
Sesampainya di rumah, Aira membongkar belanjaan yang sudah di belinya di mall. Meletak kan semuanya dengan rapih, sementara baju-bajunya akan di cuci terlebih dahulu.
"Apa yang kurang sayang?" tanya Juan.
"Paling tinggal susu formula sama pampers aja, nanti nambah beli baju-baju kalau udah agak besar," ucap Aira dengan tangan sibuk merapih kan baju-baju dari tas belanjaan.
"Nanti kita buat kan kamar untuk bayi kita ya sayang, oh iya namanya siapa ya? Kamu punya ide ga buat nama bayinya," ucap Juan.
"Emm apa ya yang bagus tapi penuh arti, nanti aku coba cari ide dulu. Kamu ada masuk kan ga buat nama bayinya," ucap Aira.
"Aku belum sempat memikir kan nama apa pun, di kantor lagi banyak kerjaan. Aku terserah kamu aja, kalau menurut mu bagus ya pasti setuju," ucap Juan.
"Oh iya mana struk belanja tadi, biar aku ganti uang kamu," ucap Juan mengambil struk belanja di tangan Aira lalu mengeluar kan ponselnya dari dalam saku celananya dan membuka aplikasi di ponselnya untuk transfer uang pada Aira.
"Sudah aku ganti ya dan lebihnya untuk beli keperluan yang belum," ucap Juan.
Melihat jumlah uang yang di kirim Juan ke rekening pribadinya, Aira tersenyum karna jumlahnya lebih dari uang di belanja kan hari ini lalu memeluk Juan sebagai tanda terima kasihnya.
...***...
Usia kandungan 37 minggu, Winda mulai merasa kan kontraksi di perutnya. Sesuai arahan dari bidan, Winda menghitung kontraksi yang ia rasa kan sejak sore tapi Winda tidak bilang apa pun pada Aira. Winda hanya mondar-mandir di kamarnya sampai tengah malam saat Aira ingin mengambil minum ke dapur dan mendengar suara langkah kaki orang.
"Ada suara langkah kaki, apa jangan-jangan maling ya" gerutu Aira menyala kan semua lampu ruangan dan mengecek ada orang atau tidak.
"Tapi ga ada siapa-siapa, apa hanya perasaan ku saja ya," gerutu Aira kembali mematikan semua lampu ruangan.
Saat melintasi kamar Winda, Aira mendengar suara langkah kaki dari dalam kamar Winda.
Tok tok tok
"Winda kamu udah tidur?" tanya Aira mengetuk pintu kamar Winda pelan.
Winda membuka pintu kamarnya dengan wajah pucat dan penuh dengan keringat seperti orang yang sudah berolahraga.
"Kamu kenapa Win? muka mu pucat sekali, berkeringat lagi," tanya Aira panik dan cemas saat melihat wajah Winda.
__ADS_1
"Kayanya aku mau melahir kan deh mba, dari sore perut ku sakit terus ada mulesnya juga," ucap Winda.
"Udah sering mulesnya atau masih jarang?" tanya Aira.
Winda memberi kan ponsel miliknya pada Aira, yang sudah di catat setiap kali Winda mules ternyata masih jarang-jarang.
"Masih bisa tidur ga? atau mau aku temenin?" tanya Aira.
"Udah susah tidur mba," ucap Winda.
"Kamu jalan-jalan di ruang tamu dulu ya, aku bangunin Juan dulu. Nanti kita ke rumah sakit ya, kita periksa ke bagian kebidanan," ucap Aira melangkah pergi meninggal kan Winda yang mulai berjalan ke arah ruang tamu,
Aira membangun kan Juan dan memberi tau Juan kalau Winda sudah ada kontraksi, Aira berganti pakaian dan mengguna kan jaket begitu pun dengan Juan.
Mendengar suara dari arah luar, bu Siska terbangun dan keluar dari kamarnya untuk mengecek keadaan di luar. Aira merasa tidak enak sudah membuat ibunya terbangun di tengah malam.
"Kenapa nak pada diam di ruang tamu begini dan sudah bersiap untuk pergi, memangnya nak Winda udah mulai ada tanda-tanda mau melahir kan ya?" tanya bu Siska.
"Iya bu, Winda udah ada kontraksi. Kami mau mengantar Winda ke rumah sakir bu, doa kan keselamatan untuk Winda ya bu," ucap Aira.
Aira dan Juan membawa Winda ke IGD kebidanan untuk mendapat kan penanganan dari dokter dan bidan. Tak perlu waktu lama untuk sampai di rumah sakit karna tengah malam jalanan memang kosong jarang pengendara lain.
"Kamu masih bisa jalan Win?" tanya Aira saat hendak turun dari mobil.
"Bisa mba kalau pelan-pelan," jawab Winda sambil terus mengusap perutnya yang buncit.
Aira turun duluan dan membantu Winda turun dari mobil, Juan meminta bantuan pada suster untuk membawa Winda ke dalam IGD kebidanan.
"Sayang aku urus administrasi dulu ya," ucap Juan.
"Eh ini KTP punya Winda, nanti nama suaminya kamu aja soalnya aku ga tau nama cowoknya Winda siapa," ucap Aira memberi kan KTP Winda pada Juan.
"Ah aku ga mau, aku ngarang aja lah. Gimana nanti sekeluarnya dari otak ku," ucap Juan melangkah pergi meninggal kan Aira sendiri di ruang tunggu yang memang sepi.
Aira di panggil oleh suster untuk masuk ke dalam ruangan,
__ADS_1
bu bidan menjelas kan bahwa Winda sudah pembukaan 4 dan meminta untuk di temani oleh suaminya. Aira hanya bisa menjelas kan kalau suami dari Winda sedang kerja di luar pulau jadi ga bisa mendadak untuk pulang dan sudah menitip kan Winda padanya.
Sedang kan Juan yang sudah berdiskusi sebelumnya dengan Aira dan Winda, mendaftar kan Winda sebegai pegawainya di rumah yang suaminya sedang merantau kerja di luar pulau.
"Semoga semuanya di beri kelancaran, Winda dan bayinya selamat dan sehat," batin Aira.
Tanpa banyak pertanyaan dari pihak rumah sakit tentang identitas Winda, semua hal di beri kelancaran. Winda terus di observasi karna masih menunggu pembuaan jalan lahir.
Waktu terus berlalu tak terasa pagi pun tiba, Juan yang memang menunggu di luar ruangan sudah mencari sarapan untuk Aira.
Juan izin tidak masuk kantor dengan alasan Aira akan melahir kan, teman-teman kantor Juan tidak ada yang tau tentang Winda dan Juan yang akan mengadopsi anak dari Winda.
"Aku sarapan di sini aja lah, biar di dalam ga ribet juga," gerutu Juan memesan bubur ayam untuknya makan di tempat.
💌Sayang mau sarapan sama apa, mumpung aku lagi sarapan di tukang bubur.
Juan melahap satu mangkuk bubur dengan santai sambil menunggu balasan dari Aira.
💌Kalau ada aku ingin nasi uduk, kalau ga ada bubur juga boleh.
"Pak ada yang jual nasi uduk ga di sekitar sini?" tanya Juan.
"Ada mas, di sebelah sana di dekat tukang lontong kari,"
Juan menghabis kan buburnya lalu membayar, Juan mencari nasi uduk untuk Aira sarapan.
💌Sayang, mau sarapan dimana? Di dalam ruangan atau di luar?
💌Aku keluar dulu, mumpung Winda ada suster yang menjaga.
"Win, aku cari sarapan dulu ke depan ya," ucap Aira pamit setelah melihat Winda sarapan.
"Iya mba," jawab Winda singkat, Aira berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan untuk pamit pada suster.
"Sus, saya titip dulu Winda. Saya cari sarapan dulu keluar," ucap Aira.
__ADS_1
"Iya boleh bu, di sini banyak yang suster yang menjaga," ucap Suster.