
”Kau benar-benar nekad Mil, mau sampai kapan kau berada di sini?” ucap Raditya teman Kamil waktu kuliah dulu.
Raditya memilih meneruskan usaha hotel milik kedua orang tuanya daripada membangun dari nol berbeda dengan Kamil yang sudah terbiasa belajar usaha sendiri hingga menjadi pengusaha sukses di usia muda.
”Sampai aku ketemu jodohku dong!” sahut Kamil.
”Padahal dulu Alea begitu tergila-gila padamu, dia cantik dan pintar tapi kau dengan terang-terangan menolaknya.”
”Karena aku tidak suka dengannya, lagipula aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri gak lebih.”
”Ck! Terlalu, kau menyia-nyiakan dirinya dan sekarang kau tahu bukan justru kakakmu yang mengambil kesempatan itu,” ujar Raditya.
”Aku tidak peduli dengan hal itu, mau dia dengan siapapun aku harap semoga semua itu yang terbaik untuknya.”
”Lalu bagaimana dengan Medina sendiri?”
”Dia masih perjuangan, baru kali ini aku memiliki perasaan berbeda dengan seorang wanita. Dia itu dewasa aku suka dengannya dan yang lebih aku sukai dia itu wanita yang mandiri menurutku karena apapun itu dia lakukan sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.”
”Dia itu sudah memiliki seorang anak bukan lagi seorang gadis muda lagi,” papar Raditya.
”Justru itu aku semakin tertantang, kalau gadis pun belum tentu dia masih tersegel kan. Aku menyukainya, aku yakin dia lebih hot di tempat tidur.”
”Astaga mesum!”
Pletak!
Sebuah pukulan dari gulungan kertas mendarat di kepala Kamil.
”Ini fakta, bukankah lebih pastinya dia sudah berpengalaman daripada dengan seorang gadis dan alhasil aku harus mengajarinya dari awal.”
”Kamu benar-benar gila!”
”Sudahlah jangan dibahas lagi, bikin tegang saja!”
”Sialan!” gerutu Raditya.
”Duh jadi beneran ya, kalau kalian itu temenan jadi mataku gak salah lihat waktu itu.”
Kamil dan Raditya menatap ke arah wanita paruh baya, dia adalah Bu Yanti.
”Kalau iya kenapa?” ucap Kamil karena dia tahu siapa wanita yang ada di depannya ini.
”Jadi kau bukan tukang sayur biasa, karena kenalannya saja pemilik hotel berkelas seperti Pak Raditya,” ucap Bu Yanti.
”Ya anggap saja begitu,” sahut Kamil.
__ADS_1
”Saya akan memberitahukan pada semua warga biar jualanmu gak laku!"
”Silakan saja biarkan mereka menilainya sendiri karena saya yakin mereka lebih percaya padaku daripada dirimu, Bu Yanti yang terhormat. Btw, apakah hutangnya sudah dilunasi kemarin?” sindir Kamil.
Bu Yanti kesal mendengar ejekan Kamil seperti anak kecil dia menghentakkan kakinya ke lantai dan segera pergi meninggalkan Kamil dan Raditya.
”Kau ini sama orang tua jangan begitu,” ucap Raditya.
"Biarin aja, aku takkan pernah melayaninya jika dia tidak memulainya lebih dulu dia pikir dia siapa?”
”Iya aku percaya kalau temanku ini orang yang super baik dan bisa melakukan apapun yang dia mau,” seru Raditya.
”Aku balik dulu ya, ingat jika papaku menanyakan diriku kau harus bilang tidak tahu apapun tentangku setelah sekian lama kita pisah.”
Raditya hanya mengangguk, ”Kapan-kapan aku boleh main ke kontrakan kan? Aku penasaran kehidupan seperti apa yang sedang kau jalani karena yang aku tahu kau itu orangnya sangat-sangat wow setiap hari.”
Kamil mengibaskan tangannya meminta Raditya untuk tidak membahas masalah itu di sini karena khawatir ada orang lain yang mendengarnya.
Kamil memilih segera pulang karena rasa lelah melandanya, seharian dia ke tempat gym bersama Raditya dia harus tetap berolahraga meskipun tempatnya cukup jauh karena dia tidak suka asal memilih tempat.
”Bos!”
”Ada apa?”
”Ada masalah apa dia ke sini?” bisik Kamil pada Baron.
”Sepertinya sangat serius,” balas Baron sambil berbisik pula pada Kamil.
”Ada apa kamu ke tempatnya Om?” tanya Kamil mengambil duduk berseberangan dengan anak itu.
”Om, aku mau tanya sesuatu tolong Om jawab jujur ya!” ujar Malvin.
”Boleh silakan!”
Malvin terdiam tampak menimbang apakah dia akan melanjutkan niatnya itu.
”Kenapa diam, Om gak mau jawab kalau kamu gak bicara sekarang!”
Malvin memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap ke arah Kamil. ”Aku harap Om mau jawab jujur pertanyaanku ini.”
”Pertanyaan apa?”
”Apa benar Om itu suka sama mamaku?”
Kamil menghempaskan tubuhnya di sofa, pertanyaan ini akhirnya keluar juga dari sosok Malvin, anak dari Medina wanita yang dia sukai dalam diamnya.
__ADS_1
”Kamu mau Om jawab jujur kan?”
Malvin mengangguk. ”Baiklah Om akan mengatakannya sama kamu, kalau Om itu ...”
***
”Kenapa mama masak banyak sekali hari ini?” Farhan memperhatikan Alika yang sedang menata meja makan.
”Kamu lupa jika keluarga mertuamu akan datang malam ini.”
”Astaga aku lupa Ma, untungnya mama mengingatkan,” ucap Farhan. ”Kalau begitu Farhan mau nemuin Alea dulu ya,” lanjut Farhan.
Alika menatap punggung Farhan yang menjauh darinya, dia ragu apakah pernikahan putranya kali ini bisa bertahan lama karena semua yang terjadi pada keduanya atas kehendak dari Hamid suaminya.
”Melamun apa Sayang?” Hamid langsung masuk dan memeluk Alika dari belakang meskipun usia mereka tidak muda lagi tapi keduanya tetap memperlihatkan sisi romantisnya di depan kedua putranya apalagi jika Kamil di rumah.
Keduanya ingin terlihat baik-baik saja meskipun sebenarnya mereka jarang rukun satu sama lain. Sandiwara yang bagus karena diperankan dengan baik oleh keduanya, sayangnya Kamil tidak serta merta percaya dengan mereka berdua tidak seperti Farhan.
”Jangan sok romantis karena aku sudah tahu maksudmu, apa kau mau menanyakan soal putramu Kamil? Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat ini,” ucap Alika.
”Kau tahu berarti selama ini dia ada memberimu kabar?”
”Tidak, aku hanya mengiranya sendiri. Anak itu akan pulang jika apa yang dicarinya sudah dia temukan.”
”Ck! Anak itu selalu saja bertindak semaunya sendiri itu akibat dari didikanmu yang selalu saja membuatnya merasa bebas, anak itu ngelunjak kan sekarang?”
”Ya Allah, kamu masih saja menyalahkan diriku,” ucap Alika tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
”Aku membesarkannya dengan kasih Sayang, dan kau memanjakan Farhan anak sulung kita dengan segala macam kemewahan itulah letak bedanya mereka berdua.”
”Aku berencana untuk menjodohkannya dengan putrinya Pak Mario. Apakah kau setuju dengan usulan dariku?”
”Tidak.”
Alika menjawab dengan singkat dia merasa kesal dengan sifat suaminya yang tidak pernah berubah dari dulu, tidakkah dia berpikir ulang dengan rencananya tersebut.
”Kau sama sekali tidak mau mendukung rencana baikku ini?”
”Tidak, untuk apa? Aku yakin putramu pun akan menolak rencana darimu jadi untuk apa aku mendukungmu.”
”Ma, apa yang dikatakan papa benar kenapa kita tidak mencoba untuk menjodohkannya siapa tahu Kamil akan berubah?” seru Farhan keluar bersama dengan Alea.
”Mama tidak akan setuju karena dia telah memiliki calon sendiri.”
”Apa?”
__ADS_1