke arah Alea kemudian wanita itu hanya membalasnya dengan senyuman.


”Oh jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?” seru Farhan tiba-tiba datang ke rumah Kamil membuat semua yang ada di sana terkejut.


”Bang, kenapa kau ada di sini bukankah kau masih harus dirawat?” tanya Kamil segera bangkit hendak membantu Farhan duduk sayangnya pria itu justru menghalau tangan Kamil.


”Kau juga sama saja seperti mereka, sekarang kau puas sudah bisa melihatku kesakitan?” teriak Farhan membuat semua orang yang ada di sana pun ikut tersentak mendengar bentakan Farhan.


”Sabar Bang, semua bisa dibicarakan dengan baik dan tak perlu emosi,” ujar Kamil.


”Percuma dan kau, wanita tidak tahu diri setelah mencintai adikku dan menghancurkan diriku sekarang kau ingin merusak hubungan kami dengan mendekatinya!”


Alea terisak mendengar perkataan Farhan sedangkan Daren menahan amarahnya tangannya sudah mengepal kuat hendak melayangkan tinjunya ke arah Farhan.


”Jangan Bang,” lirih Alea yang tak ingin terjadi keributan di rumah orang.


”Aku pulang dulu ya, besok kita bicarakan lagi,” ucap Daren membawa pergi Alea dari rumah Kamil.


”Hei tunggu jangan bawa istri orang kau, dasar bad-jingan kau Daren!” teriak Farhan.


”Cukup Bang!” Kali ini Kamil yang angkat suara dia tidak suka melihat abangnya terpuruk meskipun semuanya adalah kesalahannya sendiri.


”Sayang aku antar Bang Farhan ke rumah mama, kau istirahat ya.”


”Baik.”


Kamil segera membawa pergi Farhan sebelum mengacau di rumahnya. Farhan sedang tidak baik-baik saja itulah yang terlihat.


__ADS_1


__ADS_2