
Medina duduk di sofa tengah sedangkan Alea sedang sibuk membantu Alika di dapur hal itu membuat Medina merasa tidak nyaman karena merasa diprioritaskan oleh mertuanya. Tapi jangan sepenuhnya menyalahkannya karena Alika lah yang memintanya dan perintahnya adalah mutlak tak ada bantahan.
Berbeda dengan Alea yang memang sengaja memaksakan diri untuk ikut membantunya padahal dia sendiri sudah meminta Alea untuk duduk bersama dengan Medina dan Kamil.
”Bang.”
”Mm, ada apa?”
”Pulang yuk!”
”Loh kan baru nyampe, istirahat' di kamar aja kalau gitu!”
Medina menggelengkan kepalanya. Kamil menarik nafasnya melihat Medina yang merasa tidak nyaman dengan situasi di rumahnya. ”Aku pamitan dulu ya sama mama.” Kamil bangkit segera menuju ke dapur berpamitan padanya.
”Kamu gak mau makan lontong sayur buatan mama?” tanya Alika pada Medina yang tengah menunggu Kamil selesai berpamitan.
”Medina kenyang Ma, ini juga baru saja makan siomay di taman tadi.”
”Baiklah nanti biar Mbok Iyem atau Baron ke sini buat ambil makanan, kamu istirahat ya jaga bayinya dengan baik.”
Medina mengangguk dan berucap salam setelahnya dia pergi meninggalkan rumah bersama Kamil.
”Mama kok sepertinya sayang sekali sama dia,” ucap Alea spontan membuat Alika menatap ke arah Alea.
”Maksudmu apa Alea?”
”Gak ada maksud apa-apa Alea cemburu saja karena mama terlihat lebih pro pada Medina. Ma, dia kan janda beranak juga kenapa mama dulu gak merestui hubunganku dengan Kamil. Alea masih single, virgin dan juga cantik.”
”Astaghfirullah, kamu kenapa bicara begitu Alea. Istighfar ya! Mama tidak pernah memprioritaskan menantu semua sama. Mama begitu karena kehamilan Medina itu lemah dan harus benar-benar dijaga. Apa kamu mau sakit sepertinya biar disayang juga.” Alika tidak habis pikir dengan pemikiran Alea yang sesuka hatinya.
”Alea tahu kok Ma, jika mama lebih menyukainya daripada Alea. Alea tahu diri kok Ma, Alea bukan wanita yang bisa memasak makanan enak setiap hari. Bahkan beres-beres rumah juga gak pernah, tapi jika mama lebih menyukainya mama juga salah karena tidak memberi kesempatan Alea untuk memperbaiki diri.”
”Astaghfirullah, mama tidak pernah begitu ya. Satu hal mama tekankan sama kamu, Kamil selalu mendekatkan istrinya pada mama tidak dengan Farhan yang sibuk mengurus perusahaannya. Mama sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian berdua, mama tanya sama kamu Alea, apakah Farhan tidak pernah memberimu nafkah sehingga kamu ikut sibuk bekerja di luar?”
Pertanyaan menohok akhirnya keluar juga dari mulut Alika karena dia sendiri tidak suka disudutkan apalagi oleh menantunya. ”Kamu dan Medina sama yang membuatnya berbeda dia lebih sabar darimu.”
__ADS_1
Alea mengangkat kepalanya terkesiap mendengar penuturan Alika jadi mertuanya itu menganggapnya tidak sabar apalagi sekarang ada masalah baru dalam rumah tangganya. Siapa yang akan memihaknya, rupanya Alea keliru dengan pergi ke rumah ini.
”Maafin Alea Ma, kalau begitu Alea gak akan merepotkan mama lagi.” Alea segera ke kamarnya mengambil tasnya dan berlalu begitu saja meninggalkan rumah Alika.
Alika hanya memandang lesu melihat menantunya keluar dari rumahnya. ”Hm, anak sama menantu sama saja,” gumam Alika.
***
Farhan masih kesal karena Alea tidak mau diajak pulang dan dia sudah mengadu pada Alika semuanya membuatnya tidak bisa memperoleh simpati darinya lagi.
”Kenapa kamu terlihat gelisah?” tanya Hamid begitu masuk ruangan putra sulungnya.
”Aku sedang dalam masalah dengan Alea Pa, tempo hari dia mengetahui jika aku berselingkuh dengan Laras.”
”Apa? Lalu dimana dia sekarang?”
”Di rumah mama, dia menginap di sana.”
Hamid geleng-geleng kepala mendengar perkataan Farhan bisa-bisanya dia seperti itu dan sekarang masih bisa duduk santai dan tidak membujuknya untuk pulang ke rumah.
”Dia menolak!”
”Bodoh suami macam apa kau ini, tidak punya wibawa sama istri saja takut!”
Farhan mengacak rambutnya kesal karena dia merasa tidak enak diri jika harus memaksa Alea pulang sedangkan istrinya menolaknya. ”Dia tidak mau Pa, jadi Farhan membiarkannya menginap di sana.”
”Bodoh!”
Dua kali Hamid mengatakan kata itu ada Farhan membuat pria itu menjadi kesal karenanya. ”Sebaiknya papa pulang saja karena belum tentu aku akan menjemputnya ke sana.”
Farhan sedikit meradang karena sikap Hamid saat ini, pantas saja Kamil tidak pernah mau dekat dengannya mungkin inilah salah satu alasannya suka menyalahkan orang lain.
”Kau mengusir papa?” Hamid sendiri terkejut melihat sikap Farhan yang berubah biasanya dia tidak seperti ini selalu menurut apapun keinginannya.
”Terserah penilaian papa tapi aku sedang tidak ingin diganggu saat ini.”
__ADS_1
Melihat sikap putranya yang berubah membuat Hamid jengkel dan segera keluar dari ruangan tersebut, tak tanggung-tanggung Hamid membanting pintunya dengan kasar.
Farhan terduduk kemudian, dia berpikir bagaimana caranya membawa Alea pulang ke rumah terlebih saat ini kondisinya sedang hamil muda. Ya, Alea tengah mengandung anaknya, hasil dari perbuatannya malam itu. Farhan mendadak pusing sendiri dan tanpa berpikir lagi segera pulang ke rumah Alika membujuk istrinya untuk pulang ke rumah dia tidak mau salahkan oleh pihak keluarga Alea jika saja sampai terjadi sesuatu padanya.
Farhan mempercepat laju mobilnya begitu tahu hari telah sore dia tak ingin terjebak maju dan berdesakan dengan mobil lainnya. Tepat pukul lima lebih sepuluh menit Farhan samai di rumah mamanya Alika.
”Ma, mama,” teriaknya langkahnya tergesa-gesa menuju ke dapur karena biasanya jam seperti ini dia pasti sedang sibuk memasak.
”Mbok, mama mana kok gak kelihatan?” tanya Farhan sesekali celingukan kesana-kemari mencari sosok yang dia cari.
”Oh, dia sedang ke rumahnya Den Kamil,” balas Mbok Iyem.
”Sama Alea?”
”Gak ada dia pergi sendiri kalau Non Alea sudah pulang sejak tadi siang.”
”Apa? kamu tahu gak Mbok kemana perginya?”
Mbok Iyem hanya menggelengkan kepalanya, ”Saya mana tahu Den, orang saya sedang beres-beres tadi.”
”Astaga.” Farhan menjambak rambutnya sendiri demi apa dia susah payah ke sini sedangkan uang dicarinya justru tidak ada di sini.
”Rumah Kamil yang mana yang Mbok, apa yang ada di Flamboyan Raya?” tanya Farhan memastikan posisi Alika karena Kamil memiliki banyak rumah.
”Bukan iniloh nomor dua dari pintu utama, kalau dari sini dua rumah ke kanan,” urai Mbok Iyem sedangkan Farhan sendiri sedang mencerna perkataannya.
”Jadi rumah megah yang belum selesai di renovasi itu miliknya Kamil? kapan dia membelinya?” tanya Farhan setelah menyadari semuanya terkejut sudah pasti karena rumah itu sangat mewah dan pastinya hanya orang yang banyak uang yang bisa memilikinya Farhan tergugu sendiri kenapa selama ini dia tidak mengetahui apapun tentang adiknya itu.
”Rumah itu lumayan lama dibeli Den Kamil dia membelinya dari hasil kerja kerasnya pertama kali dia mendapatkan kontrak dengan perusahaan asing dari luar negeri.
Lagi Farhan terkejut karena dirinya kalah telak dengan adiknya.
Penampakan rumah Kamil ya Reader.
__ADS_1