Tukang Sayur Itu Milyader

Tukang Sayur Itu Milyader
Meminta Ijin pada Anak


__ADS_3

Medina masih bingung apa yang akan dia lakukan, kemana dia harus bertanya sedangkan lingkungan di sekitarnya tampak acuh tak acuh.


”Malvin tahu kok mama sedang kebingungan, sebaiknya telepon Om Kamil dan tanyakan semua hal padanya itu lebih baik daripada kita tersesat nantinya,” saran Malvin.


”Kau benar tapi mama khawatir justru akan semakin merepotkannya,” ucap Medina.


”Tidak mungkin Malvin pikir dia justru akan semakin senang,” ujar Malvin.


”Tahu darimana kau soal itu?” Medina menatap tajam ke arah Malvin.


Malvin hanya tersenyum melihat Medina seperti itu dia tahu jika mamanya tidak serius dalam menanggapi perkataannya itu, justru Malvin akan sangat khawatir jika Medina itu diam karena pastinya wanita itu sedang menanggung beban.


”Ma, carilah pengganti papa Malvin ikhlas kok sekarang jika mama mau menikah lagi,” ucap Malvin membuat hati Medina melunak seketika.


”Kamu ini bicara apa sih, memangnya cari pengganti itu sama seperti membeli sayur di pasar,” sahut Medina.


”Iya, beli sayur sekalian abangnya,” canda Malvin.


”Gak lucu! Bagaimana kalau besok kita ke pasar kita survey bahan makanan di sini apa sama dengan di kampung,” ucap Medina.


”Memangnya mama punya ide jualan apa?” tanya Malvin.


”Makanan, karena memang mama suka di bidang ini siapa tahu bisa buka restoran bintang lima, mimpi dulu boleh kali ya,” ujar Medina.


”Butuh modal besar untuk itu mama punya modalnya?”


Medina menggeleng, ”Ya siapa tahu ada donatur yang mau nyumbang, atau mungkin peluangnya dia kasih tempat kita yang kelola bagi hasil Fifty-Fifty boleh dong mama bermimpi dulu. Mimpi kan gak bayar!”


”Boleh sih Ma, tapi jangan tinggi-tinggi awas ntar jatuhnya sakit gak ketulungan.”


”Kau benar, mama sudah pernah jatuh dan tidak mau lagi terulang untuk kedua kali, ya udah buruan istirahat besok kita ke pasar ya.”


Medina memilih segera ke kamarnya merebahkan diri di kasur yang empuk. Pikirannya tertuju pada sosok Kamil, sebenarnya pekerjaan aslinya apa, kenapa dia memiliki rumah sebagus ini, tapi pria itu masih bersusah payah jualan sayur dan yang membuat Medina semakin penasaran dia merasa aneh kenapa dengan mudahnya dia memberikan semua ini padanya.


Apakah pria itu menaruh hati padanya. Jika benar Medina akan merasa sangat malu karena dia bukanlah wanita sempurna seperti Kamil yang masih single dan tampan lagi mapan pastinya banyak sekali gadis cantik yang antri di belakangnya, mengingat ini Medina menjadi minder sendiri.


”Astaghfirullah kenapa aku jadi mikirin dia terus,” gumam Medina.


Ting tong ...


”Malvin buka pintu Nak,” teriak Medina.


Dengan segera Malvin membukakan pintunya, Kamil sudah berada di depan pintu rumahnya.


”Om pagi sekali datangnya, silakan masuk!”

__ADS_1


Malvin segera ke dapur untuk memindahkan makanan yang dia bawa ke mangkok. ”Apa mamamu belum bangun? Kemana dia?”


”Sudah kok om, baru aja mandi sebentar lagi juga keluar.”


Benar saja aroma wangi sabun menyeruak membuat Kamil mengalihkan pandangannya ke arah Medina yang berjalan ke arahnya.


”MasyaAllah cantiknya,” puji Kamil dalam hati.


”Kok repot sendiri Malvin kenapa gak dibantuin?”


”Lah Om Kamil gak mau kok, benar kan Om?” seru Malvin.


”Siapa yang gak mau, kamu aja yang gak mau bantuin Om.”


”Ya ampun Om, kok gak bisa diajak kerjasama sih.”


”Dimana-mana kerjasama itu harus saling menguntungkan kalau tidak ya mana mau,” jelas Kamil.


”Bicara apa sih kalian kok semakin gak nyambung!” keluh Medina membuat keduanya menahan tawa karena Medina tidak juga peka.


”Kita ke sekolah sekarang yuk! Om mau kenalin kamu sama gurunya dulu, sekolah kan masih libur,” ucap Kamil mengalihkan pembicaraan.


Dengan cepat ketiganya pergi ke sekolah Malvin dengan menggunakan mobil butut Kamil. Pria itu memang sengaja menyewa mobil itu karena tidak ingin keduanya tahu identitas dirinya.


”Ini sekolahannya?” tanya Malvin.


”Tapi Om, ini pasti sangat mahal dan mana mungkin mama sanggup bayar.”


”Semua gratis asalkan mamamu mau jadi istrinya Om, boleh ya?” ucap Kamil meminta ijin pada Malvin.


”Eh?” Kedua ibu dan anak saling pandang.


”Maksudnya apa ya?” tanya keduanya dan bersamaan.


”Nanti Om jelasin kita temui kepala sekolahnya dulu yuk!” ajak Kamil.


Medina semakin tidak fokus setelah mendengar penuturan dari Kamil barusan membuat dirinya ambigu dan seperti dejavu mendengarnya.


”Baik Pak Kamil, semua murid di sini InsyaAllah baik-baik dan gak ada kasus bully membully di sini,” ucap Pak Kepala sekolah.


”Terima kasih Pak, kami permisi dulu.” Ketiga berpamitan dan Kamil justru membawa mereka menuju ke mall terdekat dan membawa mereka berbelanja. Banyak pasang mata memperhatikan ketiganya.


”Apakah mereka itu satu keluarga? Kenapa anaknya sudah besar dan mereka tampak masih muda.”


”Lihat wanitanya masih sangat muda mungkin itu adalah adiknya, dan pria itu tampak dewasa sekali dan melindungi keduanya,” tebak yang lain.

__ADS_1


”Bisa saja demikian.”


”Aku rasa begitu, mereka kelihatan bahagia.“


”Keluarga idaman.”


Namun ketiganya memilih cuek mengabaikan semuanya.


”Apa masih ada yang harus dibeli lagi?” tanya Kamil.


”Tidak ada ini sudah cukup banyak,” jawab Medina.


”Jika memang masih ada yang dibutuhkan tidak masalah kok, selama itu perlu untuk keperluan di rumah,” timpal Kamil.


”Ayo kita ke kasir!” Kamil mengajak mereka ke kasir.


Begitu selesai Medina membelalak karena jumlah belanjaannya sangatlah banyak. Kamil menyerahkan kartu saktinya tentu saja membuat Medina dan Malvin saling pandang.


”Terima kasih Pak,” ucap kasir.


Sepanjang perjalanan pulang keduanya Sling diam tenggelam dengan pemikirannya masing-masing berbeda dengan Kamil yang masih saja santai mengemudikan mobilnya.


”Besok habis sekolah Om jemput ya, kita ke rumah Om mau?" tawar Kamil.


”Tentu saja mau Om,” jawab Malvin.


Mereka pun tiba di rumah Malvin membantu Kamil menurunkan belanjaannya dan membawanya ke dapur, setelahnya biarlah menjadi urusan Medina mau diapakan barang-barang tersebut.


”Bang kita belum selesai bicara,” ucap Medina memberanikan diri bicara dengan Kamil hatinya penuh tanya dan dia tidak mau menjadi gila karenanya.


”Ada apa lagi?” tanya Kamil.


Medina pun duduk sejajar dengan Malvin. ”Apa maksud perkataan Bang Kamil di sekolahan tadi?“


”Mm, yang mana sih?” Kamil masih berpura-pura tidak ingat.


Medina mendesah berat dan itu terdengar sangat sexy bagi Kamil. ”Jangan bercanda deh Bang!”


”Aku gak bercanda, aku serius bagaimana apakah kamu mau menerimaku?” ucap Kamil membuat Medina dan Malvin kembali saling pandang.


”Aku menyukaimu di hari pertama kita bertemu, aku sudah jatuh hati padamu sejak saat itu dan itu adalah perasaanku untuk pertama kali berbeda dari biasanya,” ungkap Kamil.


”Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya dan hari ini aku memberanikan diri untuk mengungkapkannya, karena selama ini aku tersiksa dengan perasaanku sendiri.”


”Tapi ini tidak mungkin Bang, kita lebih baik begini saja, jangan berlebihan,” ucap Medina

__ADS_1


”Kenapa memangnya ada yang salah? Medina aku mau jujur padamu dan ini serius. Maukah kamu jadi istriku?”


Deg.


__ADS_2