
Pagi ini, aku memilih membantu nenek di dapur. Aku tidak akan mau ke kamar cowok itu lagi. Tuan Muda?
Persetan! Yang aku tahu, dia cowok mesum.
Aku mengeluarkan beberapa piring untuk siap di bawa ke ruang makan karena sebentar lagi mereka akan sarapan bersama keluarga. Beberapa pelayan juga sibuk menyusun piring, berbagai lauk dan buah.
Pagi tadi, nenek sempat bertanya padaku kalau ia mendengar suara teriakan dari laki-laki. Tapi, karena sudah malam, nenek mengurungkan niatnya untuk memeriksa keluar. Aku bilang pada nenek, bahwa itu hanya pendengarannya saja. Padahal…
“Kia,” panggil seorang pelayan. Aku menoleh, firasatku tidak enak.
“Tuan Muda memanggilmu. Dia minta bersihkan kamar sekarang,”
Astaga! Setelah kejadian semalam, dia tidak malu untuk berjumpa denganku? Dengan orang yang sudah memergokinya berbuat mesum di dapur bersama kekasihnya itu. Aku langsung menolak. Aku tidak mau.
“Enggak bisa Kia, Tuan mau kamu yang membersihkan kamarnya. Karena, kata Tuan kamu sangat bersih merapikan kamarnya,” kata pelayan itu menjelaskan. Bohong! Itu alasan.
__ADS_1
“Kia, pergi. Cepat, sebelum sarapan di mulai,” ucap nenek.
Apa aku harus mengatakannya? Tapi, sepertinya ucapan cowok itu sangat serius semalam.
Dengan langkah lunglai, aku berjalan menyusuri tiap sudut rumah hingga aku berdiri di depan kamarnya. Aku menghela napas panjang. Padahal aku sudah berjanji untuk tidak berjumpa lagi dengan cowok gila ini.
Aku mengetuk pintunya lalu masuk ke dalam. Di dalam, dia sedang membaca sebuah buku di kursi kerjanya. Aku tidak mau melihat cowok ini. Di atas tempat tidur, sudah banyak gumpalan-gumpalan tisu berserakan. Aku memakai sarung tanganku lalu memungutnya. Aku tidak mau memikirkan hal yang lain, sekarang aku hanya harus cepat-cepat membersihkan kamar cowok ini.
Tiba-tiba, dia berdiri dari duduknya. Aku jantungan. Apa dia akan ke sini menemuiku? Otakku berpikir entah kemana, tapi tanganku tetap membersihkan tiap sudut kamarnya. Aku menghela napas lega ketika tahu dia keluar dari kamar ini. Aku menolak pinggang. Kenapa bukan sejak tadi dia keluar dari kamar ini? Kalau begini kan, aku bisa leluasa membersihkannya.
Tapi, kenapa dia menutup pintu? Dia kan tahu aku ingin keluar kenapa dia menutup pintu? Jangan-jangan?!
“Apa yang lo pikirkan?” katanya sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana. Aku hanya tertunduk, sama sekali tidak berani melihatnya.
“Saya sudah siap membersihkan kamar Tuan, saya ingin keluar. Permisi,” aku melangkah ke samping untuk mengelak dari tempat ia berdiri, namun, cowok ini malah menghalangiku.
__ADS_1
“Owh, sekarang lo sudah meninggalkan sifat-sifat teriak lo itu?” aku tidak menjawab. Aku hanya tertunduk dan gemetar setengah mati. Aku sama sekali tidak bisa menebak apa yang dia pikirkan padaku sekarang.
Tiba-tiba dia menarik tubuhku dan membanting punggungku di belakang pintu kamarnya. Aku terkejut setengah mati dan menatapnya bingung.
“Anda mau apa?” aku tidak lagi memanggilnya seperti biasa. Aku akan memperlakukan dia seperti majikanku sendiri, dengan begitu kami bisa menjaga jarak.
“Kenapa? Lo takut?”
“Tolong, saya harus mengerjakan pekerjaan yang lain,” ucapku menoleh ke samping. Dia sengaja mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku.
“Apa lo mau juga?” tanyanya menyelidiki. Apa maksudnya?
“Maaf Tuan, saya enggak mengerti maksud Tuan,”
“Kelihatannya lo masih polos ya, boleh juga dong,” ucapnya. Kata-kata itu sangat menghinaku. Aku tidak terima. Asal, aku menendang kelaminnya kuat. Dia meringis kesakitan sampai meringkuk di atas tempat tidur dan memegang miliknya. Aku langsung keluar.
__ADS_1
Rasakan itu cowok mesum! Harusnya kau sadar, aku sudah menganggapmu majikanku. Tapi kau memang cowok mesum!