
”Dad, apa Daddy yakin tidak makan dulu?” Malvin terlihat cemas melihat Kamil yang tengah panik.
”Tidak, beritahu saja pada mamamu jika aku pergi ke rumah sakit ada hal penting yang harus segera diurus.”
”Baik ... Dad, hati-hati.”
Kamil mengangguk singkat dan kembali melakukan mobilnya ke rumah sakit. Malvin segera masuk begitu pintu terbuka.
”Loh, Den Malvin kok jalan kaki? Tuan besar mana?” sapa satpam yang berjaga di pos.
”Daddy pergi lagi Pak Dayat ada urusan di rumah sakit. Aku masuk dulu ya Pak.”
Malvin berjalan sedikit cepat karena cacing di perutnya telah memanggilnya tanpa melihat kiri kanan dia segera menyerbu meja makan.
”Awh, ini sakit sekali, Ma!” pekik Malvin karena tangannya dicubit Medina.
”Cuci tangan dulu baru makan!” titah Medina.
”Maaf, aku sudah sangat lapar sekali,” rengek Malvin.
”Kemana daddy-mu?” Medina celingukan mencari Kamil.
”Oh, daddy ke rumah sakit katanya ada hal yang sangat penting yang harus diurus olehnya.”
”Rumah sakit?” Medina nampak berpikir.
”Iya, tadi ada seseorang menelponnya Malvin sempat melihat namanya Alex gitu terus dengar juga nama tante Alea dan bayinya disebut-sebut.”
”Mm ... jadi kamu menguping pembicaraan orang gitu?” Medina mendelik mendengar pengakuan putranya.
”Tidak, Malvin kan dengar dengan tidak sengaja bukan sengaja mendengarnya,” protes Malvin.
”Sama saja intinya sama-sama mendengar! Dah buruan makan!” Medina mengingat nama Alex belum pernah dia mendengarnya apakah itu kakaknya Alea.
”Habis ini antar mama pergi ke supermarket ya ada beberapa bahan makanan yang harus mama beli buat makan malam nanti.”
”Ma ... mama kan bisa ajak Riezka atau Baron kenapa harus Malvin sih.”
”Mereka juga sedang sibuk, cuma sebentar saja kok gak lama.”
”Ma, Malvin malu kalau jalan berdua.”
Medina mengerutkan keningnya, ”Malu? Kenapa?”
”Karena banyak yang mengira kita itu adik kakak!”
Medina terkekeh, ”Bukannya itu bagus berarti mama masih terlihat muda dong!”
”Masalahnya tidak semudah itu, Ma. Teman-teman Malvin pada meminta kenalan sama mama bagaimana?”
”Tinggal akui saja beres kan?"
”Tak semudah yang mama pikirkan, sudahlah Malvin ganti baju dulu. Mama tunggu Malvin ya sebentar.”
__ADS_1
Malvin menghilang di balik pintu Medina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Malvin. ”Anak jaman sekarang,” lirihnya.
***
Kamil memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit asal karena dirinya ingin segera menemui Alex, kakaknya Alea.
”Bro, lama tidak berjumpa!”
”Astaga, kamu mengagetkan diriku saja,” pekik Alex.
”Maaf aku baru saja menjemput putraku jadi aku meninggalkannya sejenak.”
”Anak? Kapan kamu menikah?” Alex terkejut mendengar penuturan Kamil.
Kamil menggaruk kepalanya, ”Sudah cukup lama kami memang tidak mengumumkannya.”
”Astaga bahkan Alea sama sekali tidak bercerita kepadaku.”
”Oh.”
”Lalu berapa usia anakmu sekarang?”
”Sudah mau masuk kuliah.”
”Apa?” Kedua mata Alex membulat mendengar pengakuan dari Kamil. ”Ini bukan lama lagi tapi kamu menikah diam-diam dan punya anak begitulah?”
”Bukan begitu maksudku tapi ... ”
”Maafkan aku karena tidak bisa menjaga Alea dengan baik tapi untuk urusan itu aku sendiri tidak bisa ikut campur,” sesal Kamil.
”Aku tahu kamu sudah berusaha keras untuk menemui Farhan,” ucap Alex.
”Darimana kamu tahu, bahkan aku belum menceritakannya.”
”Daren, siapa lagi. Dia yang menjemputmu di bandara dia sudah cerita bagaimana kakakmu itu.”
”Aku harap kamu mengerti dengan keadaanku saat ini terlebih mama tidak ingin melihat Alea menderita. Beliau memintaku membawanya ke Belanda untuk melakukan pengobatan di sana.”
”Begitu ya, padahal aku pikir dia masih bisa dirawat di sini dengan harapan sebagai bentuk tanggung jawab keluarga kami. Mamaku juga masih shock hingga saat ini beliau masih saja memikirkannya.”
”Aku benar-benar minta maaf kepadamu.”
”Tidak perlu berpikir buruk, aku tahu bagaimana keluargamu hanya saja aku masih tidak habis pikir dengan kakakmu itu saja. Oh iya jika memang memungkinkan aku akan membawa Alea secepat mungkin.”
”Datanglah ke rumah kita bicarakan di rumah terutama dengan mama karena aku tidak yakin jika beliau mengijinkannya.”
”Baiklah, tapi bukankah mamamu sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana nantinya jika beliau semakin shock?”
Langkah kaki terdengar mendekat ke arah keduanya.
”Apa yang dikatakan Alex benar, mamamu sedang down jika dia mengetahui semua ini papa tidak yakin semua akan berjalan dengan baik.”
”Pa ...”
__ADS_1
”Om Hamid.”
”Papa tidak bisa menyimpulkan sepihak karena bagaimanapun Alea adalah menantu dan dia yang melahirkan cucu untuknya,” ucap Kamil.
”Terserah kamu saja tapi jika terjadi sesuatu dengannya kamu juga harus ikut bertanggung jawab.”
Kamil menggaruk alisnya. ”Papa tidak salah minum obat kan? Sejak awal ini terjadi karena Bang Farhan, mama sampai shock hanya memikirkan putranya yang berbelok tidak bertanggung jawab dengan keluarganya. Dimana aku harus ikut bertanggung jawab selama ini aku ikut serta memacari keberadaannya dan begitu ketemu dia justru melepas tanggung jawabnya padaku. Laki-laki macam apa itu!”
Kamil mengepalkan tangannya mengingat terakhir kali bertemu dengan Farhan di luar kota ingin rasanya menghajarnya hingga kehabisan nafas jika tidak teringat Alika, Kamil pasti sudah lepas kendali karenanya.
”Sudahlah jangan bertengkar di rumah sakit tidak baik dilihat banyak orang,” ucap Alex mengingatkan.
”Ayo kita makan dulu, berdebat dengannya menghabiskan seluruh energiku,” kesal Kamil.
Alex tidak dapat menahan tawanya melihat sikap Kamil terhadap papanya sendiri, pantas saja adiknya lebih suka dengannya daripada kakaknya.
”Jadi apa rencanamu setelah ini?” Kamil menoleh ke arah Alex.
”Pastinya aku akan merawat keponakanku bermain bersama dengannya bukankah itu sangat menyenangkan?” ujar Alex.
”Pastinya.” Kamil hanya dapat menganggukkan kepala. ”Sayang sekali aku tidak bisa ikut merawatnya karena kau membawanya.”
”Datanglah jika kamu free ajak anak dan istrimu kesana.”
”Aku akan fokus di sini karena putraku akan ke Amerika dalam waktu dekat.”
”Kau hebat sekali, aku bahkan belum pernah mencobanya sama sekali tapi kamu sudah lebih dulu menuainya.”
”Sudahlah jangan bahas itu, aku khawatir istriku akan terluka nantinya.”
”Kau memang suami idaman,” puji Alex.
”Stop! jangan berlebihan aku tidak mau jadi besar kepala nantinya. Lihat Daren dan istrinya datang!” Kamil menunjuk pada sepasang pengantin baru yang baru saja melakukan pestanya semalam.
”Apa kau baik-baik saja?” tanya Alex pada Christy.
Gadis itu merona mendengar pertanyaan Alex. ”Tentu saja Anda lihat saya masih bisa berdiri dengan baik.”
”Rupanya Daren melakukannya dengan sangat baik, jadi kamu tidak perlu kesakitan saat berjalan.”
”Astaga obrolan macam apa ini,” kesal Daren.
”Sudah ayo kita lanjutkan makannya keburu dingin!” seru Kamil dirinya seakan sedang melakukan reuni dengan teman kuliahnya karena Alex jarang sekali pulang dirinya sibuk dengan bisnisnya di Belanda begitu juga dengan Kamil.
Suara obrolan mereka terhenti begitu suara ponsel milik Kamil bergetar.
”Hallo, ada apa Dok?”
”Maaf Pak Kamil saya ingin memberitahukan jika Nona Alea menghilang dari kamarnya.”
”Apa? Kenapa bisa begitu?”
”Apa yang terjadi?” tanya Alex ikut panik melihat ekspresi Kamil.
__ADS_1