Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Dua Wanita Hamil


__ADS_3

Kamil melangkah lebar menuju ke apartemen Hamid dengan tenang dia memencet bel pintunya. Seorang wanita muda keluar memberitahukan dirinya jika pria itu sedang tidak ada di apartemennya.


”Jangan bohong!” seru Kamil. ”Jika kamu tidak mau memberitahukan dimana dia sekarang, kamu akan saya seret juga dalam masalah ini.”


”Ada perlu apa kau mencariku?” Hamid keluar dari kamarnya dan terlihat pucat apakah dia sakit. Wanita itupun pergi dan membiarkan keduanya ngobrol berdua.


”Silakan duduk!”


”Tak perlu basa-basi aku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu padamu, dimana uang perusahaan itu papa alihkan?” Kamil meletakkan kertas yang dia sembunyikan di balik punggungnya.


Hamid pun membacanya dan berusaha untuk santai walau sebenarnya dirinya pun merasa khawatir dengan kemarahan putranya Kamil. Uang yang dia pakai tidak sedikit, pantas jika putranya marah.


”Dalih apalagi yang akan kau gunakan?” ucap Kamil menatap intens ke arah Hamid. ”Tidakkah kau merasa kasihan pada Alika mantan istrimu saat kau menggunakan uang ini.”


Hamid memandang ke arah Kamil tersentak begitu mendengar dia menyebut nama Alika tanpa gelar di depannya karena itu pertanda Kamil sedang marah besar padanya.


”Maafkan papa Nak, waktu itu papa khilaf papa memang menggunakan uang itu untuk membeli beberapa aset di luar kota. Tunggu sebentar.” Hamid bangun dari duduknya menuju kamarnya dan mengambil berkas penting di brangkas miliknya.


”Ini surat-surat tanah yang papa miliki, semoga bisa mengganti kerugian yang dialami oleh perusahaan,” jelas Hamid. Kamil mengecek keaslian dokumen yang diberikan olehnya.


”Kau tak perlu khawatir karena dokumen itu asli dan papa rasa nominalnya sesuai dengan apa yang papa gunakan.”


”Baiklah jika begitu aku permisi dulu.” Kamil bangkit dan pergi namun sebelum benar-benar kakinya melangkah keluar dia sempat berkata pada Hamid, ”Jaga kesehatanmu jangan sampai kau sakit dan menyusahkan wanitamu!”


Hamid tersenyum miris mendengarnya putranya itu sudah membencinya dan itu jelas terlihat dari caranya dia berkata.


Kamil segera pergi ke rumah Alika dia berniat memberikan dokumen itu padanya, padahal niat awalnya dia tidak ingin menagihnya. Kamil, pria itu hanya ingin memberikan pelajaran pada papanya dan mengetahui alasannya menggunakan uang itu. Lebih bagus dia langsung mengembalikannya daripada terus berdebat dirinya enggan untuk melakukannya karena bagaimanpun Kamil masih menghormati Hamid sebagai papanya.


”Ma,” panggil Kamil.


Kamil mendengar suara pertengkaran di ruang tengah itu adalah suara Alea yang sedang mencaci maki Farhan.


”Aku tidak mau pulang, jika Abang memaksaku maka aku akan melayangkan gugatan cerai ke pengadilan,” ancam Alea.


Farhan memekik sungguh dia tidak ingin hal itu terjadi karena bagaimanapun dia sudah mulai menyayangi Alea. ”Tolong jaga bicaramu Alea, aku tidak mau mendengar kata itu darimu.”


”Jika Abang tidak suka maka perlakukan wanitamu dengan baik.”


”Kamil,” lirih kedua wanita yang berada di sana sedangkan Farhan hanya menoleh sinis ke arahnya.

__ADS_1


”Mau apa kau ke sini Nak? Apa Medina baik-baik saja?” tanya Alika.


”Dia baik-baik saja kok Ma, Kamil ke sini mau menyerahkan ini.” Kamil menyerahkan dokumen penting pada Alika. ”Itu sertifikat lahan milik papa yang dia beli dengan uang perusahaan.”


”Apa?” Alika terkejut mendengarnya karena dia tidak mengetahui apapun tentang perusahaannya karena memang sudah sangat percaya pada pria itu.


”Alea, ayo kita pulang sekarang!” ajak Farhan menyela saat Alika dan Kamil tengah berbicara.


”Aku tidak mau atau kamu mau aku pulang ke rumah orang tuaku dan pastinya papa sama mama akan menekan diriku untuk bercerai denganmu,” ancam Alea membuat Farhan semakin frustasi mendengarnya.


”Farhan kamu pulanglah biarkan Alea di sini daripada kalian bersama tapi hanya pertengkaran yang terjadi,” sela Alea.


”Tapi Ma, Farhan tidak mau jika Alea selalu aja mengancam akan berpisah,” ucap Farhan mencari pembelaan.


”Dia tidak akan begitu jika kamu tidak berselingkuh darinya, kau yang salah di sini,” sanggah Alika.


”Huwek!” Alea mendadak berlari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya tapi tidak ada yang keluar hanya cairan bening yang terus saja keluar.


Farhan tampak khawatir dengan keadaannya segera berlari menyusulnya. Alika dan Kamil saling pandang.


***


”Jam berapa sekarang Bang?” tanya Medina tubuhnya rasanya sakit semua setelah sholat subuh dia memutuskan untuk kembali tidur karena semalam menunggu Kamil hingga malam namun suaminya tidak segera pulang dan seingatnya semalam dia tidur di sofa ruang tengah.


”Jam delapan,” jawab Kamil. Medina segera bangun dan segera ke kamar mandi.


”Tidak perlu terburu-buru, Malvin sudah ke sekolah dia sudah sarapan makanan kiriman dari mama.”


”Eh?”


”Tadi Mbok Iyem ke sini antar sarapan, sebaiknya kamu sarapan dulu kau harus makan yang banyak dan bergizi buat anak kita. Oh iya, apa kamu ingin sesuatu?”


”Hm, semalam aku pengen dibelikan gulai kambing muda, Bang.”


”Apa sekarang masih ingin itu?”


”Tidak, aku mau siomay boleh?”


"Ayo kita ke taman komplek di sana banyak yang jualan keliling berkumpul di sana kau bisa memilihnya sendiri.”

__ADS_1


Keduanya pun segera bersiap untuk pergi ke taman komplek. Kamil mengeluarkan motor maticnya yang terparkir rapi di garasi. Kamil mengemudikan motornya dengan sangat pelan.


”Abang kok gak bilang kalau punya motor ini,” ucap Medina.


Kamil tersenyum dia memang jarang membuka garasinya dan hanya beberapa yang sering dia keluarkan untuk bekerja. ”Kalau Malvin mau di garasi juga ada motor sport tapi kan dia belum punya SIM dan lagi terlalu rawan jika pergi ke sekolah sendiri. Aku lebih percaya jika dia aku antar jemput, lebih aman.”


”Abang benar.”


”Nah sudah sampai, banyak yang jualan kan? Silakan mau pesan apa, mau dimakan di sini atau bawa pulang?”


”Kok jadi Abang sih yang kayak pedagang,” sungut Medina.


Kamil membawa Medina ke tukang jualan siomay. ”Silakan tuan putri.” Kamil mempersilakan istrinya memesan makanannya.


Keduanya makan bersama di taman sesekali senyum mengembang di wajah mereka. Kamil mengajak Medina berkeliling taman tersebut hingga jam sepuluh mereka memutuskan untuk pulang, tapi Kamil justru berbelok ke rumah Alika.


”Kita mampir sebentar ya, Alea juga ada di sini, semalam dia menginap karena baru saja berantem sama Bang Farhan, siapa tahu kamu bisa support dia karena keadaannya sama sepertimu sedang hamil.”


”Hamil? Syukurlah, mereka pasti bahagia.”


”Alea meminta cerai dari Bang Farhan karena dia mengetahui perselingkuhannya.” Medina menutup mulutnya mendengar pengakuan Kamil.


”Sudah gak perlu khawatir kalau aku gak akan selingkuh mau bagaimanapun cantiknya wanita itu, cuma kamu yang ada di sini.” Kamil menunjuk ke dadanya.


”Gombal!”


”Kamu harus percaya!”


”Aku rasa begitu.”


”Ehem.” Suara berat berdehem mengalihkan perhatian mereka.


”Jangan bermesraan di tengah orang yang sedang dalam masalah, kalian kira aku bakal iri?” ucap Alea lalu berlalu pergi.


Kamil dan Medina kembali saling pandang, ”Dia kenapa Bang?”


”Udah jangan diambil hati, mungkin dia memang sedang sensitif karena kehamilannya. Yuk masuk!” Kamil menggandeng Medina ke dalam rumah Alika.


”Kenapa Alea terlihat tidak bersahabat denganku, apa dia tidak suka denganku?” lirih Medina.

__ADS_1


__ADS_2